ZAF

ZAF
Bagian 8 - USS Federationship



Bagian 8- USS Federationship


“Gong, gue duduk di sini yah,” ujar David dengan muka suntuk, cowok itu menghempas buku catatannya di meja.  Melihat itu Zigo menyingkirkan sikutnya lalu memberi ruang untuk David duduk, tanpa menunggu lama cowok itu segera menyatat sedangkan Zigo sibuk mendengar lagu di headset-nya.


“Gong,” panggil David malas, Zigo memutar pandangan menatapnya. David menggendikan bahu sambil berucap.


“Udah tiga hari gue liatin aja, sekarang gue gak tahan lagi.”


“Maksud?”


“Ya gue gak tahan lagi, lo tahu, si Juling uring-uringan mulu gegara masalah lo.”


“Gue gak ngerti anyink! Lu bicara ngelantur sana sini dah kek ibu-ibu komplek!"


David menatapnya jengkel. "Nah gue suka nih, gobloknya masih asli dipetik dari kebun teh pilihan."


Zigo mencebikkan bibirnya kesal. “Gak jelas.”


“Gak ada otak.”


“Lah perasaan itu kata-katanya si Juling,” lontar Zigo.


David berhenti menyalin catatan, ditatapnya Zigo lama. Cowok yang ditatapnya itu bergidik ngeri, bahkan lututnya sampai kram dipandang selama itu oleh David. 


David sendiri kesal dengan Zigo, cowok itu terlalu bodoh dalam hal membaca situasi.


Belakangan ini banyak orang yang membicarakan kedekatannya dengan Fika yang notabene-nya paling populer di sekolahan, tapi memang si mahkluk ****** itu masih terlihat santai-santai saja—bahkan seperti tanpa beban. Belum sempat berbicara Zigo yang memasang wajah andalannya itu—wajah ketenangan mutlak tanpa dosa bercelutuk dengan ragu.


“Ja-jangan bilang lo mulai menyimpang, Pid?”


“Bacot lu!"


“Pantesan lo jomblo, Pid! Bicara aja gak jelas. Azab aja ada yang spesial, lah lu kok gak ada yang spesialnya?”


“Azab ada yang spesial? Oh, gue pesen satu porsi yak.” David menjawab pongah membuat siapapun yang melihatnya jadi pengen nampol bolak-balik.


“Bang, pernah digigit ama pocong telanjang?”


“Lah pocong kalo gak pake baju bukan pocong lagi namanya..”


“Terus?”


“Zigong!”


Zigo memelototkan matanya ganas sambil berusaha menoyor kepala David. “Setan! Gak ada otaaak!!”


David terkekeh kecil dengan mata melengkung lucu, “Abis elo sendiri sih ngeselin. Bloon lagi.”


“Lah antum gak nyadar diri sendiri ****?” balas Zigo dengan lagak sewot, lagi-lagi David terkekeh geli. Zigo memang tipe yang suka meledak-ledak kalau diejek atau memaki, rada-rada toxic plus cerewet, bagi David sendiri Zigo lebih mirip Kak Ros di film Upin-Ipin. Apa-apa marah, tensian orangnya.


“Jadi gini Gong,” ucap David mengalihkan topik. “Lo ngerasa gak kalo Fika ngejauh dari lo?”


Zigo berpikir sebentar. “Lah emang gue punya hubungan apa sama dia?”


“Eh si moyong dibilangin! Lo sama Fika tuh udah jadi gosipan anak-anak sekolahan woi! Lo gak nyadar?!” seru David menebas kepala Zigo dengan tangannya. “Gue yakin Fika pasti ada rasa sama lo, Gong!”


“Kenal gue aja enggak dia, gak usah ngehalu deh lo. Dasar jomblo di bawah bulan purnama,” ejek Zigo.


“Apa-apaan sama tuh nama garing?”


Zigo mengatup mulutnya dongkol, berusaha mengalihkan pandangannya ke catatan namun jemarinya iseng mengambil buku cetak sejarah milik Gavin. Cowok itu mengeluarkan pulpen dan pensil yang ditumpuknya di bawah meja–tentunya hasil curian– dan menyomot tipe-x milik Julio yang sibuk nangkap belalang di semak-semak.


“Ngapain Gong?” Tanya David penasaran melihat Zigo tengah sibuk menggambar sesuatu. “Ngepang rambut… lo gak liat gue ngapain?”


“Lagi berak.”


“Gue makan juga lu Pid.”


“Idih dedek atut.”


“Jijik,” cibir Zigo tanpa menengok David, sesaat kemudian Julio memasuki kelas dengan terburu-buru lalu berteriak kencang membuat siapapun yang mendengarnya bakal galau. Galau pengin bacok orang misalnya.


Hal ini sudah pasti bakal jadi bahan gosipan seru di kelas. Apalagi sekarang ini berita para janda muda udah jarang kedengar, yang ada paling cerita para pelakor atau banci kaleng yang keseruduk pohon pinang.


