ZAF

ZAF
Bagian 1- Gue, Zigo



Nama gue Zigo Alathas Theodera, suka berkutat dengan sesuatu yang berhubungan dengan sejarah masa lampau. Karena gue punya prinsip yang bernama Dasa Dharma Zigo!


Sepuluh prinsip hidup seorang mahkluk super kece seperti gue.


Prinsip ke-1: Sejarah itu gue!


Bisa dibilang wajah gue di atas standar dengan kulit putih mengilap kayak piring abis kena san laik, gigi berderet rapi, serta bentuk wajah kayak pangeran Charles, membuat diri gue terkenal di mana-mana bahkan dijadikan model buat produk ternama. Gak jarang banyak anak cewek mengerubungi gue sambil ketawa cekikikan lalu dengan niat terselubungnya minta selfie atau sekedar tanda tangan.


Hehehe….


Oke, gue ngaku!


Gue bohong deng.


Tampang gue bisa dibilang di ambang kehancuran sih, eh buseed, gak jelek amat kok. Paling enggak gue punya lesung pipi. Kalau dibilang ganteng sih enggak, tinggi standar dan dompet pas-pasan, tapi kenyataannya beberapa cewek ada yang rela-relaan minta nomor WA gue.


Aneh sia. Apa stok cowok ganteng udah berkurang di bumi Indonesia ini ya? Eh, tapi kan gue termasuk kaum ganteng. Ganteng banget malah.


Membahas percintaan sih, gue agak sentimen dengan yang namanya cewek. Mereka susah dimengerti tapi mau dingertiin, selalu benar dan menang sendiri.


Mereka santun tapi berlagak, sentimental tapi bengal, dan terakhir mereka lembut tapi angker! Karena itulah gue gak pernah mau berurusan sama cewek,  mereka semacam mahkluk antah berantah penyembah bulan atau semacam bangsa lemuria yang hilang secara misterius, terus kembali ke bumi dengan perawakan horror. Hi!!!!


Makanya gak jarang gue antisipasi sama yang namanya cewek. Dan jangan heran, kalau di kantin yang penuh sama cewek gue bakal ambil langkah seribu. Biarlah gue jadi sinting sendiri atas persepsi gak masuk akal ini.


Terkadang gue bingung kenapa cowok-cowok di luaran sana suka banget bikin cewek pada jerit-jeritan kek kodok kejepit di pintu sama segala rayuan gombal gembelnya, emang cinta kayak gitu ya? Digombalin dikit langsung tereak.


Berarti gue juga pernah dong.


Kemaren remote gue ilang, yah gue tereakin. Berarti gue jatuh cinta ama remote dong?


CINTA MBAH MU.


Oke, balik lagi ke topik.


Intinya sih gue tipe cowok yang biarpun gak pernah nyentuh cewek tapi gak pernah menyakiti mereka man!


Gue termasuk ke dalam kaum-kaum yang berkutat dengan peristiwa lampau, perhitungan keuangan dan geografis bumi. Alias anak Ips.


Tanpa ada pemaksaan tersendiri atau pesimis dengan nilai matematika yang jelek, gue masuk ke kelas bobrok tempat jin buang anak dengan tingkah manusia bengal menyerupai saytonnirrajim.


Di kelas Ips lo bakal ngerti ternyata bukan hanya setan yang bisa menyerupai manusia, tapi manusia juga bisa jadi setan! Mereka bakal jingkrak di meja sambil teriak kayak orang lagi ujian duit, terus berpelukan penuh haru setelah Julio—ketua kelas kami mengabari kalau guru gak masuk. Dan saat itu yang paling gue benci,  waktu Julio—manusia  setengah hantu itu meluk gue kayak kaum gay sambil bilang; “Guru gak masuk, gue terharu banget sumpah."


Banyak yang bilang anak IPS itu paling mudah membaur, yap betul. Gue punya banyak kenalan di SMA Gajah Mada ini, termasuk anggota basket dan selalu mondar-mandir disuruh ikut lomba ngaji antar sekolah.


Hal itu yang membuat mahkluk tampan bernama Zigo ini terkenal di khalayak ramai.


Tentu aja banyak konspirasi di dalamnya. Para oknum-oknum gak tahu malu dengan sengaja mengubah nama indah gue ke nama terkutuk yang dilaknat tujuh lapisan langit. Iya, gue lebay.


Tapi ini masalah reputasi bray!


Nama gue yang keren, Zigo Alathas Theodera berevolusi menjadi nama menjijikkan, Zigong. Tentu dengan berat hati gue selalu dipanggil dengan nama itu oleh para kompeni bermuka busuk itu; teman-teman gue. Mereka adalah kaum-kaum gak tahu diri, bikin putus urat dan hobi menipu diri sendiri. Namun mereka tetap teman-teman gue biar pun wajah mereka serupa anak tuyul kegempet sepeda ontel, mereka adalah sahabat yang selalu berjalan bersisian di sebelah gue.


