ZAF

ZAF
Bagian 35 - Di Desa Terpencil



"Nih bang, makan dulu. Minum juga nih," suruh ibu itu. Dari pakaian yang dipakainya makin memperjelas bahwa mereka sedang berada di daerah pedesaan terpencil.


"Ini desa Gunung Lereng," ujar ibu itu menjawab pertanyaan mereka bertiga. David menjentikkan jarinya ingat.


"Ah iya gue inget!"


"Jauh gak Pid?"


"Jauh banget! Dua jam perjalanan baru nyampe kira-kira!"


"Yahh.." suara Zigo lemas, ia berhenti ngopi saking paniknya. Tapi gorengan di tangannya gak ada berhenti dimakan sih. Maklum, cacing di dalam perutnya udah pada bentuk ormas buat demo. "Kalo kita balap mungkin sampe, sih."


"Nama kalian siapa dulu nih?"


"Saya Zigo, buk. Yang ini Julio."


"Lah gue gak dikenalin?"


"Lu siapa ya?"


"Percuma tadi gue nyamar jadi setan, Gong! Kaga ada harga dirinya gue ah!"


"Iya deng. Ini David buk, yang mukanya setengah ganteng," canda Zigo membuat ibu itu tertawa. "Setengah ganteng? Setengahnya lagi?"


"Setengahnya genteng buk, aowokwokwok!"


Walaupun garing tapi Zigo memaksa tertawa. Ha ha.


"Buk, di sini ada tambal ban gak?" tanya Zigo mengalihkan topik pembicaraan. Ia menelusuri jauh ke ujung jalan, sepertinya tidak ada.


"Wah, jauh itu bang." Ibu itu menoleh ke motor mereka. "Bannya bocor, ya?"


"Dikempesin, buk!"


"Wah.. jahat mereka. Mereka harus dilaporkan ke polisi." Ibu itu menggeleng tak percaya. "Ayo cepat makan lagi, kebetulan masih banyak di dalam."


"Mwuheh iya mwakasih bwuk."  Zigo cungar-cungir dengan mulut penuh, David nyumpalin risol ke dalam mulut anak itu. "Cepet abisin!"


"Kampret kesedak woi!"


"Eh-eh?!" Sesaat Zigo membelalakkan matanya ke ujung jalan di mana mobil hitam dan beberapa motor gede sedang melaju kencang.


Ibu itu mengerti apa yang sedang Zigo takutkan saat ini. "Motornya cepat bawa ke dalam!"


"I-iya Buk!"


David dan Zigo menggiring motor ke dalam rumah lalu menutupnya dengan kain seadanya. "Sembunyi *** sembunyi!"


"Ibu itu gak akan kenapa-kenapa, kan?"


"Alah lu kaga ngarti dah the power of emak-emak!"


"Gak yakin gue nih." Julio bergerutu cemas. Dia ngumpet di dapur belakang, terdengar suara ribut di depan.


"Buk! Kayaknya tadi saya lihat ada orang duduk di sini." Pria berslayer itu menyidik tajam, ia mengisyaratkan rombongan nya agar mengobrak-abrik rumah ibu itu. "Heh!"


Ibu itu mengibaskan sapu lidinya.


Mereka mundur kompak, tangan pria itu dipukul dengan sapu lidi.


"Gak ada sopan-sopannya sama orang tua!"


"Gak pakek gue sopan santun!"


"Melawan lagi! Saya ngomong satu kamu menjawab seribu! Emang yah bocah jaman sekarang!"


"Apaan sih! Gue bekep juga lu orang tua!"


"Woi ikat aja nih tua keladi!"


"DURHAKA KAMU SAMA ORANG TUA!"


"Lah gue bukan anak lu!" kilah pria itu, sapu lidi menghantam dengkulnya bengis.


Bughk! Bughk! Bughk!!


"Aw! Aw! Aw!" pria itu memegang kakinya kesakitan. Temannya yang lain maju dengan celurit. "Heh orang tua!"


Belum sempat melanjutkan kata-kata ancaman, cowok yang paling muda itu duluan kena gebuk di pinggang.


"Sopan sedikit sama yang lebih tua!"


"Sakit buk! Enggak lagi! Enggak lagi!!" rengeknya kencang, beberapa orang yang hanya menonton juga kena cubit putar di pinggang. Damage-nya lumayan juga nih ibu-ibu.


"Di rumah ibu ada tiga cowok, kan?!" cecar salah satu dari mereka.


Ibu itu menukikan alis kencang. "Tiga gadis di rumah saya! Kalo kalian masuk bisa rugi mereka!"


Genk itu segera membayangkan tiga gadis dengan pakaian uwaah di dalam rumah itu.


"Jangan mikir kotor kalian! Mau saya panggilkan polisi?!"


Bughk! Bughk!


"Santuy buk, kalem.. kalem.."


"Gak ada kalem-kaleman! Pergi kalian sebelum saya pake rotan!"


"Kalo gak ada di rumah ibu jangan ganas-ganas juga dong!"


"Pergi kalian! Itu anak gadis saya pada takut semua! Mau saya bacok kalian semua di sini?!"


"Iyaaaa..."


"Apaaa?!!"


