ZAF

ZAF
Bagian 32 - Slayer Merah



Zigo memasuki kelas anteng, hari ini Gavin masih belum sekolah padahal sudah tiga hari sejak kejadian hari itu berlalu, David belakangan jadi murung ditambah lagi Julio yang seperti cuek bebek.


Ia menarik kursi sampai berderit, duduk sambil membolak-balik bukunya dengan kantung mata hitam, Zigo belajar mati-matian selama tiga hari ini termasuk ketika mata pelajaran lain sedang berlangsung. Kemarin, saat pak Sutyo menciduknya ketika jam pelajaran, ia dihukum oleh guru itu dengan melakukan push up di lapangan, dan Zigo melakukannya sambil membaca buku Sejarah.


Pak Sutyo geleng-geleng kepala penuh heran.


"Gue kangen si Gapin weh," ungkap David menopang dagunya lemas. "Homo lu."


"Bukan homo banjer, dia kan temen pertama gue sebelum elu berdua. Kurang aja gitu rasanya kalo gak ada dia."


Zigo hanya menanggapi sekedarnya, Julio memilih berbacot ria dengan David. Suasana jadi agak tenang walaupun jokes dari Julio garingnya ngalahin kerupuk. Iya, kerupuk kek badannya. Disiram air dikit langsung luemes.


"Gue mau ke kantor dulu, ketemu Buk Hesti." Zigo pergi membawa bukunya, Julio dan David hanya menatap sampai punggung anak itu tidak kelihatan. "Gak enak ye tinggal bedua gini."


"Hooh, apalagi sama lu."


"Emang gue kaga geli gitu?" David bergerutu. Mendadak Julio merangkulnya hangat. "Entar kita jenguk si Gapin nyok, gue ada beli buah-buahan nih." Julio menunjuk di kolong mejanya.


"Kemaren gue udah jengukin dia, bawa timun. Lu tau dia ngemeng apa?"


"Apa?" Julio memasang tampang penasaran.


"Apaan dah gue bonyok gini dikasi timun doang!" Ujar David menirukan suara cempreng Gavin.


"Emang kaga ada terimakasihnya tu anak!" Julio mengomentari. David kembali bicara.


"Terus karena gue gak punya apa-apa, gue nanya emang dia mau dibeliin apa. Lu tau dia bilang apa, Ling?"


"Apa apa?" semakin tertarik Julio mendengar cerita anak itu.


"Bagi ginjal lu satu, dong! Mayan gue pake buat foya-foya!"


"Hahhahahaha!!" Mereka tambah cekikikan gak jelas, David bicara sambil ketawa. "Dikiranya ginjal gue Milkita ye!"


Anak-anak kelas yang nyimak juga pada senyam-senyum pengen ketawa. Keberisikan mereka emang kadang mengandung recehan yang bisa membuat orang lain ikutan ngakak.


"Besok lomba OSN-nya ya Pid?" tanya Wahyu ikut menimbrungi, dia melirik ke belakang.


"Ehhh??" Julio dan David bersuara panik.


"Gue lupa! Wah parah men besok lombanya!!!" Julio menggoyang badan David kuat. "Iya gue tau, berenti dulu! Puyeng gue nih!"


"Pantes tuh anak kaga asik dibecandain, besok OSN nya breeh! Kek mana ni, kita kudu ngapain?"


"Yang ikut aja kaga sesewot elu bedua perasaan." Widya menyindir di bangkunya.


"Diem lu, betina!" seru David


"Eh apa lu kata?!" Maki Widya emosi, api emosi menjalar di sekujur tubuhnya. Semua orang ketakutan, terlebih David.


Saat-saat itu diambil 4 menit sebelum baku hantam.


***


Malam harinya Zigo tertidur di balkon, suasana sepi seperti biasa menemaninya. Besok hari penting, bukan sekedar mengalahkan Farad, tapi juga untuk menaklukkan dirinya sendiri. Ia teringat kejadian beberapa tahun yang lalu, ketika neneknya masuk ke kamar sambil mengelus kepalanya.


"Besok pagi acaranya ya Igo? Jam sembilan kan?"


Cowok itu langsung duduk, memegang keningnya lamat-lamat. Mata ia pejamkan, entah berapa lama setelah kepergian neneknya, maupun kedua orang tuanya, ia tetap tidak berubah.


"Jadi sejarawan, ya?"


"Igo gak yakin, nek." Ia menyunggingkan senyum kecil, matanya mulai panas. "Kenapa pas Igo pengen ngebuktiin sama kalian kalo Igo bisa jadi sejarawan, kalian malah pergi?"


