
Udara pengap mengisi seluruh kantin, ditambah keberisikan super gaduh yang berasal dari 4 cowok yang punya hobi bikin orang galau.
Galau pengen garukin muka orang misalnya.
Si cowok berambut kemerahan yang belakangan jadi bahan gosipan satu sekolahan merangkak ke atas meja.
"KALAU ADA MAKANAN DI MEJA, MEJANYA YANG KUMAKAN!"
"TERORET TERORET!" saut David dengan suara menjengkelkan. Wajah alimnya memang menyimpan kebangsatan tersendiri.
Diam-diam Julio menggoyang meja membuat si Zigo limbung kanan kiri.
"Eh, eh, met met culametan anak ******* **** hutan!!"
"Mengumpat yang ditaburin dengan sefruit kegoblokan ini nih."
"Heh Zigo! Turun kamu dari situ!" teriak Pakpol yang berdiri di ujung kantin. Zigo turun dengan muka cemberut. "Kek gak pernah muda aja situ!"
Si Pakpol main melongos pergi, mungkin dia enggak dengar. Atau pura-pura budek. Wallahu alam.
"Gila aja diliatin anak cewek kita." Gavin mengomel-ngomel . Mukanya malu-malu kadal, aslinya malu-maluin.
"Biarin ah muka gue emang cakep jadi udah biasa diliatin.."
"Diliatin ama penagih utang iya lu Gong!"
"Hahahaha!" Tawa meledak terdengar nyaring di dekat Zigo. Cowok itu mengalihkan pandangannya sewot plus dongkol tanpa niat membalas.
"Gong," si Gavin bersuara. "Kenapa manusia harus bernapas?"
"Kalo enggak napas, Pin, ntu dua lobang bakal dipake buat apa? Buat jadi knalpot lu gebar-geber?" lontar Zigo dengan wajah pongah. Temannya satu itu emang punya banyak pertanyaan yang gak masuk akal. Tunggu aja kalau udah jam 12 lewat, bakal keluar sifat resenya.
"Terus kenapa Taj Mahal dibuat?"
Pertanyaan Gavin kali ini mungkin bisa dijawab oleh David atau gak Julio, walaupun cuma secuil paling enggak mereka tau sedikit sejarah bangunan bersejarah itu.
Belum sempat temannya nimbrung tiba-tiba Zigo menyerobot.
"Karena pembuatnya terlalu bucin."
Mereka tercenung. Saling menatap.
"Ahahahah! Anak setan lu!" tawa berderai sambil sesekali menampol kepala Zigo. "Kan elu jago sejarah Gong! Jawab yang logis lah woi! Apa kek gitu!"
"Ya karena meninggalnya Mumtaz Mahal oon.."
"Ohhh... Terus–" suara Gavin terpotong.
Tiba-tiba Zigo berteriak kencang ke seorang cewek.
"Cewek! Godain Abang dong!!" teriaknya ke arah dua cewek yang sedang berjalan.
Fika menoleh kaget. Ketiga teman Zigo saling menatap tercengang.
"Gaya lu kek angsa ngebet kawin Gong!" gahar Julio agak panik, dia tahu maksud Zigo.
"Maen nyasar-nyosor aje lu Gong, tiati keserempet janda ntar migrain palelu ahahahah!!"
"Perbanyak amalmu Pid, jangan bacotmu," nasehat Zigo dengan wajah andalannya. Ketenangan mutlak tanpa dosa. Dua cewek itu menoleh sinis ke arah mereka. Julio seketika membeku di tempat.
Tujuan Zigo sebenarnya bukan buat menggoda Fika, itu bukan dirinya. Melainkan buat nyomblangin Julio sama cewek yang berjalan di sebelah Fika. Farad.
"Sini dong... ada yang mau kenalan nih!"
Farad menoleh ke arahnya, seketika senyum Zigo terkembang lebar. Fika yang berada di tengah-tengah mereka melirik mereka bergantian dengan wajah kebingungan.
"Dia ngomong ke siapa, Far?" tanya Fika. Farad berdecak, "Tau dia, gak usah lo ladenin Ka, cowok emang gitu."
Melihat tidak ada respon dari dua cewek itu teman-teman Zigo tertawa nyaring.
"Dikacangin Pak Haji! Ahoy.. Saket tapi tak bernanah dong!"
"Gong.. lu pernah ngegosok bungkusan ale-ale gak? Yang ada tulisan Anda belum beruntung itu?"
Manusia setengah hantu itu tertawa lebar, Zigo menyorotnya tajam.
"Eh yang pake gelang kuning!" seru Zigo gak mau menyerah, Farad menoleh tipis merasa tersinggung.
"Yang lo maksud gue?"
"Oh bukan.. engkong lu di rumah! Yah elu lah, sini sini ada bisnis penting kita!"
Julio panik.
Farad berhenti tepat di depan mereka. "Apa lo manggil-manggil gue?" tantang cewek itu seraya berkacak pinggang.
"Julio mau kenalan nih sama elu, katanya pengen silaturahmi."
Wajah Julio memerah, Farad yang daritadi cuma berkacak pinggang akhirnya membuka suara.
