
Jam pelajaran keempat dimulai, hari ini Bukan Hesti masuk. Guru killer itu menapaki ubin kelas dengan penuh wibawa.
"Assalamualaikum."
Serentak mereka menjawab salam guru itu, Buk Hesti menaruh buku cetaknya di atas meja.
Pelajaran berlangsung seperti biasa, sebelum tiba-tiba guru itu menyinggung tentang OSN sejarah yang membuat Zigo kembali tak enak. Dia tahu, beliau sering memujinya di depan guru-guru sains. Wanita hampir 40 tahun itu terlihat agak kecewa melihatnya dan Zigo tahu itu dari sorot mata beliau, tak lama Buk Hesti mendekati mejanya.
"Zigo.."
"I-iya Buk." Ia tergagap, dalam hati mengumpat-umpat karena tergagap seperti itu.
"Kamu yakin, kan, mau ikut OSN?"
Zigo kembali diam, bola matanya menuju tempat lain. "Kayaknya.."
"Kamu kenapa, nak? Kalau mau kamu bisa cerita, mungkin ibu dan teman-teman kamu bisa membantu.." beliau melanjutkan. "Kamu kurang semangat ikut OSN ini, padahal ibu yakin kalau kamu yang ikut sekolah kita pasti menang." Buk Hesti tersenyum kelu melihat respon dari wajah Zigo.
David memberi kode pada Julio.
"Buk, temen saya ini demam panggung orangnya jadi gak bisa ikut," ujar Julio tiba-tiba membuat anak kelas penasaran.
Zigo? Demam panggung? Yang ada orang yang bakal jadi korban bacotannya yang bakal demam panggung.
"Ling.." sungut Zigo membuang napas melihat senyum sok polos Julio, temannya satu itu sok jadi pahlawan. Anak itu cuma berusaha membantunya agar tidak diinterogasi lebih lama oleh Buk Hesti.
"Zigo, gak apa cerita aja," rayu guru itu melemah. Cowok berambut kemerahan itu membuang pandangan ragu-ragu.
Zigo menepuk pundak Julio sambil berdiri. "Gue gak mau ceritain, lo pasti tau kenapa Ling. Lo aja ya, gue mau keluar dulu." Ucap Zigo pada sahabatnya itu.
*****
Zigo's Story
Started⏳
Gemuruh menggema di seluruh penjuru bumi, kilat halilintar meluluh lantakkan pepohonan tinggi. Malam mencekam tanpa sinar bulan, air mengalir deras di jalan aspal.
Petir sahut menyahut di daerah pegunungan yang rawan longsor. Angin berhembus ngeri karena di jalan tersebut sering terjadi kecelakaan. Sekelebatan pepohonan yang terlihat sepintas seperti dihinggapi sosok kuntilanak. Aura-aura negatif juga semakin terasa kental saat menanjak ke puncak yang tinggi.
"Udah jangan diliatin terus," nasihat seorang perempuan yang duduk di samping kursi kemudi. Anaknya itu menoleh kecil namun tetap tak teralihkan dari jendela mobil.
"Memang na kenapa Nda?" celoteh anak kecil itu dengan mata berkedip melihat sekeliling.
"Di luar banyak setannya! Kalo berani nengok nanti kena kap!" goda Papanya dengan tawa berderai.
"Ih.. ndak mau!! Bundaaa!!"
Bundanya tertawa lucu melihat anaknya meringsek maju ke depan mencoba meraih dengan tangan kecilnya disertai mata berbinar lucu.
"Hahaha, makanya gak usah liatin keluar terus." Papanya berceloteh tanpa memalingkan wajahnya ke depan, ia harus fokus menyetir.
Anak itu mengangguk kecil, Bundanya masih menengok ke belakang menatap putra kecilnya yang hanya bisa manut.
"Abang kalau udah besar mau jadi apa?"
"Ndak mau Bunda panggil abang.. Nanti kalo adek dah lahir baru boleh," omel anak itu. Papanya terkekeh, dan Bundanya tersenyum sambil mengelus perutnya yang mulai membesar.
"Jadi sekarang maunya dipanggil apa?"
"Teserah papa."
Papanya ketawa ngakak. "Anak ******."