"Iya kita pergi maksudnya."


"Bukan pergi! Pulang sana dicari emakmu!"


"Iyaa.."


"Diperintah iya-iya aja jawabnya!"


"Lah salah terus aku di matamu buk!" Mereka mulai memprotes dengan rasa gondok tentunya.


"Menjawab lagi kamu!" Ibu itu semakin emosi rupanya. Seketika tidak ada yang menjawab.


"Kok diam?!"


"Tadi ibu bilang menjawab lagi! Ya udah saya diem!"


"Masi kecil udah pinter menjawab kamu, ya?! Didikan siapa kamu hah?!"


" MATI AJA GUE UDAH! BUNUH GUE WOII, BUNUUUH!!" cowok yang daritadi meladeni ibu-ibu itu berteriak kesetanan. Dia segera dimasukkan ke dalam mobil. Rombongan itu bubar dan keberisikan mulai senyap.


Di dalam rumah ketiga cowok itu hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Apa gue kata, Ling. The power of emak-emak. Wanita itu perkasa. Jangan macem-macem lu."


Julio meneguk ludah kasar dengan wajah berkeringat dingin, dia ketakutan. Tapi Julio masih pengen terlihat laki banged saat ini. Anggap aja dia keringat gara-gara kepanasan.


"Jadi gadis kita gengs," tawa David ngukuk di tempatnya, dia mukul-mukulin paha dengan ketawaannya yang udah kaya orang kena asma.


"Tiga gadis gengs, wkwkkw."


Keadaan sunyi, tawa Julio menghilang ketika ibu itu datang. Beliau bersuara tenang.


"Motor kalian titip aja dulu sini. Minta bantuan sama sanak saudara," usul ibu itu. Zigo memerhatikan ponselnya yang kini lowbat, sinyal pun tidak ada sama sekali.


"Gak bisa buk."


"Dengar apa kata ibu dulu."


*** Z A F ***


Sudah hampir jam sembilan Buk Hesti mondar-mandir di sebuah SMA 2 Gading tempat diadakannya seleksi OSN tingkat kabupaten dan kota. Wanita itu menggigit jari kukunya gemetar, nama Zigo sudah dicantumkan sebagai peserta. Jika dia tidak kunjung registrasi ulang, mungkin Zigo akan langsung didiskualifikasi.


"Kenapa, buk?" Tanya Farad khawatir.


"Ini si Zigo kok belum nyampe, ya?"


Guru itu memerhatikan gerbang depan yang sangat ramai oleh peserta dan juga guru walinya, wajahnya kelihatan carut marut.


"Ke mana ya tuh anak?" gumam Farad sambil melongok, "sabar aja ya buk mungkin aja dia lagi kena masalah.."


Cewek bergelang kuning itu menarik sudut bibir kecil. "Masalah yang gue dan Alex rencanakan tentunya." Batin Farad.


Jam sembilan sudah, Buk Hesti nampak tak berdaya. Ia sangat mengharapkan kedatangan murid kebanggaan nya satu itu. Ini hari pembuktian, ia ingin membuktikan bahwa selama mengajar ia tidak main-main. Ia akan menempa muridnya dengan telaten. Buk Hesti sangat berharap Zigo dpaat memenangkan OSN ini untuk menjadi pembuktiannya mengabdi selama bertahun-tahun di SMA gajah Mada.


Di dalam ruangan yang elit nan megah itu mereka dipersilahkan duduk sembari mendengar sambutan Kadinas Pendidikan dan jajarannya. Buk Hesti menoleh ke pintu masuk dengan cemas bercampur kalut, ia bersungut-sungut. Kata-kata penyambutan dari mikropon hanya terdengar sayup-sayup di telinganya.


Tiga puluh menit sudah berlalu.


Guru itu semakin cemas.


Benarkah Zigo tidak akan datang? Kenapa? Apa karena mentalnya masih belum siap? Padahal selama pelatihan anak itu terlihat baik-baik saja. Kacamata Buk Hesti mulai berembun, pelupuk matanya menghangat.


Guru-guru dan peserta dari sekolah lain kebingungan menatap Buk Hesti yang sedang mengusap matanya. Ia hanya bisa mengandalkan Farad. Bahkan, setelah satu jam berlalu sejak acara pembukaan Zigo tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


Panitia menginstruksikan agar peserta memasuki ruangan tempat mengerjakan soal. Buk Hesti mengelus rambut Farad halus.


"Kamu harus menang ya nak, menangkan nama sekolah kita.. ibu mohon." Guru itu bersuara parau dengan bibir bergetar. Seketika itu juga baru Farad merasakan  beban di pundaknya.


Bagaimana jika ia malah mengecewakan guru itu?


Farad kini menyesal. Sekilas ia menatap pintu masuk dengan rasa harap-harap cemas, namun buru-buru memasuki ruangan dengan wajah yakin.


"Gue bakal menangin lomba ini, Go. Lo bakal kalah."


**


**Emak is debes lah 😂


"Dibesarkan malah jadi pembangkang! Mau jadi apa kamu?!"


"Tiduurr aja kerjanya!"


"Hape terooos.."


Lanjutin gengs kata2 mutiara emak kelen hahahhahha😂peace Mak✌️**