
Keramaian lorong-lorong kelas membuat Zigo jengah, ia memilih berjalan agak dempet dengan dinding sambil mengunyah-nguyah permen. Rasa malas menyerangnya, ia berjalan semakin cepat ketika melihat Alex berdiri di depannya.
"Mulai hari ini lo bagian dari OSIS." Alex menepuk pundak Zigo, membuat cowok berambut kemerahan itu memandang tipis lalu bersuara berat.
"Gue gak perlu basa basi lo."
Setelah itu Zigo berjalan duluan, langkah kakinya lebar dengan perasaan kesal menjadi-jadi. Kemarin saat seleksi pemilihan OSIS, Alex tak habis-habis menguji kesabarannya dengan jalan jongkok, push-up dan melakukan segala hal yang memalukan.
Zigo tidak terima terus diperlakukan seperti itu terlebih lagi kemarin Fika melihatnya datar. Malu, harga dirinya seperti diinjak.
Karena kesal Zigo menghajar Alex, tapi ditahan anggota OSIS yang sudah tahu tabiatnya. Dan hari tiba-tiba Zigo lolos seleksi dan secara resmi menjadi OSIS.
Zigo tahu, senior menyebalkan itu pasti sedang merencanakan sesuatu. Pasti.
"Eh Gong!" teriak Julio. "Ngapa dah muka lu layu beut kek toge baru keluar dari kulkas?"
"Lagi badmood gua Ling."
Gavin bercelutuk. "Eh gue liat di mading elu lolos seleksi ya? Kok bisa?" Ia mengalihkan pandangannya dari torso manusia.
Zigo mengembuskan napas berat. "Tau dia tuh, keknya ada sesuatu yang dia rencanain."
"Alah! Kalo iya pun bakal gue kap dia Gong! Udah, udah! Muka lu jan cemberut gitu kali," ledek David membuat Zigo menurunkan alisnya perlahan.
"Diem lu mentimun!"
"Ngapa malah bawa-bawa mentimun lu."
Zigo diem.
"Udah ah gue mau belajar materi dulu, ntar ada debat PKN." Zigo beranjak ke kursinya seraya berujar jutek, "pinjem fotokopian lu Ling."
Julio segera membuka isi tasnya sambil mengorek-ngorek dengan mata julingnya yang bergerak sana-sini. "Elu mau ngambil fotokopi ape mancing mania sih, Ling, lama amat." komentar David menaikturunkan alisnya.
"Sebentar.. sebentar.. nih tas keknya gak otak lah.."
"Perkara ngambilin fotokopi dah kek mau dakwah aja lu Ling, lama bener dah," jengkel Zigo. Ditatapnya Julio yang kalang kabut ngubek-ngubek isi tasnya.
"Yeh kudu begitu! Baca basmalah dulu... Abistu Al-fatihah.. abistu–"
"ABISTU GUE KUBURIN LU LAMA-LAMA LING!" seru Zigo merebut tas Julio, gak ada apapun di dalam tas anak itu.
"Niat sekolah apa ngungsi banjer lah lu ***? Bawa tas isinya aer botol ama baju olahraga doang?"
"Gue sekolah sekaligus ngungsi Gong, ngungsi dari pasang surutnya kehidupan yang kadang kala diterpa badai kerinduan.. hehe.."
Zigo berpaling pura-pura menghitung ubin kek kambheng budek.
"Dengerin gue kek woi!!"
"Bosen kuy," rungut Gavin suntuk mainin jari-jari torso yang dia kutip di jalan. Dia sayang amat sama torso lab biologi, sampe bela-belain beliin KIT kilap buat dioles ke torsonya.
Rencananya sih pas hari perpisahan buket bunga yang dibelinya bakal dikasih buat Angela seorang. Iya torso serem itu dikasih nama Angela. Kurang ngenes apa coba.
"Maen kodok nyok," ajak David seraya bangkit. "Ah dah gak jaman maenin kodok di kelas kita, Pid. Udah garing bat," jujur Julio kurang setuju.
"Gimana kalo kita kerjain anak Ipa aja?" Tiba-tiba Zigo bercelutuk. Ketiga temannya tampak gembira.
"Setuju! Elo pegang kodoknya Gong, David jadi pengalih, Gavin tukang nyari kodoknya, gimana?"
"Lah elu ngapain gue tanya?"
"Gue cukup berdo'a semoga kelen gak mati kena sundul si Medi," celutuk Julio ketawa ngakak.
Medi punya badan bongsor, asal jalan di depan anak cowok selalu dicengin sambil dimirip-miripin sama ondel-ondel. Kadang juga pakai jurus senam ibu-ibu bunting sampai Medi kesal ngejar balik dia. Iya, siapa yang lain kalau bukan Zigo? Begitulah, kawan kalau udah gak tau malu, gak ada otak lagi.
