ZAF

ZAF
Bagian 12- Hujan dan Dia



Air hujan menetes dari atap pertokoan, dua orang remaja yang terjebak hujan itu saling diem-dieman. Zigo berdehem sekali-kali saking canggungnya. Gimana enggak? Ini kali pertama rekor Zigo berduaan sama cewek. Kalo hari biasa mah didempet mulu sama cowok.


"Khem!"


"Dua belas." Fika menghitung dalam hati. Baju seragamnya benar-benar basah sekarang, sumpah dalam hati Fika takut semua kuman dan bakteri dari air hujan yang sekarang membasahi bajunya. Dia harus cepat pulang tapi Zigo sendiri ngotot buat berteduh.


"Lo gak dingin Ka?" tanya Zigo tiba-tiba. Fika menanggapinya jutek.


"Gak."


"Bener lu? Pucet banget tuh muka lo," sangkalnya. Sementara itu badai berembus makin kencang membuat Fika merinding, tahu gitu lebih baik dia menerima ajakan Alex daripada harus menunggu Mamanya dan berakhir dengan Zigo di sini.


Ia melirik ke arah Zigo yang sedang melepaskan jaketnya.


"Dia mau ngasih jaket bekasan dia ke gue? Ogah!" tolak Fika keras dalam hati, tapi di sisi lain tubuhnya benar-benar dingin. Ia menggigit bibirnya sambil memeluk tubuhnya sendiri.


"Ka," panggil Zigo. Fika menjawab tanpa meliriknya.


"Udah dibilangin gue gak dingin! Gue gak butuh jaket lo!"


"Ha?"


Fika menoleh ke cowok itu, Zigo terlihat hampir ketawa. "Kita ke warung sana aja yok, sekalian minum teh anget."


Pipi Fika memerah malu. Sialan, dia salah sangka.


"Malu-maluin!!"


Fika kembali jutek. "Gak mau!!"


"Gue traktir deh," bujuk Zigo lagi. Namun Fika tetap keukeh sama pilihannya. Dia gak mau diatur-atur cowok nyebelin kayak Zigo.


"Yakin nih? Yodah deh, gue anget-angetan aja di warung sana biar lo sendiri kedinginan di sini."


Zigo beneran pergi.


"Gue ikut woi!" seru Fika menyusulnya. Zigo balik badan dengan senyum kecilnya.


"Lo ke sana duluan." Zigo berjalan balik ke arah motornya. Meskipun gengsi Fika sebesar gajah tapi sadar gak sadar dia malah menuruti perkataan Zigo.


Warung nasi cuma berjarak lima meter dari tempat mereka, air hujan yang menembus seragam Fika semakin dingin saja saat dihembuskan angin. Dia memejamkan mata, punggungnya semakin membeku.


"Nih." Sebuah jaket hijau army di lempar sembarangan ke atas kepalanya. Fika mengerutkan alis bingung.


"Sebelum ke sini gue emang sediain tuh jaket di bagasi, yah lo jangan ge-er ya, kebetulan aja gue bawa. kali aja ada jomblo yang butuh kehangatan, kayak elo misalnya, hehehehe," tawa Zigo berderai.


Entah kenapa hawa menyebalkan dari cowok itu mulai mereda. Namun Fika tetap saja kesal dengan ucapan cowok itu.


Tanpa menjawab Fika menarik jaket itu. "Ini gak ada virusnya kan?"


"Mau tuker nih ama jaket gue yang di sana?" tawar Zigo menunjuk jaket yang basah di atas jok motornya. "Ogah!"


"Hehehe.."


Seumur hidup baru kali ini Fika makan di warung kecil begini, banyak bapak-bapak yang nongkrong sambil memandangnya lama-lama. Lampu warung yang remang-remang disertai badai petir yang bergemuruh membuat suasana hati seketika muram.


Jam menunjuk angka setengah tiga. Tapi suasana seperti mau malam.


"Go, kenapa lo ngejemput gue?"


Fika mengatupkan mulutnya kaget.


Ngapain gue nanya yang begituan sih? Batin Fika kaget. Mahkluk bodoh di depannya memasang wajah bengong.


"H-hah?"


Canggung. Zigo sibuk memikirkan jawaban, Fika sendiri tipikal orang yang tidak mudah percaya.


"Kalo gak mau jawab ya gausah."


Zigo menatap Fika pelan. "Gue disuruh Julio, sih."


