
"Bastian!"
Zigo tersentak kaget.
"Gak ada habisnya kamu bikin masalah!" teriak Pakpol penuh emosi jiwa, udah sejam yang lalu mereka kena semprot guru nyebelin itu sampai mulutnya berbusa. Zigo memandang lempeng.
"Zigo!"
Zigo kembali tersentak kaget.
"Kamu juga! Kenapa siiih tiap tahun ada aja murid bandel kayak kamu!"
"Jangan samain saya sama dia!" Teriak mereka berdua kompak.
"Apasih lu ngejawab aja kudu nyontek kata-kata gue!" cecar Sebastian dongkol abis, wajahnya yang kini diperban babak belur dibuat Zigo. "Nyontek itu pas ujian bang! Kalo gue nyontek ke elu, bisa terjun bebas kali nilai gue!"
"Ngomong apa sih?! Gue mampusin lu!"
"Bapak lu gue mampusin!"
"DIAAAMMM!"
Mereka berhenti cingcong, mulut Zigo manyun. "Bastian! Bukannya papa udah bilang jangan bikin masalah lagi?! Malu dong sama umur kamu!!" Pak tua itu mengoceh penuh kesabaran.
Zigo terkaget-kaget. Papa? ******. Rupanya Pakpol itu bokapnya si Bastian.
Sebastian menyenggol lengan Zigo pelan. "Kaget kan lu? Bapak gue tuh, lu mampusin sono kalo berani.."
"Pantesan sama." Zigo membisik.
"Garangnya?"
"Qobloknya bang."
"Anj*ng lu!" Teriak Sebastian kembali emosi. Zigo memulai aksi liciknya. "Eh! Kaga sopan luh bang! Bapak sendiri dibilang doggy!"
"Anak kurang ajar kamuu!" Balok di tangan guru itu mengarah ke bahu Sebastian, Zigo ketawa ngakak.
Duk! Duk!
"Adodohh! Saket pak! Kok gue kena juga sih!!"
"Kamu juga punya salah sama saya!"
"Lah anjay.. salah mulu gue di mata bapak," nyinyir Zigo dongkol. Sebastian berusaha melirik sinis ke musuhnya itu, namun perban yang menyilang di kepalanya menganggu.
"Ya jelas salah lah! Memang kamu pikir yang salah saya?!"
"Bacot juga nih bapak-bapak," ketus Zigo pelan. "Apa kamu bilang?!!!"
Cowok itu menggerakkan tangannya ketakutan, "enggak atuh pak. Bapak ganteng banget dah."
"Nyari muka nih," sindir Sebastian pura-pura memandang langit-langit ruang BK.
"Bawel lu ngalahin politikus di TvOne ye."
"Mangkanya kalo mau nyari muka tuh sama orang munafik, jangan ke bapak gue! Mau gue siapin kerenda buat lu?!"
"Sembarangan lu tuyul botak!" maki Zigo tak kalah sewot, "pegimane caranya gua curi muka bapak lu! Muka gue juga masih gantengan ke mana-mana!"
"Ganteng ye, kek kolor kaga kena Molto setahun."
"Lama-lama ngeselin lu ye!"
"HEH!!" Pakpol menggebrak meja, duo kampret itu terkejut lalu diam dengan tertib. "Yang salah kan kalian! Seharusnya saya yang merepet di sini!"
"Yowes. Merepet lah bapak, saya mo berjelajah di alam yang indah dulu."
"Apa tuh?" sambut Bastian.
"Ngimpi! Nyok mimpi! Kaga usah denger ceramah kita bang, lagi kaga jum'atan gini hari. Mending kita bobok."
"Anak gak ada ahklak kamu Zigo."
Zigo mencebik jengkel, dia menggaruk telinganya kasar. "Males gue Pak kena ceramah mulu. Lah mending ceramahnya dapat duit. Kaga bosan ape pak nyerocos sana-sini sepanjang hari?"
Pakpol mendengkus berat seolah pundaknya penuh beban, Sebastian menatap singkat ekspresi lelah pria tua itu.
"Bastian, luka kamu obatin ke UKS sana. Zigo, kalau mau jenguk temanmu lagi silahkan." Guru itu menutup pintu perlahan, menyisakan raut wajah aneh di muka dua berandalan itu.
"Baru kali ini gue diceramahi sama doi, tapi kerasa banget.." ungkap Sebastian pada dirinya sendiri.
"Lah iya..tumben amat kaga suruh gue pulang balek lapangan kaya ayam ilang kandang," cerocos Zigo menyahut.
