ZAF

ZAF
Bagian 7- Permainan Takdir



Bagian 7 - Permainan Takdir


#20.00


Dentingan sendok bergema di penjuru ruangan besar dengan nuansa elegan. Fika berdiri membuat Mamanya menoleh singkat, tidak berminat. Lalu ia membalikkan badan meninggalkan Ria tanpa suara.


“Padahal kesempatan langka, lho, bisa makan malam sama Mama.”


Fika berhenti berjalan. Menatap Mamanya dengan ekor mata, memicing.


“Percuma,” ucap Fika sambil berjalan pelan.


Fira—Mamanya, bangkit dari tempat duduk hingga berdecit, menyadari situasi mulai memanas seperti sebelumnya Bik Nisa segera melerai.


“Sudah, sudah… Fika, ayo makan lagi, gak baik lo buang-buang makanan,” bujuk wanita itu lembut.


“Bibik aja yang makan kalo gitu, Fika udah kenyang.”


Suara derap kaki Fika secara bersamaan membuat Mamanya yang sedang dalam kekacauan itu memijit pelipisnya perlahan, lalu ia menatap Daes–asistennya.


“Kita berangkat malam ini buat meeting besok. Jangan ada yang ketinggalan.”


“Tapi kan kita belum setengah jam di rumah Anda?”


“Gak ada yang perlu saya urusi di sini. Fika mungkin memang gak membutuhkan saya lagi,” ucap Fira dengan air muka kecewa. Fika memang berubah sejak kematian Papanya, bukan hanya dari sifat tapi dengan pemikirannya.


****


Buku ensiklopedia, latihan soal dan sekardus sertifikat penghargaan berserakan di kamar Fika, cewek dengan baju tidur bergambar beruang itu menggulingkan badannya ke kanan kiri mencoba menghilangkan sesuatu yang mengganggu pikirannya.


“Kenapa gue terus mikirin si sialan itu, sih?!” rutuknya sebal.


“Mikirin siapa, Fika?” tanya Bibi Nisa berjalan memasuki kamar, Fika memalingkan kepala ke jendela menatap bintang-bintang yang berhamburan di atas langit sana, ia berpikir sebentar lalu menatap Bik Nisa pelan.


“Pasti enak, yah, kalo punya keluarga yang bahagia.”


“Semua keluarga bahagia kok, kamu cuma perlu menempatkan diri supaya keadaannya bisa bikin kamu nyaman..” nasihat wanita bersanggul itu namun Fika tetap tidak mendengarkan. Terlihat bahunya naik turun.


“Temen-temen Fika sering nyeritain liburan mereka sama keluarganya, Farad selalu ceria karena saudaranya ada lima, Mama Papanya juga baik banget pas Fika main ke rumah mereka. Pasti Zigo juga punya keluarga yang enak juga, yah, dia kayak gak ada beban gitu," gumam Fika lebih tepatnya hanya pada dirinya sendiri.


Bibi Nisa menatap sendu putri majikannya itu, tatapan mata kesepian terpancar di iris mata kelabu Fika. Ia juga paham mengapa Fika begitu, Mamanya selalu bekerja di luar kota bahkan luar negeri–kesempatan mereka bertemu kadang hanya 6 bulan sekali itupun sangat singkat.


Tanpa disadari dari celah pintu Fira menunduk dalam, boneka di tangannya ia genggam erat. Lalu melanjutkan langkahnya menuju pintu utama menyusul Daes yang telah menyiapkan mobil.


“Fika, dengerin Bibi.”


*****


“SIALAN! ****** GUE NGILANG KE MANA LAGI SIH??!”


Jeritan melengking super menjengkelkan itu sudah pasti berasal dari mulut seorang cowok berfamili jomblo ngenes bin akut. Julio yang sibuk mengetik tugas jadi terganggu, cowok itu mendengus kecil.


“Sama ****** aja kelahi lo, gimana sama bini, ya?”


Zigo memutar badan menatap Julio ganas.


“Ling, lo tahu ****** gak?”


