
Awan-awan mengapung rendah ingin menyentuh bumi, suasana agak mendung itu tentu paling nyaman membuat para gerombolan anak Ips untuk menetap di kelas.
Zigo memejamkan matanya dengan kepala dimasukkan ke dalam tas karena Julio si anak cacingan dengan badan menyerupai batang singkong terbakar api itu terus mengoceh gak jelas, bahkan keadaan baju tetangganya yang habis diseruduk **** pun sampai dirisaukannya.
Dia paling malas kalau Julio udah curhat tentang mbak-mbak indomiris yang selalu menawarkannya barang diskonan, sedikit tambahan Julio selalu menekankan kalau mbak-mbak itu menawarkan diskon hanya padanya saja. Setegar mungkin Zigo menarik napas.
“Ling,” sabda Zigo akhirnya. Julio yang selalu diplesetkan namanya jadi Juling itu—karena memang mata kanannya agak miring—melirik takjub dengan bola mata bergerak-gerak liar. “Lo pasti mau bilang kalo Mbak Icha suka sama gue, kan?”
“Gak mungkin dia mau sama lo, nyet. Preman yang gak pernah ngucap aja langsung hafal Al-Baqarah satu jus liat muka lo!” cecarnya membuat Julio kesal melemparkan buku cetak sejarah miliknya. “Gak ada otak!”
“Eh, btw lo gak ngumpul tugas sejarah kemaren? Buk Hesti bilang hari ini terakhir kumpul,” ujar Julio sambil membuka tasnya menyadari Pak Sutyo memasuki kelas bermodalkan sebuah spidol tanpa buku ataupun laptop. Sang guru yang selalu disegani di sekolahan, bukan hanya karena sifat killer-nya, melainkan karena kejeniusan otaknya yang hebat menjabarkan materi tanpa membaca buku atau PPT. Zigo kelihatan tergagap di sampingnya, sudah masuk ke jam terakhir dan sebentar lagi pulang, “yok kumpul Ling! Ngeri banget tuh guru kalo ngamuk, lo kan tau dia dendam kesumat sama gue.”
Julio memalingkan muka dramatis dengan wajah iba. “Gue udah kumpul duluan, Gong. Lo bicara gih sama si Bapake. Paling tinggi dijengkangin lo ke jendela sana, hahaha."
Zigo komat-kamit mengumpati titisan tuyul botak itu, kalau bukan karena menyukai pelajaran sejarah dia gak akan mau disuruh izin ke Pak Sutyo untuk mengumpul tugas. Jantungnya berdetak gak beraturan, tiga kali Zigo meneguk ludah susah payah ketika guru Fisika itu memandangnya remeh.
“Pak, saya ijin mau kumpulin buku sejarah.”
“Duduk ke bangkumu sana,” tanggap pria tua itu dingin, Zigo tersenyum kecut. “Pak, kan gak ada salahnya saya pergi sebentar buat kumpul tugas, Buk Hesti sendiri yang–"
Pak Sutyo menyanggah. “Kenapa tidak kamu kumpulkan saat istirahat? Jangan membodohi saya dengan alasan remeh temeh kamu itu, balik ke bangkumu sana!”
“Kalau seandainya Bapak ngasih kami tugas terus besok harus kumpul. Tiba-tiba Buk Hesti ngelarang kami sekelas kumpulin buku, terus siapa yang bisa disalahkan karena kami semua tidak kumpul tugas?”
Pria tua itu memijit batang hidungnya pelan. “Jangan menasehati saya!”
Zigo tetap bergeming di tempatnya berpijak, menunggu izin dari sang predator Gajah Mada itu. Melihat kebatuan kepala anak berambut agak kemerahan itu semakin keras, Sutyo mengela napas berat sampai terlihat bahunya menurun.
“Dua menit. Kalau masih belum balik juga dan ketahuan bolos, kamu saya skors untuk satu minggu pertemuan.”
Zigo menunduk sopan, di sekelilingnya semua pasang mata menatap takjub. Memang jika pelajaran guru itu sedang berlangsung tidak pernah ada yang berhasil lolos keluar, karena itu juga banyak anak cowok yang memilih tidak masuk daripada dipaksa duduk di bangku selama 3 jam.
Setelah melihat jadwal masuk buk Hesti di meja piket Zigo memutuskan pergi ke lantai atas. Tempat paling elit yang diutamakan sekolah, di mana para peluru olimpiade bersemayam siap menghantam musuh-musuh berotak gemilang. Mereka, anak Ipa 1.
