ZAF

ZAF
Bagian 5- Herodotus II



Setiap tahun banyak anak-anak berpotensi gemilang yang muncul ketika penerimaan siswa dan tak jarang para guru matematika, fisika, kimia atau biologi akan meninggikan anak muridnya.


Misalnya saja, anak autis yang dibully itu ternyata rajanya Matematika atau cewek bandel yang hobi masuk BK ternyata jagonya mengotak-atik rumus fisika, selalu sama, bertahun-tahun hingga menimbulkan kecemburuan tersendiri di kalangan guru-guru. Bagaimana rasanya menghadapi anak-anak cemerlang seperti mereka atau bagaimana rasanya meladeni keingintahuan mereka yang meletup-letup.


Buk Hesti sang guru Sejarah yang telah 30 tahun mengajar di SMA Gajah Mada ini akhirnya mengerti.


Para dewan guru tertarik mendengar ceritanya, ada yang cuek namun diam-diam menguping dan lagipun mereka sangat kenal siapa Fika. Anak terpintar dengan segudang ilmu yang berkecamuk di dalam otaknya.


Pendapatnya yang selalu solid tak terbantahkan itu akhirnya hancur setelah kelahiran Herodotus II itu, dalam sejarah berdirinya SMA Gajah Mada tidak pernah mereka menangani kasus ini, di mana seorang murid hadir bukan untuk ilmu alam namun memahami betul sejarah manusia. Kemudian terdengar wanita itu berucap, “Saya beruntung pernah bertemu dua anak itu, mereka seperti mutiara yang berbeda warna, namun sama-sama cantik dan berharga.”


***


Lapangan sekolah terlihat ramai karena acara ultah sekolah yang sebentar lagi akan dimulai, tali tambang menjulur panjang di tanah dengan bendera warna-warni terpancang di pinggir halaman.


Spanduk dan papan bunga menghiasi setiap jengkal bagian, terdengar suara Pak Polen atau yang lebih akrab dipanggil Pakpol sang guru TU yang setiap senin merepet itu mengobrak-abrik gendang telinga mereka.


“Cepat berkumpul di lapangan sekolaaah! Kalau ada yang ketahuan di kelas biar saya ketuk hatinya sama mikrofon ini!” teriaknya bawel.


Mereka tidak akan tertawa mendengar kata-kata basi itu. Kata yang setiap senin dipakainya untuk mengumpulkan mereka ketika upacara bendera, hampir lima menit berlalu hingga sang Kepsek naik mimbar setelah moderator menginstruksikan.


Kata-kata penyambutan berlangsung lama membuat matahari seakan mengoyak kulit mereka. Fika, Farad dan Aurel nampak jengah disuruh duduk di halaman yang dilapisi tikar itu, kipas kecil kelihatan tidak tahan mendinginkan wajah Aurel.


“Ngapain sih tua keladi tuh lemot banget bicaranya? Arrghh... kulit gue kebakar tau!” geramnya dengan mengikat rambut yang tergerai bebas membuat ia susah bernapas.


“Sialan, lo bilang gitu tambah panas Rel,” cerocos Farad dengan wajah dongkol. Muka ceria yang tadi menghiasi wajahnya tampak sirna akibat menahan kesal, Farad meniup poninya beberapa kali. Lalu berdalih menatap Fika yang dari tadi diam saja.


“Lo kenapa, sih, daritadi diem mulu?”


“Pasti gara-gara Zigo, ya? Udah, gak usah terlalu dipikirin ntar suka lagi hahahhahaha!” tawa Aurel berderai, memang kalau dia yang ketawa orang lain jadi ikut ketawa. Fika kelihatan berat hati menerima omongan Aurel.


“Lo nyebut nama dia yang ada tambah panas udaraya, Rel!” seru Fika jengkel, reaksi Fika spontan membuat cewek itu penasaran. “Gue denger Zigo gak kalah famous lho,” ujarnya. Fika mendelik sinis. “Cowok jelek kayak dia? Yang bener aja! Pak Budi yang udah reot aja masih lebih glowing dibanding tuh cowok!”


