YOU OR YOU?

YOU OR YOU?
Chapter 8: Gara-Gara Puisi



"Puisinya bagus ya ...," ucap Ani tersenyum. Sepertinya Ani sedang mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba hening atas diamku. Aku pun hanya mengangguk sekenanya saja. "Na?" lanjutnya dengan suara lebih keras.


"Hmm?" Aku terpaksa menatap wajah Ani.


"Kamu kenapa? Kok kayak syok gitu? Ada masalah? Apa kamu--"


"Aku? Aku apa? Aku nggak apa-apa kok!" Aku salah tingkah dan mencoba menghindari kontak mata dengan Ani.


"Yaudah kalau nggak apa-apa, tapi aku ini teman kamu loh." Ucapan Ani terdengar menjurus. Apa dia sudah tahu?


"Ani, anu ... itu," kataku gagap.


"Hmm," ujar Ani mendekatkan telinganya ke arah wajahku, seolah meminta agar aku berkata jujur.


"Yang nulis puisinya aku," bisikku memegang lengannya.


"Sudah kuduga! Sumpah ya itu kamu yang nulis?" tanyanya girang. Aku mengangguk sembari memberi isyarat jari dekat bibir, "Awalnya aku ngerti kenapa bu Usi bilang kamu berbakat, tapi sekarang, keren ...," lanjutnya tersenyum. Aku merasa lebih baik untuk sesaat.


"Apanya yang keren? Mereka nggak suka, malah ngejek." Aku mendadak teringat reaksi pembaca tadi.


"Cck, kamu nih selalu pesimis gitu. Dulu sekolah di mana sih? Di hutan-hutan ya? Sampai punya masalah sosial gini?" Ani meledekku.


"Di rumah sakit," jawabku tertawa. Ani ikut tertawa dan memukul pundak ini.


"Kamu nggak mau nyerahin diri nih?" Aku menggeleng mendengar pertanyaan itu. "Kalau saran aku sih, mending ngaku aja, supaya nggak tambah masalah," lanjutnya. Aku hanya diam.


"Lagi ngomongin apaan woy?" ucap orang tidak tahu diri.


"Riski, udah baca mading belum?" sergah Ani bersemangat, aku dag-dig-dug serr jadinya.


"Udah, puisinya bagus. Tapi, aku nggak ngerti hehehe harusnya ada gambar pelanginya tuh ...," ucapnya menggaruk leher.


"Issh, puisi itu tentang, tentang ... tentang suatu yang menunggu sesuatu, iya 'kan Na?" ujar Ani gugup sesaat dan melemparkan pertanyaan padaku.


"Nana juga baca?" tanya Riski kurang peka.


"Ya iyalah Nana bisa baca!" Ani ngegas.


"Maksud aku, Nana sudah baca?" Riski mendekatkan kepalanya ke arahku.


"Hm-ah- itu, iya sudah." Aku menjadi gugup.


"Jadi, menurut kamu nih, Na, makna puisinya itu tentang apa ya?" tanya Ani tersenyum. Dia pasti sengaja, dasar teman kampret.


"Itu sepertinya, hanya curhatan tersembunyi. Tentang situasi di tempat baru, mungkin. Iya, mungkin gitu," ungkapku melirik Ani sebal.


"Situasi?" Ani pura-pura berpikir. Kelihatan Ni, kelihatan banget.


"Kita bedah puisi nih ceritanya?" tanya Nirmala mendadak muncul.


"Puisi siapa?" Tri pun ikut-ikutan. Astaga kenapa jadi ramai begini? Ani!


"Stop!" Aku berdiri memukul meja dengan ringan.


"Loh kenapa?" Riski panik.


"Itu, bentar lagi apel, iya ... ayo Ani!" lanjutku menarik Ani dan mengabaikan Nirmala dan Tri yang baru saja datang.


"Nana?" panggil mereka bertiga penasaran dan aku abaikan begitu saja.


***


Teman itu kayak permen, kita butuh manisnya. Teman juga selalu menenangkan kita dan mencoba menang untuk kita.


Teman itu bukan bukan seperti bungkus permen, yang habis pakai terus dibuang.


Ani terus tertawa, wajahnya memerah. Dia menggengam tanganku dengan erat dan mengayunkannya kesana-kemari. Aku tidak mengerti apa maksudnya dan malah ikut tersenyum.


"Maafin aku ya, malah sebenarnya tadi aku udah mau langsung bilang ke mereka loh." Ani masih tertawa tanpa dosa.


"Puas? Ani!" rengekku kesal.


"Jangan gitu dong, udah bagus kalau kamu percaya diri gitu. Nekad publikasikan puisi padahal udah dilarang, lihat tuh!" serunya menunjuk ke arah mading yang masih tampak ramai.


"Hahh." Aku hanya bisa menghela napas.


"Iya, makasih ya," ujarku menyandarkan kepala ke pundaknya.


"Ciye, yang mesra-mesraan ...," teriak Riski memukul kepalaku dan kembali merecoki kami.