Mendadak mereka saling bertatapan, Zigo dan Sebastian saling menunjuk geram.
"Weh sialan lu!"
"Apa sih kaga berhentinya lu recokin orang!" gas Zigo mundur dua langkah, Sebastian masih memasang wajah gak terima. "Gue tantangin lu duel sekarang juga!"
"Kaga mau gue!"
"Mau!"
"Kaga mau dibilangin!"
"MAU!"
"KAGAAA MAAAUUUU!!"
BLAMM!!
Zigo membanting pintu, Bastian mengejarnya cepat. Mereka berjalan bersisian, senior itu masih kekeh mengajaknya kelahi lagi.
"Gimana kalo kelahinya di parkiran?" usul Sebastian antusias. Zigo memutar bola mata jengah, anak itu menoleh sambil berhenti berjalan.
"Gue. Bilang. Enggak. Mau."
"Wuih kudu gue siapin juga nih penontonnya supaya mereka tau kalo gue yang paling kuat di mari," gumam senior itu dengan tangan di dagu. Berpikir keras. Wajahnya semangat.
"Gaya lu kudu persiapan ye kek bakal memproklamasikan kemerdekaan. Tadi aja lu kalah ama gue!"
"Gue yang menang tadi!! Selamat lu bokap gue dateng!"
"Harusnya elu tuh yang harus sujud syukur, diselamatin bokap lu! Daripada diselamatin mobil ambulance!"
"Makanya kita tarung sekarang buat buktiin siapa yang terkuat!"
"Lu kelahi sama kertas ulangan sono bang! Pening gua lama-lama deket elu!"
Bastian melirik curiga, "suka lu sama gue sampe-sampe grogi di hadapan gue?"
"Mati aja kek lu!" Zigo membuang napas penuh emosi, "gue mau liatin temen gue yang lu abisin tadi! Masih mending ye sekarang gue lagi gak emosi! Kalo enggak udah gue pagerin juga gigi lu!"
"Gue sikat juga elu di sini!"
"Bapak lu yang gue sikat!"
"Jangan bawa-bawa bokap gue lu!" seru Sebastian mendekatkan dada bidangnya, cowok berkulit agak gelap itu masih tetap keras kepala mengajak Zigo kelahi. Padahal luka di kepalanya masih mengeluarkan banyak darah.
"Jangan nempel-nempel apa! Kek jablay lu nempelin gue! Susah amat ya jadi orang ganteng! Kaga bisa silap, ini muka jadi objek pujian mulu!"
"Idih *** gaya lu!"
Zigo berlari menjauh dari senior aneh itu, namun Sebastian mengejarnya sepanjang jalan menuju UKS. "DUEL NYOK, BOCAH!"
"DUEL SAMA NENEK GUE SONO! DOI JAGO TUH TINJU ANAK ORANG! CUMA ORANGNYA UDAH DI KUBURAN!" Teriak Zigo keras-keras, ia menyelip di kerumunan siswa-siswi berharap Bastian kehilangan jejaknya. Namun anak itu masih dapat mendengar suara lantang Bastian dari kejauhan.
"ELU SONO DUEL SAMA BAPAK GUE! JAGO DOI JURUS KUNG FU, BISA MENCAR BADAN LU!"
"YAODAH NENEK GUE BATTLE SAMA BABEH LU SONO!"
Orang-orang pada melirik aneh ke mereka berdua. Sang preman sekolah dan Raja Sejarah itu benar-benar tidak bisa diduga. Mereka sudah menjadi bahan pembicaraan anak sekolahan sejak dua jam yang lalu. Memang, gosip di sekolah ini mudah sekali menyebar.
Seperti halnya tentang kedekatan Fika dan Zigo, berita tentang kengerian senior mereka yang bernama Sebastian juga menjadi topik yang selalu dibicarakan. Ada banyak geng di SMA Gajah Mada, yang sudah diketahui identitasnya ataupun yang masih menjadi misteri. Salah satu geng yang namanya hanya sekedar rumor itu adalah Genk Palu.
Sedangkan yang sudah terkenal adalah komplotan Sebastian, mereka memiliki anggota yang banyak karena rata-rata anggotanya adalah kacung Bastian. Topik-topik tentang geng ini selalu seru untuk dibicarakan, bahkan terkesan melebih-lebihkan. Namun, Zigo sendiri tahu kalau keberadaan geng itu benar adanya.
Zigo berusaha menoleh ke belakang, Sebastian sudah pasti masih mengikutinya.
"Sialan, apes bat gue. Gak sama bapaknya.. gak anaknya.. dihantuin mulu gue!!"
***