
Bagian 11- Downpour
***
“Eh, Gong, gue denger ntar sore seleksi pemilihan anggota OSIS baru yah?” celetuk Desi penasaran.
Zigo menanggukkan kepala tak minat, baru kemarin ditantang oleh Alex, hari ini Zigo malah sibuk uring-uringan di kelas. Lebih murung dari biasanya, lagian temannya pun tidak ada yang bisa diajak bicara.
Lihat aja Gavin dan David yang dari satu jam yang lalu asik cengengesan lihatin hp. Pas Zigo ngintip dikit, wajahnya langsung aneh.
Rupanya mereka ngetawain wajah mereka sendiri.
Emang dasar somplak. Batin Zigo.
“Ling!” panggil Zigo membuat Julio yang sedang mengantar setumpuk buku tugas tercengo, menatap Zigo sebentar.
Cowok itu buru-buru mendekat. “Yap. Apa keluhan bapak?” celoteh anak itu.
“Gue gak sakit ****!” gahar Zigo.
“Ye maap.”
“Untuk apa bermaafan jika baku hantam menyenangkan, iya gak Vin?” kata David girang. Gavin menimpalinya senang. “Haiya bang! Elo Ling tiati ama abang Jigong! Gak tau aja lu, dia tuh udah kayak petir pas naek motor!”
“Maksud lo kek pembalap F1 gitu?”
“Enggak. Zigo kalo bawa motor nyamber pohon mulu. Asal lewat ayam betina yang bohay aja mata langsung meleng, hahhahaha!” tandas Gavin ketawa ngakak. Zigo menyipitkan matanya menatap Gavin dengan tajam. “Jijik aku mas.”
“Kalo Zigo yang ngomong kek bencong perempatan yang bicara. Hebat lo Gong, aura bencong lo emang natural,” sambung David.
“Eh, kayaknya tadi ada yang bilang baku hantam menyenangkan.”
David panik.
“Salah denger lu. Noh telinga lu kebanyakan masuk dosa, jadi budek!” selanya, Zigo memang gak tanggung-tanggung kalau baku hantam. Kakak kelas aja pernah diamukin sampai ngompol di WC.
Saat ini statusnya memang lebih condong ke cowok bandel gak tahu malu dan gak tahu diri. Bahkan saat hari pertama masuk sekolah, ketika yang masuk adalah Kepala Sekolah Zigo langsung ditanya begini oleh beliau.
“Kamu, apa pelajaran kesukaan kamu?” Tanya pak Kepsek ramah dengan senyum penuh ketulusan seorang guru. Zigo berhenti mengupil, memutar pandangan pada pria tua itu.
“Saya suka semua mata pelajaran. Kimia, Fisika, Matematika, Bahasa Arab…”
“Bagus, saya suk—“
“…pas gurunya gak masuk.”
Zigo lanjut ngupil. Pak Kepsek suap, wajahnya berubah 180 derajat. Seisi kelas mengelam.
“Anak kurang ajaarrr!!”
Sejak saat itulah sang Kepsek menugaskan Pakpol alias Pak Polen mengawasi anak tengik yang satu itu. Belum keonaran lain yang dia buat sampai membuat guru-guru banting meja, hanya satu guru yang dapat memaklumi murid bandel seperti Zigo yaitu Buk Hesti. Salah satu guru terkejam di sekolah.
Jam istirahat Zigo segera menuju ke kantin diikuti teman-temannya, hanya beberapa meter Julio kemudian menahan langkah Zigo dengan tatapan awas. Cowok setengah hantu itu memandang tajam ke depan di mana seorang senior berwajah menyilaukan tengah tersenyum ke arah mereka.
“Zigo, kan? Pastiin lo dateng nanti sore.” Begitu kalimat yang keluar dari bibirnya, Zigo bergeming. Di sisi lain harga dirinya tengah dipertaruhkan.
“Gue bakal masuk ke organisasi sialan itu, tunggu aja. Bakal gue hancurin reputasi ****** lo,” balas Zigo sambil lanjut berjalan. David tertawa mengejek memberi jari tengah pada Alex.
