
Pagi ini gerimis masih melanda, aku duduk di angkot sendiri sambil menunggu pak Sopir mulai berangkat. Hari ini memutuskan untuk angkot saja, karena tidak bisa kalau naik bus. Di sini bus memang kurang popular karena jarangnya halte.
Headset di telingaku terus mengeluarkan lagu-lagu galau, sebuah lagu Korea soundtrack drama lawas, bahkan membuatku teringat kejadian akhir-akhir ini.
Teringat, jika seminggu yang lalu telah menyebut Indra sebagai penipu. Tapi, aku … lantas bagaimana denganku? Aku juga penipu. Entah reaksi seperti apa yang akan mereka berikan saat mereka mengetahui siapa diri ini yang sebenarnya. Siapa gadis pembohong di hadapan mereka ini?
Perlahan kelembaban tanah mulai mempengaruhi hati ini. Aku mulai merasa menyesal telah datang ke tempat ini, namun akan lebih menyesal lagi jika tidak pernah datang ke tempat ini.
Kuatkan kakimu Na! Kau harus berdiri di tanah yang kaupijak walau hanya dengan satu kaki. Jangan menyerah seperti yang sudah kau lakukan sebelumnya.
Aku mencoba menebalkan dinding Alveolus. Mengembus napas sesak, mengalihkan pandangan ke luar jendela. Saat angkot ini mulai berjalan dengan keanggunannya.
***
Pacaran adalah hal yang sangat umum bagi anak-anak muda zaman sekarang. Banyak yang terjadi dalam dunia remaja yang membawa dampak positif dan negatif. Tapi, menurutku, pacaran lebih banyak berdampak negatif daripada positifnya.
Selama ini, pada usiaku yang telah menginjak 16 tahun. Tak pernah sekalipun terpikir untuk menjalin hubungan dengan siapa pun. Cita-cita ini sangat tinggi, ada mimpi yang menunggu untuk kusentuh.
Setiap yang dekat hanya berakhir sebagai teman dan sahabat, lagipula aku mendapat didikan keras tentang hukum pacaran dari orangtua. Ya, bukan sekadar pacaran tak ada dalam aturan Islam; agamaku. Tapi juga, secara pribadi. Menurutku pacaran memang cukup berbahaya atau lebih tepatnya tidak aman.
Dalam beberapa kasus, perempuan paling banyak menjadi korban. Jangankan mimpi kedua orangtua, mimpi sendiri pun bisa terhempas jauh bermandikan kesia-siaan karena pacaran melewati batas.
***
Aku duduk sendiri di taman sekolah, Sisi baru saja kembali ke kelasnya. Karena seminggu yang lalu sakit dan tidak masuk di jam pelajaran Ibu Ayu, hukuman ini yang harus kuterima. Memang salahku, ujian kenaikan kelas tinggal beberapa minggu dan malah menikmati istirahat di rumah, pasca beberapa hari setelah kejadian Indra dan Tri.
Menyendiri di sini sangat membosankan, padahal matematika adalah pelajaran favoritku. Meskipun tidak ahli matematika, aku lebih suka cara mengajar Ibu Ayu dibandingkan materi pembelajarannya.
Kembali kucabuti rerumputan liar yang mengelilingi bunga matahari yang membayang. Di bawah pohon ini terik matahari tidak begitu terasa, ditambah langit di arah timur mulai menghitam. Akhir-akhir ini ramalan cuaca sulit terbaca, padahal seharusnya ini musim panas.
Kring kring kring .....
Setelah bel berbunyi, Ani dan Ima datang. Mereka menanyakan keadaanku.
"Oh ya, ada murid baru!" ujar Ocha mendatangi kami.
"Cowok?" tanya Ani.
"Cewek, kulitnya hitam. Tapi, cantik banget!"
"Di kelas kita ya?" tanyaku, Ocha mengangguk.
"Tapi, sebentar lagi ujian praktek 'kan? Kok dia pindah? Tinggal beberapa hari lagi 'kan?" tanya Ima penasaran.
"Aku dengar tadi, kalau dia pindah ke sini tuh karena punya kasus di sekolah lamanya!" jawab Ocha santai. Apa? Kasus? Apa dia sama sepertiku? Siapa dia?
"Kan kepo! Mau ke kantin nggak?" jawabnya menarik lengan Ani.
"Aku nitip aja ya!" Ocha dan Ani pergi menuju kantin, meninggalkan aku dan Ima.
