
"Gue matiin lu di sini!" Pria itu mengangkat kencang celurit di tangannya, mata memerah akibat keseringan mabuk itu nampak seperti orang hilang kesadaran. Lengan kekar bertatonya mengerat saat hendak menghantam kepala Zigo.
"Mati lu!" Celurit turun dengan cepat, tepat di atas rambut anak itu terdengar suara berat memecah ketegangan.
"Bos gak nyuruh lu sampe bunuh mereka, kan Di?"
Mereka menatap ke arah sumber suara dengan dada berdebar, Zigo yang hampir terbunuh tidak bereaksi.
"Jadi bos kalian gak di sini?" tanya Zigo tenang.
"Bos itu tugasnya merintah dari belakang,"
"Mau banget lu semua jadi kacungnya ya?" cibirnya kembali memancing amarah Genk Palu itu. "Masi untung lu gak gue potong tadi!"
"Potong? Otong lu gue sunat sini!" gertak Zigo tak kalah emosi, lelaki bernama Yudi itu melempar celuritnya ke belakang lalu memungut besi panjang.
"Biar gue ajarin lu sopan santun."
"Gong lu bisa gak jangan cari perkara.." kesal Julio, nada bicaranya bergetar. Kaki cowok setengah hantu itu gemetar gak keruan. Zigo pun mundur waspada.
"Santai Yudi, kalo sampe tuh anak mati elu sendiri yang bakalan dibunuh. Lo tahu, kan? Boss gak mau sisain bukti apapun. Termasuk pelakunya sendiri."
Lelaki itu terdiam.
"Gue cuma mau gebuk ni bocah alus!"
Lagi-lagi mereka dihadapkan pada situasi genting, Julio sudah mepet di dinding dengan wajah panik. David bergerak gesit, maju ke depan Zigo. "Gak akan gue biarin lu mukulin temen gue!"
Prakk!
Betis David terkena hantaman besi itu, ia meloncat-loncat kesakitan memegang kaki. "Pid lu gak apa? Udah jangan mikirin gue, lu!"
"Gue gak mikirin lu! Bege!"
"*** lu sok-sokan mau jadi pahlawan, kang cangcimen lu!"
"Kaga ada terimakasihnya lu ya kek si Gapin! Dibaikin malah nglunjak lu."
Rombongan berslayer itu saling menatap, itu dua bocah ngapa jadi ribut sendiri sih.
"SEKALIAN AJA LU BERDUA GUE TEBAS!"
David dan Zigo melindungi kepala masing-masing dengan tangan.
BRAAKKK...
Semua orang melotot kaget, tangan David turun dengan lunglai. Dinding di sampingnya ternodai cairan darah yang mencuat liar. Ia menatap Zigo segera, tubuh cowok itu bermandikan darah.
"ZIGO?!"
"Lu kayaknya gak bisa megang omongan gue, ya?!"
David beralih menatap ke depan, alangkah kagetnya anak itu melihat lelaki yang hendak menebasnya telah terkapar berdarah dengan kepala bocor terkena lemparan palu. Di samping lelaki itu terlihat palu berdarah yang menjadi simbol geng itu.
"Gong.. lu gak apa?"
"Kaga ngapa mata lu! Baju gue kena darah nih!"
"Gue kira lu kena sompret!"
"Udah diem lu, jagain tuh palelu tiati ilang." Zigo berdesis kecil, Julio berdiri terpaku sana. Mereka saling bertatapan. Dengan wajah berharap.
Seandainya kami bertiga kocheng oren. Punya banyak bini, eh maksudnya nyawa.
"Udah, kunciin mereka bertiga!"
"Oke, boss!"
Kacamata hitam, jaket kulit hitam, sepatu pantofel berkilat ditambah dengan lambang palu menyilang di punggung jaket lelaki itu. Mungkin umurnya di atas delapan belas tahun, kurang lebih. Zigo mencermati dengan teliti.
"Apa lo liat-liat?!"
"Eh eh kaga bang," Zigo berniat menyela, orang mengerikan yang tidak segan membocorkan kepala orang ini sangat berbahaya. "Ngeliat sepatu lu doang. Beli di mana bang?"
"..."
"Kacang bang, kacang... Sakit tapi tak berdarah coeg." David meledek senang.
