ZAF

ZAF
Bagian 31 - Dua Topeng



Angin sepoi-sepoi menggoyang pepohonan sekitar pekarangan sekolah dengan damai, terlihat tiga cowok sedang nangkring di bangku halaman sekolah sambil sesekali bercanda. Siang itu sangat panas, hawa di kelas pengapnya bikin otak mendidih ditambah lagi tadi si Batak dan Wahyu kembali memulai Bacot War. Bukan masalah pulpen, tapi kali ini masalah Tupperware si Batak. Akhirnya daripada ikut panas di dalam kelas mereka memilih adem-ademan di perkarangan sekolah.


"Masa kemaren gue liat Zigo maen nyabet sarung sama anak sebelah," mulai si Julio membully dan partnernya si David pasti bakal ngomporin.


"Lah iya? Kelahi ama bocah die kek kaga ada kerjaan laen."


"Yang lucunya, nih anak malah kepleset pas nginjek sarungnya. Gewla parah man! Gue yang bawa motor aja sampe ketawa mati dah, mungkin kalo motor gue punya mulut udah ikut ketawa kali! Hahahaha!!"


"Gaya kau bawa motor Ling! Giliran ke sekolah aja nebeng ama gue!"


"Aowokwokwok biarin! Yang penting gue gak abis uang beli bensin," cela Julio penuh kebahagiaan. Emang gini, orang susah dia bahagia. Orang bahagia dia merana. Julio anak setan.


"Entar lo pulang gue anterin ya Ling," ujar Zigo.


"Wah tumben nawarin lu! Pake motor lu kan ini?" Julio bertanya curiga, temannya itu melirik dengan ekor mata. "Engga Ling, pake kerenda.. sekalian nganterin elu ke Rahmatullah."


"GAK ADA OTAKKK!!"


"HAHAHAHA!" David dan Zigo cengengesan dengan muka norak.


"Makan soto ditambah mie!"


"Cakeeep!"


"Muka kau kaya cacing kremi!"


Zigo manyun namun tetap ketawa. Ketawain diri sendiri.


"HAHHAHAHAHA!"


"Kalo ngumpul gini kaga afdol ye kalo ga bully gue. Bawaannya kek cebok gak pake gayung lu pada." Zigo mencibir, dia melongokkan kepala sana sini berharap Gavin menunjukkan dirinya. Mereka sesama korban yang dibully. "Si Gavin perkara ke toilet aja udah kek pergi ke Korea ya lama amat."


"Iya juga ya tumben lama tuh torso," gumam David. "Alah paling mentok dia ketemu tulang torso nih di jalan, buat ngelengkapin kerangkanya si Angela itu."


"Eh bay de wey lu keknya ada masalah ya sama Fika?" tanya David penasaran, Zigo dan Julio tertegun. Mereka belum membicarakan masalah ini dengan David maupun Gavin.


"Lagi kaga doyan gue berurusan sama betina, Pid.."


"Napa?"


"Gue mah Joker Pid, jomlo keren yang diidamkan semua kaum hawa tapi memilih sendiri menjaga hati." Anak itu unjuk diri dengan gaya sengak. David berceloteh hendak menghujat.


"Joker ye, jomlo kerempeng maksut lu? Bukannya diidamkan kaum betina yang ada diidamkan pencabut nyawa lu! Pen langsung dijeblosin ke liang lahat,"


Kedua manusia itu ketawa lebar-lebar dengan kepala menatap langit, bahagianya membully temen sendiri. "Gak asik lu pada gue mulu jadi bahan ejekan."


"Yeh baperan lu."


"Kaga baperan gue ah, tapi perasaan gue gak enak aja sekarang Ling."


"Gak enak gimana Gong?"


Mereka mencoba berpikir seperti ada yang kurang, tiba-tiba terlihat segerombolan siswa siswi berlarian ke suatu tempat tepatnya ke arah toilet. Mereka bertiga berdiri lalu Zigo memberi isyarat untuk menyusul.


Sesampainya di sana Zigo terbelalak tak percaya akan apa yang dilihatnya sekarang begitupun dengan David dan Julio. Mereka terpaku penuh rasa kaget.


"G-Gav?!" Sebastian yang kebetulan berada di situ segera menopang tubuh Gavin yang kini tergeletak di lantai depan toilet, seragamnya sobek sebagian. Basah kuyup dan terlihat darah merah mengalir dari kepala menodai baju seragamnya.


