ZAF

ZAF
Bagian 30 - Termasuk Nyawa Gue Sendiri



Hening. Bastian menjelaskan tenang.


"Intinya, Alex punya banyak dukungan di sekolah ini, lo tahu Genk Palu gak? Nah, mereka satu aliansi sama komplotan anj*ng dari organisasi OSIS."


"Lo yakin itu Alex dengan Farad?"


"Waktu itu di kelas cuma ada Farad, Alex sama antek-anteknya. Gue sebenernya punya dendam kesumat sama Genk Palu dan setan-setan dari OSIS itu. Mereka semua sok jagoan," geram Sebastian dengan tatapan tajam, lurus menghadap ke depan. Perselisihan antara geng-geng ini selalu memicu keributan, kalau udah bersinggungan pasti ada korban yang masuk rumah sakit.


"Genk Palu..? Kita bakal nyari perkara sama mereka?" ujar Julio memastikan, Gavin giliran bertanya. "Emang Genk Palu apaan?"


"Gue kurang tau sih siapa aja Genk Palu di sekolahan kita. Yang pasti, kalo mereka turun tangan korbannya bakal dihantam kepalanya sama palu, sampe pecah gitu. Paling mending kalo cuma bocor, kalo tuh kepala gak bertulang lagi..." Julio mulai ragu-ragu menyetujui usulan Bastian.


"Gue gak minta kita jadi sekutu, kok." Bastian memantik rokoknya, dadanya naik turun sembari mengepulkan asap rokok. "Gue cuma pengen balas dendam ke Genk itu, gue juga punya banyak anak buah. Yang jadi masalahnya, kita gak tahu siapa yang menjadi pemimpin geng itu."


Mendengar hal itu mereka jadi takut, tidak terkecuali Zigo. Dia belum tau pasti siapa lawan yang akan dihadapi. Bisa aja pas di toilet dia dikeroyok. "Intinya gini," suara Zigo mulai terdengar tenang.


"Gak ada komplotan di antara kita."


"Lo gila, ya Gong? Lo sadarkan tubuh gue ini cuma terbuat dari lem kertas?" protes Gavin tidak terima. "Gue, gak mau ikut kelahi."


"Gue juga!" David satu suara dengan Gavin, Zigo berdalih menatap Julio.


"Gong.. kalo lo terlibat masalah gini, Sans gue gak akan ninggalin lo, kok." Nada bicara Julio berat, keputusannya akan jadi penentu masa depannya di sekolah ini.


Di sisi lain Bastian tertegun, ia seperti ditampar telak. Dia yakin, Julio sadar betul dengan posisinya saat ini. Genk Palu bukan geng sembarangan, mengingat Julio adalah anak yang suka mendengar cerita orang-orang sudah pasti dia kenal seluk beluk geng misterius itu. Julio seperti mengadu nasibnya, mereka bisa saja membahayakan nyawa sendiri.


"Teman, ya...? Andaikan gue punya orang yang bisa gue anggap teman..." batin Bastian secara tak sadar menampakkan wajah kesepiannya. Zigo memahami itu, namun tidak menyinggungnya.


Seketika David dan Gavin terdiam, mereka menunduk menyesal. "Gue gak maksut ninggalin lo, kok, Gong." David bercicit, ia melanjutkan. "Tapi kalo cuma kita berempat, belum bertarung aja bang Ijroil udah nyeret kita ke neraka. Entar bukannya tarung ama Genk Palu kita malah tawuran sama bang Rakib dan Atid."


"Denger gue dulu–" Gavin memotong omongan Zigo.


"Gue punya jalan keluar atas masalah kita saat ini." Akhirnya si torso punya solusi, anak itu menyenderkan tubuhnya di tiang mushola. "Gue tahu siapa orang yang bisa membantu kita," tambahnya.


"Siapa?" tanya Bastian kini mulai yakin dengan ekspresi serius anak itu.


"Gamaliel."


"Salah server woi! Itu anak sebelah jangan lu bawa-bawa koplak!" maki David emosi abis, dia menjitak kepala Gavin yang gak ada otaknya. "Gak usah Pin, bang Galak aja uy. Mayan tuh, sedetik juga musuh pada ngibrit."


"Lah iya.. pan doi punya skill Evil Cry ye, setan aja nangis dilihat ama dia.. hahahaha!" Julio dan Gavin ketawa kompak.


"Udah lu pada! Diem apa gue sundul lu!"


"Sundul ye..gaya kau kek pemain bola profesional bre."


"Professional gue Pid! Kaga tau aja bapak lu gue sundul semalem!"


"Eh sialan lu Gong! Semalem babeh gue lagi enak-enakan ama bonyok gue. Malah lu sundul! Entar jadi apaan bentuknya adek gue?"