“Lah emang apa urusan gue, ngaco lu.” Zigo menjawab ketus dengan tangannya yang masih sibuk mencorat-coret kertas membentuk sebuah kapal besar. Julio menghampiri meja Zigo dengan langkah panjang. “Lo pikir kalo diem gitu aja nih cerita bakal selesai? Mikir dong lu ah, cepet, cepet, bangun!”


“………….”


“Gak ada otak!”


“Gue belum ngomong lho—“


“Emang dasarnya gak ada otak!” Gavin yang di belakang Julio ikut bercelutuk.


“SEJAK KAPAN KITA PUNYA OTAAAK?!!” jerit Zigo kesal setengah mati, cowok itu pergi membawa buku dan alat tulisnya melanjutkan gambar. Namun saat itu juga Julio berbisik padanya.


“Catatan kimia nanti dikumpul, jangan ngegambar yang gak guna Gong. Gue makan lo nanti,” dingin Julio dengan wajah mengelam. Zigo langsung menenguk ludah kasar ketika Julio masuk ke mode Kaptennya. Mengerikan.


**********


Fika berjalan cepat di sepanjang koridor kelas satu, dari puluhan pasang mata yang melihatnya penuh terpesona baginya tatapan itu tak lebih dari hal menjijikkan. Contohnya, para cowok yang sibuk bersiul-siul atau menggodanya, Fika tak ambil pusing, cukup memberi tatapan sinis pasti mereka akan diam ketakutan.


“Ka, Fika!” teriak seorang cowok berbadan tinggi tegap dengan wajah tampan sempurna. Seorang mostwanted dan paling populer di kalangan senior sekolah. Mungkin, bisa dibilang di tahun ini dia yang paling terkenal. Dia Alex, beda satu tahun dari Fika.


Alex teman masa kecil Fika sejak dulu, selalu satu SD, SMP bahkan sampai SMA, saat ini dia menjabat sebagai ketua OSIS yang semakin membuat namanya terkenal di mana-mana. Meskipun wajahnya sudah terbilang lebih dari cukup, Alex tetap memiliki prestasi yang gemilang, dia selalu dipanggil untuk memenangkan lomba hitung cepat, OSN Matematika dari tingkat kabupaten sampai tingkat nasional.


Bisa dipastikan semua cewek bakalan melirik dua kali saat berpas-pasan dengannya, bukan hanya ganteng dan pintar, Alex juga sangat ramah. Dengan wibawa dan keramahannya tentu dengan mudah ia mendapat banyak sanjungan.


Cowok itu tersenyum hangat mendapat tatapan mengecam dari Fika kemudian berinisiatif mengangkat buku di dekapan cewek itu.


“Biar gue angkat.”


“Gak.”


“Berat lho,” bujuk Alex lagi tapi Fika tetap kekeuh mengangkat tumpukan buku itu sendiri, lagian jarak ke kantor sudah agak dekat.


"Biar gue aja yang bawa, lo ngapain sok caper sama gue. Gak butuh,” sinis Fika menatap Alex dengan ujung matanya.


Senyum hangat Alex perlahan luntur kemudian berganti dengan ekspresi serius.


“Gue mau nanya. Zigo itu siapa lo?” tanya Alex tanpa berniat basa-basi lagi.


Fika mengerutkan alis seraya membalikkan badan. “Sampah yang ngeganggu kehidupan gue, apa urusannya sama lo?”


Alex kembali tersenyum, tapi kali ini lebih lebar bercampur rasa lega. “Oh, baguslah. Gue cabut dulu ya.”


Terdengar dengusan kecil dari Fika, ia melanjutkan langkahnya ke dalam kantor di sudut pojok di meja Buk Kinan yang bersebelahan langsung dengan guru kimia mereka, Buk Rayhan. Fika iseng menengok lembaran kertas ulangan anak Mia 1 di atas meja Buk Rayhan namun tangannya menyenggol tumpukan buku hingga terjatuh. Ia memungutnya dengan jijik kemudian membaca nama pemilik buku itu.


‘Zigo Alathas Theodera


X IIS 1


MAPEL KUSAYANG KAMU’


Bibir Fika berkedut menahan tawa, mana bisa dia tahan melihat orang macam Zigo ikutan alay. Walaupun di dalam hati ia masih kesal sama cowok itu karena kejadian tempo hari, Fika terus menepis pikirannya itu. Tidak terjadi apa-apa antara mereka dan semua hanya kesalahpahaman.


Tak lama ia membuka lembaran demi lembaran, tulisan cowok itu seperti tulisan orang-orang jaman dengan pola tegak bersambung. Sangat cocok dengan karakternya.


Tangan Fika berhenti bergerak, kemudian membuka lembar sampul terakhir yang terpampang gambar sebuah kapal besar bertuliskan dengan nama USS Federationship.



Ia terhenyak sepersekian detik saat Farad tiba-tiba berteriak di pintu kantor.


“Ka lo ada di dalem? Dari tadi gue cariin elah! Guru dah masuk oi, lu masih mau mejeng di situ?!”


“I-Iya, tunggu.” Fika melipat buku itu panik lalu memasukkannya ke dalam saku rok.


***