ZAF

ZAF
Bagian 37 - Babak Penyisihan



"Seharusnya saya yang berterimakasih," ucap Sawal sambil menepuk kepala Zigo. Ia berangsur mengelus rambut Julio dan David.


"Berasa kek anak ayam gue, Gong." Kata Julio dalam hati, mereka berdua saling bertatapan. Bicara lewat hati.


"Kek anak Dajjal lu mah. Kaga bagi sembako lu sama bapak lu sono?"


"Lah sejak kapan Dajjal bagi-bagi sembako?"


"Sejak Corona melanda, Pid. Hahah!"


"Terimakasih udah mau jadi teman anak saya." Pria kekar itu seperti hendak menangis. Dia terlalu sayang dengan anaknya si Gavin. "Hehe gak apa kok pak, walaupun si Gapin juga kadang bikin malu-maluin, ember, ngeselin, lempeng, ga ngotak, minta dibully lagi."


"Itulah yang saya khawatir kan."


David dan Zigo bertos riang. Mereka ngakak abis nistain muka Gavin yang kini merengut. Merajuk palingan. Disogok sama Gery salut paling baik lagi tuh bocah.


"Alhamdulillah kalian sampai, kamu gak apa-apa kan Zigo?" akhirnya Buk Hesti berbicara, sumringah mengisi setiap pancaran wajahnya. "Itu jaketmu kenapa merah?"


"Dia di–" suara David langsung ditahan dengan tangan kiri Zigo.


Bekas cebok anjer. Batin David.


"Saya ada kerjaan sampingan, buk. Ngecat rumah orang.. nah kebetulan pemiliknya itu suka warna merah."


"Oh gitu."


Ia membetulkan posisi kacamata kemudian mendelik ke arah panitia acara. "murid saya sudah sampai, pak. Boleh langsung dimulai?"


Panitia itu bergerutu kesal namun tetap tak berdaya selagi Sawal masih di sana. Zigo memasuki ruangan tenang, ketika dia memasuki pintu dengan sengaja Farad menyenggol lengannya. Semua peserta segera meninggalkan ruangan auditorium untuk menuju ruang ujian babak penyisihan pertama.


Ruangan tempat tes dilaksanakan cukup nyaman dengan jendela yang dibuka membuat udara sejuk masuk leluasa ditambah lagi tepat di samping jendela itu tumbuh sebuah pohon besar tempat burung-burung hinggap.


Angin sepoi-sepoi yang masuk tidak sedikit pun menyejukkan hati para peserta lomba, soal-soal yang diberikan termasuk soal-soal HOTS. Ada yang menggaruk kepalanya saking frustasinya, bahkan ada yang berniat membanting meja lalu keluar dari ruangan yang sekarang seperti neraka.


Farad mengamati pergerakan Zigo yang masih santai namun tetap serius dalam mengerjakan soal. Menyadari tatapan cewek itu, Zigo memalingkan muka seraya berujar kecil. "Mau nanya soal nomor berapa?"


Dahi Farad berkerut beberapa detik, kemudian ia mencengkram pulpen di tangannya erat sampai berbunyi gemeretak. "Gue cuma mau bilang, setelah ini jangan harap lo bisa sok jago sejarah di hadapan gue."


"Oh."


Farad berjengkit kesal dibuatnya.


***


Pukul tiga sore setelah melewati babak penyisihan mereka kembali berkumpul di ruang auditorium sembari menunggu pengumuman peserta yang lolos ke babak Final. Farad dengan percaya dirinya memandang Zigo remeh saat namanya disebutkan.


Suara mikropon yang menggema di ruangan membuat kepala Zigo pening berputar-putar, di sana masih ada Gavin yang menemani. Kecuali David dan Julio yang sudah pulang karena masih trauma akan penyekapan tadi. Ia sengaja menyuruh mereka tutup mulut agar tidak memberi tahu kalau mereka disekap.


Zigo akui tindakannya semalam mengikuti rencana Alex termasuk salah. Dia hanya tidak ingin si otak robot itu menggunakan trik lain yang jauh lebih berbahaya. Sekarang di bayangannya Alex seperti sedang memainkan bidak caturnya. Memberi umpan, menunggu sambaran.


"Go!"


"Eh iya?" tanggalnya kaget.


"Nama lu disebut noh, lu masuk final."


"Oiya. Bagus."


Gavin mengerucutkan monyongnya. "Gak ada sesi-sesi tereak lebay gitu, Gong?"