***
"Gong, gue lemparin nih batu buat nakutin mereka. Ntar kalo mereka udah ketipu baru lu lempar tuh kodok beneran!" beritahu David.
"Lu megang batu, gue megang kodok nih nyet! Buru cepet, tangan gue geli nih! Aseli!"
Anak-anak Ipa 1 yang lagi sibuk makan cantik itu gempar pas David datang dengan wajah rempong mak-mak. Dia teriak, "KODOK LAMBEH TURAH LEVEL 1!"
Seketika kelas gaduh, teriakan melengking para cewek merobek telinga namun justru membuat anak berandalan IPS itu senang. Tapi ada yang aneh, Fika yang sedang menyatat tugas tiba-tiba neriakin nama orang.
"Anura!"
Lalu Zigo meletakkan jarinya miring di kening. "Setres Pin. Gosah lu liat, bisa mempercepat tanggal meet up sama bung male Ijroil."
Hanya melihat batu agak besar yang terlempar, jadinya mereka menghujat. Saat suasana lagi panas-panasnya Zigo maju dengan wajah khasnya. Ketenangan mutlak tanpa dosa.
"Ngapa lu mejeng situ? Gak ada kerjaan lain apa?" Sinis para cewek. Ia menanggapinya anteng.
"Oh, gak ada. Gue dikasih titipan nih, siapa tahu lu pada pen liat atraksi..."
"Apaan–"
"MAMAK!!!!"
"KODOK LETOY! ******! EH KUCING! EH KUCING ******! ASTETEW, MIAW AUG!" latah cowok bencong di kelas itu.
Zigo ketawa ngakak sambil meluk-meluk tiang sekolahan, sampe tuh kodok loncat mendekat ke sepatunya dan malah dia sepak terjang ke arah anak cewek.
Keberisikan seketika pecah, bunyi dentuman meja dan kursi membuat 4 cowok itu ngakak sambil mukul-mukul jidat. Mereka lari sebelum akhirnya Fika maju memegang kodok itu.
"Anura."
Mereka berempat berhenti lari.
"Anura tuh nama pangeran kodok ape gimana sih Gong?"
"Mana gue tahu kampang, lu tanya dah ma dia ntar gue siapin kerenda buat jaga-jaga sapa tau elu lewat."
Julio menyerbu kepala Zigo, "gak ada otak!"
"Anura itu..."
Zigo dan temannya berdalih fokus memerhatikan cewek itu dengan rinci.
"Anura itu nama latin dari katak. Dengan menggunakan kulitnya kita bisa ngebuat 100 anti biotik baru untuk melawan bakteri Staphylococcus aureus yang resisten Methycillin."
Mereka planga-plongo dengan muka bodoh. Saling menatap sambil bertanya-tanya.
"Bro lu ngerti gak dia ngomong bahasa apa? Lokokus tuh sape? Gue taunya si Joko yang suka berak di celana itu." David bersuara kecil. Takut kedengaran Fika yang hanya beberapa meter darinya. Julio berbisik.
"Tauk gue Pid, step kali tuh anak."
"Mengingat toksisitasnya para peneliti melakukan modifikasi pada tingkat molecular terhadap zat-zat yang terkandung dalam kulit katak. Alhasil, lebih less-toxic terhadap sel-sel manusia dan juga terhadap penyakit."
Mereka tambah kebingungan sama bahasa aneh itu. Biarpun pernah ngomong sama orang gila, orang dimabok cinta, orang gila endorse mereka gak pernah dengar bahasa aneh kayak gitu.
Zigo bertanya hati-hati.
"Jadi itu alesan lu selalu nangkepin kodok di belakang lab ya?"
Julio menyikutnya kesal. Anak berambut kemerahan itu memang selalu memperpanjang masalah.
"Ya, bisa dibilang gitu. Jadi?"
"Iya, jadi apa? Jadian?" Zigo menjawab dengan wajah bodohnya.
"Bukan! Cariin gue sepuluh kodok lagi!"
Saat hendak menanyakan pendapat teman-temannya Zigo pangling.
David, Julio, dan Gavin udah lelarian ambil langkah seribu alias cabut.
"Hehe Ka, gue gak bisa. Biasalah orang sibuk," elaknya ketawa hambar.
Kreekkk....
Cutter di tangan Fika berderit keji. Zigo merapatkan kedua kakinya.
"Adek gue dalam bahaya *****!"
"I-iya gue cariin! Berapa, sepuluh?! Seratus pun gue cariin!"
****
Apresiasi penulis dgn like yah😁