ZAF

ZAF
Bagian 21 - Julio-scope



Bel pulang terdengar nyaring di seluruh penjuru, puluhan siswa berhamburan keluar dengan senang. Kecuali Zigo yang nampaknya susah-susah aja, bel yang biasanya jadi sorakan kemerdekaan bagi para murid menjadi hal menakutkan baginya. Ia memasukkan buku dan alat tulisnya hambar, tampangnya mengkeret, kemudian melampirkan tas ranselnya.


"Gong, lu kenapa?" Gavin bertanya, wajah datarnya membuat Zigo males. Cita-cita Zigo tiba-tiba berubah menjadi kondektur jalan. Buat tambahin lampu lalu lintas, lampu taman, pembatas jalan sama penunjuk arah di muka Gavin. Supaya gak datar bat muka dia kek jalan tol.


Sebentar kemudian cowok itu menarik napas berat.


"Muka lu kayak orang susah, Gong!" David kali ini yang merecoki, tunggu aja sebentar lagi Julio menyahut.


"ABANG ZIGONG.. SAMLEKOM.."


"Dahlah gue mau pulang," ujar Gavin. "Mau nonton tipi kesayangan." Anak itu beranjak ke gerbang saat asisten pribadi Papanya menjemput. David pun udah lari mengejar anak itu.


"Dasar anak Indosiar sejati. Eh ngemeng-ngemeng keren yak Indosiar."


"Ngapa?" Zigo menjawab.


"Pagi sampe siang azab, malam dangdutan." Julio cekikikan.


Zigo menimpali. "Subuhnya orang yang diazab dangdutan."


Mereka berdua ketawa ngakak. Julio duluan berjalan disusul oleh Zigo. Biasa, Julio pasti minta nebeng sama sohibnya itu. Padahal dia punya motor sendiri di rumah, tapi bukan Julio kalau gak bikin orang susah. Gak bikin orang susah bikin hidupnya gak guna.


"Lu mau ketemu ama Farad, kan?"


"Iya, Ling. Lu mau nitip salam?"


"E-e-eh, ENGGAK!"


Zigo tertawa setan, Julio makin panik melihat raut wajah anak itu padahal yang punya julukan manusia setengah hantu kan dia.


"Jangan lu bilang lah, oi!"


"Iya.."


Lagi-lagi Julio berbicara, "gue..."


"Lu mau kenalan sama Farad, kan?"


Julio tertegun dengan wajah kebingungan mau jawab apa, dia susah mengelak terlebih lagi berhadapan dengan manusia sekampret Zigo. "Udah, jujur aja kali."


"Sebenarnya bukan tentang itu aja, Gong.. ada satu hal yang pengin gue kasih tau ke elu," ucapnya kelu. Nampak dari tatapannya Julio agak takut.


"Gue–"


"Udah, yak! Gue mau ke lantai atas!"


Zigo udah pergi, Julio hanya menatap anak itu kemudian menghela napas berat. Dalam hati Julio cuma berharap semoga temannya itu tidak mendengar rahasianya dari mulut Farad.


Semoga Zigo tidak membenci Fika.


---


"Baru nyampe, lo? Ke mana aja?" seorang cewek bercetus sinis, nada bicaranya sangat tidak enak didengar.


Zigo menaikkan alisnya hendak ketawa, aneh. Cewek itu aneh di matanya.


"To the point aja. Sekolah kita bakal ngirim dua perwakilan untuk OSN Sejarah, gitu juga dengan perwakilan OSN biologi."


"Jadi apa hubungannya sama lu manggilin gue ke sini?" tanya Zigo masih tidak mengerti.


"Buat kekalahan gue kemaren, gue pengen nantangin lo. Lo dan gue bakal ikut OSN. Kalau nilai lo bisa di atas gue, gue bakalan ngasih tau di mana buku lo."


"Buku gue?!" Zigo yang tadi anteng berubah on fire.


Buku tercinta guueeeeee!!!?


"Lo nyuri yah?!!"


"BUKAN."


Zigo berdehem, yang penting bukunya masih aman. "Dan kalau lo menang?"


"Lo ... Gak usah berurusan lagi dengan sejarah, maksud gue, yah.. kayak ikut OSN atau pura-pura sok pintar."


Jari Zigo cepat-cepat merapat kuat, baginya Sejarah adalah harga diri. Kalau dipertaruhkan begini dia merasa terhina. Padahal, syarat yang diajukan Farad berat sebelah. Jika kalah Zigo harus membuang jauh-jauh harapannya menjadi seorang sejarawan, tapi jika dia memang maka hanya mendapat buku miliknya. Kepala Zigo terlanjur mendidih, dia menjawab dengan lantang.


"Gue terima!" Kata cowok itu mantap. "Bakal gue beli bacot lu!"


Farad tertawa meremehkan seraya bertolak pinggang, manik mata tajamnya melirik ke halaman sekolah dari atas.


"Itu temen lo, si Julio?"