Ia berhenti tepat di depan pintu, kemungkinan mereka sedang pakai infocus sampai menutup pintu segala. Cowok itu merapikan penampilannya gugup seraya memutar knop pintu, di saat bersamaan pintu ditarik di dalam.
Brukh!
“Aduh duh duh, sakit bego!” umpat cewek berpita pink itu kesal, segera mengambil tisu membersihkan jidatnya yang tersentuh dada Zigo, tatapan mereka saling menumbuk hingga akhirnya Fika menumpahkan kekesalannya.
“Lo yang tadi pagi, kan?! Ngapain lo ngikutin gue sampai sini?”
“Yeeh, siapa yang ngikutin lo, ogah gue!”
Zigo berdecak kesal, berlalu di hadapannya menuju meja guru. Buk Hesti tersenyum padanya. “Baru datang udah bikin ribut aja kamu.”
Dari pintu dapat Zigo lihat cewek menyebalkan itu masuk lagi, matanya menyipit melihat anak itu meraut pensil pakai sarung tangan segala. Zigo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu izin pamit setelah mengantar tugasnya.
Namun langkah Zigo terhenti ketika Buk Hesti bertanya tentang bagaimana awal mula munculnya kehidupan di bumi, ia membalikkan badan saat Fika menjawab dengan lantang tanpa jeda dan tanpa melihat buku.
“Alam semesta terbentuk akibat Big Bang yang terjadi sekitar 13,7 miliar juta tahun lalu, kurang lebih setelah 2,5 miliar tahun kemudian bumi yang berbentuk gumpalan gas akhirnya berubah seperti bola padat. Kemunculan mahkluk di bumi menurut Harold Urey pertama kali di udara atau atmosfer yang kaya akan molekul CH4, NH3,H2, dan H2O. Karena adanya loncatan listrik akibat halilintar dan sinar kosmik terjadilah asam amino yang memungkinkan adanya kehidupan.”
Fika memang tidak pernah terkalahkan oleh siapapun dari sekolahnya sendiri atau sekolah lain. Dia, si Ratu Lab yang menguasai seluruh penjuru sains, bukan hanya mengerti ilmu yang tersimpan rapi di otaknya tapi menafsirkan secara nyata ke dalam kehidupan sehari-hari. Bola mata tajamnya sangat penuh sengatan ilmu-ilmu berdaya listrik, hati-hati jika ingin menentangnya, kata Farad teman sebangkunya itu.
Langkah kecil meluapkan tepuk tangan di setiap sudut, mereka kebingungan dengan cowok berwajah pas-pasan yang menatap mereka seakan mendapat penawar bisul mandraguna. Sakti luar biasa. Sampai akhirnya terdengar lontaran pembangkangan dari mulutnya.
“Mahluk hidup termasuk manusia, menurut Charles Darwin dalam bukunya yang berjudul On The Origin of Species bukan hasil penciptaan seketika, melainkan sebuah proses panjang selama ribuan bahkan jutaan tahun melalui survival of the fittest atau yang disebut proses evolusi. Manusia adalah bentuk sempurna dari sisa kehidupan purbakala yang berkembang dari jenis hominid, bangsa kera. Teori ini dibuktikan dengan adanya temuan fosil manusia purba serta binatang dan tumbuhan purba di bumi ini. Dan dengan kata lain manusia berasal dari kera.”
Seisi kelas terperanjat kaget mendengarnya, bagaimana cowok berambut kemerahan itu mengakui dirinya kera? Fika merapatkan alisnya kencang dengan api permusuhan berkobar-kobar.
“Secara gak langsung anda membenarkan teori orang kafir itu dan membelakangi ayat-ayat Allah?”
Sedetik suasana ricuh kembali senyap, Zigo mengulurkan waktu membiarkan anak-anak manusia itu dalam tanda tanya besar. Anak itu tak kunjung buka suara, hingga Buk Hesti tertarik dengan isi kepala cowok dekil itu.
“Apa kamu masih punya bukti lain selain penemuan para arkeolog yang tidak dapat kita pastikan kebenarannya kecuali dengan melihatnya sendiri?” tantang Buk Hesti dengan bola mata yang berkilauan menanti anak bebek berwajah rocker itu bersuara.
Zigo menatap wanita itu sekilas, mengalihkan pandangan ke seisi kelas Ipa 1 yang menatapnya penuh pertentangan.
