
Sinar matahari menelusup di balik tirai kamar dengan bunyi nyanyian para burung-burung kecil yang hinggap di dahan rendah, terlihat gembira menyambut pagi.
Gue terbangun dengan refleks membuka tirai membuat para burung itu terbang ke berbagai arah, lalu menghirup napas dalam dengan senyum terkembang.
Kamar masih seperti keadaan semula saat gue tertidur jam sepuluh kurang 1 menit 30 detik, tidak ada baju yang berserakan kecuali...
"SIAL!" gue menggerutu kencang, hati-hati menarik ujung selimut yang tersentuh lantai tempat kuman biasa hinggap. Gak bisa dibiarkan! Bisa-bisa gue infeksi, masuk rumah sakit lalu mati konyol gara-gara kuman sialan itu. Arrggh sial.
Mungkin aja sebuah penyakit mulai menyebar dalam tubuh gue, tapi masalahnya gak ada lagi rumah sakit yang mau meladeni penyakit serius ini. Mereka cuma berpaling muka lalu bilang; "Tenang, anda tidak punya penyakit apa-apa, kecuali dengan jiwa anda sendiri.."
Mereka ngatain gue, heh! Tentu aja dengan mudahnya gue bisa melungsurkan rumah sakit sialan itu serta menguburkan semua obat-obat di sana, biar tau rasa.
Selimut itu gue buang keluar kamar yang nantinya akan dipungut pembantu rumah.
Kriiiinggg!
Alarm berbunyi kencang, saat itu gue bergegas ke kamar mandi. Sepuluh menit, gak kurang dan gak lebih pintu kamar mandi terbuka. Seragam udah disiapkan di atas tempat tidur. 3 menit lagi untuk berpakaian lalu lima belas menit untuk berdandan. Tidak boleh ada yang kelewatan, harus tepat, waktu adalah masalah kedisiplinan, dan Papa gue yang mengajarinya. Dia sendiri adalah seorang tentara dengan kedisiplinan tingkat tinggi.
Papa selalu menentang diri gue agar tidak menekuni ilmu-ilmu alam, karena baginya percuma. Dengan itu gue berusaha membuktika bahwa dia salah dengan seluruh prestasi melalui berbagai olimpiade dan kejuaraan tingkat nasional.
Tepat saat gue menginjakkan kaki di kelas 3 SMP Papa meninggal. Karena saat itu ketika dia telat 1 menit 13 detik ke tempat kerjanya, dia frustrasi. Papa meninggal karena memilih menggilas tubunya di ban truk besar daripada ketinggalan waktu bekerja 1 menit 13 detik. Mengenaskan.
Sedangkan Mama gak peduli, dia seorang work a holic yang benci dengan segala hal remeh temeh. Sifat konsistennya mengalir di gue yang selalu rela menghabiskan waktu hanya untuk ke ruangan lab daripada hangout bareng cowok.
Gue bukan jomblo, sendiri itu pilihan! Jangan ngatain gue jomblo!!
Kenyataannya sih, semua cowok yang melintas bakal ngelirik dua kali setiap berpas-pasan dengan gue. Sombong? Iya.
Daripada itu gue ogah meladeni para cowok yang luar biasa bikin kesel. Kerjaannya tiap hari kalo gak gombalin cewek yah merokok, jadi berandalan, sok berkuasa. Ck! Malesin!
Makanya, kalo udah berurusan sama cowok gue langsung jijik.
Gue mematut pantulan di cermin sambil membolak-balikkkan badan, gak ada yang janggal dan masih seperti biasa. Tiba-tiba ponsel berdering nyaring di atas nakas, terdengar suara Paman Ipan di seberang.
"Fika, mobil kamu paman pinjam yah, ada urusan mendadak!"
Belum sempat mencela sambungan dimatikan.
"Terus gue pergi naek apaaa??!" erang gue frustrasi, memang di rumah kami ada 2 mobil, satu untuk Mama dan satu lagi untuk gue serta tiga motor matic yang gue gak tahu gimana cara pakainya karena naik motor terlalu beresiko terkena penyakit SARS, gangguan pernafasan dan terinfeksi virus yang berterbangan di sepanjang jalan.
Gerutuan terlontar cepat di sepanjang jalan, seumur-umur gue belum pernah sekesal ini. Paman Ipan seenaknya aja minjam mobil kesayangan gue. Pasti tuh mobil bakal kotor tuh, ck!
