ZAF

ZAF
Bagian 25- Iblis dalam Penjara Api



"Heh? Lo gak liat dua temen lu pada tepar? Mundur deh, daripada gue ancurin muka lu di sini!"


Zigo terdiam dengan wajah tidak terima.


"Eh anj*ng kaga denger lu?!"


"Gak usah bawa-bawa nama bapak lu juga jink!"


Sebastian mengepal erat dengan wajah menyeru. "Bapak lu!"


"Gue mampusin juga bapak lu di sini!"


David tiba-tiba menghadang di depan Zigo membuat cowok itu makin emosi. "Gua gak perlu cherleader Pid! Mundur lu, mau gua hantam tuh anak songong!"


"Kalem bos, kalem."


"Lama-lama bapak lu gue kalemin!"


"Bapak gue enggak Gong?" sambut Gavin lempeng. "NANTI BERSENDANYA ******! GUA MAU PACUL MUKA TUUH ANAK!!" emosi Zigo berusaha menghajar Sebastian, namun tubuhnya ditahan David. Kaki cowok itu bergerak liar mencoba menjangkau Sebastian.


"Oh.. bukannya elu cowoknya dia?"  Sebastian menoleh ke Fika sesaat.


Semua orang menangkap maksud Sebastian, berarti selama ini banyak yang menganggap dirinya dan Fika punya hubungan spesial. "Gue gak bahas cewek-cewekan di sini! Maju lu Ng*nt*d!!" umpatnya semakin buas, Sebastian kini tertawa meremehkan. Mendadak ia menarik rambut panjang Fika.


"Bas, lu udah keterlaluan!" peringat kawan-kawan Bastian. Yang lain pun ikut berseru.


"Gue gak ikut campur lagi kalau sampe itu!"


"Arrrgh lepasin!!" teriak cewek itu menarik-narik tangan Sebastian, helai rambutnya rontok di tangan kasar itu. Fika hampir menangis, Zigo yang melihatnya hanya bisa menahan emosi.


"Urusan lu itu sama gue! Bukan sama tuh cewek!"


"Lu lagi ngemis minta cewek lu gue lepas?!" Sebastian menarik rambutnya semakin tinggi. Matanya mengarah  ke bawah. "Berlutut di kaki gue, nih. Sekalian jilat juga."


"Gong, tahan jangan kemakan omongan dia. Gue disuruh Juling buat jaga-jaga supaya lo gak kelepasan." David menjenguk ludah paksa. Percuma, Zigo tidak mendengar.


"Tunggu apalagi? Jilat nih, sebelum gue berubah pikiran."


"Santai Pid, gue bisa tahan emosi sekarang."


David mengembuskan napas lega, ia mundur teratur dari hadapan cowok itu. Perlahan Zigo mendekat ke arah musuhnya pelan dengan tenang.


"Go.. Lo jangan mau jilat sepatu dia!" lirih Fika kesakitan,  Zigo tidak mau mendengarnya. Masih ada banyak rasa dendam di hatinya atas Julio.


Suara derap sepatu Zigo berhenti, cuaca panas itu terasa sunyi saat cowok itu berjongkok mengorbankan harga dirinya untuk menuruti permintaan Bastian.


Gavin membuang muka, seharusnya dia bisa melakukan sesuatu, tapi apa daya. Belum sampai di tempat perkara aja tulangnya udah berserak dibuat Bastian. Begitu juga David, dia merasa bersalah membuat Zigo terpaksa tidak main tangan.


"Eh?!" batin David bersuara kaget. Dia sadar omongan Zigo tadi agak janggal.


Dilihatnya Zigo panik, tangan cowok itu mengepal dari bawah, meninju rahang Bastian sampai mendongak tajam ke atas. Lantas suara teriakan para cewek mengoyak gendang telinga, gerakan Zigo yang tiba-tiba membuat Bastian panik.


Sebastian mencoba mengambil kursi di depan kelas, ingin menghantamnya ke kepala Zigo. Namun belum mendapatkan bangku, secara tiba-tiba kepalanya dihantam ke arah jendela kelas yang sepantaran dengan tubuh tingginya.


Praaaang!


Darah keluar dari pelipis cowok itu, kepalanya tergores terkena retakan kaca jendela yang sedikit retak. Zigo mengamuk sejadi-jadinya seperti kerasukan setan–bukan, jika Sebastian setannya maka Zigo adalah Iblis. Iblis yang dikurung di penjara api. Jika ada yang berhasil mengeluarkan iblis itu, orangnya adalah Sebastian.


