ZAF

ZAF
Bagian 22 - Dua Sekawan



Motor vespa melaju pelan di sepanjang jalan kota, menerbangkan dedaunan kering, menembus dinginnya udara malam saat itu. Zigo berusaha tenang sejak satu jam yang lalu, tapi hatinya tetap sakit. Setelah berhenti sebentar di warung makan cowok itu kembali memacu motor ke rumah kawannya.


"Assalamualaikum, Ling."


Seorang cowok berbaju hitam keluar, ia tersenyum senang dengan binar bahagia. "Weh, apa kabar nyed?"


BRUAAAK!


Julio memelototkan matanya, ia jatuh tersungkur menabrak lemari. Cowok itu mencoba mengangkat kepala, tangan kanannya memegang pipi kesakitan.


"Apa salah gue, Go?" tanya Julio takut sekaligus marah, Zigo menaruh kresek makanan di atas meja. Kemudian mengulurkan tangan, Julio masih kebingungan namun dia tetap menyambut uluran tangannya.


"Kampret lu setan! Kenapa gak bilang sama gue kalo Fika adek tiri lo?!!"


"Go... Gue gak mau lu benci sama dia nyet."


Mendengarnya Zigo menjitak kepala manusia setengah hantu itu kesal, anak itu menggerutu. "Sekarang gue jadi makin benci sama dia! Hidup lu ancur gini, Ling. Ibu lu sakit-sakitan–"


"Gue baik-baik aja, kok. Dia tetep adek gue."


"Hah? Baik-baik aja?! Jadi wajah sedih lu itu apa? DIA UDAH NGERAMPAS HIDUP LO!"


"Gak gitu juga, Gong." Julio semakin sulit menjawab, bola matanya redup.


"Dia bahkan gak anggep lo Abang tirinya. Lo tau dari dulu, kan, dia udah ngerampas apa yg seharusnya jadi milik lo, Ling! Lo inget itu!"


Emosi Zigo semakin tak terkontrol, Julio bangun mengambil hoodie krem pucat  kemudian memakainya. "Jenguk mama gue yok."


Suasana diam, Zigo menulikan telinganya masih tidak tenang. Dia berpikir kenapa hidup orang seperti Julio selalu berada di ambang kehancuran.


"Kalau lu terus mikir gitu ntar bisa berkuah otak lu," celutuk Julio. "Etdah, cepetan nyok lu banyak li mikir dah kek pejabat aja gaya lu ah!"


***


"Gavin... Gavin!!" teriak Pak Isdi dongkol, anak yang dipanggilnya molor. Gak menyahut sejak jam pelajaran dimulai, guru agama itu mikir keras. Itu dia beneran molor apa latihan meninggal sih? Di belakangnya Zigo ketiduran juga. Tinggal tunggu dikafanin plus disholatin aja mereka sama guru Agama itu.


"Assalamualaikum sahabat syurga.." suara David membangunkannya. "Waalaikumsalam salam.. eh aku di mana? Ini tahun berapa?"


"Masih 16 Masehi Pin, gih lanjut bobok sampe taun 2020!"


"Okeeee." Gavin lanjut tidur.


"GAVIIIIN!! MAJU KE DEPAN KAMU!"


"MAJU, PIN, MAJUU!"


Si tulang torso bangun dengan panik, "si Zigo juga molor pak."


"Zigooo??!"


Plak


"Addaw!" keluh Zigo memegang kepalanya, ternyata Julio yang nampol.


"Maju lu! Molor mulu!"


"Zigo sama Gavin, maju!"


Dua cowok itu maju ogah-ogahan. Sama-sama lemas gak berdaya. "Ngapain pak?"


"Nyanyi di situ!"


Zigo menatap Gavin, begitu juga sebaliknya. Saling nyuruh buat nyanyi, setelah lima menit tawar menawar akhirnya si torso yang nyanyi duluan.


"Kepala.. pundak lutut, dengkul lutut dengkul."


"Kaki, setan!" seru Wahyu ngegas.


"Kaki elu setan?"


"Au ah!"


"Saya udah ya pak.."


Pak Isdi ternganga lebar, rahangnya jatoh ke lantai. Ini anak otaknya ada apa cuma blue print doang?


Zigo menguap lebar-lebar, matanya berair masih mengumpulkan nyawa. "Giliran gue ya," ujarnya sembari menatap David. Matanya masih merem melek, anak itu jadi ada dua di matanya.