"Itu doang?" Cewek itu menaikkan sebelah alisnya. "Ck, gak guna."
"Pfft..." Mereka tertawa sambil berpaling muka.
Julio the sad boy.
Kemudian tatapan Farad beralih ke arah Zigo, membuat cowok itu menoleh balik.
"Gosah liatin gue gitu, gue emang cakep, pinter, mempesona, dan mengagumkan. Gue izinkan lo terpesona, tapi cuma sedetik, makasi."
"Ih.. geer lo! Albert Einstein yang pinter aja gayanya gak sesongong lo!"
"Asal lo tau, gue juga pinter kaya si Einstein! Sampe gue ikutin tuh cara tidur doi, tidur malam 10 jam dan siang 1 detik!"
Farad tercengang. Anak biawak satu itu ngomongin apa sih? Pikirnya.
"Hah?"
"Eh kaga deng, kebalik. Kalo gua tidur malam 1 detik, tidur siang 10 jam! Kurang mantep apa gua, Ling!" tawa Zigo memukul kepala Julio.
"Kalau pinter kenapa gak ikut OSN Sejarah aja sana?"
Zigo, David, Julio dan Gavin serentak terhenyak seraya memandang Fika. Wajah cewek itu yang tadinya putih bersih menjadi memerah malu.
"Lo tau darimana?" nada bicara Zigo mulai gak enak. Fika buru-buru menjawab. "G-gak, lupain aja."
"Lagian tau apa lo emang tentang sejarah?" ledek Farad membuat Zigo memasang wajah kecut.
Farad juga termasuk pintar sejarah, ia lebih berminat belajar IPS . Jadi gk heran kalau bertemu Zigo ia merasa tersaingi.
"Gue tau penemu telepon."
"Alexander Graham Bell?" Farad tertawa, "itu anak kecil juga tau!"
"Iya, anak kecil juga tau. Tapi tentang penemu yang sebenarnya, lo aja gak tau."
"Elisha Gray?" timpal Fika juga merasa tertantang.
"Yakin lo?" lontar Zigo memasang wajah kurang yakin. Farad menimpali membela temannya.
"Udah jelas-jelas Bell yang nemuin bodoh! Kecuali lo gak pernah baca buku sejarah!" nyolot gadis itu dengan mata membara. Zigo sempat kaget juga melihat respon Farad.
"Terus kenapa di waktu yang sama Gray juga mengajukan permohonan hak paten? Menemukan barang kayak telepon perlu waktu yang lama, kan?"
"Intinya lo mau bilang Gray penemu telepon sebenarnya?" cela Fika lagi.
Kepala Julio mulai berputar-putar. Ketiga teman Zigo angkat tangan, debat pun dimulai. Kalau udah begini, si tuyul tak botak dan tak berotak bernama Zigo itu haram untuk menyerah.
"Elisha Gray emang rival si pak tua itu, dia kalah sidang sih. Tapi masa elu pada gak tau sih? Wajar deh, anak IPA." Zigo menekankan intonasinya di kata anak IPA.
"Atau lo cuma mengada-ada?"
"Kalo gue cuma mengada-ada, pelajaran sejarah gak akan masuk dalam kurikulum kita. Ilmu itu bukan tentang mengada-ada."
Fika berdecak kecil. "Yang jadi penemu telepon jelas-jelas Bell, permohonan hak patennya lebih dulu diterima daripada Gray."
"Antonio Meucci." sambut Zigo. "Dia pernah kalah sidang sama si pak tua dulu, tapi pas Juni 2002 kan udah resmi dia yang menjadi penemu telepon."
Sontak dua cewek itu terdiam. Nama itu asing di telinga mereka, kalau mereka menyambut bisa jadi apa yang Zigo katakan benar. Apalagi melihat Farad yang ikut terdiam membuat Fika ragu menjawab.
Perdebatan mereka berhenti, Zigo menunggu mereka menjawab.
Fika ragu, yang ada jika asal berargumen bakal berakhir dengan memalukan dirinya sendiri. Menunggu Farad merespon agaknya nihil, temannya sekarang telah kehabisan kata-kata. Fika meremas jarinya kencang, perdebatan mereka ternyata banyak disimak orang-orang di kantin.
Seketika suasana berubah ribut, banyak anak cowok yang menyerukan nama Zigo. Si mawar berduri dari lab Biologi itu menahan amarahnya kuat-kuat. Secara tidak langsung ia kalah berdebat dengan anak IPS dekil itu.
"Tunggu aja pembalasan gue, Go."
Samar-samar Zigo dapat mendengarnya, temannya masih ribut. Namun cowok itu teralih ke arah Fika dan Farad yang kini angkat kaki dengan wajah murka.
"Bakal gue balasin lo lebih dari ini."
Seketika senyum Zigo berubah kelu mendengar kalimat Farad.
"Keknya gue baru aja mulai war deh." gumam anak itu sendiri. Tanpa peduli kegaduhan di sekitarnya.
Gavin menepuk pundak Zigo berusaha menenangkan.
"Gak apa kawan, gue udah siapin tanah 2.50 x 1.50 meter buat lo."
"Yang mau mati siapa kambeeeng!"
##