
Setengah jam berlalu, anak IPA 1 sibuk sendiri. Fika membolak-balik buku bersampul cokelat yang belakangan membuat Aurel heran. Sebenarnya itu buku siapa? Sampulnya beda dari yang Fika punya.
"Ngapain lo Ka?" Aurel berdesis.
"Gak. Lagi belajar."
"Belajar sambil ketawa gitu?" sela Aurel, tatapannya mulai menyelidiki.
Fika tergagap ditatapi begitu, puisi aneh bin norak yang tengah ia baca akhirnya ditutupnya dengan tersenyum. Gelagat aneh, pikir Aurel. Kemarin Aurel melihat temannya itu berteriak histeris sambil merobek isi buku itu, ntah apa yang dibacanya. Hari ini Fika tersenyum lebar. Dia udah gila kayaknya.
Fika mengalihkan pandangan ke Farad. "Daripada urusin gue, mending lo liat si Farad tuh. Seharian gak bicara gara-gara kemaren."
Aurel mendelik bingung hingga dahinya berkerut, "emang kemaren kenapa?"
Hawa berubah mencekam, Farad menyorot penuh keganasan ke arah dua temannya yang sibuk ngelambeh turah. "Apa hah?!"
"Gara-gara Zigo kemaren."
"Jadi Far... Lo sama Zigo...?"
Aurel salah paham, gawat! Entar dikira Zigo sama Farad punya bisnis gelap! Piara tuyul misalnya.
"Gue cuma kalah debat sama Zigo! Liat aja bakal gue balesin tuh anak, ihh kesel banget gue!!" Farad mencak-mencak di kursinya dengan tangan menghujam meja geram.
Dua temannya tersenyum kaku.
"Singa betina ngamuk."
πππ
"Buku Kimia gue gak balik-balik masa?" cemas Zigo tiba-tiba, anak kelas memasang wajah aneh. Mereka kira siluman biawak itu bakal lupa sama hal remeh temeh.
Zigo itu kadang aneh di bagian tertentu, gak seperti orang kebanyakan, Zigo kadang bisa bertengkar dengan Abang tukang parkir karena ributin uang dua ribu perak. Suaranya kering kayak motor bebek kagak kesiram oli lima taon, kadang cempreng dan serak.
"Buku aja gue inget, Ling, apalagi lu. Iya, elu pas belum bayar utang. Rasanya pen gue jambakin rambut lu."
Oke, Zigo mulai ngomel-ngomel.
"Kurang ganteng lo Gong, makanya dia gak betah."
"Padahal muka gue udah mumpuni gini Ling,"
"Iya, mumpuni kalo sambil liatin kakek lu aerobik! Dah ah pinjam penghapus cok!" serbu Julio menyomot penghapus Zigo, terus dibelah dua pake gigi. Tuh air jigong nempel di penghapusnya.
"Eh!! Itu penghapus bukan Unicef punya! Ngapain lu belah gitu anak setan!!!!" maki Zigo panik, tangannya diserempet gigi Julio pas lagi nyomot penghapus.
"Tidak!! Covid-19 menular di tangan guee!!" omel anak itu ngelap tangannya ke seragam David sama Gavin.
"Ehanjay maranjay!! Jan lu kasi ke gue juga lah!" seru David panik.
"Gada otak!"
David, Zigo, Gavin menoleh ke arah Incubus itu. Julio ketawa ngakak melihat wajah super jengkel sohibnya. "Aowokwokwok!!"
"Ketawanya kek gak ada akhlak," cerocos David memperbaiki posisi duduk.
"Udah udah lu berempat! Rusuh amat sih asal ngumpul, kek Mak emak mo hajatan lu pada!" kesal Wahyu, mereka terdiam dengan wajah sewot.
"Tersakiti selalu gue Yu," curhat Zigo tiba-tiba. Wahyu ketawa ngenes. "Gaya lu kek Joker, Gong!"
Dia menjawab semangat. Sepuluh Dasa Dharma Zigo, prinsip kedua:
"Joker berawal dari orang baik yang tersakiti, kalau gue berawal dari orang cakep yang terdzolimi!"
"Seketika krik anjay." Zigo bercelutuk.
"Muka kek model tusuk gigi aja bangga lu!" sengak Julio tengil. "Mangkanya, garem di rumah kaga usah lu makanin semua!"
"Kaga dih, gue makannya kecap Ling makanya jadi manis gini!"
Julio kesel. kalau udah kumat gini rasanya pengen dia panggilin Susi Pudjiastuti buat tenggelamkan si Zigo. Untuk sesaat Julio usahakan sabar. Maklum, belom install Smadav dia.
"Narsis lu!! Gue tanya, emang lu udah punya cewek?"
"Khem!" Zigo mencomot peci di kolong meja David. "Sebagai umat Islam yang taat kita diharamkan pacaran, dalam surah Al-Isra' ayat 32 dikatakan bahwa 'Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk'. Maka dari itu–"
Zigo tertegun. Satu kelas yang tadi ribut jadi diam menyimak dia. Lebih lagi Wahyu yang tiba-tiba diri di depan congornya.
"Mundur lu ah!" serobot Zigo mukulin Wahyu pake peci.
"Kalo gue lihat-lihat Gong, lu punya bakat buat jadi penerus Mamah Dedeh."
"Eh, gue cowok setan, ngapain lu samain gue sama model biskuit Kokola Halal itu sih!"
Gavin yang daritadi pengin tidur jadi kebangun, masih jam sepuluh tapi si Zigo udah gila duluan. Gapapa deh, pikir Gavin. Nanti jam 12 gantian dia yang stress.
"Entar lagi buk Rayhan masuk," peringat Julio. Dia menoleh ke Zigo tajam dengan teliti. "Lu udah lengkapin catatan Gong?"
"Nah itu dia masalahnya Ling." Zigo berdecak kesal, ia mengela napas dengan berat. "Catatan gue semua di buku itu, Ling. Masa gue harus tulis dari awal?"
"Udah cek di kantor?" Widya salah satu anak cewek menimbrungi, Zigo mengangguk. "Udah, gak ada. Ilang tuh buku."
"Tapi keknya gue pernah liat, coba liat sampul buku lo Gong."
"Lo pernah liat buku gue? Nyosor di mana dia?" Zigo menyelidiki sembari mengangkat bukunya.
"Kayaknya di IPA 1 deh Go, itu sampul buku lo sama semua, kan?"
Zigo menjawab antusias. "Hooh!"
"Eh gak tau juga sih, gak cuma elo yang pake sampul kek gitu," sambung Widya bingung.
"Tadi lu bilang di IPA 1 kan?"
"Iya– eh?! Go! Gue gak jamin itu buku lo ya!" Widya panik melihat Zigo yang berlari menuju IPA 1.
Zigo buru-buru ke kelas itu dengan gesit.
Tepat di depan pintu dia berdiri, semua mata tertuju padanya dengan heran. Zigo meneliti satu per satu. Fika tersentak mendapati cowok itu tengah berdiri di kelasnya dengan mata mencari-cari, tangannya berusaha menutupi buku yang ada di atas mejanya.
Cowok bertubuh jangkung di depan kelas itu membuat Farad emosi, ia menukikan alis dengan mata berkobar penuh permusuhan. Namun Zigo tidak peduli dengan tatapan membunuh Farad.
Dia lebih peduli sama bukunya yang ngilang itu. Matanya menyapu seluruh penjuru dengan tatapan penuh curiga di kelas itu, jantung Fika berdetak makin kencang.
Mata Zigo berhenti di satu titik.
Dapat!
Bukunya ada di sana.
Di atas meja Fika.
"Buku gue.."
****