“Anjing itu kan–“


“Iya kayak lo.”


“Anjing!”


“Gak ada otak!” balas Zigo melemparkan ****** bekas dari keranjang, Julio menghindar cepat. “Itu kata-kata gue, Zigooong!!”


“Lah suka-suki buapak gue, Juliiing!!!”


“Udah, udah, gak usah berantem. Kita ke sini buat ngerjain tugas bukan baku hantam.”


“Ba…cot…” ucap Zigo dan Julio dengan tangan membentuk pelangi, David jadi ngambek sekaligus dongkol. Gimana bisa dia satu kelompok sama duo duyung itu ditambah lagi Gavin yang sibuk garukin tembok rumah Zigo.


Julio mengeluarkan dompet dari sakunya membuat David terkaget-kaget dramatis.


“Wih, ada dompet!”


Julio mencebik kesal. “Ya emang gue pernah bilang ini beha?”


“Hehehe,” David segera memakai peci di sakunya lalu dengan takjub berdehem ria sambil bertasbih. “Sesungguhnya berbagi itu indah, kawanku. Allah sangat menyukai hambanya yang murah hati, peduli kepada sesamanya dan hendaknya selalu—“


“Bilang aja lo mau ditraktir makan Pid! Pake gegayaan ceramah lu. gue sepak ketemu malaikat lagi lo.”


“Oh boleh.”


“Malaikat pencabut nyawa.”


“Gak jadi.”


Julio berdehem kecil membuat ketiga kawannya menoleh serempak. “Ngapa lu Ling?”


"Batuk pak Haji?"


“Keselek dosa kali dia.” Gavin menimbrungi, Julio segera membuka mulutnya. “Gue mau ngemeng sama lo, Gong.”


Zigo mengerutkan alisnya heran, menunggu kunyuk itu ngomong.


“Lo ada hubungan apa sama Fika?” serang Julio tepat sasaran. Zigo menyanggah kencang. “Yakali gue mau ama nenek lampir!”


“Gue denger dari anak kelas, lo sama Fika makin dekat. Mereka lihat di koridor lo jalan bareng sama dia,” tembak Julio lagi, Zigo semakin gencar menyanggahnya.


“Sini gue jeplakin nih ****** di mulut lo! Gue kemaren pergi ke kantor disuruh Buk Esti anterin buku! Jadi babu tau gak gue.” Zigo membuang pandangannya ke luar rumah menatapi pohon sawo di sana.


“Dasar jomblo kesepian.” Ejek Gavin berhenti menggaruk tembok, aura suram dan mengutuk menghiasi wajah anak itu.


“Jangan seenaknya ngatain gue lu!”


“Jomblo di bawah sinar rembulan.” Sekarang David ikut meledeknya.


“Apa-apaan sama tuh nama garing hah??!”


“HAHAHAHA!!”


“KELUAR DARI RUMAH GUE LU SEMUA, MONYET!!!”


******


“UNO!” seru Gavin keras, lengan kurusnya mengayun pelan di udara setelah melemparkan kartu, dan sekarang Zigo, David, dan Julio yang duduk membentuk bundaran. Zigo panik bukan main melihat kartunya yang masih tersisa banyak.


“Keknya Abang Zigo bakalan kalah ni ye, inget Gong bakal ada hukumannya!”


“Gue gak akan kalah cuma karena maen beginian. Ampas!”


“Kalah… abang Zigong kalah huehuehue!!” tawa Gavin si cowok absurd itu dengan puas, dia ahli dalam hal kartu, trik sekaligus sulap.


Pakaian rapi, rambut gak pernah lepek tapi sekolah cuma tergantung mood. Dibanding teman-temannya Gavin memang yang paling putih. Tapi segala kebobrokannya membuat para cewek ilfeel.


Pernah dia melakukan hal yang paling absurd, membeli pembalut dari koperasi sekolah buat jadi penutup mata. Anak sialan.


Setelah berdiskusi, dengan wajah menyeramkan mereka menatap Zigo.