Alex tidak tersinggung, sudut bibirnya semakin melengkung tajam. Julio memerhatikan dengan seksama sambil mengumpat dalam hati.
"Gak ada otak!"
Keheningan tercipta saat mereka saling berhadapan deengan aura hitam yang mampu membuat siapa pun bergidik ngeri. Alex memutar tubuhnya ke belakang menatap gerombolan itu dengan senyuman yang senantiasa menghiasi wajahnya.
“Tujuan gue bukan yang kayak lo pikirkan. Lebih dari itu.”
***
“Yo, Gong. Hari ni gue nebeng ya, motor gue abis nyebur kemaren dibawa Emak gue,” curhat Julio sambil memasukkan fotokopi bahasa Indonesia ke dalam tas, Zigo anteng-anteng saja. Cowok itu segera meninggalkan kelas disusul oleh Julio, karena mereka pulang agak telat maka sekolah terlihat lebih sepi.
“Keknya mau ujan deh, buruan kuy!”
“Motor-motor siapa, yang merintah siapa..”
“Alah motor mau tewas juga, diseruduk bencong juga langsung lewat tuh motor lo hahahha!” Julio tertawa mengejek. Zigo mempercepat jalannya dengan kesal.
“Kampret!”
“Cie ngambeq. Cini abuang manjain.”
“Kelamaan jones sih lo Ling, mangkanya cari cewek sana,” lontarnya datar. Julio menajamkan pandangannya ke gerbang sekolah lalu beberapa saat kemudian sebuah senyum terbit dari bibirnya.
Dia berbicara, “Kayaknya lo yang perlu nyari cewek, Gong. Udah ah gue nebeng aja sama tukang ojek. Lu buruan samperin tuh anak, kesian. Bentar lagi ujan. Lo tega ninggalin cewek sendirian di sekolah kehujanan?”
Julio pergi.
Zigo mengalihkan pandangan pada cewek yang dimaksud sohibnya itu. Lantas ia bergidik ngeri. “Lah emang siapa juga yang lagi nyari cewek?” gumamnya, dia memilih pulang duluan tanpa mengindahkan perkataan Julio. Setelah mengeluarkan motornya dari parkiran Zigo segera tancap gas meninggalkan sekolah.
Hujan turun dengan derasnya. Setelah memasukkan motornya ke rumah Zigo langsung melepas tas dan menaruhnya di belakang pintu. Cowok berambut kemerahan itu langsung masuk ke kamar mandi.
“Kenapa gue risih sendiri sih?” sungutnya memasang wajah dongkol sambil menggosokkan handuk ke rambutnya yang basah, sebuah pesan masuk ke hp miliknya, dari Julio.
Setan bisulan
P
P
sendirian?
Anda
emg ap urusan gw sm dia?
Lo sndri ngapain pntingin tu cwek?
Zigo buru-buru memakai baju kaos hitam, terdengar bunyi dering lagi. Dengan malas dia membuka hp.
Setan bisulan
Gue tdi lewat, dia msi nunggu sndirian disitu, kesian beut. Ujan-ujanan udh kek kucing asli
Malas, Zigo membalas pesan Julio, tapi buru-buru Julio mengirim pesan lagi.
Lgian lo ke skolah ntar kan, lo g da ksihannya gtu liat cewek sndri ujan-ujanan di dpn skolah. Sndri lgi😕
Setelah membaca itu Zigo berpikir sebentar. Kemudian mengetik balasan.
Bawel lu ngalahin buyut gue, asli_-
14.15
Itu pesan terakhir yang sempat dikirim Zigo. Dia segera memakai jaket hijau army, mengambil kunci motor dan bergegas pergi ke sekolah. Di sisi lain, ketika tidak menerima balasan lagi dari Zigo, Julio tersenyum lega.
“Tolong jagain adek gue, Gong.”
Deruan motor vespa memecah gendang telinga, air yang semakin menggenang di jalan terbelah saat ban motor melintas.
Zigo mengusap wajah berkali-kali berharap air hujan yang menampar wajahnya segera berhenti. Cowok itu mengutuk dirinya sendiri. Kenapa dia harus repot-repot membantu orang lain yang mungkin bakal mengamuk nanti, membayangkannya saja Zigo langsung angkat tangan.