Hampir aja Zigo ketawa ngukuk di lantai, wajah Gavin beneran antusias pengen ngelihat dia loncat-loncat girang sambil sujud syukur kaya pemenang mikropon pelunas utang.


"Wah iya... Hore... Hore..." Ujar Zigo menahan ketawanya mati-matian walaupun akhirnya ia tetap ketawa lepas kayak orang kena ambeien. "Gak asik lu Gong. Kayaknya cuma gue yang antusias deh," kata Gavin bersungut-sungut. Mata teduhnya terarah ke tempat lain.


"Yah gak gitu Pin, pikiran gue masih fokus sama kejadian semalem."


"Lu di–" Zigo langsung membekap mulut Gavin kuat.


Timbul jeda sejenak sampai Gavin kembali berbicara.


"Gue gak akan biarin pelakunya lolos gitu aja," ucapnya tiba-tiba. Zigo menaikkan sebelah alis.


"Termasuk lu, karena gak jengukin gue kemaren rasanya pen gue jambakin gigi lu."


"Ahahahahahah sori breh, jangankan jengukin lu, muka elu aja kaga inget gue haha," tawa Zigo pecah seraya memegang perut. Buk Hesti dan beberapa guru lainnya asik mengobrol di dekat taman bunga.


Seketika mereka terdiam saat Farad dan teman-temannya lewat, di sana ada Fika dan Aurel yang berjalan bersisian.


"Uy, liat yang cewek langsung mangap nih anak!" bawel Gavin menoyor kepala temannya satu itu, Zigo meliriknya sekilas namun tetap memandangi ke arah tiga cewek itu.


"Lo.. ikut olimpiade sejarah nasional gini bukan karena mau lo, kan Gong?" tanya Gavin. Ia meluruskan tatapan ke depan. Sudah sore, langit pun bersinar redup. Babak final akan dimulai jam 19:00 WIB.


"Yah kayaknya gue lupa kasih tau ke lu."


Cowok itu melanjutkan, "gue ikut OSN ini karena taruhan Pin."


"Udah tau, kok." Gavin mengeluarkan sebungkus roti isi di dalam tasnya. Mau nonton lomba aja isi tasnya udah kayak orang mau ngungsi dari banjir. Gavin emang gak ngotak.


"Kalo lo kalah lo bakal ninggalin segala sesuatu yang berhubungan dengan sejarah, kan?"


Terdengar helaan napas di sampingnya.


"Iya."


"Gue optimis lu bisa, Gong."


"Tapi gue enggak, Pin. Kepala gue puyeng nih," curhatnya sambil megangin kepala.


"Lo belom makan seharian, ya?" akhirnya Gavin peka juga dengan maksud Zigo, temannya itu hanya merengut. Ia menyodorkan tangan.


"Minta."


Gavin mengelak, "enak aja lu!"


"Petimang sama temen aja pelit! Bagi kaga!?"


"Enggak!"


"BAGIII!"


"Tuan Gavin, Papa udah jemput di gerbang." Asisten pribadi keluarga Zakhary itu mengeluarkan suara dengan sikap hormat. Gavin giliran menatap Zigo yang kelaparan.


"Dah kek bapak lu ye gue, kasi makan, kasi jajan, kasi pulpen.."


Gavin mulai ngungkit. Lagi mode misqin.


"Hehe.. selagi ada lu ngapain sih gue susah-susah keluarin duit."


Keplak!


"Nih," ucap Gavin menyodorkan dua lembar uang pak Soekarno yang nyengir lebar itu. Zigo yang liat uang itu jadi cungar-cungir seneng.


"Makasi Pak. Lu udah kek orang tua gue, deh. Asli Pin. Ntar kalo gue mau nikah lu aja ya jadi wali gue.. hahahaha!"


"Modelmu! Gak mau gue jadi wali lu! Tingkat jadi temen lu aja dah maleeeezt gueh!" dumel Gavin dengan gaya norak. Lagi-lagi Zigo tertawa lepas sampai pengen nangis sampai-sampai terdengar bunyi ghoib pas dia ketawa. Mungkin ususnya melilit tuh.


Gavin beserta Asistennya pergi, cowok berambut hitam pekat itu duduk di kursi rodanya tenang. Di sisi lain Zigo senang akhirnya setelah berteman dengan Gavin ternyata bisa melihat anak itu bergaul dengan normal.


"Makasi nyed." Zigo bergumam sambil menatapi yang merah itu. Lumayan lah, pikirnya.


Di sisi lain, dalam hati Gavin hanya bisa membatin. "Seharusnya gue yang banyak berterimakasih sama lo, Gong."