
Jam pelajaran terakhir suasana panas dingin, gak ada angin gak ada ombak sang predator SMA Gajah Mada pelan-pelan memasuki ruangan 10 IPS 1, matanya nyalang menyelidik ke seluruh ruangan.
Di belakangnya Pak Polen berjalan kecil, derap langkah kaki mereka berhenti di depan kelas. Suara meredam. Sesaat mata Zigo terkunci ketika bertatap dengan sang Kepsek.
"Khem!"
"Setdah, ada angin apa nih pangeran Muktar sama Pangeran Polen ke sini?" bisik Wahyu dengan wajah kalem. Coba lihat ke bawah, kakinya gemetaran sampai mejanya berbunyi gemeretak.
"Kita diundang untuk ikut Olimpiade Sejarah Nasional," kata Muktar langsung ke intinya. Matanya yang agak kemerahan dengan kumis lebat itu menambah kesan ngeri. Zigo yang lagi menimang pulpen di moyongnya bahkan sampai tertegun.
"Apa di sini ada yang berminat ikut?"
Tidak ada yang menyahut. Seketika mereka budek, sang Kepsek menarik napas dalam. "Kamu, Zigo?"
Zigo tidak langsung menjawab, dia mengorek telinga dulu, ngupil dulu, pedicure dulu, liatin cicak dulu baru mau ngomong.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.."
"Bukan pidato anjeng! Besok baru pelajaran agama!" kesal Julio setengah berbisik.
"Ya mana gue tahu."
"Ya karena elu gak ada otak."
Zigo membalas perkataannya dengan tatapan menghujat. Anak itu beralih menatap ke depan.
"Jadi gini pak, saya.." Zigo menatap langit-langit.
"Anjay gue lupa," bisik Zigo ke Julio.
"Heh anak anjeng tak berotak, itu kaki lurusin dulu, otak lu gak bisa mikir kalo ditekuk."
"Oiya lupa Ling," kata Zigo beneran ngelurusin kakinya. "Saya kayaknya gak bisa ikut OSN pak."
Bapak itu mengernyitkan dahinya.
"Alasannya kenapa?"
"Nilai ulangan sejarah saya jelek pak."
David memasang muka asem. "Kalo nilai 90 jelek buat elu terus nilai gue apaan, remahan kejelekan?" Batinnya.
"Gak perlu nilainya bagus, asal kamu mau saja sudah cukup," ujar bapak itu merendah. Zigo seperti mencari-cari alasan.
"Tapi saya gak bisa pak, yah, saya punya alasan sendiri." Anak itu berkilah lagi.
"Kamu harus ikut, Zigo." Kali ini nada suara sang Kepsek terkesan memaksa, Pakpol yang daritadi diam akhirnya angkat bicara.
"Jangan kebanyakan alasan kamu, ikut saja apa kata orang tuamu itu."
"Maaf, saya beneran gak bisa pak," sangkal Zigo agak kesal.
Satu kelas bingung, padahal udah jelas kalau Zigo sangat pintar Sejarah. Kalau debat dia selalu nomor satunya, tapi kali ini dia malah bimbang.
"Udah Go ikut aja gue yakin lo bisa kok," celoteh Desi.
"Ikut teros lah kau bujang, sebelum aku terbangkan laptop ini ke muka kau itu!" si Batak juga ikutan mendesak, anak itu ngambil ancang-ancang mengangkat laptop binatangnya. Asu(s).
"Sorry, gue gak bisa sumpah."
Mendadak ia bangkit dari kursinya lalu berlari ke luar ruangan, langkah panjangnya cepat sampai terdengar semakin menjauh.
"Zigo kenapa Ling?" tanya Gavin berusaha mencolek Julio di seberangnya dengan tangan torso.
"Eh anjeng! Terkedjot gue setan!" Umpat Julio, Pakpol menoleh ke arahnya ganas.
"Ehe gak ada pak," Julio menatap Gavin kesal. "Udeh Jan banyak tanya lu Pin kek wartawan, ntar gue ceritain."
"Apa di kelas ini ada yang mau menggantikan Zigo?" tanya Pak Muktar setelah berdehem kecil.
"Gak pak!" Sahut para anak cowok kompak. Supaya 2 monster itu cepat pergi.
Setelah itu tanpa kata-kata lagi Pak Muktar dan Pakpol pergi. Anak-anak kelas bingung dengan jalan pikiran Zigo, sama sekali gak bisa ditebak. Dia suka Sejarah, pas disuruh ikut OSN malah gak mau. Maunya merepet doang.
***
David, Julio dan Gavin terlihat berjalan di deket lapangan. Zigo yang saat itu lagi memasang sepatu di Mushola kaget. Dia membuang muka berharap tiga tuyul botak itu gak ngeliat dia.
"Entah siapa tuh.. yang liat kawannya pakek buang-buang muka..!" seru David setengah berteriak.
"Dikiranya kita gak liat, sementang badannya kek lembaran ijazah doang!" Si Juling Incubus ikutan nyinyir.
"Itulah tuh, ****** gue di belakang rumah entah siapa yang ngambil.." sekarang Gavin ikutan ngomong.
"Apaan dah lu malah gak nyambung geblek!"
"Gue hantam juga muka lu dia tiang masjid! Napa malah curhat lu Pin, kita gak lagi di studio Mamah Dedeh!"
"Ya santai aja bang, gue tau kok lo pelakunya!" cecar Gavin tiba-tiba nunjukin senior yang penampakannya kek preman pasar, senior itu melotot marah.
"Mampus.. mampus.." kata Julio ketakutan.
"Elu kan yang nyolong ****** gue?!" Tuduh anak itu ke Abang kelas dengan wajah mengerikan itu.
"ANAK BEGOOOK!!" batin David dan Julio.