Satu kelas terdiam.


"Hinggap di jendela.."


"Anjeeer!" teriak David, anak kelas ngakak.


"Kalau sudah tua.."


"Giginya tinggal dua..."


Hatinya tersentuh, Pak Isdi tepuk tangan mendengar nyanyian sumbang yang bikin Fir'aun mati dua kali ngedengarnya. "Silahkan duduk ya."


"Saya mau nyanyi lagi pak," usul Zigo. Pak Isdi buru-buru menolak halus. "Udah gak usah, sayang energinya terbuang sia-sia untuk menghadapi dunia yang fana ini."


Krik.


"Intinya kamu duduk sana."


Perlahan Zigo kembali ke tempat duduknya dengan tenang, sebelum David mendadak menyerbu kepalanya.


"Gak ada otak!!"


"Otakku ada, ma gak ku pakek, ya kan?"


Jam istirahat tiba. Murid-murid bersorak bahagia karena bel istirahat udah kayak pembebas jiwa mereka. Pelajaran di sekolah sama sekali membosankan, coba aja ada pelajaran membagi skin atau pelajaran mengawinkan biawak sama bebek congek. Pasti semua orang jadi ******.


"Kuy jajanlah kuyy,"


"Ah bosen gue beli bakso mulu."


"Penjual kantinnya gak kreatip." Gavin menimbrungi malas, dia segera melangkah kan kaki menuju kantin. "Gue semalem liat meme komik."


"Baru tau dia meme komik anjey, keasikan sama Indosiar sih elu."


Gavin bercelutuk. "Gue padahal mo nyanyiin ini di kelas," ujar anak itu. Mereka melewati lorong-lorong kelas, Zigo sih bodo amat mau anak itu kayang ato pura-pura jadi cengkadak. Dua temannya lagi ngebiarin anak itu berceloteh sendiri.


"Indung indung kepala lele.."


Si timun sama Julio masih anteng aja, Zigo menyalakan sinyal merah pertanda bahaya.


"Ibu mengandung karna dieue.. jangan salahkan ibu mengandung..salahkan bapak yang punya burung.." nyanyi Gavin datar, dia hapal di luar kepala. Mukanya malesin, datar, bikin gondok. Gak sadar aja dia anak-anak cewek di koridor pada ngeliatin aneh sambil cekakak cekikik. Ganteng sih, tapi otaknya udah dibawa lari ke pegadaian.


"Udah Pin, udah, diem yak! Ini masih jam sebelas oi jangan gila dulu!!" pinta Zigo malu, asli tuh anak malu-maluin. Seketika Zigo jadi sedih sama emaknya, kesian emaknya kalo mau bawa Gavin ke mana-mana harus bawa suntik gajah buat pingsanin tuh anak.


Anak itu semakin gencar melanjutkan, "Burung burung berbiji dua.. palanya botak di balik semvak, jangan disentil jangan digeplak..gitu gitu ngasilin anak."


Zigo auto nangis kejer. Gila! Pak Muktar ada di depan Gavin!


"Nyanyi apa kamu, hah?!!"


"Nyanyiaan yang ada di dalam hatiku.." lagi-lagi Gavin malah nyanyi lagu antah berantah, nadanya pales bikin kuping pengang.


"Gila kamu ya? Abis diputusin pacar kamu?"


"Enggak sih. Bapak kali ya. Setelah saya terawangan menggunakan skin Roy Kiyoshi ternyata bapak mengandung nikotin berbahaya bagi kelenjar ******** yang mengakibatkan sindrom down sejak dini. Mari suntikan kepala bapak dulu di posyandu terdekat dari pada bapak ****** dipermainkan pahitnya gelombang kehidupan yang fana!! Dunia itu fana!!"


"ORANG GILAAAA!!!" teriak Pak Muktar segera lari. Zigo auto nangis darah, setelah ini siapa lagi yang jadi korban ketidakwarasan si torso.


"Go?" Panggil Gavin.


Cowok itu berdiri kaku dengan mata melotot horor, sejak kapan David sama Julio kabur? Sial, dia jadi korban selanjutnya.


"Gue tau–"


"Ssst...!"


Zigo menempelkan telunjuknya di bibir Gavin, semua orang yang liat pada salah paham.


Anjerr yaoi.


"Udah kita bicara lewat batin aja ya."


***


Maap bila ad garing😂silahkan makan kerupuk biar tambah garing😂