Ima membuka pembicaraan kami, dia bertanya apa yang akan terjadi pada murid baru itu. Bagaimana jika dia tahu ada 3 kubu di dalam kelas kami? Kubu Fisika adalah kubu pendukung Indra dan Yani, Kubu Kimia adalah kubu pendukung Tri, sedangkan Kubu abal-abal adalah teman-teman yang netral, seperti Ocha dan Mike.
Sejujurnya aku adalah kubu abal-abal, hanya saja tak tahan melihat Tri dibully selama beberapa hari, sejak kejadian hari itu. Membuatku memilih untuk bergabung dengannya.
Akhir-akhir ini aku tak lagi bicara pada Indra, bahkan kami tampak bersitegang. Terkadang aku menagih ucapannya dalam hati, hanya saja ucapan Riski selalu benar. Indra laki-laki yang takkan semudah itu mengucapkan kata maaf dengan tulus.
***
Riski datang mengajak kami berempat ke kelas. Saat berjalan menuju kelas, Riski menahanku sejenak. Dia menceritakan apa yang didengarnya dari Indra dan Andi. Mereka sedang membicarakan rencana untuk meminta maaf padaku dan Tri. Mendengar hal itu dari mulut Riski, aku percaya.
Selain itu, Riski juga mendengar bahwa Indra akan mengungkapkan perasaannya padaku. Jujur, hati ini sangat takut. Aku tidak bisa membiarkan dia melakukan hal itu. Jika kutolak, dia akan jadi musuhku. Jika kuterima, aku tidak mau pacaran. Bagaimana ini? Aku hanya bisa memperhatikan Riski yang bercerita sangat serius.
Haryo tiba-tiba lewat diantara kami yang sedang berbincang.
"Kalau pacaran jangan di jalan, nanti ada yang marah!" ujar penghuni geng Fisika itu.
Sebenarnya antara geng Fisika atau Kimia tidak ada masalah, hanya saja para ketua seperti Indra dan Yani juga Tri dan Ani yang sedang memanas. Ucapan Haryo itu memberikan ide di kepala, ada telur yang menetaskan bohlam besar di benak. Tak jauh berbeda, rupanya Riski pun mengutarakan pemikiran yang sama.
***
Gosip itu menyebar dengan cepat, celetukan Haryo kemarin, telah sampai pada anggota geng Fisika. Aku tidak tahu reaksi mereka seperti apa, tapi bagiku dan Riski akan sangat menyenangkan jika mereka merespons ini dengan emosi. Jarang aku mengerjai mereka, ini waktu yang tepat.
***
Si murid baru memperkenalkan dirinya. Senin nanti ujian praktek, tapi dia memilih pindah. Itu mengundang penasaran kami, terutama Yani. Jika melihat ekspresi Yani saat gadis bernama Sinnta itu berbicara, akan menemukan tatapan yang sama saat dia menatapku dulu. Bahkan terkesan lebih bengis.
Dia duduk bersama Nirmala, si Gadis kutu buku yang suka baca koleksi bukunya di waktu istirahat jam pelajaran. Aku harap Sinnta bisa berteman baik dengan kami semua.
Oh ya, Nirmala jarang ikut berpartisipasi dengan geng-geng di kelas. Tapi, denganku dia cukup dekat. Dia seperti bank ilmu berjalan yang kubutuhkan, kami saling membutuhkan. Seperti yang kukatakan sebelumnya dia seorang pecinta dinding, jadi cukup mudah untuk mencarinya, cukup tengok dinding kelas, maka Nirmala ada di sana. Entah di bawah papan tulis ataupun bawah jendela.
***
Aku duduk sendirian di kelas, sekelebat suara-suara itu terngiang. Mereka sangat riuh, mencandaiku dengan sebutan Ny. Riski, Yani bahkan menatap penuh kekecewaan padaku.
Yah, pasti kabar aku dan Riski pacaran, sudah menyebar seperti penyakit mematikan. Kami sengaja mengenduskan kalau kami terlibat hubungan spesial untuk menghentikan niatan Indra dalam mengungkapkan perasaannya.
Tapi, aku bingung, kenapa harus bertindak sejauh itu. Toh, jika benar Indra akan mengungkap perasaannya, aku tinggal menolak. Tapi, ya sudahlah.
***
Bersambung
Terima kasih bagi pembaca setia YOU, terima kasih karena sudah bersedia membaca karya amatiran ini. Terima kasih telah memberikan waktu, like dan komentarnya untuk saya.