"Kata nenek, Tuhan adil. Tapi Igo bukan termasuk orang yang ngerasain bentuk keadilan dari Tuhan sendiri." Cowok itu menarik napas dalam, ia mengambil foto yang terletak di nakas. Tersenyum lemah.


"Nek, kalau hari ini Igo bisa menang.. nenek janji, kan, masakin makanan kesukaan Igo?" air mata jatuh dari pelupuk mata cowok itu, mungkin saat ia sendiri begini hatinya bisa begitu hancur.


Ia langsung menyembunyikan foto itu cepat ketika David dan Julio dengan langkah tergesah menghambur ke arahnya.


"Gong, gawat!"


"Lo bedua kok bisa masuk?!"


"Apaan?" Zigo bangkit. Menatap lurus tepat di bola mata Julio yang kini ketakutan. "Kali ini Bastian dikeroyok!"


"Malem-malem begini? Lo tau dari mana?"


"Dia nelponin gue, Go!" Julio menyodorkan ponselnya, terlihat nomor tidak dikenal di sana. Bastian sudah dikeroyok dan saat ini dia bersembunyi di hutan.


"Genk palu, ya?"


"Iya!"


"Dia ada kirim lokasi?"


"Ada, Gong!"


"Berangkat!" Perintah Zigo memakai jaket hitam lusuh miliknya. Teman-temannya telah pergi keluar, namun Zigo masih sibuk mengobrak-abrik isi mejanya.


"Ayo, Gong! Buruan!"


"Nah, dapat." Ia memasukkan kawat di saku jaketnya. Lalu menyusul dengan langkah cepat.


***


Gedung bekas pabrik berdiri kokoh dikelilingi hutan rimbun. Suasana ngeri mengisi malam itu beserta udara dingin menusuk tulang, mereka beriringan masuk hati-hati. Tidak ada siapa-siapa kecuali mereka bertiga. Zigo menelusuri sekitar, tersenyum jengkel sembari memejamkan mata.


"Gak ada orang di sini, Gong! Kita ditipu! Mungkin yang ngirim pesan itu Genk Palu itu sendiri!" cecar David marah, ia menyepak rongsokan besi di tanah.


"Emang Bastian yang kirim, kok." Zigo membuka mata, sorot matanya tajam sambil menggendikan bahu, memasukkan kedua tangannya di celana.


Julio dan David saling menatap kebingungan.


"Di atas."


Sontak mereka terkejut, di tiang-tiang dan kayu melintang pabrik ini terdapat sekitar sepuluh cowok dengan mulut ditutupi slayer merah membawa senjata. Mereka lompat menimbulkan bunyi menggema.


David dan Julio ketakutan, melawan mereka semua dalam ruangan ini? Mereka hanya bertiga. Sedangkan Genk Palu ini memiliki 3 orang dewasa, jago kelahi dan pastinya dengan senjata di tangan masing-masing.


"Gong...kita bakal mati sekarang, nih?"


"Justru sekarang kita diuntungkan." Zigo berbisik. "Asal lo jangan melawan."


"Untung kepala kau untung! Nyawa kita dalam bahaya Gong, lu kata nyawa kita kek kocheng Oren ape!"


Zigo mengeluarkan ponselnya.


"Tsk, mau nelpon polisi lu?!" Lelaki berumur 20-an itu mendekat, ketika Zigo sedang mengutak-atik ponselnya tiba-tiba lelaki berslayer itu menepis ponselnya sampai terlempar.


"Lu mau gue bunuh di sini?"


"Kalem bos. Kita gak mulai, kan?" ujarnya pelan-pelan agar tidak menyulut emosi laki-laki itu. Salah sepatah kata, ujung celurit itu akan mengoyak kulitnya.


"Apa yang lu mau dari kita, hah? Bastian mana?!" Julio berteriak.


"Dia udah kita abisin, anj*ng itu udah ngibrit, hahahaha!!"


"Hahhahahaha!!" Tawaan bengis menggelegar seisi bangunan itu, mereka mundur ketika lelaki yang diduga menjadi pimpinan Genk Palu itu maju.


"Gue cuma pengen lu semua mati."


"Lu yang gue matiin, anying!" maki David balik lebih ganas, namun gertakannya malah terdengar seperti gonggongan di telinga geng slayer itu.


"Lu masih bisa bacot ya!" emosi rombongan itu akhirnya, palu di tangan mereka diacungkan tinggi-tinggi.


"Gue matiin lu di sini!"


**


Tewas kelen hhahahahah😂 Wei jgn lupa like setiap chapternya, klo gk ad yg like gmna ceritanya nih masa author like sndiri sih:v


Setiap like dan komen kalian sangat berharga kawan:D