“Bukti lain yaitu dengan ada variasi dalam satu spesies–artinya masuk dalam spesies yang sama tapi tidak identik, contoh adanya organ-organ tubuh manusia yang tidak berguna namun jelas masih kita jumpai sampai saat ini seperti seperti usus buntu, tulang ekor, rambut di dada, gigi taring dan lain-lain adalah buktinya,” kata Zigo anteng. Terlihat jelas wajah Fika memadam terbakar letupan emosi, ia menentang keras.
“Lalu bagaimana dengan ajaran Islam sendiri? Bukannya anda diwajibkan percaya atas kebenaran dalam setiap huruf di dalam lantunan ayat-ayat-Nya?”
Atmosfer kelas memberat dengan aura menghitam, Zigo hanya tersenyum kecil.
Buk Hesti masih menatap anak dekil itu seperti seorang Charles Darwin yang tengah memproklamirkan teorinya, lalu di hadapannya, si gadis berpita pink itu menjelma menjadi seorang Harold Urey dengan teorinya sendiri. Mereka membuatnya berdecak kagum, bagaimana nanti ia akan menceritakan kejadian mengagumkan ini di kantor dewan guru, pada keluarganya serta pada anak-anaknya.
Bagaimana setelah 30 tahun ia mengabdi diamanatkan kedua remaja yang bertumpuk dengan letupan ilmu-ilmu dalam kedua tulang tengkorak itu. Wanita tua itu sampai susah bernapas karena terharu, sebelum akhirnya Zigo melontarkan jawabannya dengan tenang, tidak terburu-buru, dan tanpa gentar barang sedikit pun.
“Temuan milik Darwin memang bertentangan dengan pandangan kitab suci agama samawi. Pendekatan agama dan sains dalam upaya memahami realitas alam itu bertolak belakang. Agama berada dalam tingkat eksistensial dan transendental, sedangkan sains berada di tingkat faktual yang terkait dengan pembuktian secara empiris. Kebenaran pada Tuhan Yang Maha Esa wajib kita percaya, sedangkan ilmu sains itu sendiri masih terus diuji kebenarannya. Kita hanya perlu tahu, tidak untuk diyakini. Tidak ada kebenaran yang mutlak dalam ilmu sejarah. Sebuah temuan harus terus diuji kebenarannya sepanjang waktu melalui temuan-temuan berikutnya dan tidak pernah ada kata selesai dalam hal itu.”
Rasa bangga kembali menyeruak dalam dada Buk Hesti, matanya menghangat dengan tangannya yang mulai bertepuk kecil. Seisi kelas hening ketika yang terdengar hanya tepukan tangan guru mereka, lambat laun bertambah banyak hingga akhirnya seluruh murid di dalam sana mengaguminya dengan tepukan tangan serta gelengan kepala seolah berkata; “Apa yang sebenarnya ada di dalam otak anak dekil ini?”
Fika melotot tak percaya, seluruh tepuk tangan itu direbut oleh Zigo dalam hitungan menit. Mendadak pintu kelas terbuka menampilkan pria terhormat yang tengah termakan setan kemarahan, dia berteriak kencang membuat kumisnya melonjak kencang.
“RUPANYA LARI KE SINI KAMU, ZIGOO?!”
“A-ampun pa-pak….” Zigo meringis kesakitan saat Pak Sutyo menjewer telinga lalu menyeretnya kembali ke kelas, semua pasang mata melirik takjub padanya. Seorang Herodotus II telah terlahir kembali di jaman modern dengan penampilan eksentrik serta dengan otak gemilangnya.
Fika menatapnya tajam, ingin mengalahkan sang Herodotus itu saat ini juga namun tiba-tiba tampak wajahnya memucat, ia terlihat berpikir keras namun tetap tidak menemukannya. Zigo yang diseret-seret itu menatapnya kasihan lalu tertawa terbahak seakan tahu gadis itu telah habis kata-kata untuk membantah argumennya. Lalu Fika mengangkat wajahnya pelan menatap Zigo yang telah memukulnya telak.
“Ayo kita lihat sejauh mana wajah sombong lo itu bertahan,” gumam Fika mencengkram pensilnya kuat-kuat, Farad menatap ngeri ke pensil yang telah terbelah dua itu.
“Ratu Lab mengamuukk!!!” batin Farad dengan wajah angker.
πππ
**Hehey not bad
Apasih gw😂**