"Hush! Anak kamu juga itu bang!" kesal istrinya seraya mencubit pinggang suaminya.
"Nanti kalo udah besar," anak itu bercerita. "Mau na jadi kayak Papa."
Bundanya tersenyum manis, Papanya menoleh ke belakang.
"Kayak Papa?"
"Iyah pa."
"Kalau gitu kamu harus sering-sering baca sejarah, pokoknya kamu harus pintar deh. Kalau udah pinter nanti kamu baru bisa jadi sejarawan biar kayak Papa," kata Papanya bersemangat. Bundanya pun ikut menasehati.
"Kamu jadi anak yang baik ya, patuh sama orang tua, jangan nakal."
Anaknya mengangguk-anggukan kepala.
"Yakin kamu bisa kayak Papa?"
"Yakin!!" rewel anaknya gak mau kalah.
"Sebesar apa yakinnya?"
"Sebesaaaarr inih!" anak itu merentangkan tangannya lebar-lebar dengan wajah berusaha meyakinkan Papanya itu.
"Papa dukung kamu kok, demi Papa deh. Kamu jadi sejarawan aja, ya? Janji?"
"Janji Pa."
Petir mengamuk semakin menjadi-jadi, air banjir menggenang di jalan yang mereka lalui. Jarak ke kampung halaman mereka yang berada di pedesaan masih jauh.
"Ma, rumah na nenek masi jauh ya?" tanyanya lugu. Bundanya mengangguk kecil. "Sabar, ya."
Ia memilih membuka buku ensiklopedia milik Papanya di dalam tas. Meski belum tahu seberapa, anak itu sudah kenal dengan tembok raksasa China. Kalau papanya bercerita, ia dengan mudah menjelaskan kembali secara rinci. Apapun yang dikatakan orang tuanya seperti direkamnya baik-baik dalam ingatan secara sadar tak sadar.
"Sayang, membacanya di rumah nenek aja ya. Mata kamu sakit lho kalau baca di sini." tegur Bundanya, anak itu bersikukuh.
Wanita itu tertegun. Pertama, anaknya itu sudah pakai kata aku untuk memanggil dirinya sendiri. Dan kedua ia sudah bersungguh-sungguh menjadi sejarawan, padahal umurnya masih 6 tahun.
"Dengerin apa kata bunda ya."
"Ndak mau!"
"Kalau gitu turutin bunda ya, kan kamu mau jadi sejarawan. Harus nurut sama orang tua ya, sayang."
"Ouuw orang sejarawan harus patuh sama orang tua na ya Nda? Kalau gitu aku jadi sejarawan demi Bunda aja la," tutur anak itu berderet-deret tanpa henti. Bicara masih belepotan tapi sudah banyak bacot tanpa rem. Lagi-lagi Bundanya tertawa.
"Demi Papa enggak nih?"
"Iya deh demi Papa!"
"Demi papa atau bunda?" canda papanya lagi, anak itu tampak bingung.
"Nanti kalau uda jadi sejarawan baru aku pikirin," celotehnya lalu ketawa ketiwi sampai matanya hampir hilang pas ketawa.
Bundanya mencubit gemas pipi anaknya. Ia sangat bersyukur karena anaknya begitu yang patuh, lucu, dan paling penting mudah menerima apapun. Ia tidak pilih-pilih makanan, pokoknya yang ada di depan mata langsung masuk dalam perutnya. Kalau ketemu orang juga diajak bicara tanpa malu. Neneknya di kampung sangat sayang padanya, makanya saat ini mereka hendak menuju desa bertemu neneknya.
"Ya udah gini aja, kamu jadi sejarawan demi Papa sama Bunda, kan?"
Ia mengangguk tiga kali.
"Kalau udah jadi sejarawan jangan lupa sholat, kamu harus baik sama semua orang terlebih lagi sama orang tua, guru-guru kamu, sama kawan.." nasehat Papanya tanpa melepaskan pandangannya.
"Sering-sering doa sama Allah, supaya nanti kamu gak jadi orang yang tersesat. Apalagi mengaji.. doain Papa sama Bunda ya, jangan lupa..." Bundanya juga ikut bersuara.
