
Banyak desas-desus tentang dewi iblis penguasa Lab Biologi, seorang cewek yang selalu membawa binatang aneh ke dalam lab untuk dimutilasi. Di sisi lain dewi itu seperti seorang malaikat bersayap putih, dia akan datang pagi-pagi buta untuk menyiram bunga-bunga cantik di depan lab.
Tapi jarang ada cowok yang berani berinteraksi dengannya, cewek separuh malaikat itu kadang menenteng cutter sambil tertawa angker. Julio salah satunya, dia lari terbirit-birit menuju kelas dengan wajah ketakutan lalu dengan sigap teman-temannya mengerubungi anak penuh cerita itu.
“Asal lo tahu…” kata Julio terengah-engah, Gavin dengan mata melotot penasaran mengipasi anak itu guna segera menceritakannya.
"Argghh, kerongkongan gue serasa mau meledak!” keluhnya dramatis. Gavin mengipas buku semakin kencang, dengan penuh takjub David menyodorkan sebotol air mineral.
“Ini paduka Raja, mohon diceritakan dengan segera…”
Puluhan anak cowok memasang posisi masing-masing dengan wajah penasaran, kemudian secara dramatis Julio sang Incubus-sebutan Zigo untuknya-menggeleng ketakutan, seakan-akan bisul telah tumbuh beranak pinak di pantatnya.
“Tadi gue lewat di belakang sekolah, tempat dewi Lab bersemanyam… di sepanjang jalan gue ngelihat kodok terbelah dua…” teman-temannya bergidik ketakutan.
Awan mendung di luar menambah kesan ngeri, angin meniupi gorden kelas dengan misterius, keringat dingin bercucuran di seragam Zigo yang daritadi hanya menyimak.
“Terus Ling?”
Julio menatap orang-orang purba berwajah dungu itu kalut, alisnya menurun pertanda hal mengerikan akan menyapa gendang telinga mereka.
“Di gudang Lab gue ngelihat itu…”
“Itu apa, Ling?” mereka bertanya serentak dengan raut wajah curiga. Julio menggelengkan kepalanya lagi lalu setelah menarik napas baru dia berbicara.
“Si Fika megangin tikus yang berulat di sana, dimutilasi sambil ketawa-ketiwi. Terus dia natap yang di bawah gue kayak ngelihat tikus selanjutnya yang bakal dia cincang,” Julio berbicara getir.
“Hiii!!!” serempak mereka bergidik ngeri memegangi barang pusaka sendiri.
“Banjer, serem amat tuh cewek!” komentar yang lain, Julio menyapu wajah berkeringatnya dengan lambat. Mereka persis puluhan Homo erectus yang senang menipu diri sendiri, nakut-nakutin temen terus sableng pakai ngajak-ngajak orang. Mungkin cara yang begituan sangat dianjurkan buat menambah obet sepergoblokan Anda.
GUBRAK!
Serempak kepala mereka menoleh cepat ke arah pintu, terlihat cewek yang kini memakai bando merah menunduk dalam dengan aura seram di sekitarnya. “Mana… mana yang namanya Zigo?”
Gavin buru-buru mendorong Zigo membuat cowok itu jatuh terjerembab dengan ekspresi dongkol, dalam posisi itu dapat dilihatnya Fika tengah tersenyum iblis padanya. Mendadak Zigo merapatkan pahanya.
“Jangan bunuh adek gue, plis!”
"Musnah juga tuh alat berkembang biak lu Gong," bisik David.
"Coba lu bilang kek gitu sekali lagi, gua tepok juga itu tulang ekor lu!" umpat Zigo sewot setengah berbisik.
“Lo dipanggil Buk Hesti di Kantor,” suara Fika datar seraya membuang muka.
Terlihat cewek itu jengah oleh tatapan memuja dari cowok-cowok Ips. Kemudian dengan langkah lebar dia meninggalkan kelas menimbulkan bisik-bisik kecil di kelas dekil itu. Zigo bangkit dari jatuhnya dramatis.