Zigo menatap kuyu, matanya sendu, hidungnya layu, dan tubuhnya terasa berserakan di ubin. Apa yang bakal merekan lakuin nanti? Bisa bahaya pikirnya, terutama sama si Julio yang kalah tadi, soalnya dia yang ngasih hukuman buat angkat rok cewek di kantin. Jadilah muka Julio lebam sana-sini.


“Hukumannya…”


DEG. DEG. DEG.


“Pernyataan cintaaa!!!!” teriak mereka sambil mengepalkan tangan di udara, Zigo memandang remeh. “Apaan gak mempan,” katanya.


“Sama Fika….”


“TEDDHAAAAAKKK!!!!”


****


EMPAT cowok mengendap-endap melintasi taman bunga di lab Biologi, lalu dengan gerakan sistematis, teratur dan terencana mereka mengikuti alur kemahagoblokan itu dengan bangga. Sesekali Julio memberi isyarat dengan gaya keren kayak di film-film dan semua temannya mengangguk penuh ketertakjuban.


“Emang dasar geng somplak.” Gumam Zigo sebal. David merepet-repet kayak kang panci lagi mabok barang diskonan.


“Oit lu tahanan diem aja! Jangan ngata-ngatain kapten!”


“Kapten nenek kau dugem pake ******! Udah ah, gue balik kelas aja. Gak ketemu juga tuh anak di sini, paling di kelas.”


“Oh yaudah kita ke kelas dia sekarang.”


“Se-serius lu Ling?! Gila! Rame amat ntar, mending di sini sepi!”


“Yah emang di sini lu mau nembak siapa? Nembak pohon kelapa?” rungut Julio memicingkan matanya. “Nembak lu aja deh, udah ya, ai lup—“


PLAKK!


“HOMO BAZENG!!”


“Kimak kau.”


“Udah buruan, bentar lagi bel masuk,” potong David dan segera disusul temannya, langkah David berhenti sebentar menatap halaman sekolah lalu tersenyum girang.


“Ketemu!”


Julio menatap cewek batu itu dramatis, “Maju Gong, gue yakin lo laki dan gak akan narik lagi kata-kata lo.” Julio menepuk pundak sahabatnya sebentar, berharap Zigo segera menghampiri cewek bernama Fika itu tapi dia hanya berdiri kaku.


“Udah gak apa kali ah, cuma main-main juga,” tambah Gavin tanpa ekspresi malah dia sibuk mencabut kumis kucing yang lewat. Zigo tiba-tiba berdesis di sampingnya membuat Julio, Gavin, dan David menatap penuh kebingungan. Lalu dalam sekali sentak semua seakan membuat seisi sekolah kaget bukan main.


“FIKA, GUE SUKA SAMA LO! LO MAU GAK JADI PACAR GUE HAH??! JAWAB GAK?!” teriak Zigo membuat ratusan pasang mata melirik sekaget-kagetnya, tidak untuk Fika, dia hanya berhenti berjalan. Dan Zigo berjalan kemudian berdiri di hadapannya.


“Gue nembak lo, terus gimana nih?” Zigo bertanya pada Fika. Gak jauh dari mereka David menggumam ketus.


“Si Zigo ****** apa pe’a sih? Kan gue cuma nyuruh nembak gak sampe ngajak pacaran.”


“Terus apaan tuh cara nembak dia, gak banget. Astagfirullah.. ini nih kalo gobloknya udah mengalir sampe DNA."


Mereka memasang tampang kecut berbeda dengan si cowok absurd itu, Gavin.


“Su-Su-Sugoi… SUGOI SENPAI!! GUE SUKA GAYA LO GONG, LAKI BANGET!”


Keempat temannya menepuk jidat. Sedangkan Zigo mengacungkan jempolnya dengan gigi bersinar kayak senyuman Capres pas mendekati hari pemilu.


“Duo ****** yang takkan tercerahkan.”


“Gobloknya natural, asli kutukan Ilahi.”


