ZAF

ZAF
Bagian 29 - Tawaran



"Jadi.." suara Julio tertahan, hujan mulai turun deras di lapangan sekolah. Sahabatnya, Zigo telah pergi sejak beberapa menit lalu. Julio yakin, kalau tidak ke rooftop, anak itu pasti ke mushola untuk mengaji. Ia sangat teringat, saat itu pernah mendapati Zigo tengah mengaji sambil menangis. Hatinya terasa hancur.


"Sejarah bukan sekedar kata, pelajaran, atau peristiwa lampau bagi Zigo," tuturnya.


Ia melanjutkan, "Sejarah itu luka.. Pas kecil, dia pernah kecelakaan di gunung, orang tuanya meninggal. Zigo dititipkan tinggal sama neneknya di desa.."


Semua anak kelas terdiam mendengarkan.


"Pas SMP Zigo balik tinggal ke kota, sama neneknya di rumah lama orang tuanya. Katanya dia pengin jadi sejarawan, bukan demi orang tuanya lagi. Tapi demi neneknya."


Bunyi aliran air hujan terciprat di lantai terdengar, karena suasana muram dan sepi yang berkepanjangan.


Sambil mengangkat wajahnya, Julio menarik napas berat. "Pas pengumuman juara OSN 2 tahun lalu.. tepat di kursi penonton, sebelum juara diumumkan nenek Zigo tiba-tiba meninggal karena stroke."


Mendengarnya anak-anak kelas menutup mulut, beberapa turut sedih mendengar kisah anak berambut kemerahan yang selalu terlihat bahagia itu.


"Sejak waktu itu dia trauma.. kata dia, apapun yang berhubungan dengan sejarah pasti berhubungan juga dengan kematian orang-orang yang dia sayang."


"Gue gak nyangka, gue kira dia cuma bisa ketawa.." komentar Wahyu tak percaya.


"Kek Orgil ye saban ari ketawa mulu," timbrung Gavin merusak suasana.


"Iya, kek elu lah definisinya."


"Keknya pas SD nilai akidah akhlak lu anjlok ya? Kaga ada sopan santuynya sama gue!"


"Santun, geblek!"


"Ya mangap!"


"Maap, astagfirullahadzim!"


"Iya-iya gue maafin, gapapa kok." Gavin makin sedeng ngerjain Wahyu, wajah anak itu tetap polos kelewat *******. Kasian Wahyu yang masih waras itu, kalau Gavin ngusilin teman-teman sepergoblokannya masih bisa lah, sama-sama gak bener. Otaknya cuma hadiah sabun colek doang.


"Ih ih ih kesel gue! Mati aja gue woi! Bunuh gue, bunuuuh!!!"


Anak kelas ngakak melihat wajah super ngenes si Wahyu, sang rival Wahyu alias si Batak cuma geleng-geleng. Mereka cuma jadi rival kalao ada sangkut pautnya sama pulpen.


"Aowowkwok!!" Gavin ketawa setan, Buk Hesti buru-buru menjewer telinga anak itu kencang. "Eh eh aduh... dudududu dududu woooo~~~"


"Napa jadi nyanyi lagu dangdut nih anak?"


"Keseringan nonton Lida nih."


"Besok aku bawakan dia nasi Padang mamak aku lah.." gumam si Batak, namanya memang Batak. Mamaknya jualan nasi Padang. Minta diputer nih ususnya.


"Gak ada yang laen kek lu." David memprotes. "Daripada nantik aku bawakan kertas UN, malah ujian pulak itu anak! Ah, apa pulak urusan kau Batak!"


"Yang Batak siapa kampang?!"


"Sudah, sudah," Buk Hesti melerai. "Ibu ngerti kok perasaan dia, tapi cara dia salah. Gak seharusnya dia menghindar, ibu yakin orang tuanya pengen dia jadi kayak yang mereka harapkan."


Julio tidak menjawab apa-apa, bukan ia kasihan dengan Zigo. Justru dia merasakan luka yang sama. Sejak SMP mereka sudah dekat bahkan seperti saudara sendiri.


"Menurut kamu siapa yang bisa ngebujuk dia buat ikut OSN?" tanya guru itu membuat Julio tak enak.


"Jangan dipaksakan buk, dia gak mau sama aja."


"Dia bakal kayak gitu terus selamanya kalau gak ada perubahan," katanya. Julio pikir benar juga perkataan guru itu.


