
Grasak-grusuk di dalam ruangan membuat anggota Genk Palu yang sibuk mabuk-mabukan terganggu, salah satu dari mereka berdiri menghampiri ruangan toilet bekas itu.
"Akhirnya tangan gue lepas.." ujar Julio mengangkat tangannya lega, Zigo melotot menyuruh anak itu jangan ribut. Cowok itu kembali fokus membuka borgol dan gembok di tangan David. Mendadak pintu terbuka, seketika itu juga cahaya terang dari luar masuk ke ruangan itu.
"Ngapain lu bertiga?"
Julio dan Zigo buru-buru pasang posisi semula. Saling membelakangi. "Bang! Tikus sini rame bat dah, banyak nyamuk lagi, sumpah dah kaga ada enaknya ya disekap gini."
"Rewel lu! Daripada gue kunciin lu di kuburan sono."
"Ehehehe iya juga ya bang." Zigo ketawa kikuk, "lu lanjut aja sono bang. Kaga ribut lagi dah gue, pen tidur nih udah ngantuk."
"Hebat juga lu ye, banyak tikus ama nyamok gitu masi sempat-sempatnya bobok." Pria itu menutup pintu dengan raut aneh.
Mereka bertiga mengembuskan napas panjang, dada Julio naik turun. Ia berdalih menilik Zigo menanyakan rencana selanjutnya. "Kita keluar gimana Gong?"
"Itu yang gak gue pikirin, Ling."
"Syalan gak guna dong!"
Zigo menempel kan jarinya di mata Julio. "Sssttt.."
"Ini mata gue go belok!" caci Julio esmosi. Namun temannya itu segera berkilah. "Kan gue bilang cuma bisa memperbaiki keadaan bukan merubah keadaan."
"Jadi gimana dong ini?"
"Gue juga gak tau.."
Mereka kembali menarik napas susah. Tidak ada jalan keluar di toilet ini. Kalau keluar, cahaya di sana terlalu terang. Mereka memasang lampu untuk acara mabuk-mabukan dan berjudi. Bisa dibilang mereka berpesta ria.
"Ck, banyak bet nyamuk di sini elah." David mengomel-ngomel dengan lagak sewot abis, Julio mulai terganggu. Dia sedang mencari jalan keluar.
"Mana sempit lagi!"
"Pid lu diem gue lagi cari jalan keluar." Akhirnya Julio memprotesnya. David tetap tidak peduli. "Bau kencing, sialan!"
Julio tambah kesal.
"Gelap banget sih *****!"
"Lo bisa diem gak sih Pid?!" Marah Julio mencengkram kaos putih David kuat-kuat. Incubus itu tertelan emosi.
"Tahan Ling," Zigo menatap David dengan binar bahagia. David kebingungan lama-lama dibuatnya. Zigo masih menatapnya penuh kesenangan.
"Lo emang penyelamat, Pid."
***
Langit gelap kebiruan menghiasi langit subuh itu, embun menetes dari pepohonan sejuk. Daerah yang dipenuhi oleh tumbuhan itu menimbulkan suara berisik dari binatang di dalamnya.
David terbangun dari tidurnya.
"Sekarang jam berapa, Pid?"
Cowok itu menoleh Zigo kaget. Ia menatap jam tangannya sambil berusaha mencari cahaya agar bisa melihat. "Jam.. lima lewat, Gong."
"Kira-kira menurut lu kita bisa lewatin nih hutan gak?" Tanya Zigo. David tidak segera menjawab, ia menimbang terlebih dahulu. "Dari rute yang kita lewatin semalem kayaknya tempat ini terlalu terpencil."
"Kita kan ada bawa motor ke sini, Gong. Kenapa sekarang sih kita gerak. Kemungkinan mereka udah bangun, Gong."
"Kalo malem.. pertama kita gak tau motor yang kita parkirin di depan masih ada atau enggak. Paling mending kalo bannya doang dibocorin biar kita gak melarikan diri."
"Dan kedua, kalo tengah malem jalan di sini belom tentu ada orang yang lewat."
"Dan ketiga, sekarang gue jamin seratus persen kalo mereka masih tidur. Karena dibawah pengaruh alkohol jadi mereka gak akan bisa berpikir jernih."
"Kita bergerak."
Julio dan Zigo menempel di dinding dekat pintu, mereka menarik napas dalam-dalam.
"BANG ADA SETAN BANG!! TEMEN GUE JADI SETAAN!" teriak Zigo menggedor-gedor pintu.
"SELAMETIN KAMI BANG, ASTAGFIRULLAHADZIM YA ALLAH MATI GUE MAMAAAK!" rengek Julio memukul pintu.