"Apaan dah nih kelen ribut-ribut dah kek orang tabrakan aja, siapa yang berserak nih, siapa?"


"Mulut lu kampret!" cerca Aurel menampol monyong Farad. Tatapannya berdalih menatapi Fika.


“Fika, saat lo mulai benci sama seseorang semua yang ada di diri dia jadi jelek semua, tiati lo ntar benci jadi cinta, hueheheheh,”


“Gue, suka sama dia? Jangan mimpi!”


Fika menatap Aurel sebal, ia membuang pandangannya ke barisan anak cowok yang terlihat gaduh. “Nyari Zigo ya?” celutuk Aurel makin menjadi membuat Ratu Lab itu putus urat, ia merebut kipas kecil di tangan Aurel lalu melemparnya hingga rusak.


“FIKA….”


Fika tersenyum miring.


“Jahat, huaaahh!!!” tangis Aurel pecah membuat semua murid menatap ke arah mereka sekaligus membuat Kepsek bernama Pak Muklis itu terkejut bukan main, lalu pria tua itu menggelengkan kepala dan memilih mengakhiri kata-kata sambutannya.


Ditambah lagi udara semakin panas membuat para murid menggeliat rusuh sana-sini sampai ada yang sok-sokan kesurupan biar bisa masuk UKS.


Moderator membaca runtutan acara, selanjutnya pembacaan ayat suci Al-Qur’an untuk mengawali kegiatan mereka.


Keadaan masih pecah seperti tadi, bahkan mereka tidak menyadari seseorang telah naik ke atas mimbar.


Sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an mengisi setiap ruang gelap di sudut sekolah, mendinginkan tubuh-tubuh kepanasan yang dilalap teriknya matahari lalu menyejukkan udara yang berembus pelan meniupi ubun-ubun mereka dengan perasaan sejuk tak terjabarkan.


Fika tertegun melihat seorang cowok yang melantunkan Al-Qur'an itu dengan demikian merdunya, Zigo. Sang cowok Herodotus yang menentangnya kemarin siang.


Terlihat tatapan sendu mengisi kelopak matanya. Cowok itu mengaji seakan-akan Tuhan sedang bersamanya mendengar ia melantunkan ayat-ayat suci Allah. Nada perlahan naik turun dengan halus, terkadang tinggi diiringi lekukan merdu.


Keringat panas di seragam mereka terasa menguap, merinding takjub mendengar suaranya hingga membuat dunia membisu.


Pembacaan ayat suci Al-Qur’an berakhir, Zigo mencium Al-Qur’an di tangannya lama dan dalam detik-detik itu tidak keluar suara dari mulut siapapun.


Mereka seperti mengamati wajah cowok itu secara rinci, si cowok dekil yang sangat mengkhianati ciri-ciri tokoh utama dalam cerita *******.


Kulit cowok itu cokelat seperti berjemur seabad di Zimbabwe, penampilan kumuh dengan celana yang diplester, dan bola mata keruh menandakan ia terlalu sering begadang untuk orangtuanya yang telah tiada; mengaji. Terlihat cowok itu menatap sekeliling lalu menunduk sopan sebelum meninggalkan mimbar, saat itu pulalah puluhan hati jatuh padanya, hanya dalam hitungan menit.


Afika, menatap cowok itu tak percaya. Bukan seperti cewek-cewek lain yang terkagum-kagum, justru ia merasa kesal.


“GIMANA MUNGKIN CEWEK SECANTIK GUE GAK KELIHATAN SAMA MATA COWOK SEJELEK DIA, HAH??!”


Aurel tertawa geli melihat cewek itu melotot kesal, tangisan Aurel terasa habis dalam detik pertama Zigo membaca Al-Qur’an, seperti biasanya semua orang akan khusu’ mendengarkan. Suara cowok itu selalu menyejukkan hati setiap orang yang mendengarnya, dan Aurel tahu itu sejak dulu.


****