"Kek ubi jalar belakang rumah gue Pid, hahahahah!" Tawa Gavin meledak membangunkan para arwah gentayangan, mereka kira udah waktunya dihisap kali. Bunyi ketawa Gavin kek bunyi terompet sangkakala.


"Jadi apa hubungannya sama elu berdua di lapangan tadi?" interogasi si Incubus itu, matanya menilik penuh teliti kaya detektif aslinya kek orang primitif. Trilililililililili.


"Gue tadi lewat di dekat TU, lu tau kan di sono lagi direnovasi, jadi pas gue jalan tiba-tiba tangga di situ jatuh nimpa gue."


"Lo gak apa-apa?"


"Bahu sama kaki gue kena timpa."


"Di situlah gue heran, Ling. Waktu itu seharusnya anak-anak IPA 2 yang nangkring di sono bantuin gue.. tapi kaga ada tuh. Malah bunyi tangga jatuh aja kek kaga kedengaran di kuping mereka."


"Udah dibungkam mereka, Go." Bastian memberikan pendapatnya. "Ya menurut gue juga gitu, yang bantuin gue cuma bang Bastian doang. Dan kata dia, yang jatuhin tangga itu pelakunya salah satu dari anak IPA 2. Kelasnya si Alex ******* itu."


Julio mangap tak percaya, padahal harusnya Alex berterimakasih pada Zigo karena waktu itu menyelamatkannya sekaligus Fika dari terkaman Sebastian.


"Gue juga sebenernya gak peduli sama kalian semua, gue cuma perlu hancurin otak di balik Genk Palu itu."


"Lo udah ngomongin itu berapa kali yak?"


Gavin memandang Bastian plongo, mendadak aura membunuh menyergapi mereka saat itu.


Gavin bergidik ngeri. Apakah ada yang ingin membunuhnya? Apakah itu kang bakso yang pernah dihutanginnya? Apa nenek-nenek yang kemaren diseruduknya pas pulang sekolah? Dia mulai panik.


"Lo yang tempo lalu nyari masalah sama gue di depan musholla, kan?"


"Hah? Elu tante-tante yang kemaren?"


Sialan. Tante-tante, badan kekar kek gitu dikatain Tante. Heran gue, kelamaan digondol yang tua-tua sih lu Pin. Batin Zigo ngikik.


"Bacot juga lu ye! Mau gue ratain muka lu sama tanah?!"


"Eh ngapa jadi kelahi dah ini?"


"Okeh! Gue ratain lu! Mana sini lu maju! Lawan temen gue nih!" Anak itu menyodorkan Zigo sebagai tumbal.


"Kenapa gue sih Pin???"


"Gue hajar lu!!"


Bastian mulai mengepal tangannya erat hendak menumbuk, Zigo panik dengan lari kencang sekencangnya.


"GAVIN SIALAN ANAK SAWALUDIN LU!! ASLI KAU PIN, BAPAK KAU KUSUNDUL NANTIK MALAM! ARRGH KEZEL GUE!!!"


Julio, Gavin dan David bertos ria. Mereka ketawa kompak. Walaupun dalam hati masih berbekas rasa cemas akan Genk Palu. Selama ini geng itu cuma jadi rumor satu sekolahan. Setiap korbannya pasti bakal mendapati palu berdarah di tempat-tempat tak terduga. Itu sebagai peringatan sebelum naas menghampiri korbannya.


Yang lebih parah jika Geng itu memiliki koneksi dengan Alex, yang memiliki kelicikan luar biasa. Dia bisa membungkam semua saksi, menghancurkan bukti-bukti, lalu menjebak semua sasarannya sebagai pelaku di balik itu semua.


Julio paham betul apa yang mereka hadapi sekarang, dia tidak bisa apa-apa, memang ada satu orang yang mungkin bisa dipercaya. Tapi ia tidak yakin orang itu mau repot turun tangan.


"Tenang, Ling. Kalau kita mati, ya kita sama-sama mati.. kita temen oke gak akan ada yang saling ninggalin." Gavin berusaha menenangkan hati sahabat nya.


"Termasuk kalau semua yang lu punya harus direnggut?"


"Gak ada yang lebih penting dari kalian semua," Gavin melebarkan sudut bibirnya. Lalu berpaling ke arah lain. "Termasuk nyawa gue sendiri."


"Yoi man." Julio mengembuskan napas lega.


David tiba-tiba merangkul mereka tanpa alasan. Cowok itu hanya diam dengan tatapan memandang ke arah Zigo dan Bastian yang kini berlari seperti Tom and Jerry.


"Nambah satu somplakers kita nih." David menunjuk dua orang yang lari-larian itu dengan dagunya


"Hahahaha."


***