
"Buku gue..."
"Ada perlu apa, Zigo?"
Zigo mengalihkan pandangannya ke Buk Hesti yang tengah menatapnya penuh tanda tanya, anak itu mencari bukunya lagi. Udah gak ada. Padahal dia yakin tadi melihat buku bersampul cokelat miliknya.
"Saya nyari buku Bu.."
Seketika tertawaan mengejek terdengar menggema, mereka menertawai Zigo yang kini linglung kek lutung.
"Kocak lo! Ngapain ke sini dah, kan kelas lu di sono."
Diam. Zigo mencoba mencari-cari bukunya tetap tidak ketemu tanpa memedulikan sekitar. "Memang bukunya kayak mana?" tanya Buk Hesti, "mungkin ada yang pernah lihat."
Cewek beriris abu-abu itu memalingkan wajah gugup, jantungnya berdetak kencang. Fika mencengkram kuat buku di atas pahanya.
"Sampul cokelat, garis-garis, mapel kusayang kamu.."
"Hahhahahaha!!! Kocak lo!"
Tertawaan kembali terdengar. Tidak ada yang menanggapinya serius termasuk Buk Hesti, Zigo mulai jengkel.
"Gue serius, mana buku gue."
Anak IPA 1 pada lihat sana lihat sini, Farad yang duduk di samping Fika memasang wajah curiga dengan ekspresi Fika yang aneh. Benar aja, di atas pahanya Fika menyembunyikan buku Zigo, wajahnya nampak pucat.
Farad berdiri.
"Go, buku lo gak mungkin ada di sini. Mending lo keluar deh," usirnya.
"Apa urusan lu ngatur-ngatur gue?" balas Zigo balik tak kalah ketus, dia tetap kekeh mencari bukunya. Farad menyangkal balik. "Gak mungkin buku lo ada di sini, mungkin temen lo yang bawa pulang."
"Udah dua minggu masalahnya gak balik-balik, dan temen gue bilang pernah liat di sini."
Suasana semakin memanas, guru mulai menengahi. "Sudah, sudah. Kalian ada yang pernah liat gak buku cokelat garis-garis punya Zigo?"
"Gak buk.." jawab anak kelas serentak.
Zigo kecewa, buk Hesti menatapnya meyakinkan. "Udah jelas, kan?"
Cowok itu mencoba mencari lagi, tetap tidak ketemu.
"Tapi gue kayak pernah liat buku kayak gitu di meja Fika," cetus Medi, Zigo bersemangat. Berarti matanya beneran gak salah lihat tadi.
"Itu buku gue!" serobot Farad. Fika mendongak pada sahabatnya yang kini susah payah membelanya.
"Coba liat mana sini buku lu!" emosi Zigo terpancing, beginilah kawan, cuma perkara buku aja ribut gimana lagi sama karpet.
Suasana hening. Farad beranjak ke mejanya, mencari-cari buku PKN di kolong. Lalu memberikannya pada Zigo.
"Ini!"
"Ini mah cokelat bunga-bunga! Mata lu kemasukan gabus beha apa kaga bisa liat!" ceplos Zigo gak tau diri, gak sadar dia Buk Hesti memasang wajah tak suka.
"Mang gabus beha apaan?!"
"Gabus beha cabe-cabean!"
"Kenapa kalian jadi bahas beha sih?"
Buk Hesti berdehem kecil, "udah Zigo, nanti kalau anak kelas ada yang liat dikasih tau. Kamu balik ke kelas aja sana, guru udah masuk," lerainya halus.
"Tapi bentar lagi disuruh kumpul catatan buk." Zigo memelas.
"Bilang sama gurunya, bukunya hilang. Nanti ibu jelasin sama beliau."
Akhirnya Zigo mengalah dengan raut wajah kecewa. "Jangan lupa bilang sama Buk Rayhan, nanti malah dijemur saya."
Langkah berat keluar dari ruangan, Farad tersenyum kecil. Rasa kemenangan menyeruak dalam dadanya. Saat pelajaran berlangsung, tiba-tiba guru Sejarah itu berbisik kecil.
"Jangan lupa kamu kembalikan ya, Fika."
Semakin kuat Fika mencengkram buku itu, ia menunduk sembari mengangguk kecil.
***
"Gimana nasib buku lu Gong?"
"Kaga nemu." Ia menjawab ketus, dongkol dan gak makna. Wajahnya awut-awutan kayak rambut Anggun tanpa Pantene. Gavin yang sibuk ngitung menoleh. "Karena hidup itu dijalani.."