Mendengar lolongan itu beberapa orang yang terbangun segera berdiri lunglai, ada yang memegang kepala pening. Boss mereka sudah kembali ke markas, jangan sampai ketiga bocah itu mati konyol. Bisa-bisa mereka yang dibunuh.
Semua anggota Genk Palu terbangun, pandangan mereka masih buram. Ketika teman mereka membuka pintu toilet itu alangkah terkejutnya mereka ketika melihat sekelebat putih berdiri memaku di dalam toilet gelap itu. Samar, terdengar suara mendesis penuh mistik.
Suasana pecah, Zigo dan Julio berhamburan keluar panik. Begitupun dengan Genk Palu yang mulai panik. Ada yang segera memegang palu hendak melempar. Zigo kaget bukan main.
"Percuma bang! Setan tembus kalo lu lempar! Jan pancing emosi die! Tuh setan ada penyakit ayan keknya!!"
Entah apa yang dipikirkan oleh lelaki itu hingga manut saja, kalau dipikir-pikir masa setan kena penyakit ayan? Kan udah meninggal. Kalo setan juga bisa pesakitan kenapa gak ada kasus setan datang ke rumah sakit buat berobat, Pak Jokowi pun gak ngasih BPJS ke setan-setan. Kesian.
Zigo berhenti berlari, ia berjongkok mengambil ponselnya yang jatuh di lantai. Cowok itu melebarkan netra matanya lebar ke pintu belakang yang terletak di pojok bangunan itu.
"SE-SETAAAAAN!!!"
Semua orang kompak menatap pintu itu panik, saat itu 'hantu' di dalam toilet tersebut keluar menyusul Zigo yang lari ngibrit dari bangunan.
"Tunggu lah weh!"
"Cepetan woi!" balas Zigo balik, David kelimpungan berlari sambil memakai baju putihnya bersamaan. "Modal baju gue doang ye gue bisa nge-cosplay jadi mba Kunti!"
"Ahahahahahah!!" Ketawa Zigo dan Julio bersamaan. Anggota Genk Palu belum ada yang mengejar, seperti prediksi Zigo. Mereka belum bisa berpikir jernih. Jika melihat hantu di dalam toilet yang gelap seperti itu mereka akan langsung panik. Yang mereka lihat hanya sekelebat putih-putih serta bunyi mendesis yang amat mengerikan. Takut aja nanti si David dibawa emak-emak Kunti, dikirain anaknya beneran.
"Kita cuma punya waktu sepuluh menitan breh!"
Saat tiba di tempat tujuan ternyata dua motor yang mereka pakai telah kempes. "Paksain aja udah Gong, daripada entar dibakar ama mereka motor lu!"
"Iya tau!"
***
Panas terik membakar jalan aspal berlubang di sebuah daerah terpencil, kebun teh berjejer rapi di sana disertai aroma segar khas daerah pegunungan. Di jalan yang sepi itu kini terlihat tiga cowok sedang susah payah menyeret motor. Satu motor Vespa milik Zigo dan motor matic milik David.
"Hah... Ling gantian lu yang dorong."
"Iya dah. Ini kaga ada tambal ban apa gimana sih?!"
"Gak tau, Ling," jawab David putus asa, "seingat gue semalem dari rumah ke sini kita ngabisin waktu tiga jam buat sampe. Kalo dorong gini terus, keknya lo bakal ketinggalan lomba, Gong."
"Iya Pid," setuju Zigo. Jaket hitam ia lilitkan di pinggang dengan wajah berkeringat. "Udah jam setengah delapan aja perasaan."
"Kalian berdua gak ada yang tau ini daerah mana?"
"Gue gak pernah ke sini, Ling." Zigo bersuara. "Gue juga." David menimpali. Julio berhenti berjalan dengan wajah putus asa. "Sial banget dah ini. Mana tadi si Bastian juga gak keliatan!"
"Kayaknya dia disekap di tempat lain, Ling," David mencoba berpikir. "Ya udah yok terus jalan. Pasti ada jalan."
"Yossh!"
Akhirnya terlihat sebuah rumah di tempat yang rimbun oleh pepohonan itu, mereka bertanya-tanya sebentar. "Buk, ini daerah mana ya kalo boleh tau?" Tanya Zigo halus.
"Kalian tersesat?" Ibu-ibu yang sedang menyapu halaman itu menatap kebingungan. "Hah..." David menopang tangannya di lutut kecapean. "Iya buk.. kita disekap."
"Wah gimana ini ibu gak bisa bantu apa-apa, tunggu sebentar ibu bawakan air putih. Kalian tunggu di teras dulu."
***