"Kalau kalian berdua, kita juga nih ...," ucap Ima menggandeng Nirmala.


"Terus aku? Aku?" Riski nelangsa sendirian.


"Terserah," ucap kami berempat menertawai Riski. "Tuh ada Mike," lanjut Nirmala membuat Riski terdiam dengan bibir manyun.


***


Ujian semester tinggal menghitung jam. Setelah insiden puisi, aku sama sekali belum mengunjungi mading atau menyerahkan diri ke osis. Saat menunggu Riski di depan kelas, aku melihat Icha dan salah seorang pengurus OSIS berdiri di depan mading, mencabut dan menempel sesuatu.


Para murid lekas berkumpul, Ani dan Ocha yang baru akan pergi menuju kelas juga tampak mampir di situ. Mendadak air muka Ani berubah, dia berjalan terburu-buru ke arahku.


"Itu kenapa?" tanyaku padanya yang mendadak manyun.


"Itu gara-gara kamu," jawabnya ketus. Aku heran, apa masalahnya sekarang? Kenapa menyalahkanku?


"Nana." Riski datang dengan tergesa-gesa.


"Pekerjaan kamu sia-sia, Na, karya kamu sudah diakui orang lain," ungkap Ani menyela Riski.


"Iya, ternyata Icha. Icha yang ngaku-ngaku kalau itu puisi buatan dia. Itu pasti demi nilai, kecil-kecil udah jadi ular," ujar Riski, yang sudah tahu fakta puisi itu. Berkat Ani yang tak sengaja ember ke Tri.


"Maksudnya apaan sih?" Aku tidak mengerti.


"Nana, coba aja kamu nyerahin diri dari kemarin-kemarin. OSIS nyari kamu bukan untuk dihukum, tapi itu ...." Ani tampak sedih.


Entah kenapa aku malah tiba-tiba tersenyum senang melihat dua orang ini diliputi rasa kesal. Aku menatap ke arah kerumunan, Icha tampak mendapat sambutan hangat. Aku tersenyum dan membuat Ani juga Riski menatap sinis kepadaku.


"Kenapa sih? Nggak usah dipikirin deh, itu 'kan cuma puisi," ucapku berpura-pura dingin.


"Tapi, itu puisi kamu? Kalau mau nangis, nangis aja. Jangan ditahan," ucap Riski meninggalkan kami berdua di depan pintu.


Idih, ngapain nangis?


Aku mengikut dan berjalan di belakang Riski menuju tempat duduknya. Ani juga bergerak mengikuti kami. Dia kesal.


"Itu puisi aku 'kan?" Aku menatap mereka satu per satu.


"Iya," ketus Riski.


"Kamu percaya 'kan kalau itu punya aku?" Aku meminta kepercayaan mereka. "Ani, Tri, Ima, Nirmala dan kamu, kalian semua tahu kalau puisi itu punya aku. Itu udah cukup kok. Seberapa banyak aku menulis, jika dihargai oleh sahabat sendiri pasti lebih nikmat. Iya, nggak? Jangan marah gitu dong?" Lanjutku membujuk.


"Siapa yang marah sih, kita cuma kesal aja. Bisa-bisanya dia licik kayak gitu. Dia juga udah tahu kan kalau itu punya kamu. Iya, kan? Sebelum dia tolak, kamu tunjukin naskahnya ke dia, iya 'kan?" Riski berapi-api.


"Iya, tapi nggak apa-apa kok. Beneran! Relain satu puisi demi kenyamanan semua orang, apa salahnya sih. Itu lebih baik, daripada aku teror mereka dengan puisi tanpa nama." Aku mencoba tersenyum. Walau sebetulnya, setelah dipikir-pikir lagi, ucapan Riski ada benarnya juga sih.


"Nana benar, Riski! Kita tetap tahu dan percaya kok kalau kamu yang nulis puisi itu," sela Ani.


"Aku juga tahu," potong Tri.


"Semua orang di sekolah ini juga tahu, kalau kamu itu kang gosip," seru Ani membuat Tri tersenyum.


"Tenang kak Nana. Ingat, jangan cuma gara-gara ini kamunya berhenti nulis. Aku juga udah baca puisi kak Nana yang ada di belakang buku, aku suka," ujar Tri menyentuh pinggangku, dan mengajak masuk ke dalam kelas.


"Yaudah duduk yuuk, bentar lagi mulai nih. Oh ya, tapi ada yang lihat Ima dan Nirmala nggak?" ucap Ani memperhatikan sekitar.


"Mereka dipanggil OSIS tadi," jawab Riski sudah tampak tenang.


"Tapi, dia pasti tahu kok," ucapku tiba-tiba.


"Siapa?" Tri menanggapi monologku.


"Cukup dia tahu, aku akan baik-baik aja. Iya 'kan Ris?" Aku tersenyum menatapnya. Riski mengangguk sok mengerti. Aku yakin dia tidak mengerti ucapanku.


***


Bersambung