Anak itu terdiam mendengarkan. Mungkin mencoba mengerti apa yang Papanya katakan.
"Pa.. Nda..."
"Kenapa?" Papanya menoleh ke belakang khawatir. Begitu pun Bundanya yang kini memeluk anaknya khawatir.
"Paaa berenti paa!"
Ckiiiiiiitt!
BRUAAAKKH!!!
Pohon besar tumbang akibat longsor, menghantam mobil hingga remuk di bagian depan. Anak kecil di dalamnya meraung-raung ketakutan disertai dengan sambaran kilat beratus kali lipat lebih ngeri di malam itu.
Bundanya mendekap tubuh anak kecilnya dengan erat, darah kental mengalir lewat lantai pintu.
Diam. Tidak bersuara. Perlahan terdengar suara kecil terisak perih.
"Pa.. Nda.."
Tidak terdengar suara siapapun, anak kecil itu tidak mengerti apa-apa namun ia hanya bisa terisak dengan napasnya yang tersendat-sendat.
"Besok aku mau jadi sejarawan.." kata anak itu menangis kecil, ia berusaha menceritakan apa yang baru saja mereka bicarakan tadi.
"Kata Bunda sejarawan harus patuh sama orang tua..." suaranya dengan tangan berusaha mengelap matanya yang basah.
"Bundaaa.." teriak anak itu mencoba memeluk erat bundanya yang hanya terdiam. Bau amis darah mulai terasa menusuk hidung.
"Na.."
"Paaaaa!!" Lolong anak itu saat menyadari Papanya masih bernapas.
"Na..nti ja-jangan lup—a d-do'ain Papa sama b-bun..."
Tangisan suara anak itu pecah, meraung, memekik, mencoba melepaskan jari-jari Bundanya yang mendekapnya sangat erat. "Paaa... Huaahhh!!"
"Pa.." panggilnya di saat suasana sunyi, hanya derasnya air hujan yang terdengar.
"Bunda.. kata Papa nanti jangan lupa do'ain Papa sama Bunda.." ia berusaha mendongak, batang pepohonan yang menghantam mobil membuat kepala Bundanya remuk dalam posisi tertunduk.
"Kalau Bunda sama Papa ndak ada, aku jadi sejarawan demi siapaa.." tangis anak itu terdengar menyayat hati. Tangisan anak 6 tahun yang kehilangan orang tuanya dengan cara mengenaskan.
"Nda jawab Nda.." rengeknya menggoyang-goyangkan tubuh bundanya.
Tarikan napas yang sangat berat membuat tubuh Bundanya bergerak. Anak itu memeluk dengan erat, ia tidak tahu bahwa Bundanya tengah sakratul maut.
"Nda jangan tinggalin aku,"
"Rajin sholat..."
"Iya Nda," ia mencoba mengingat kata-kata Bundanya itu. Seumur hidup kalau bisa.
"Rajin belajar..."
Wanita itu mengecup dahi anaknya lemah.
"Rajin ngaji, ya, Igo ..."
Empat jam anak kecil itu habiskan sendiri, bercerita pada dua orang tuanya yang telah tiada sembari menunggu orang membantu mobil mereka yang rusak parah. Apapun yang pernah kedua orang tuanya katakan akan ia ingat seumur hidup, ia berjanji dalam hati. Tangannya semakin erat memeluk Bundanya, yang ia tahu besok bundanya akan memanggil namanya sambil berkata, "bangun sayang! Nanti monsternya datang!" Lalu Papanya akan berpura-pura menjadi monster sambil menggelitiknya.
Dalam keadaan sunyi, gelap, kehujanan serta kilat petir yang tidak ada habisnya. Anak itu hanya bisa memeluk perut bundanya erat, badan mobil yang bonyok di bagian kap membuatnya tidak bisa bergerak. Darah kembali menetes membasahi wajah anak itu, begitu juga air matanya.
Sampai subuh, ketika banyak relawan dan petugas yang membantu, kedua orang tuanya sama sekali tidak berbicara lagi. Anak itu bingung.
Ia telah kehilangan mereka sejak terakhir kali ia mendengar nasihat dari orangtuanya.
Zigo's Perception|End
***