ZAF

ZAF
Bagian 10- 2S



Bagian 10 – 2S


SATU minggu berlalu dengan cepat, Zigo nampak pucat saat hari Senin datang lagi, ia menahan rasa dongkol. Dasi ia lilitkan di leher dengan kerah baju yang sedikit terbuka, bukannya bandel, Zigo memang gak tahu cara pakai dasi. Mengikat tali sepatu aja sampai diikat mati.


Ia jalan jongkok menuju barisan karena telat, belum berapa jauh jalan jongkok ternyata di barisan anak cewek banyak yang menggosipinya—meskipun Zigo terlalu ogah nanggepin cicak-cicak kurang bahan ghibahan itu— dia sempat dengar begini.


"Wuih, tuh anak pedekate-an ama Ratu Biologi itu? Gak abis pikir gue!"


"Eh, gue anak IPS, denger-denger dia dapet julukan dari Buku Hesti, Raja Sejarah!"


"Cocok dong! Raja Sejarah dan Ratu Sains, jadi 2S! Eh, tapi muka tuh cowok gak bisa diamplas dikit kek kucel beud kek jemuran kagak diangkat seminggu."


Zigo tertohoq.


Lah mending muka gua, kek muka lu bener aja dah! Muka kek sedotan teh sisri aja gaya lu kek Lucinta Luna. Batin Zigo mengumpat-umpat kesal.


Tiba-tiba dia terperanjat kaget luar biasa. Ternyata si Ratu Biologi yang mereka bicarakan tadi sedang ikut jalan jongkok di sampingnya.


“Lah, lo telat juga?”


“Iya, emang kenapa?” ketus Fika. Wajahnya sama sekali tidak bersahabat. Sedangkan Zigo sendiri memilih membungkam mulutnya, sebelum tiba-tiba David berlari dan dengan sengaja menubruk Zigo sampai terdorong menyentuh lengan Fika.


“JAUH-JAUH DARI GUE, LO JOROK!!!” jerit Fika memecah keheningan di lapangan sekolah, Zigo buru-buru membenarkan posisi membiarkan Fika ketinggalan di belakangnya sambil mengumpati David. Si cowok mentimun itu.


David sering diejek mentimun gara-gara pernah diciduk Zigo ngumpetin mentimun Enyaknya di dalam tas.


“W-woi, tungguin!” pekik Fika kesal. Zigo berhenti sebentar menengok ke belakang. “Rok lo tuh, hati-hati diliatin anak cowok.”


“Cerewet!”


“Yeh dibilangin juga, emang dasar cewek,” rungut cowok itu datar. Rambut kemerahannya bergerak tertiup angin, sampai mereka masuk ke barisan masing-masing tidak ada lagi yang berbicara. Namun Zigo tahu, setelah semua orang melihat mereka berdua pasti ada saja gosip yang beredar seperti yang dikatakan David  seminggu lalu.


Upacara berlangsung lama, David mulai gerah di barisannya. Cowok itu berkali-kali mengikat tali sepatunya dengan lama saking pegalnya, beda cerita dengan Zigo yang pulang balik mau masuk ke UKS tapi malah dicegat sama guru BK. Zigo balik lagi ke barisan tanpa lupa menghujat plus mengumpat sampai upacara selesai, dia mulai berlari menuju kelas sebelum Pak Polen atau yang sering disingkat Pakpol menarik kerah bajunya.


“Kamu, siapa nama kamu hah? Peci kamu mana? Sepatu kok dibelang-belangin gitu udah kayak kucing. Terus, dasi kamu ngapain digituin? Mau saya lilit kamu?" serang Pakpol itu dengan sorot mata memburu.


“Duh pak… nanyanya jangan sekaligus gitu dong, ohiya nama saya siapa ya, kok lupa… eh, betewe pak ya, saya jangan dililit. Nanti bapak yang dililit oleh sejuta kerinduan hehehe,” jawab cowok itu ngawur. Pakpol memijit batang hidungnya lemah.


"Kenapa sihh... Gak ada habisnya kamu bikin perkara!" geram Pakpol sambil menunjuk Zigo dengan raut muka gemas.


"Karena perkara yang terus nyariin saya, pak!" Zigo menyahut antusias, wajahnya beneran ****** tanpa campur tangan bahan kimia apapun. Pakpol masang ancang-ancang pengen mendumel lagi kek ibu-ibu bunting, kalau udah merepet-repet gak jelas gitu, Zigo lebih tertarik menghitung kerikil di lapangan.