"Lo kan gak harus nurutin dia?"


"Gue gak bisa biarin cewek kek elo sendirian di sana."


Zigo terdiam beberapa saat. "Ma-maksud gue, kali aja lo mau dicuri tadi.." perkataannya berhenti. Zigo benar-benar buntu.


"Oh berarti lo doa'in gue dicuri gitu?"


Cowok itu menepuk jidat. "Ck, bukan gitu ah!" jawab Zigo serba salah.


Fika mengalihkan pandangan ke jalan. "gue denger dari Alex.. lo ikut seleksi pemilihan OSIS?"


Mendengar itu Zigo terkejut. Dia benar-benar lupa. "Gue lupa, bangke ah! Gue cabut dulu, eh, lo gimana?" paniknya. Fika tersenyum kecil membuat Zigo terpaku.


Dia lupa. Kalau Fika itu mawar berduri dari lab Biologi. Bukan hanya pintar, tapi juga sangat cantik dan menawan. Yah, yang kasih nama begituan udah pasti Julio, selain hobi menipu diri sendiri dia juga punya hobi menama-namai orang lain.


"Yok buruan Ka!"


"Hujan gini lo mau ke sana?"


"Iya." Dia bergegas menuju ke motor. Fika mengikutinya dari belakang.


"Lo gak tahu hari ini dibatalin? Besok seleksinya."


"Eh iya? Syukurlah."


Hujan mulai mereda walaupun suasana masih agak gelap, mereka melintasi jalan dengan perasaan canggung. Meskipun sifat Fika gak segalak pas mereka pertama kali bertemu tapi tetap saja Zigo gugup.


"Lo kenal sama Alex, Ka?" tanya Zigo memecahkan kecanggungan, Fika tidak langsung menjawab. Sejurus hanya bunyi motor Zigo yang terdengar.


"Dia... Temen masa kecil gue dulu," katanya. Dentuman motor Zigo berbunyi kencang saat memasuki lubang, dengan refleks Fika mencengkram seragam Zigo.


"E-e-eh! Badan gue jangan lu cubit gitu woi, sakit sumpah!" cerocos Zigo kesakitan.


Mungkin baginya sekarang adegan dua pasangan yang saling bercanda di motor sambil cubit-cubitan lalu ketawa-ketiwi agak lebay. Bisa-bisa kulitnya nempel lagi sama seragam saking sakitnya.


"Sengaja banget sih masukin ke lubang jalan!"


"Yah mana gue tahu geblek, nih mata gue kemasukan aer ujan!" sewot Zigo gak terima. Dia gak punya niat apa-apa sama Fika. Tapi kali ini Fika beneran kesal, lagi-lagi motor masuk ke lubang jalan yang dalamnya bikin biawak pun pada kelelep.


Gedebum!


"Zigoooo!!!!"


- Z A F -


Sepatu Converse mahal milik Fika habis terciprat air hujan, Zigo hafal banget kalau cewek itu sangat takut dengan hal-hal kotor. Sesampainya di sebuah istana—ralat, rumahnya Fika, Zigo memberhentikan motor seraya menatap Fika yang kelihatan pucat.


"Lo gak apa-apa?"


Cewek itu menggeleng pelan, turun dari motor saja bahkan sampai gemetar. Untung saja Zigo menahan bahunya agar tidak terjatuh, sejurus Fika menatap sepatunya yang basah terkena air becek.


"Cepat, buruan ke rumah lo," suruh Zigo menarik pergelangan tangannya pelan. Meskipun ingin menepisnya Fika tidak melakukannya, sialnya, sekarang dia malah memerhatikan punggung Zigo lama. Terlihat manly, yah, dari belakang sih badan Zigo peluk-able.


Pipi Fika bersemu merah. Mungkin akibat kebanyakan baca cerita ******* dia jadi konslet begini, tapi kan yang jadi pemeran cowok di cerita itu biasanya cowok putih, ganteng, tajir melintir, dan yah terkenal sebagai mostwanted.


Walaupun cuma ada satu kesamaan Zigo sama para cogan dunia halunya itu. Bukan gantengnya, tapi bandelnya.


"Oi, ngelamunin apa si ni anak?"


"A-apa?"


"Lo gak denger apa gue bilang tadi?" Zigo kelihatan gemas, seragamnya memang lebih basah dari Fika. Gigi cowok itu bergemerutuk menahan dingin. Tangannya habis keriputan pulang balik bermain hujan.


