
Lorong kelas ramai, suara-suara cekikikan dan teriakan yang menjadi kebiasaan ketika melewati jalan itu selalu terdengar. Fika mendekatkan dirinya ke dinding, saat segerombolan cowok berpenampilan preman berjalan di hadapannya.
"Heh."
Fika terkejut dengan alis tetap menyatu, namun kakak kelas itu sama sekali tidak terpengaruh dengan tatapan intimidasinya. "Cantik juga lo, ya?" Cowok itu memegang lengan Fika.
"Lepasin gue." Ia berujar ketus, menghantam sepatu cowok di hadapannya kesal.
"Mayan nih," ujar cowok lainnya. Sementara itu siswa lain tidak berani mendekat. Membantu Fika resikonya mengerikan. Paling mendingan kalau cuma dipalak setiap hari atau dijadikan kacung. Tahun kemarin mereka membuat korbannya jatuh dari tangga dengan kepala bocor.
Kuat-kuat Fika menarik pergelangan tangannya, namun cengkraman semakin mengerat. "Lo kenal gue gak?" cowok itu memasang posisi berhadapan dengannya.
"Sebastian, anak 11 IPS 3."
"Bodo amat sama nama lo!"
"Gak tau untung banget sih jadi cewek!"
Plaak!
Semua orang terkejut. Siapa yang berani menampar Fika? Berbicara dengan si mawar berduri dari lab biologi itu aja mereka sudah gemetaran.
"Lo?!!" Ia hanya bisa menunjuk geram, Fika sadar tidak ada yang mau membantunya. Semua sekedar menonton untuk mengamankan diri sendiri. Cekatan, Sebastian menangkap tangan Fika.
"Jangan sok berkuasa di depan gue. Lo cuma cewek, b*tch."
***
"Go! Zigoooo!"
"Ape sih lu?" Zigo berhenti menimang-nimang kartu Uno-nya, sedikit lagi cowok itu menang.
"Lo harus liat Fika! Tuh anak dibully sama Sebastian!"
Wahyu terengah-engah di depan pintu dengan tatapan meyakinkan, namun respon Zigo sangat minim. Cowok itu hanya bergidik. "Bukan urusan gue."
"Dia ditampar, Go!"
"Terus?!" serunya membalas sengit. "Apa hak lo nyuruh-nyuruh gue?!"
Shock mendengar jawaban Zigo, Wahyu hanya bisa terdiam dengan wajah kecewa. "Lo tau Sebastian, kan?"
Julio dan David terkejut bukan main. Kalau yang disebut Sebastian mereka jadi ngeri. "Se-serius?"
"Go buruan, dia tadi ditampar! Terakhir kali gue liat tuh anak lagi ditarik-tarik!"
"Gue gak mau bantu dia, lu paham gak sih?!"
"Go! Cuma lu yang bisa lawan si Sebastian! Gue tau, pas SMP lu selalu menang lawan modelan preman senior kaya si Bastian!"
"DIBILANG GUE GAK MAU!"
Tiba-tiba Julio bangkit, berlari dengan kencang meninggalkan kelas. Semua orang tertegun, David dan Gavin cengang dengan dua bahu dempetan. Kaya perawan mau digondol sama om-om mesum.
"Dia udah ngerampas kebahagiaan lo, Ling. Kenapa lo masih mau nyelamatin dia sih?" batinnya dalam hati.
"FIKAA!" teriak Julio di sepanjang koridor, anak itu mencoba menghadang Sebastian yang ternyata sedang mengamuk, senior itu berkelahi dengan sang ketua OSIS, Alex.
"Panggilin guru oon!" seru salah satu murid yang menonton perkelahian itu.
"Ini nih, Mang Yudi dah dateng!" teriak siswi lain panik.
"Heh putu bambu! Gue suruh panggil guru, bukan penjaga kantin!"
"Minggir lu semua!" seru Julio keras-keras, ia akhirnya bisa menembus di keramaian. Dilihatnya Alex terkapar di lantai dengan hidung berdarah, anak UKS hati-hati ketika mencoba menopang tubuh sang Ketos itu.
"Lio.." suara Fika bergetar, matanya berkaca-kaca. Rasanya Julio pengen menghantam wajah songong Bastian ke jendela. "Sialan Lo, Bas! Banci lu! Nyari lawan tuh yang sepadan, jangan sama cewek!" maki Julio marah. Belum sempat lagi melanjutkan kata-katanya, Sebastian tiba-tiba menyepak wajah Julio keras.
Cowok itu terdorong ke belakang huyung, kaki Bastian mengenai pangkal hidungnya yang sekarang mimisan.
"Heh anj*ng!" Bastian mencengkram kuat seragam Julio yang kini berdarah akibat mimisan. "Lo kasi tau tuh cewek baik-baik, jangan pernah nampar muka gue!"
"Lo yang duluan nampar gue!" bela Fika tegas, namun tetap tangannya bergetar ketakutan.
