
Jalan Hasanuddin nampak lengang dilintasi sebuah motor bobrok dengan dua remaja rusuh di atasnya, Zigo yang dari tadi diam mulai jengkel lagi gara-gara Fika yang terus mengomel.
“Kenapa sih motor ancur kayak gini masih dipake buat pergi ke sekolah?”
Zigo memasang tampang semrawut, bukan hanya Fika—cewek yang dari tadi mengomel itu saja yang mengumpatinya. Cowok itu tetap tabah tanpa menjawab sepatah kata pun.
“Lagian sekarang kebakaran lahan lagi marak-maraknya dan lo gak pake masker? Kalo dalam semenit lo narik napas sampai 18 kali berarti udah 9000 cc udara kotor masuk ke paru-paru lo."
“Arrgh! Cerewet banget sih, mana gue ngerti apaan lu bilang!" kesalnya. "Lo tahu, setiap masuk jalan sini dilarang ribut,” kata Zigo lagi mulai membual. Mendadak Fika membisu tidak secerewet tadi.
"Ma-maksud lo…. Di sini ada pantangannya?”
Zigo tersenyum smirk, berniat mengusili cewek itu. “Jalan Hasanuddin udah terkenal angker sebelum Bapak Soekarno mendengungkan pidato tanggal 17 agustus. Di sini tempat mayat para pejuang dikubur hidup-hidup. Dan denger-denger di situ..”
Zigo menunjuk ke sebuah rumah putih besar yang tidak berpenghuni. “Dinding rumah itu katanya dicampur daging-daging mayat yang udah busuk. Tulang mereka disusun di bawah lantai keramik-“
“Jangan nakutin gue!”
“Coba lo ke sana, tanya sama orang-orang sini kalo gak percaya," tantang Zigo, dia yakin Fika gak akan berani. Cewek berpita pink itu merapat ke punggungnya.
“BUKAN MUHRIM!!” seru Zigo panik gak tanggung-tanggung, Fika terlonjak kaget mendapat responnya. Cewek itu merapatkan giginya kesal.
Padahal baru 5 menit yang lalu dia berkenalan dengan cowok aneh itu, Fika semakin heran dengan apa yang ada di dalam kepalanya. “Kok lo gak mau sih disentuh cewek?”
“Karena lo cewek!”
“Lo menyimpang ya?”
“Botak kau! Gue Cuma menjaga harga diri lo sebagai cewek, jangan mau aja lu kalo disentuh sama cowok!” ketus Zigo tidak peduli, dia mengalihkan pandangan ke jalan raya di depannya. Sedangkan Fika tertegun mendengar omongan cowok itu, entah kenapa dia jadi semakin penasaran dengan dunia yang ada di kepala Zigo.
Situasi hening kini membuat Zigo canggung, cewek itu tidak bersuara lagi.
Apa omongan gue nyakitin hati dia? Batin Zigo tidak enak.
“Nama lo Fika, kan?” Tanya Zigo berbasa-basi, dia merutuki dirinya sendiri atas pertanyaan konyol itu karena cewek itu sudah memperkenalkan diri sebelumnya. Fika membuka mulutnya kecil, “Afika Kiera Nirwana, panggil aja Fika.”
“Lo anak Ipa?”
“Iya.”
Zigo menarik senyumnya dengan bangga. “Gue anak Ips,” ujarnya pelan. Fika menatap wajah cowok itu dari belakang.
“Kok lo bangga sih, jadi anak Ips?”
Fika memandaginya heran. Baginya, matematika itu seperti teka-teki yang seru. Tentang bagaimana cara kita memainkan suatu rumus, mengoperasikan bilangan dan terakhir sampai di tempat tujuan; jawaban.
Fika kelihatan tidak peduli membuat Zigo bingung ingin mencari topik apa, dia paling susah kalau membaur dengan cewek kecuali hanya sekedar sapaan atau senyum singkat. Jadinya Zigo memilih menatap keramaian jalan. Sampai tiba-tiba dia terperanjat kaget, segera memutar balik arah membuat Fika kebingungan.
“Lo kenapa sih?”
“Bukan masalah kenapa! Lo gak liat polisi tilang pake baju ijo stabilo mejeng di depan? Bisa diangkut nih motor gue!"
“Halah, lo sumbangin aja nih motor busuk!”
“Biar busuk gini elo juga yang naek,” jawab Zigo mengarahkan motor ke sebuah gang sempit, Fika nampak gak terima.
"LO MAU BAWA GUE KE MANA?!!” pekik Fika ketakutan, Zigo menutup kuping sambil memutar bola mata malas.
“Ini jalan bakal langsung tembus ke depan Mesjid Al-Isra’. Dari pada lo kena denda sama pakpol! Lo inget nih jalan baik-baik, ntar kalo di depan ada tilang lagi lo bisa lewat jalan ini,” nasihat Zigo serius. Fika mengerutkan alisnya.
“Gue gakkan kena tilang! Kalo iya pun sopir gue yang bawa mobil, lagian gue udah bayar pajak. Gak kayak lo, miskin!”
Zigo menatapnya sebal. “Ngatain gue, lo?”
“Iya, emang kenapa?!”
“TURUN!”
Fika mencebikkan bibirnya dengan mata membesar, mendapat respons seperti itu Zigo buru-buru memalingkan wajah malas. Cewek yang baru ia kenal tidak lebih dari 5 menit itu memang memberi kesan kepala batu, angkuh sekaligus menjengkelkan.
Bebannya serasa lepas saat motornya telah sampai di gerbang SMA Gajah Mada, di saat bersamaan puluhan pasang mata mendelik tak percaya dengan gumaman pecah di sana. Zigo angkat bahu tak peduli, begitu pun dengan Fika, dia langsung melenggang tanpa basa-basi atau ucapan terimakasih.
Meskipun Zigo nampak biasa saja tapi hatinya mulai mengomando: “Jangan pernah ketemu sama leopard aneh itu lagi!”
Sejak hari itu, ketika punggung mereka saling menjauh dengan arah mata angin yang berbeda, di saat itu pula angin berhembus meniupkan takdir yang digariskan di antara mereka, takdir konyol yang akan mengubah hidup dalam setiap jengkal arah langkah kaki.
Mereka berpikir, bahwa mereka seperti air dan minyak yang saling menolak. Kenyataannya adalah mereka dua kutub magnet yang berbeda namun saling tarik menarik.
Lalu dengan skenario yang telah Tuhan berikan dua remaja itu akan berjalan berdampingan dengan takdir yang mereka pegang masing-masing.
πππ
Gak tau deh critanya bagus apa nggak, yg pnting gw udh nulis aja. Semoga kalian gk bosan my pren huehehe😂