Pekarangan rumah dengan beragam bunga mengalihkan kekesalan gue. Caesalpinia pulcherrima si bunga merak tengah bermekaran di pinggir jalan setapak yang dirubungi batu putih kecil sekitarnya, bunga mawar menguarkan wangi harum di sekitar pekarangan bersama hibiscus sp. yang tumbuh banyak di dekat pagar.
Gue suka mengamati segala hal yang berbau biologi karena di situlah arti sebuah jati diri. Hal menarik yang kadang diacuhkan dunia, walaupun begitu para bunga-bunga kecil itu tetap tumbuh manis melingkari taman rumah. Hingga tiba-tiba gue terperanjat kaget luar biasa.
"Udah jam tujuh dua puluh!! Siall!!!"
Gue berlari lunggang-langgung ke gerbang rumah. Lalu berdecih sebal.
"Taxi mana taxi??!"
Kaki gue hentak gak sabaran dengan wajah getir.
"Mana sih, taxi sialan!!" gue memutar pandangan ke seluruh penjuru.
Gue berpikir untuk naik angkutan umum tapi itu sama aja kayak bunuh diri di tempat yang gak steril. Gue harus gimana ini?!
Oh, ojek!
Tapi di perumahan orang kaya gini mana ojek ada yang mau lewat. Hufft.
Gue kembali melirik jam tangan, "Lima belas detik gue..!"
Rasa panik kembali menyerbu di mana-mana, jangan sampai saat 1 menit 13 detik gue malah sinting dan berakhir mengenaskan seperti papa. Jangan. Apa gue minta tolong anterin sama tetangga? Tapi hubungan kami belakangan buruk karena suatu hal.
Semakin lama berpikir ternyata waktu berlari makin cepat, 43 detik terbuang dengan gue yang berdiri kayak orang bodoh di pinggir jalan.
Bunyi cicitan burung terdengar mengerikan sekarang, bahkan nenek-nenek bersanggul yang lewat kelihatan seperti setan gaul. Oke, tenangkan diri, Fika. Lo gak akan mati karena berdiri di pinggir jalan dalam hitungan detik.
Tapi...
Hampir 60 detik dan bakal masuk ke satuan menit.
Oke, siapapun yang lewat pokoknya harus anterin gue. Walaupun dia naik mobil jelek ataupun playboy yang suka godain gue, siapapun!
Seorang kakek-kakek lewat dengan motor supra, tersenyum riang ke arah gue sampai gigi kuning kecoklatannya mengkilap terpantul sinar matahari.
Brukh!
Gue gak peduli lagi sama kakek stress yang udah kebalik motornya. Oke, mungkin ada yang lebih bagus dari dia.
Motor gede lewat sepintas, gue sumringah. Ada 3 bencong lagi ketawa-ketiwi gak jelas lewat. Sip, mungkin masih ada yang lebih waras dari mereka. Gue menunggu dengan sabar.
Kali ini gak ada harapan lagi. Sebuah motor jelek dengan bunyi gedebam-gedebum berlalu dan gue yakin beberapa meter ke depan tuh motor bakal rontok badannya, seorang cowok lewat tanpa melirik sedikit pun ke gue. Apa dandanan gue hari ini kurang wah sampai mahluk menyerupai Homo erectus itu terlalu bodo amat?
"WOI ORANG JELEK!!"
Jarum panjang menunjuk tepat angka 12, 60 detik hilang sia-sia.
"Apaan lo manggil gue seenak udel, hah?!" cowok itu membalas gertak, gue terkesiap beberapa detik menatapi wajah geramnya. Sama sekali gak terpesona atau segan sedikit pun seperti yang semua cowok lakukan ketika berhadapan dengan gue.
Dia agak aneh, mana baju kusut lagi, wajah di bawah SNI ditambah badan tinggi kering kayak pohon kelapa yang habis hangus disambar petir. "Anterin gue!"
Cowok itu kelihatan ogah, bukannya ini sebuah keberuntungan buat dia nganterin cewek secantik gue? Dasar cowok aneh!
Perdebatan masih terus berlanjut sampai akhirnya cowok itu jengah setengah mati. Lagian cowok mana sih yang gak mau anterin gue? Sorry aja yah, gue juga minta dianterin dia karena terpaksa! Inget tuh, terpaksa!!!
Kenapa gue malah susah payah mikirin cowok payah kayak dia.
Memang dasar cowok!
*****
Gaes jgn lupa vote yh, pliss😂