“Cie… udah sejauh mana progress-nya nih Bang Zigong?”
“Gue jeplakin juga nih papan tulis di mulut lu! Kagak ada hubungan apa-apa gue sama dia nyed! Dan satu lagi, nama gue Zigo, bukan Zigong, setaaaan!!!” cerocos cowok berambut kemerahan itu sewot sembari mendamprat kepala temannya, Julio mengelus kepala dengan kesal.
“Gak ada otak!”
“Kalo ngumpat pake kata yang laen kek! Jangan gak ada otak mulu!”
“Gak ada otak!!!”
“KAMPRET!”
***
Zigo memilih menyusul Fika di koridor kelas, cewek berbando merah itu tengah berdiri di dekat mading dengan wajah jutek apalagi ketika melihat Zigo, wajahnya kelihatan mengelam. “Jalan udah kayak cewek, lemot!”
Zigo tahu, Fika udah malas mendengar ocehannya. Cewek itu terus berjalan di depannya dan ketika Zigo berhasil berjalan di sampingnya Fika akan berjalan tambah cepat.
Kesal. Zigo beberapa kali tanpa sengaja menabrak kakak kelas cuma untuk mengejar cewek berbando merah itu. Sampai akhirnya dia menyerah dan berhenti berjalan.
“Hah… hah… ha….” Zigo menempelkan tangannya di dinding, Fika berhenti berjalan seraya menengok ke belakang.
“Kenapa asal gue jalan sebelah lo, lo malah jalan makin cepat?” Zigo menarik napas berat, berusaha menstabilkan deru napasnya.
“Males. Muka lo malesin.”
JLEB.
Fika membuang arah pandangannya ke hamparan bunga di depan Lab Biologi tanpa mendengar ocehan Zigo yang mengumpat-umpat macam orang lupa diri.
“Lo denger gue gak sih?”
"Kelamaan jomblo lo sih, ngarep didengerin."
JLEB. JLEB. JLEB.
Kalau ada kamera di sampingnya mungkin muka Zigo mirip kayak video yang lagi di-pause. Lima detik dia lewatkan dengan mulut mangap dan ekspresi kesal.
“LU JUGA JOMBLO, NYET! NGENES BANGET MALAH!” seru Zigo berteriak keras. Alis Fika bersatu kencang, cewek itu paling sensitif kalau sudah menyangkut statusnya.
“HEH, JENGLOT JOMBLO! Gue sendiri karena gue mau! Memang elo, gak ada yang mau!”
JLEBBBBBBBBB.
Jomblo ngenes itu tertohok, Fika telah menghilang dari pandangannya membuat Zigo kesel luar biasa bahkan ketika guru berkepala botak lewat pengen rasanya dia telan bulat-bulat. Di sisi lain, Fika tersenyum samar.
Pembalasan mutlak. Batin Fika.
“DASAR JOMBLO!” teriak Zigo tak mau kalah, wajah Fika memerah kesal.
“DASAR JONES!!”
Mereka sama-sama terdiam.
“Gue jones karena gue yang mau!”
“Gue jomblo karena gue yang mau!”
Teriak mereka bersamaan. Zigo dan Fika terdiam.
“GAK USAH IKUT KATA-KATA GUEEE!!!”
Mereka berteriak serentak, semua orang yang lewat mengerutkan alis heran lalu terkekeh geli melihat dua orang aneh itu.
Zigo mengendurkan kepalan tangannya, Fika mengela napas berat lalu tanpa kata-kata lagi mereka saling berjalan menjauh.
Dengan dua arah mata angin berbeda. Tapi Tuhan tahu bagaimana menyatukan dua hambanya itu, dengan mudah, hanya dengan seutas tali.
Yang berisi takdir.
***
Aing gk mood nulis, mun maap jd lelet update
Jgn lupa vote ye😂