"Mulai gak nyambung nih,"
"Udah Gong muka lu jangan kek orang baru diputusin pacar, ck elah!"
Zigo menoleh cepat. "Terus gue bisa apa?"
"Udah Pin....diam ngapaa!!" gemas David menyepak tulang kering Gavin. Cowok torso itu balas menoyor dan jadi lah mereka tanding Toyor-Menoyor Awards tingkat Kelurahan.
"Karena diam gak akan menyelesaikan masalah di antara kita–"
David masang ancang-ancang. "Ngomong kek gitu lagi kusekolahkan bapak kau ya Pin!"
Julio mencoba insaf, mungkin dia pernah kumat kayak kawannya. "Udah Pid, kaga usah diladenin ah ntar migrain lu."
"Gue penasaran," ungkap Zigo kecil. Gedebam-gedebum terjadi sesaat hingga dia tercengang. Gavin, David dan Julio udah pasang posisi anteng buat denger ceritanya. Emang ya, yang namanya ghibah, curcol, dan cincong punya daya tarik tersendiri melebihi senyuman doi.
"Karena apa dulu nih??"
Zigo mengusap dahinya yang berkeringat akibat lelarian di lorong kelas. "Masa gue liat tuh buku ada di atas meja Fika."
Tiga temannya tercengang. Si mentimun duluan yang bercelutuk kencang. "Lah weh kalo iya berarti dia liat gambar porno di buku lu, kan?"
"Jirr gosah tereak gitu ngapa Pid?!"
Julio pun ikut berpendapat. "kalo iya nih ya, berarti puisi yang gue buat pun dia baca yak?"
Puisi...?
"Lu nulis apa emang di buku gue, Ling?"
"Gue iseng aja maren buat puisi elu ama Fika lagi kehujanan di sekolah. Beduaan, neduh di warung terus nganterin Fika ke rumah. Niatnya sih pen ngerjain lu," jujur Julio ngebuat sang jomblo itu nangis.
"Kenapaaaa...." teriaknya serak-serak angus. Dramatis bat idup dia, kayak pertikaian politik negara +62.
"Sabar yak, tuh buku belom tentu ada di tangan Fika." Gavin mencoba menenangkan, dia emang suka nenangin orang. Tapi kalau udah gila kaga ada yang bisa nenangin dia.
"Kaga bisa sabar gue Pin.."
"Assalamualaikum," salam Buk Rayhan memasuki kelas. Zigo pucat pasi, anak itu berjalan ke depan mencoba menjelaskan pada gurunya. "Buk Han, buku saya ilang.."
"Udah gak apa, barusan Buk Hesti udah bilang." Guru itu tersenyum, Zigo mengembuskan napas lega.
"Duduk sana, ya."
Semua orang mengumpulkan catatan, jam pelajaran baru akan dimulai. Buk Rayhan membolak-balik buku rekap nilainya.
"Oh iya, Minggu kemaren ibu ada kasih tugas ya?"
"Tugas...?" Zigo terkejut terkaget-kaget.
Teman-temannya pada maju ngumpulin tugas.
"Pid! Pin! Ling! Kok kaga bilang sih ada tugas?!!"
Julio menoleh. "Tadi gue mau bilang, Gong. Tapi lu udah keburu nyari buku lu."
"Pinjem buku lu lah weh!"
"Kaga bisa Gong! Ntar gue kena hukuman bareng elu lagi, bosen gue ah. Sama Gapin sanah!"
Cepat-cepat dia mendelik ke Gavin yang udah balik habis ngumpulin buku. Anak itu bercelutuk riang. "Hai sahabat surgaku!!"
Pasrah. Zigo berdecak. "Kaga ada harapan!!"
Dia mencari David.
"Yo, gue di sini ada perlu apa?" celutuk David di sampingnya.
"Buku lu mana?"
"Tuh, depan."
Julio juga udah ngumpulin bukunya, dia yang terakhir.
Buk Rayhan mengamati Zigo dengan senyum terkembang, yang tadinya tulus jadi angker. Kayak Wewe gombel kepleset di sungai.
"Zigo...?"
"Iya.. iya... Iyaaaaaaaa!!"
Cowok itu berjalan dongkol keluar kelas. Hormat bendera, kayak biasa.
**
Makasi buat yg udh sempetin baca, stay at home ya may pren!
See you😁