Dugghk!
Julio memekik sakit, perutnya dihantam dengan dengkul. Pukulan beruntun mengenai perutnya, Bastian melempar tubuh Julio ke lantai membuat siswi-siswi berteriak ketakutan sekaligus kasihan. Sudah jelas sang preman sekolah itu sangat pandai berkelahi, kekuatan dan gerakannya terbilang lincah.
Kaki Bastian terangkat, Fika berangsur panik. "Lio bodoh! Bangun!!"
"Cih, jadi nih sampah penting buat lo?" desis Bastian licik, ia membuang rokok di bibirnya. Lalu menginjak batang leher Julio kuat-kuat. Membuat Julio menjerit dengan suara tertahan karena lehernya diinjak.
Tidak ada yang menolong. Semua hanya menutup mata ketakutan.
"Bas! Santai lu! Tuh anak udah pingsan kayaknya!" seru teman Sebastian memberi tahu. Bastian berdalih ke Fika.
"Patuhi perintah gue, apa nih cowok bakal gue abisin di sini?"
Patuhi perintah Bastian berarti menjadi kacungnya selama bersekolah di sini, sudah berapa banyak orang yang menjadi korbannya. Fika melihat Julio yang kini terkapar berdarah di lantai.
"Oh..."
Bruaaakkh!
Julio kembali memekik sakit luar biasa, tangannya diinjak sampai merah. "Kalo lo gak jawab, habis ini.."
Bastian mengarahkan kakinya tepat di jantung Julio dengan senyum sadisnya yang terpampang jelas.
"Lo tetap gak mau jawab, ya?"
Bastian mengalihkan pandangannya ke Julio emosi, binar matanya seperti kerasukan setan. Siang itu, Julio hampir mati konyol dihabisi di depan umum. Bastian menarik senyum pembunuhnya lebar.
Sesaat sebelum menginjakan kakinya, Sebastian sempat melongok ke arah Fika yang hanya bisa terdiam tidak bisa menyelamatkan. Kakinya terlalu susah untuk berjalan, Julio pun tidak bangun-bangun daritadi pertanda bahwa anak itu sudah pingsan.
"Bas.. lepasin Julio.." lirih Fika memelas.
"Boleh," Bastian menurunkan kakinya. Cowok berkulit gelap itu memasukkan tangan ke saku sembari berbicara tenang. "Kalau lo mau jadi kacung gue," tukasnya memiringkan kepala.
Gaya tengik Bastian membuat orang yang melihatnya dongkol setengah mati. Ada yang ngumpat gak terima, para cowok sibuk pengen sok ngejago selametin Fika, ada yang videoin, ada yang biasa aja, ada yang napas, dan ada yang mendadak jadi duyung.
Keadaan semakin ribut, para anak cowok pada nyorak-nyorak dengan tampang norak, kek orang-orang yang lagi nontonin anak esempeh kelahi. Saat Bastian menoleh mereka langsung diam, takut jadi sasaran.
"Kalo ngomong tuh yang laki, men." Sebastian menyindir remeh, cowok itu mendekat ke kerumunan cowok.
"Lo mau gue abisin di sini?" Tanyanya pada cowok berkacamata. "G-g-gak bang," anak itu menjawab gemetar.
"Cih," Sebastian meludah tepat di muka anak itu. "Gue punya tugas buat lu."
"I-iya."
"Lu cegat guru yang mo dateng ke sini."
"I-iya."
"PERGI!"
"I-IYA BANG!"
Mata hitam cowok itu menyapu sekitar dengan dingin, membuat semua orang yang di hadapannya terdiam. Sebastian punya kuasa di SMA Gajah Mada.
"Lu tetep gak mau jawab pertanyaan gue?!" teriak Bastian membuat Fika tersentak kaget, ia mengangkat wajah ketakutan namun tetap berseru.
"Gue gak mau! Liat aja kelakuan lo bakal gue aduin ke BK! Lo bakal dikeluarin dari sekolah ini!"
Ancaman dari cewek itu membuat kuping Sebastian panas, emosinya naik tak beraturan membuat kesabaran cowok itu melebihi ambang batas, ia mengangkat kaki tinggi-tinggi berniat menghujam batang leher Julio. "Mati lu-!"
"ANJIIIING LU ANJIIIIIING!!!!!"
BRUAKHH!
Bastian memegang kepalanya dengan pandangan mata gelap di sekelilingnya, ia berusaha memahami sekitar. Seorang cowok berambut kemerahan berdiri tegak di depan julio.
"NGAPAIN LU HAJAR TEMEN GUA?!" Teriak Zigo emosi, seluruh tubuhnya terasa terbakar melihat Julio berdarah-darah dengan kondisi menyedihkan.
"Nantang duel lu?"
Zigo bergeming berusaha mengontrol emosinya yang kian berapi-api, sepertinya ucapan Bastian serupa minyak tanah yang membakar emosinya.
"GUA MATIIN LU, SETAN!"
***