"Lo kenal dia?"


"Iya. Dia anak yang baik lho, pinter, suka menabung dan rajin sholat lima waktu.*


Eanjir promosi gue jadul bat, elah budu umut.


"Temen? Gak salah gue?"


Senyum Zigo perlahan mengendur, kebingungannya dapat terlihat lewat dahinya yang berkerut. Ia menerka-nerka maksud Farad.


"Ha?"


"Kasian, yah, nyokapnya. Jadi janda. Lo tahu sendiri kan dia yang kerja banting tulang demi keluarganya."


"Lu tahu banyak, ya?" Zigo berkomentar. Udara bertiup menggoyang kan seragam mereka. "Lo gak dikasih tau?"


"Gue tahu, kok." Zigo mendekat ke arahnya seraya melemparkan pandangan ke bawah. Menatap ke Julio yang tengah duduk menunggu sendirian.


"Dia malem-malem masih kerja demi biayain nyokapnya yang sakit-sakitan. Kadang sampe gak makan seharian karena kerjaan, kasihan gue tiap liat dia di meja kasir, gak kebayang kalau gue yang jadi dia."


Kalau soal Julio, Zigo emang bakal banyak ngomong. Gak jarang dia yang jagain ibu Julio di rumah sakit. Kadang bawain makanan, sampai gantiin Julio kerja pas anak itu sakit-sakitan. Dia dan Julio memang udah kayak saudara. Tapi gak kembar seiras sudah biasa. Itu mah Upin Ipin.


"Menurut lo, siapa yang bikin ibunya sakit? Atau ngebuat dia terpaksa kerja gitu?"


Ucapannya membuat Zigo terdiam.


Farad memejamkan mata menimbulkan jeda, Zigo menunggu kalimat selanjutnya keluar dari mulutnya.


"Papanya."


"Papanya udah meninggal," sela Zigo cepat.


Farad membalikkan badan menghadap Zigo, menyunggingkan senyum, kemudian berbicara sembari berpaling muka.


"Papanya udah cerai sama nyokapnya sebelum meninggal." Farad melanjutkan. "Dan lo tahu..? Sejak itu nyokap Julio sakit-sakitan, papanya gak ninggalin harta apapun demi mereka. Rumah, uang atau kasih sayang. Gak ada."


"Lu tahu sebanyak itu dari mana? Kenapa lu tau banyak tentang Julio?" Zigo memasang raut curiga. Pertama dia kira Farad memang suka stalking kehidupan Julio. Tapi makin aneh kalau dia sampai tahu sedetail itu.


"Gue tau dari Aurel."


"Aurel??"


"Mantan ... Lo?"


Zigo berdecak halus. "Mantan gebetan." Ralatnya.


"Ohhh, muka lo jadi aneh kalau gue sebut Aurel, ya?"


"Ck! Udah, gue mau pulang." Zigo buru-buru beranjak, Farad makin menarik senyumnya.


"Aurel bilang, lo gak pantes buat Fika."


Mendadak langkah kaki Zigo berhenti, ia mengeratkan pegangan ranselnya. Kemudian berbalik, "Dan bilang sama dia. Gue gak punya urusan apapun lagi sama dia."


"Okay."


Tanpa kata-kata lagi Zigo buru-buru pergi dengan perasaan kesal. Kesal luar biasa, kemudian rasa kesalnya berubah telak. Setelah mendengar omongan Farad.


"Dan lo tau..? Yang ngebuat hancur hidupnya Julio... Pas Papanya menikah dengan Mamanya Fika."


Deg.


Seketika ingatan Zigo berkelebat hebat, Julio sahabatnya yang menyedihkan itu tidak memberi tahu apapun soal ini. Gigi cowok itu bergemerutuk hebat, tangannya mengepal dipenuhi emosi.


"Gue kasih tau ini, emang supaya buat elo dendam sama Fika," jujur Farad. "Aurel. Dia sahabat gue dari kecil, yang sampe detik ini masih sayang sama lo. Dia gak mau lo dekat sama siapapun kecuali sama dia."


Dilihatnya dada Zigo naik turun. Sesuai prediksinya, di siang terik ini Farad berhasil memicu api dalam diri cowok itu.


"Gue kenal lo dari dulu, meskipun kita beda sekolah tapi Aurel sering nyeritain tentang lo ke gue."


"Dan demi jaga perasaan dia, dan bentuk balas budi ke Aurel, gue bakal ngelakuin apapun yang dia minta."


"Udah, bacot lo?" tanggap Zigo geram.


Tanpa basa basi lagi Zigo segera meninggalkan atap sekolah. Kali ini Farad tidak berbicara lagi, ia cukup puas membuat cowok itu emosi. Ponselnya berdering, dilihatnya Aurel menelepon.


"Tenang, Rel. Gue bakal buat mereka berantem, demi lo."


***


Banjer demi dpt THR dari NovelToon terpaksa up skrg deh😂