Fika menggeleng, dalam satu helaan panjang Zigo akhirnya jongkok. Melepaskan ikatan sepatu Fika.


"Eh, lo ngapain sih?"


"Dari tadi gue suruh lepas sepatu kagak denger lu, nih cicak aja ngetawain gue dikacangin ama elu." Cowok itu menjawab malas, dia menambahkan, "tenang aja, gue gak ada niatan mesum kok buat liat celana dalem lu."


Tlaakk!


"Mesuuumm!!"


"Mending gak usah gua bilang kali ya," batin Zigo nyesel. Kepalanya serasa mencar di mana-mana habis ditampol begitu.


Tangan doang kelihatan mungil, tenaganya beneran kek kuli, asli. Umpatnya dalam hati. Zigo tahu, sejak di atas motor tadi Fika ketakutan sama kuman-kuman yang menempel di sepatunya. Setelah selesai melepas sepatu, cowok itu bersuara pelan.


"Lo sendirian di rumah?"


Firasat buruk menghinggapi kepala Fika. Biasanya nih ya, kalau cowok ngomong gitu pasti ada gajah di balik batu.


Dia mencoba menjawab bohong, ingin tahu reaksi Zigo. "Kalo iya kenapa?"


"Kita abis ujan-ujanan lho, ntar kalo lo sakit gak ada yang liatin."


Yakin saja, sekarang pipi Fika bersemu merah.


"Nahkan barusan gua bilang! Tuh pipi lo merah, lo demam yah?" cemas Zigo menempelkan punggung tangannya ke kepala Fika. Cewek itu menepis cepat sambil membuang muka.


"Gue gak apa-apa."


"Yakin nih?"


"Iya."


"Bener?"


"Bener."


"Bener sayang ama gue maksudnya?"


Krik~~


Cengengesan dari bibir Zigo mengendur.


"Gue bilang apa tadi?! ANJEEEENKKK!!! MULUT JAHANAM!" teriak Zigo dalam hati, biasanya dia ngomong gitu sama kawannya yang suka sok jadi bencong buat jadi bahan candaan. Mungkin saat ini dia menganggap Fika sebagai teman baru, yah sifat dia malah jadi seenak udelnya aja.


"Apaan sih lo, Zigo."


Oh iya, kalau dipikir-pikir baru kali ini Fika Sudi menyebut namanya. Zigo nyengir sok polos sambil menggaruk tengkuknya.


"Hehehe becanda kali Ka."


"Um." jawab Fika cuma mendengus.


Zigo menatapnya membuat Fika terpaksa menoleh. "Apa?"


"Boleh minta nomor lo?"


Fika tergagap, memang banyak cowok yang minta nomor ponselnya tapi kalau si cowok berambut kemerahan ini yang minta rasanya agak aneh. "Buat apa?"


"Kan di rumah lo gak ada orang, ntar kalo lo sakit ntar tinggal telpon gue."


"Emang lo punya kewajiban jaga gue gitu? Dah lah, lo pulang aja sana." Fika berjalan masuk ke pintu rumahnya, sebelum menutup pintu Zigo kembali berbicara.


"Lo ingat gak pas pertama kali kita ketemu?"


Fika dapat mendengar jelas apa yang Zigo katakan.


"Lo bilang cowok harus ngelindungin cewek. Berarti gue punya kewajiban buat ngejaga lo, kan?" ucapnya sambil tersenyum menampakkan gigi taringnya yang terlihat manis.


"Lo salah paham, begoo!!"


Blaaammm!!


Zigo terdiam kaku. Kok cewek itu marah?


Apa gue salah ngomong kali ya? Ah gak ngerti ah gue ama cewek!


Setelah dimarahi seperti itu Zigo jadi bingung, hujan sudah berhenti. Ia berniat pulang.


"Mana hp lo?"


Terdengar suara Fika, Zigo tersentak kecil menatap Fika yang bersembunyi di balik pintu. Ia menyodorkan ponselnya sambil menyengir kecil.


Setelah memberi nomor hp, Fika buru-buru menutup pintu namun Zigo menahannya.


Mereka terdiam. Fika menatap Zigo salah tingkah.


"Jaket gua mana oi, balikin!"


Wajah Fika mendongkol. "Zigo kampret!!"


***


Pahamilah Zigo emg ****** dan suka ngrusak suasanađŸ˜‚