"Fika buk! Fika! Dia kan cemewew si Jigong! Jigong kangen Band!" seru Gavin tiba-tiba, dia baru aja nyelesaiin puzzle dari jajanan seribuan berbentuk dinasaurus. David buru-buru menyodorkan alat hitung anak TK dengan manik-manik kecil warna warni.


"Nih, lu itung sampe seribu! Ntar panggil gue lagi ya!"


"Ahhhsiiaapp!"


***


David dan Julio saling menatap. Si Gavin beneran ngitung sama itungan anak TK itu.


"Eh eh liat sono!" tunjuk Julio panik, di sekitar halaman sekolah ternyata orang yang mereka cari tengah dihadang oleh seorang cowok preman. Sebastian.


"Woi!!"


Julio berteriak lagi. "Apa maksud lo nyari perkara sama temen gue, ha?!" Serunya. Cowok itu mendobrak bahu Bastian penuh kekesalan. "Kalo masih dendam ya bilang aja!"


"Lo nyari ribut sama gue?! Lo kira lo siapa, heh?!"


"Udah udah Ling!"


"Kok lu malah bela dia, sih?" gerutu Julio menatap mata Zigo tak percaya, dahinya berkerut tak mengerti. Ia berangsur menatapi Sebastian yang memasang tampang sombong.


"Awas lu kalo ngapa-ngapain temen gue!"


"Kaki lo kenapa, Go?" tanya Gavin yang memiliki kepekaan lebih tajam.


"LO..?!!" Julio kembali emosi. Para temannya kelabakan menghadang Julio agar tidak memulai perkelahian.


"Oi, Pid jangan merenung ae lu kek ayam betelor! Pisahin nih dua bocah!"


David menahan Julio tenang, membuatnya semakin berontak. "Udah tenang Ling, Jan kek babhi lepas lu!"


"Gak lucu Pid..gak lucu!!" makin naik aja emosi Julio. David segera memasang wajah ngenesnya.


"Lucu itu ketika kamu nyuruh aku jangan pergi dari kehidupan kamu, tapi justru kamu yang pergi ninggalin aku," curhatnya ketawa hampir menangis.


"Sial, malah dengerin curhatan si timun nih gue."


David ketawa jumawa, kalau dilihat lama-lama muka dia emang mirip dengan julukannya, timun. Kasihan aja entar kang jual timun malah masukin tuh anak ke keranjang, kirain David barang dagangannya.


"Napa malah ribut sendiri sih kalian?" Protes Bastian heran, David mendongak karena Bastian yang tingginya kaya tiang listrik. Mungkin emaknya dulu sering makan tiang listrik. Bused, ngeri juga emaknya.


"Suka Suki gue lah! Mau gue kayang kek, jumpalitan kek, emang masalah buat lu?!"


David juga ikutan ngegas. Gavin melihat dengan tatapan seru, ini dua tabung gas kalau dilemparin pemantik bisa meleduk gak satu sekolahan? Kan lumayan, bisa libur sekolah.


Iya, satu sekolahan langsung menghadap Tuhan.


"Udah, kita jangan ribut di sini. Ke deket musholla aja nyok." Zigo memberi usul yang langsung disanggupi oleh semua temannya, termasuk Sebastian.


"Jadi gini, Ling."


Zigo menautkan alisnya serius. "Gue sebenernya lupa mau ngomong apa, Bas, lu ceritain sono."


"Oke dengerin gue."


• Z a F •


Keberisikan setiap jalan yang dilalui Bastian lenyap seketika ketika cowok itu melintas, ada yang memilih menyembunyikan diri di kelas. Beberapa cowok pura-pura menyatu dengan alam. Pakai skin un-touchable. Supaya gak kena usik oleh Sebastian Dewary. Ia melirik penuh kecaman ke setiap penjuru, jalannya ngeper. Petantang-petenteng gak keruan.


Bastian melihat ke dalam 10 IPA 1 berniat meminta maaf pada Fika, belakangan cewek itu selalu menghantui pikirannya. Senyum terkembang di kedua sudut bibir Bastian, sesaat sebelum melangkah ke dalam kelas ia memilih berhenti sejenak.


"Jadi lo sepakat dengan tawaran gue?"


"Tsk, sepakat. Kalo itu buat ngehancurin Zigo."


***