"GAPIN? LU DIAPAIN!!?" panik David kesetanan, dia hendak menumbuk Sebastian yang kini berada di depannya. "LO APAIN TEMEN GUE, BAS!? JAWAB!"


"Gue aja baru nyampe setan!"


Zigo berlutut memegangi kepala bagian kiri Gavin yang memar, sepertinya dia dikeroyok oleh lima sampai tujuh orang di dalam toilet tadi. Cowok itu kini masuk ke toilet melihat seluruh sudut namun tidak terdapat satu bukti pun.


"Para anj*ng itu udah mulai bergerak, pemiliknya masih menonton di balik layar."


Zigo menelusuri sekitar, ia tak menyangka mereka akan bergerak secepat ini.


Bastian yang mendengarnya hanya menukikan alis ikut emosi. "Gue bakal balas mereka juga."


"Ini bukan urusan lu Bas," Zigo kembali menghampiri mereka. Dia memapah Gavin menuju UKS dan hendak mengantar anak itu pulang agar segera dirawat oleh dokternya.


Namun David masih menatap Bastian memburu, ia seperti ingin membunuh cowok itu hidup-hidup. Dia mengepalkan jarinya geram. Namun Julio segera menahan. "Pid, bukan Bastian pelakunya. Dia gak mungkin bersekutu dengan musuh, lo kayaknya kebawa emosi banget."


David tidak bisa berkata-kata lagi, rasanya otaknya habis dibakar oleh emosi. Melihat Gavin seperti ini seperti membuatnya tak berguna. Seperti yang anak itu bilang, Gavin tidak memiliki tubuh sekuat teman-temannya, dia prematur dan penyakitan. Luka sedikit aja bisa membuat tubuhnya menderita.


Keadaan hening, puluhan orang yang menonton menatap keheranan. Zigo telah memapah Gavin, melewati rombongan orang-orang. Di antara mereka terdapat seseorang yang membuat Zigo tiba-tiba tersulut emosi lagi.


Alex berdiri di hadapan mereka dengan wajah penuh wibawa, sorot matanya kelam ditutupi poninya yang acak-acakan. Wajahnya terangkat ke atas dengan mulut bersuara angkuh.


"Kayaknya kalian memulai masalah di sekolah kita," dinginnya. Anak buahnya berdiri tertib di belakang. "Segera selesaikan masalah ini tanpa keributan di lingkungan sekolah, atau bakal gue singkirkan kalian satu per satu."


Selesaikan masalah? Pikir Zigo. Yang memulai masalah ini adalah Alex sendiri, dan dia memegang kendali penuh atas semuanya. Mereka seperti berdiri di bara api dengan satu pijakan setapak. Maju kena mundur kena. Tidak heran Alex menjadi Ketua OSIS, otaknya licik melebih siapapun. Dia pintar memainkan pion-pionnya dengan mencermati segala keuntungan dan resikonya.


"Lo laki, kan?" Bisik Zigo berdiri di samping Alex. Gavin mengedipkan matanya terbangun lalu menatap Alex samar. Rahang cowok itu mengeras, binar lucu di matanya berubah ganas. Zigo yang menyadari itu segera memegang bahu Gavin erat agar tidak melakukan tindakan bodoh yang akan menjadi boomerang bagi mereka sendiri.


Alex saat ini dianggap sebagai tonggak keadilan oleh masyarakat SMA Gajah Mada, jika mereka menghajarnya tanpa alasan resikonya akan bertambah seratus kali lipat.


"Gue cuma mau bilang," katanya melanjutkan. "Kalo lo laki, maju tanpa menyingkirkan orang lain dan terbang tanpa menjatuhkan orang lain."


"Lo ngomongin siapa? Jaga omongan lo, gue ketua OSIS." Alex menyorot penuh dendam, ia memasukkan tangan ke saku celana.


"Sekalipun lo punya kuasa di sini, lo gak punya hak mengusik siapapun, kan?" Bisik Zigo sinis. Alex mendobrak bahu Zigo marah.


"Lo mau menjelek-jelekkan gue?! Gue berdiri di sini buat jadi penengah! Kalo lo punya masalah di sekolah ini kita yang bakal repot, dan anak-anak di sini bakalan gak nyaman!"


Semua suara tertuju pada Alex, mereka mendukung cowok tampan itu sepenuhnya.


"Topeng lo bakal kebongkar, gue ngingetin aja. Jangan sampai lo lengah. Apalagi setelah lo bikin temen gue kayak gini."


***