“Emang dasar anak bengal, jongkok di situ terus jalan sampai gawang sana pulang balik, lima kali!”


Gavin yang sedang lewat berhenti sebentar. “Ngapain Gong?”


“Ada urusan ama temennya malaikat Ijroil, buruan lu sana gua lagi ada bisnis penting!”


“Pak, kemaren saya sembelit sampe-sampe usus nih mau keluar semuanya, beuh…. Sakitnya minta ampun Pak, suer deh.”


“Terus ngapain kamu ceritakan ke saya?” Pakpol menyahut kesal, garis-garis wajahnya nampak mengerut dengan keringat yang semakin membanjiri keningnya.


“Bapak yang pekaan dikit, kek,” gerutu Zigo akhirnya.


Menurut Zigo, hari senin memang hari paling horror sedunia. Yang jadi titik horrornya bukan karena harus berdiri lama di terik matahari, melainkan Pakpol yang bergentayangan di seluruh penjuru SMA Gajah Mada.


🕤


Kegaduhan dari sebuah ruangan bising membuat guru-guru yang lewat jadi geleng-geleng kepala gak keruan. Pasalnya mereka hafal betul siapa dalang itu semua. Si cowok berandal berambut kemerahan yang kini sedang meniup seruling dengan nada yang bisa merisaukan pikiran.


Dia Zigo Alathas. Lihat saja, David yang lagi tidur bahkan harus memasukkan kepalanya di dalam tas walaupun suara bising itu tetap kedengaran.


Gavin cuek, dia lebih memilih mesra-mesraan sama tulang torso dari lab biologi. Beda lagi dengan Julio yang notabenenya ketua kelas, dia mengejar-ngejar Zigo yang makin gencar meniup seruling itu.


Seluruh kelas semakin bising sampai tiba-tiba seorang cowok berbadan tegap dengan aura wibawa yang kuat memasuki kelas Ips 1. Sedetik mereka terdiam hingga cowok berparas tampan itu tersenyum hangat dibarengi dengan 4 orang yang menyusulnya di belakang.


Semua cewek histeris. Zigo mengerutkan alisnya.


“Sial, kegantengan gue tertandingi!”


Tapi bukan Zigo kalau segitu doang minder, dia punya tingkat kepercayaan diri tingkat akut. Masih ingat sepuluh Dasar Dharma Zigo?


Prinsip ke-5: Jelek gak ada di dalam kamus gue!!


“Perkenalkan nama gue Alex, anak sebelas Ipa dua. Gue Ketua OSIS di sini dan yang di belakang gue anggota OSIS.” Alex berujar pelan namun suaranya terkesan tegas, semua terdiam. Julio berbisik pelan pada Zigo yang asik cengo melihat wajah Alex.


“Bro, dia rival lo kampret!”


“Rival apaan sih elo, mang lo kira ini film nartoh? Aya-aya wae lo, Ling!”


Julio menyanggah. “Tapi perasaan gue, dia ngelihat lo kayak ngelihatin musuh nyet!” selaknya agak memelankan suara. Mau tak mau Zigo menatap Alex, benar kata Julio. Cara Alex memandangnya benar-benar sangat menyebalkan.


“Kita ke sini buat ngerekrut anggota baru, siapa yang mau mendaftar boleh tulis nama dan kumpulkan ke kami. Terkhususnya buat elo yang megang seruling itu, gue harap lo mau gabung dan gak mengecewakan.” Alex menaikkan sudut bibirnya membuat senyuman remeh sambil menunjuk Zigo. Zigo bangkit dari kursinya dalam sekali sentak.


Seketika kepala dan hatinya memanas. Kata-kata sok suci itu mengandung hinaan, jadi wajar saja sekarang darah naik ke ubun-ubun Zigo.


“Ditantangin keknya lo Gong! Kan udah gue bilangin dia ada masalah ama elu!!” kompor David. Anak-anak cowok sibuk mengipasi Zigo sambil terkikik-kikik.


“Oke, siapa takut!!” teriak Zigo mendorong meja hingga terjatuh, lalu meninggalkan kelas. Alex tersenyum miring, hanya sepersekian detik sampai wajah penuh hinaan itu berubah sangat ramah. Kali ini berbeda, tidak ada satupun anak cewek yang menjerit.


Mungkin walaupun menyebalkan mengakuinya, Zigo masih lebih baik dari Alex.


****