ZAF

ZAF
Bagian 36 - Sang Perwira



Seorang guru sejarah dari sekolah lain mendatangi Buk Hesti, ia salah satu guru yang juga pernah mengajar di SMA Gajah Mada. Buk Nita. Mereka berpelukan.


"Kenapa ibu menangis?"


Belum sempat mengeluarkan suaranya, tiba-tiba panitia acara berseru.


"Yang namanya Zigo Alathas Theodora mana?"


Buk Hesti bersuara serak. "Tunggu sebentar lagi pak, orangnya belum sampai.."


Peserta yang tadinya hendak masuk berduyun-duyun ke ruangan jadi ragu. Mereka menyimak percakapan panitia dan guru itu keheranan.


"Tidak bisa begitu, buk! Seharusnya daritadi dia sudah registrasi. Mana nih pengurusnya? Kok bisa lalai?"


Farad berjalan mendekati gurunya, ia mengelus punggung guru itu agar sabar. "Pak, gak perlu dikeraskan juga ya suaranya."


"Kamu perwakilan dari SMA Gajah Mada juga, kan? Mana temanmu? Kenapa bisa telat, gak diajarkan kedisiplinan ya di sekolahnya?"


Farad memolotkan netra matanya geram, sayup-sayup keberisikan mulai terdengar. Beberapa panitia mendekat hendak mengklarifikasi.


"Zigo Alathas akan segera didiskualifikasi!"


"Pak.. saya mohon tunggu sepuluh menit lagi," pinta guru itu. Namun nampaknya panitia yang memiliki sifat tegas itu tidak iba. Malah dia dengan sengaja mengeras kan suaranya.


"Kalian sepertinya tidak ada persiapan, ya? Tidak menghargai peraturan lomba ini. Panitia lain, segera urus peserta lain untuk melaksanakan lombanya! Gak ada kata tolerir untuk ketidaksiplinan di sini," lugasnya hendak pergi. Buk Hesti menarik lengannya pelan, sambil sesekali menatap pintu masuk yang langsung menghadap ke gerbang sekolah. Tidak sedikit pun terlihat Zigo di sana.


Farad menunduk bersalah, sebanyak apapun guru itu menelepon Zigo, meminta perpanjangan waktu atau mengemis seperti itu agar muridnya tidak didiskualifikasi tetap saja Zigo tidak mungkin datang. Cowok itu telah terperangkap di tempat terpencil.


Rasa cemburu menyergapnya, Farad menatap nanar ke Buk Hesti. Kenapa beliau sangat menginginkan Zigo tetap ikut? Kenapa tidak dia? Kenapa guru itu tidak mengantarnya ke dalam sambil tersenyum dan menyemangatinya seperti yang selalu Farad inginkan.


"Buk.. Zigo gak mungkin dateng..."


Teman Buk Hesti yang tadinya terdiam akhirnya ikut berbicara, ia berkata halus. "Kita minta waktu sebentar lagi, pak. Kasihan." Ia ikut membela Buk Hesti.


"Tidak bisa!"


Di tengah ketegangan suasana di aula bercorak putih emas dengan tiang-tiang kokoh penyangga yang sangat angkuh, terdengar suara derap kaki yang sangat bersahaja. Pria tua berumur hampir kepala empat itu berjalan dengan kilat mata seperti elang.


Siapa yang tidak kenal dengannya? Salah berbicara sedikit, akan sangat berbahaya. Beliau Sawaludin Malik Zakhary, seorang Letnan Jenderal perwira tinggi. Di sampingnya terlihat seorang asisten rumah tangga yang sedang mendorong seorang pemuda berbalut kaos hitam yang kontras dengan kulit putihnya. Dia Gavin Malik Zakhary.


Panitia mulai berbisik, pria yang daritadi sangat emosi perlahan melunak serta menunduk dengan nada hormat. "Pagi, pak."


Sawal menyapu pandangan intens ke seluruh sudut ruangan.


"Jadi di sini lomba temanmu dilaksanakan?" tanya pria itu mengacuhkan panitia, ia memilih berbicara dengan anak semata wayangnya. "Iya lah, Zigo mana ya kok gak ada? Eh, buk Esti!"


Panitia itu menciut, tubuhnya gemetar dengan keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya.


Buk Hesti menjawab. "Zigo, belum datang pak.."


"Kenapa bisa?"


"Saya gak tau, pas saya telepon nomornya di luar jangkauan. Padahal kemarin baik-baik aja.." tutur guru itu. Farad terdiam membisu. Ia lupa dengan siapa dia mencari masalah.


Orang tua Gavin adalah tokoh-tokoh terpandang, garis keturunannya juga sangat kaya raya. Jika dibandingkan dengannya, keluarga Farad bukan apa-apa. Bukan hanya uang, tapi Sawal juga berkuasa. Paman Gavin pemilik perusahaan tersukses, Mamanya seorang pemilik butik terkenal. Kurang apa? Gavin cuma kurang ngotak aja sih.