Tahun ajaran pertama, gue masih anak kelas satu semester satu. Meskipun masih agak baru seperti yang gue bilang tadi nama gue langsung terkenal setelah  upacara penyambutan siswa baru ditunjuk untuk jadi pembuka acara dengan lantunan ayat suci Al-qur’an. Entah kenapa setelah itu banyak orang sok kenal ama gue, saking gregetnya cicak di dinding aja pada tebar pesona asal gue leuwat.


Ah, kegantengan gue emang membawa bencana.


Seperti biasa, pagi hari saat para orang memulai aktivitas gue langsung berseragam lengkap sambil bersiul-siul, berpikir sejauh mana sejarah yang telah habis gue baca dan mencari referensi baru untuk didebat.


Gue tipe yang suka mencela, mengambil keuntungan atas kesalahan orang lain dan menjerumuskan lawan dalam situasi berat; kalah. Karena  hal paling sering dijumpai di IPS adalah berdebat dan gue senang melakukannya.


Motor berjalan pelan melewati jalan-jalan sejuk dengan deretan pohon teduh di pinggir jalan, hal yang paling menyejukkan ketika berangkat sekolah adalah melewati jalan ini.


Sampai tiba-tiba gendang telinga gue terasa meledak waktu sebuah lengkingan dari pinggir jalan raya membuyarkan lamunan gue.


Dan yang lebih ngeselin ya lagi dia bilang ini ke gue.


“WOI ORANG JELEK!”


Sialan!


Crees que eres hermosa?!1!1!


Dia gak lihat apa kegantengan gue yang mahadahsyat ini bisa bikin Lucinta Luna jatuh cinta? Mana sini cewek paling cakep sedunia, bakal takluk kali liatin wajah gue!


Prinsip ke-4: Kegantengan gue adalah kutukan sejak lahir!


Gue mulai meminggirkan motor sambil melototi cewek itu dengan ganas.


Sempat terkejut gue ketika bertatapan langsung dengan cewek itu, iris mata coklat terangnya terbias pantulan matahari pagi, garis wajah tegas serta wajah yang terbilang sangat cantik. Pengen rasanya gue kabur ke Zimbabwe habis ditatap garang kayak gitu, masalahnya harga diri lelaki gue tersentil dan ini gak bisa dibiarkan. Gue harus membalas.


“Apa-apaan lo manggil gue seenak udel, hah?!”


Ternyata gertakan gue gak cukup meruntuhkan wajah sombong cewek berpita pink itu.


“Anterin gue! Lo tahu seberapa menderitanya gue nungguin tumpangan hampir enam puluh detik di sini?!” teriaknya kencang, seakan dia udah menunggu berabad-abad lamanya, gue mengerutkan alis melihat cewek itu jelas-jelas panik penuh kekesalan, “Ngapain lu malah curhat ke gue?”


“Karena lo cowok, dan cowok harus melindungi cewek!”


“BODO AMAAAT!!!!”


Gue langsung hengkang dari situ, tapi si pita pink itu menyerobot di depan motor kesayangan gue. “Kok lo tega, sih, ngelihat cewek nunggu di pinggir jalan?! Lo gak kasihan kalau gue kemakan debu, masuk angin terus terkontaminasi sama kuman?”


“Gak peduli gue, sono minggir lu!” balas gue jengkel, cewek itu terus komat-kamit dengan bahasa kuman-kumanannya itu, para bangsa bakteri, serta virus beterbangan di jalanan yang bakal menyergapnya kalau aja gue gak mau nolongin dia.


“Lo gak tahu bahayanya asap yang masuk ke organ paru-paru, lo bisa kena ISPA!”


“NENEKNYA ISPA JUGA GUE MAKAN! AWAS, AWAAS, GUE UDAH TELAT NIH!!” seru gue tambah gondok.


“ANTERIN GUE!” nada bicaranya mulai dongkol habis merapal seluruh nama bakteri sialan itu, gue menarik napas kasar lalu menatap cewek aneh itu. "Ngerepotin mulu sih yang namanya cewek?" dumel gue pelan.


"APA?!" alis cewek itu bertaut kencang macam leopard.


Busetdah, nih cewek kalo teriak bisa-bisa Madara loncat dari kuburannya.


“Buruan naik!” kata gue mengalah.


“Cerewet banget sih lo kayak cewek?” gerutunya, gue menganga lebar. Lah terus gue kudu jawab apaan setaaan??


Dengan dongkol gue nganterin dia, tanpa nanya mau ke mana karena dari seragamnya juga tahu dia termasuk anak SMA Gajah Mada.


Memang dasar cewek!


///


Heyhoo! Apa kabar?