Betul saja, ternyata Fika—cewek yang dimaksud Julio itu masih tetap di sekolah.
Keadaannya buruk. Rambutnya lengket terkena air hujan, tanpa memakai jaket ataupun sweater, pundaknya basah kuyup. Wajah Fika menunduk sambil menatap layar ponselnya yang mati. Zigo kalang kabut. Berpikir bagaimana cara membuka obrolan saja bisa membuat kepalanya meledak.
“Y-Yo, Ka. Lo ngapain ngeram di sekolah? Gak mau balik? Gak takut dijailin om-om?”
Krik~
Zigo ketawa hambar. Nyaris menangis.
“Ehm.” Terdengar deheman sok kece dari cowok itu. “Helm gue ada dua nih, kalo mau buat lo satu nih, pake.”
Terdengar suara kodok minta hujan.
Gilak. Ngenes beut gue perasaan dikacangin mulu. Teriak Zigo dalam hati.
“Lo nungguin siapa emang, Ka?” Tanya Zigo pura-pura melihat kanan kiri.
Kwek kwek kwek!
Dua puluh bebek berbaris lewat di depan mereka.
Tuhh kan tambah ngenes!
Pikirannya mulai aneh. Apa jangan-jangan dia hantu? Zigo menalar dengan cermat, sayangnya otaknya setengah lagi udah abis dicemilin. Jadi, dia memilih buat memastikan sendiri. Zigo menepuk pundak Fika.
Alhamdulillah masih manusia.
“Gak usah nyentuh gue!”
“Lah, lu diem mulu dari tadi yah gue kira setan jomblo lagi nungguin jodoh tadi.”
Zigo melirik ke hp Fika. “Abis batere, ya? Mau pinjem hp gue aja?”
“Gak butuh,” balas Fika dingin. Dia menekan tombol on, menampakkan kontak yang dari tadi dicoba untuk ditelpon.
“Kalo gitu mau gue anterin aja? Y-ya gue bukannya SKSD, sih. Kebetulan aja lewat di depan sini, ngebiarin cewek ujan-ujanan itu gak laki banget, heheh,” kata Zigo. Sedetik kemudian dia menutup mulutnya rapat.
“Najis amat omongan gue, anjeng!!”
“Atau lo disuruh sama temen lo?” Fika bersuara dengan nada ketus.
Zigo yang dari tadi memerhatikan rintik air tertegun, menoleh ke arahnya. “Gak! Gak ada kok.”
Situasi mulai lengang. Zigo melamun. Ketika tadi Fika menghidupkan layar ponselnya, terlihat cewek itu berusaha menelepon Mamanya. Cuma itu yang bisa dia pikirkan.
“Mama lo gak bisa jemput?” tanya Zigo.
Perlahan ekspresi kesal mulai tergambar di wajah Fika. Beberapa detik baru ia mulai bicara. “Dia cuma bisa mentingin kerjaannya. Gue bukan anaknya.”
“Bukan berarti dia gak sayang ke elo," sergah Zigo mencoba menasehati. Walaupun tahu bagaimana reaksi Fika nantinya.
“Gue gak butuh nasihat dari lo." Fika memasukkan ponselnya ke saku, sebelum sempat menerobos hujan Zigo tiba-tiba menarik lengannya kencang lalu berlari ke arah motor vespa miliknya.
“Denger-denger ada kasus anak cewek diculik ama om-om gegara diputusin pacarnya.”
“Terus apa hubungannya?”
Hening. Zigo berpikir keras. “Au ah gelap! Dah buruan kita cabut mumpung ujannya lagi reda nih,” usul Zigo tanpa mau dengar pendapat Fika. Cewek itu nampak lesu, ingin memprotes tapi dayanya seperti habis. Apalagi berdebat dengan cowok super ngawur macam Zigo.
Dalam hati Fika mengutuk, mengumpat-umpat dan menyumpahi Julio. Cowok itu pasti sedang merencanakan sesuatu. Pasti.
****