Guru itu tidak bisa berkata-kata, mata teduh miliknya kali ini kehilangan sinarnya. "Saya sudah suruh anak OSIS untuk menjemput, tapi kelihatannya mereka gak ngabarin sampai sekarang.."


"Ada yang tidak beres."


"Bener, pa!" setuju Gavin. Dia memajukan kursi rodanya lalu mendongak dengan seringai jahil ke arah Farad. "Mungkin dia tau ke mana Zigo, pa."


"Kamu temannya, kan? Ke mana Zigo?"


"S-saya tidak tau pak!" Farad tergagu, ia kehilangan keberanian dalam satu detik saja bertatapan dengan Letnan itu.


"Pak," kata Sawal mengalihkan tatapan ke arah panitia. "Kasih waktu, mungkin teman anak saya ini bisa datang. Mungkin ada hambatan di jalan."


"Baik, pak!" Panitia itu menurut seperti anak buah. Di sisi lain Gavin terlihat uring-uringan, sang koordinator acara turun dari panggung, beberapa Kadinas dan orang-orang penting datang bersapa pada Papanya. Gavin memandangi pintu masuk lamat-lamat.


Gavin berbisik yang tentunya masih bisa didengar Farad.


"Hati-hati lo kalo melangkah, kayak kata sensei gue. Zigo-sensei, lu gak bisa lepas lagi setelah ngebuat keadaan gue jadi begini."


Tarikan napas terdengar sangat gelisah di belakangnya, Gavin tidak mau menoleh, ia hanya terus menatap lurus ke depan seraya berharap di sana terlihat motor Vespa orang yang ditunggunya.


"Gong.. jangan bilang lo kepincut ayam betina di jalan?" gumam Gavin, pembicaraan Papanya dan yang lainnya berhenti.


"Mungkin Zigo memang harus didiskualifikasi, ada masalah dia sepertinya. Akan saya selidiki lebih lanjut dengan orang-orang saya," tutur tentara berpangkat tinggi itu berwibawa.


Farad bergetar. Dia sangat ketakutan dengan kata-kata Papa Gavin. Dari seluruh ucapan pria itu, Farad bisa menebak jika Gavin sudah membicarakan masalah sekolahnya ke papanya. Sebenarnya bukan hanya Papanya. Ke semua garis keturunan keluarganya. Gavin seperti anak kucing yang dilindungi ratusan binatang buas. Dan itulah yang kini Farad takutkan, namun ekspresi takutnya kini hilang ketika mengingat Alex. Si otak robot itu.


"Pa, jangan.. ini si Zigo bentar lagi dateng.. Gapin mo liat dia Pah, udah tiga hari dia gak dateng jengukin Gapin." Anak itu mulai berontak, Papanya tidak bisa menyanggupi. Ia juga mulai tak enak dengan peserta lain, sudah hampir sepuluh menit acara terhenti. "Gavin, temenmu nanti papa urusin yah. Sekarang kita pulang, papa ada urusan. Kamu dijagain asisten aja ya."


"Kok gitu sih, pa? Katanya mau temenin Gavin di sini?!" seru anak itu jengkel. "Udah, ah! Papa pergi aja Gavin bisa sendiri!!" Cowok itu memajukan kursi rodanya ke luar pintu. Ia kesusahan saat menuruni tangga dengan kursi roda. Sawal panik segera mengejarnya, namun anak itu berhasil turun dan segera pergi ke gerbang.


Saat itu juga sebuah mobil hitam udik dengan bagian belakang dipenuhi oleh buah kelapa sawit melintas dengan kecepatan penuh.


TINN...TINN...


"AWAS LU PIN JAN NGEDRAMA KEK SINETRON HIDAYAH LU DI SITU!" maki Zigo panik. Mobil berhenti mendadak membuat mereka bertiga kedorong ke depan.


"Huah emaaak.. gue sampe juga ternyataaa.." rengek David giliran bercerocos, sedangkan Zigo langsung turun dari mobil. Semua orang heran dengan jaket berdarah yang bergelantungan di pinggangnya.


"Sensei! Lu gak apa-apa?"


"Gak apa-apa matamu njeblos! Nanti kita bicarain, Pin. Gue telat lomba, nih!"


"Lo emang telat. Udah mau didiskualifikasi malah," celutuk Gavin datar. Dalam hati ia senang melihat Zigo tidak apa-apa. Cowok itu sudah menceritakan pada Papanya akan apa yang menimpahnya sampai digebuk di dalam toilet. Gavin yang penuh dengan ramalan dan perkiraan itu sudah menyangka, pasti mereka akan menjadikan Zigo sasaran berikutnya.


"Terus gimana nih Pin?"


"Untung ada Papa gue nih," sombong anak itu. Zigo melongok ke depan, langsung hormat. Kakinya yang tadi ngangkang kaya preman malah rapet kek perawan lagi datang bulan.


"Makasih, pak!" Ucapnya tiba-tiba. Pria itu menyunggingkan senyum tulus.


"Jadi kamu yang namanya Zigo, ya. Seharusnya saya yang berterimakasih."