Tanpa banyak babibu mereka segera diseret ke toilet bekas yang sudah lama tak terpakai. Tumbuhan liar menjalar di lantai yang retak dimakan waktu, serta bunyi tikus di sana membuat tiga cowok itu seketika berdempetan. Gak takut kok, cuma saling waspada aja. Itu pembelaan dari Julio yang pengen keliatan laki banged.
Rantai mengunci tangan serta tubuh mereka yang duduk saling membelakangi, setelah salah satu anak buah geng itu pergi mereka langsung dikunci di ruangan sempit berbau pesing itu.
"Ada yang lebih ngeri dari ini semua.."
"Apa tuh?" tanya Julio menatap Zigo ngeri.
"Lu liat lobang WC-nya udah kek lobang kematian!"
David mengangkat kepala. Terlihat lobang WC itu hitam bekas *** orang kena azab. Item banget amjink. "Yawlaaa...ambyar diriku melihat lobang itu! Allahuakbar!"
"Jangan bawel!" Julio agak terganggu mendengar suara David, anak itu sangat penakut.
"Hueh.. emak.." rengek David. Julio mencebik kasar. "Ck, nih timun di saku gue. Lu makan noh jangan bawel!"
"Gimana ceritanya gue ambil setan!"
Seketika mereka merinding disko. Udara di WC yang tadinya pengap tiba-tiba dingin.
David membuka suara. "Mbak setan bukain borgol ama nih rantai dong.. sekalian sama nih gembok juga. Gila parah emang dikata gue satwa liar apa ya pake dikonci segala?" rewel David tambah bikin kuping pengang.
"HEH!"
Mendadak pintu terbuka lebar, "jangan ribut lu bertiga! Apa mau gue masukin tikus di mari?"
"Kaga mauuu!!"
Pintu kembali dikunci.
"Gimana dong ini?" gerutu Julio mengembuskan napas, pas narik napas anak itu terbatuk-batuk lebay. "Bau bat amnjink gila! Ini yang berak di sini ngebom ape baunya ganas banget gini!"
Seketika aura dingin kembali terasa. "Ga asik nih setan, baperan. Off ada setan baperan."
Suhu semakin dingin. "Setannya kesinggung noh, bacot mulu kerja lu udah kek komentator sepak bola aje lu!"
Omongan Zigo membuat David manyun. Hening lagi. Mereka sibuk memikirkan cara keluar dari ruangan ini.
"Gong.. gimana ceritanya ini? Coba aja gue bawa hp tadi."
"Ya percuma ada hape kalo tangan lu dikonci, qobloqq!" Maki David pake qolqolah. Biar gak ngegas.
"Gong lu denger gue gak sih?" omel Julio makin bawel. Zigo berpikir keras, sesekali menyuruh anak itu supaya jangan berisik.
"Eh besok kan OSN-nya? Lu gimana nih Gong? Kita dikunci di sini berarti lu gak bisa ikut, dong?!"
Sedetik kemudian Zigo berpaling ke arahnya, kemudian tersenyum licik. "Lo udah ngerti, kan?"
Julio dan juga David melebarkan netra matanya. "Jadi lo udah tau duluan tujuan mereka?"
"Hhh.. sekalipun gue tau juga gak merubah keadaan, kan?"
"Licik banget mereka! Mereka pengen lu disekap di sini supaya gak bisa ikut OSN! Supaya lu didiskualifikasi! Kurang ajar lu semuaa!!" umpat Julio naik pitam. Sekarang sudah jelas, Genk Palu satu komplotan dengan Alex dan mereka bekerjasama dengan Farad. Benar-benar orang yang merepotkan, pikir Zigo.
"Woi bang lepasin Zigo, lo semua boleh nahan kita aja deh. Asal jangan lupa kasih kita makanan enak!"
"Ck apaan sih lu Pid, diem udah lu."
"Kok lu nyantuy bat dah kek orang lagi ngupi." Julio merapatkan bibirnya jengkel, dalam cahaya remang-remang begini dia tidak tahu ekspresi apa yang ditunjukkan Zigo. "Walaupun gue gak bisa merubah keadaan, tapi gue bisa memperbaiki keadaan, kan?" suara Zigo pelan.
"Yang bener lu?"
"Sedia payung sebelum hujan, Ling."
"Hah?"
"Sedia kawat sebelum disekap."
***