"ALLAHUAKBAR!" seru Pak Polen luar biasa panik, dua murid berandal di sekolahnya bertemu. Sebastian mengepal tinju, mengenai pipi Zigo telak. Pandangan cowok itu kabur, darah berdesir hebat di kepalanya.


Mereka saling membalas pukulan dengan membabi buta.


"Setan lu!!" gertak Zigo membalas.


Kepala Sebastian kini menghantam dudukan kursi di sampingnya, Zigo menginjak kepalanya geram.


"Lu apain aja tadi temen gue?!"


Giliran perut cowok itu yang ditendang beberapa kali, namun kemarahan dalam dirinya belum juga habis. Zigo mendobrak tubuh Sebastian ke dinding, meninju kepala cowok itu berkali-kali. Lalu, saat hendak menendang perutnya, tiba-tiba punggung Zigo yang dihantam dengan balok kayu.


"Bukan saya duluan, Pak!"


"Mau menghindar lu banci?" sindir Sebastian mencoba menyandarkan tubuhnya di tembok. "Lumayan juga, lu."


"Liat aja, bapak lu gue mampusin!"


"Heh!" kepala Zigo kembali digeplak ganas. "Ikut saya ke BK!"


"Tunggu, Pak. Saya mau liat temen saya."


"Nanti kamu lari, gak usah!"


"Memang sebelumnya saya pernah lari pas bapak suruh ke BK? Walaupun telat sepuluh menit, tapi saya tetap datang kan, pak?" sela Zigo dingin. Tatapannya berubah drastis, Fika mengejar cowok itu dari belakang.


"Go!"


Fika mencoba mensejajarkan langkahnya, namun kaki Zigo semakin bertambah kencang. "Zigo! Lo denger gue?!"


Zigo tidak peduli, dia memilih mempercepat langkahnya agar bisa melihat Julio. Jika dulu Zigo yang berusaha berjalan bersisian dengan Fika di koridor ini, hari ini semuanya berubah.


Fika berusaha mensejajarkan langkahnya dengan cowok itu.


"Gue cuma mau berterimakasih!"


"Simpen terimakasih lu buat Julio," ujar Zigo berhenti, ia melanjutkan, "Abang tiri lu yang gak pernah lu anggap. Yang kehilangan bokapnya gara-gara mama lo."


Hening.


Suasana mendadak sunyi, Fika tergagap. Bagaimana Zigo bisa tahu?


"Kaget lu?"


"Jadi itu alesan lo ngejauhin gue?"


"Kenapa? Lu keberatan kalo gue ngejauh?"


Fika menautkan alisnya penuh kecaman, cewek itu mengepal tangan erat. "Hah?! Keberatan!? Yang ada gue seneng kali, gak diikutin lagi sama gembel kaya lo!"


"Apaan maksut lu hah?! Ngehina gue lu?!"


"Iya! Lo itu cuma preman gak ada masa depan tau gak?! Liat aja penampilan lo itu, gak banget!" hina Fika semakin menjadi, ia menambahkan. "Dan Lo itu–"


"Jadi gitu cara lu berterima kasih?" jawab Zigo sinis. "Bener-bener gak tau diuntungin lo, mungkin sifat lu emang kayak mama lo ya?"


Fika memasang wajah tersinggung, napasnya terasa berat mendengar omongan cowok itu.


"Lo tau apa tentang mama gue?! Seharusnya lo tuh bersyukur punya keluarga, orang tua, sahabat! Hidup lo tuh enak, Go! Kenapa harus lo pusingkan urusan orang lain?" seru Fika sengit dengan tempo tak beraturan, jelas ia sedang dilalap emosi.


"Keluarga?" Ucap Zigo berbisik pada dirinya sendiri.


"Yang sekarang gue punya itu cuma sahabat, salah satunya, Julio." Raut wajah Zigo melunak, terdapat kesedihan di balik kata-katanya.


"Lo gak nganggep keluarga lo sndiri? Wah.. jadi percuma waktu itu lo nasehatin soal mama gue itu, sampah."


"Gue duluan."


Dalam hitungan detik, Fika baru sadar setelah melihat wajah Zigo dengan jelas. Kata-katanya mungkin terlalu berlebihan.


"Ba!" teriak Aurel dan Farad mengagetkan Fika, kedua temannya memasang senyum manis.


"Lo gak apa, kan?"


"G-gue.."


"Yuk, ke kelas."


***