Zigo memalingkan muka sambil menahan tawa.
"Maksut lu apa hah nuduh gue?! Punya nyali lo?!!" teriak senior itu mengangkat kerah baju Gavin.
"Elu berdua temannya ya?!"
Senior itu hendak menumbuk David dan Julio, untung saja Gavin buru-buru bicara.
"Buat apa kita damai kalau baku hantam menyenangkan! Nyok *****! Sini lu lawan temen gua!!"
"JAHANAAAAMMM!!!" teriak batin David dan Julio semakin panik, Zigo tambah ngakak ngelihatnya. Temennya satu biji itu emang rese kalo udah lewat jam 12 siang, bukannya minta maaf malah ngajak war.
Gavin akhirnya lepas dari cengkraman Abang kelas itu, yang menjadi sasaran sekarang David dan Julio. Mereka berdua memelas minta ampun.
"Bang.. kita kaga ikutan bang, asli.. Napa kaga dia aja yang lu hantam sih," pelas Julio.
"Gue anak baek-baek bang asli, tiap hari gue bangun pagi-pagi buka kedai emak gue, abistu disuruh cuci mob–"
"Gua kagak nanya keseharian lu! Buat channel YouTube sana bikin konten draw my life oon!"
"Nah gitu dong ngegas!" kompor Gavin sok nimbrung. Tiga orang di depannya menatapnya kesal.
Zigo tiba-tiba datang memakai sarung dan peci.
"Wahai umat manusia, janganlah kita bertengkar.."
Senior itu planga-plongo dengan muka bodoh.
"Siapa lu?!" serunya dengan muka dongkol.
"Gua imam di Mushola hari ini, elu belum sholat kan? Udah lewat waktunya kawan, yok kita ke rumah Allah untuk menjemput hidayahnya.."
"Bodo amat lah *****! Awas lu!" kesalnya menabrak Zigo kencang. Cowok itu nyungsep di tanah sedangkan senior itu pergi sambil mengumpat-umpat kesetanan.
"Demi elu pada gua malah nyungsep gini kan," cela Zigo bete. Tiga temannya ngakak dulu sebelum membantunya.
"Penjiwaannya bagus pak Haji! Sampe pake sarung ma peci segala! Gua kira Presiden Arab tadi cok!"
"Presiden setan kalo Zigo mah," timbrung Julio. Percakapan berhenti. Mereka beralih ke Gavin dengan wajah amsyong.
"ANAK ANJENG LU! SOK POLOS-POLOS KADAL LAGI! BANGKE TAK BEROTAK LAH KAU PIN!!" tereak Julio menggoncang-goncang badan Gavin.
"Server sedang sibuk, maaf, tolong hubungi beberapa saat lagi." Gavin bersuara lempeng.
"Gegara lu sih kita jadi disamperin tuh senior nyet! Kaga kenal aje lu ama yang namanya Sebastian!"
"Yang tadi mau mukul elu berdua?" tanya Zigo. David mengangguk cepat. "Bahaya deh kalo urusan ma dia, sampe ke kubur pun diintip lu kalo dia masih dendam!"
"Lebay.. lebay.." ejek Gavin tak sadar diri.
"Beneran berulah lu ye hari ini!!" Seru David ikutan kesal. "Pinjem sarung lu Gong!"
Zigo melepas sarungnya, untung dia masih pake celana. Jadi rencana mereka buat nyabet si cowok absurd itu berjalan lancar.
"Elu pernah rasain gak disabet sama orang tersakiti?"
"Bahasa lu berat, kek Dilan. Mending kita ngupi bang."
"Hiyaaat!!!"
David menyabet Gavin frontal, cowok itu lari kencang. Karena gak bisa mengejar, David malah lemparin sarung itu ke arah Gavin.
"Woi!! Itu sarung bukan Bapak Bupati punyak!! Jangan lah kau lambungkan tuh sarung sembarangan paok!!"
"Kagak ada yang punya sarung ini jancok!"
Mereka berdua menghilang dari pandangan. Hanya tersisa Zigo dan Julio di sana.
"Coy," senggol Julio. Zigo menoleh tipis. "Paan?"
"Kenapa lo gak mau ikut OSN?"
"Kayaknya elu udah tau jawabannya Ling." Zigo berujar malas sambil berjalan, Julio mengimbangi.
"Tapi yang dulu-dulu gak bagus lu bawa di masa sekarang Gong. Sekolah berharap elu mau ikut,"
"Gue beneran gak bisa."
Julio berhenti berjalan. Zigo memang keras kepala, dan ia paham mengapa temannya bisa begitu.
Julio tahu cerita di dalam kepala Zigo. Cerita tentang kehancuran keluarga dan kehidupan seorang berandal yang hilang arah. Tentang kesepian, petikan gitar, dan rasa sendiri yang selalu membuatnya jatuh setiap kali berlari.
Tugas manusia memang bangkit ketika dijatuhkan. Lalu bagaimana kalau ceritanya dia bukan dijatuhkan melainkan dihancurkan?
Beberapa orang mungkin memilih bertahan, namun dia dihadapkan oleh pertanyaan yang lebih sulit.
Ingin bertahan sejauh mana?
Kebanyakan orang akan memilih bertahan sebisa mungkin sampai rasa sakitnya hilang. Tapi setelah menjalaninya mereka mundur.
Karena tahu, kadang kenyataan lebih menyakitkan dibanding khayalan. Semua selalu berjalan tidak sesuai keinginan. Mungkin begitulah cara kerja Tuhan.
"Karena pada akhirnya yang hilang, yang padam, dan hancur berantakan. Semua rasa itu hanya gue yang merasakan."
~Zigo Alathas T.
##
Gmna pendapat kalian tentang si Gavin pecinta torso?😂