Di sisi lain Zigo menatap Fika dengan api membara, walaupun dia yakin Fika tidak akan menerimanya dari segi mana pun. Fika sendiri membuang pandangan dongkol dilihat oleh banyak orang. “Jijik banget sama lo, tau gak?”


“Yah… emang udah seharusnya gitu, sih, gue bukan orang  yang terpandang kayak lo.” Zigo terkekeh kecil.


"Kalo udah tau ngapain masih di sini?" Balas Fika dengan dua tangan menyilang di dada. Zigo mengeluarkan cengiran khasnya, membuat gigi taring dan lesung pipi di wajahnya terlihat lucu.


"Emang ada ya peraturan yang ngelarang gue gak boleh nembak lo?"


Fika merenggut kesal. "Ck! Lo sadar diri gak sih?! Emang lo pikir cowok kayak lo selevel sama gue?" celoteh Fika kesal berusaha menyembunyikan kegugupannya.


"Sadar kok. Sadar banget malah. Gue aja masih ingat lo yang waktu itu menangin lomba hitung cepat di SMP gue, skor lo bener-bener sempurna! Gak ada soal yang salah satu pun. Lo hebat ya, jenius!" puji Zigo tulus.


Gue... hebat?


"Hehehe sorry gue jadi sotoy gini, gue kan cuma muji!" cengirannya terbit dengan mata menyipit, darah Fika berdesir aneh.


"Senyumin apaan sih nih cowok? Kok manis banget... Enggak! Gue masih waras!!" Batin Fika kacau.


“Bohong…” gumamnya kecil. Ia teringat sesuatu yang menyakitkan, di saat mimpinya diremehkan.


“Memang kamu pikir jadi ilmuwan itu hebat? Cuma ngehabisin waktu buat eksperimen gak guna!”


“Lo pasti sering maksain diri buat diakui, kan? Gue sebenernya gitu juga makanya gue tahu… tapi gue gak sehebat lo yang udah menangin OSN berturut-turut, maksud gue, yah, gue gak akan setara dengan orang kayak lo.”


“…” Fika menunduk makin dalam.


“Gue gak akan maksa lo kok, kalo lo gak mau yaudah tinggal bilang enggak. Sesimpel itu..” ujarnya dengan senyuman manis.


Aslinya…


“CEPET TOLAK GUE BUANGKE, ABIS TIPIS MUKA GUE NIH DIPERMALUIN, AH! MALU NIH GUE, MALUU!! LU TINGGAL NOLAK AE PAKE MIKIR SEGALA, ANYINK AH!!!”


“Kenapa sih sama nih cowok?” batin Fika mengepalkan tangannya, di satu sisi teringat jelas bayangan Papanya di balik layar, mengawasinya penuh intens.


Selama ini tidak ada yang mau mengakui usahanya, yang ada hanya sekedar kata basa-basi atau reaksi spontan dari mulut mereka tanpa mengandung makna. Tapi Zigo mengakuinya dengan jujur, setulus kata-katanya. Napas Fika tersendat, saat ingin berbicara ternyata Zigo duluan angkat suara.


Zigo berdehem pelan. “Iya juga sih, gue lupa bilang. Gue nembak lo gara-gara tantangan dari kunyuk-kunyuk itu, biar nanti lo gak salah paham..” kata Zigo setengah berbisik.


PLAAAKK!!


“Semua cowok emang *******!!!!” teriakan Sang Ratu Lab itu melengking tajam merobek telinga mereka, ia meninju dada Zigo sekerasnya lalu pergi meninggalkan keramaian.


Zigo jatuh tersungkur, lalu di sampingnya berdiri Gavin yang sedang menyelipkan kartu Joker di tengah jari telunjuk dan jari tengahnya.


“Kayaknya permainannya baru dimulai,” ucapnya sambil tersenyum tipis, Zigo mendongakkan kepala memerhatikan wajah penuh teka-teki itu. “Maksud lo Vin?”


Gavin memiringkan kepalanya menatap Zigo dengan wajah serta aura misterius.


“Permainan Takdir.”


****