
Hari ini aku merasa kurang enak badan lagi, saat pelajaran olahraga aku minta izin untuk tidak ikut berolahraga. Guru pun berbaik hati dengan hanya memberikan tugas tulisan.
Aku hanya bisa melihat mereka dari balik jendela, ingin rasanya bergabung bersama mereka. Namun, apa daya, tubuh ini tak memungkinkan.
Di saat aku sedang mengerjakan tugas dari guru, aku sedikit terganggu dengan Indra yang sedari tadi terus saja keluar masuk ke dalam kelas. Mondar-mandir tak jelas, hingga akhirnya aku tak tahan lagi.
"Kamu cari apa?" tanyaku risih.
"Ahmm … cari, Icha! Tadi kata Yayuk, Icha masuk ke kelas! Iya," jawabnya antusias.
"Belum ada yang masuk, baru kamu aja tuh!" jawabku sambil mengingat wajah Yayuk, siapa itu Yayuk? Duduk di mana dia?
"Ooh. Kenapa kamu nggak ikut olahraga? Lagi sakit ya?" tanya Indra duduk di kursinya. Dia sedikit bersuara keras karena tempat duduk kami yang tidak dekat.
"Mmm …." Aku melihatnya pindah ke kursi sebelah, semakin mendekat ke arahku.
"Sakit apa?" ucapnya mendadak pindah ke sebelahku.
"Nggak kok!"
"Syukurlah!"
"Alhamdulillah!" jawabku.
"Boleh tahu nggak, alasan kamu mulai memanggil namaku?"
"Hah?"
"Iya, boleh tahu, nggak?" Wajahnya serius.
"Oh, jadi nggak suka nih, kalau aku panggil nama kamu? Okay!" godaku pura-pura ngambek.
"Hey, bukan begitu! Hanya saja, akhir-akhir ini tuh kita tambah jarang ngobrol aja. Aku ini cuma basa-basi kok!" jujurnya.
Indra melihatku, aku tahu dia mengharapkan respons lebih dariku. Indra bangun dari duduknya dan berdiri di hadapan. Aku bisa mendengar, kalimatnya yang tertahan di lidah. Aku sedikit mendongak, lalu kembali menunduk cuek sambil menunggu kalimatnya.
"Oh ya, boleh minta nomor hape kamu nggak?" Dia pun berhasil mengungkapkannya.
"Buat apa?" imbuhku.
"Buat ... buat? Buat apa ya?" jawabnya terbata.
"Kalau nggak penting, ya mending nggak perlu! Lagian juga aku jarang isi pulsa kok," ucapku menatapnya lagi.
"Iya sih, nggak penting-penting banget kok!" jawabnya melirik ke arah lain, "kamu lagi ngerjain tugas apa?" lanjutnya.
"Olahraganya sudah selesai ya? Kok kamu sudah di sini sih? Bolos lagi?" tanyaku kesal.
"Oh! Iya, ya. Olahraga … ya ya udah, aku keluar dulu ya!" ucapnya kelabakan. Meski pun kelakuannya sedikit mengganggu, aku malah merasa lucu melihat tingkahnya yang seperti itu. Dasar orang aneh!
***
Memang, pada akhirnya aku bisa semakin akrab dengan mereka. Tak banyak yang terjadi selama tiga bulan di semester dua ini. Selain, kegilaan Riski dan Tri yang sering mengganggu Ani dan Ima.
Jika ada yang baru, mungkin Ocha. Dia mulai sering berkomunikasi dengan kami. Gadis bertahi lalat di ujung hidungnya itu sangat menyukai matematika. Sangat berbalik denganku. Sudah hampir dua semester berada di tempat ini. Tempat sederhana yang berbeda dengan sekolahku dulu, tempat aku merajut asa, cerita dan mimpi yang baru.
***
Na na na na ... na ... nana na na ... You're the music in me ....
Lagu itu terdengar tak asing, aku menelusuri koridor. Dari balik jendela aku melirik ke dalam kelas, mencari tahu asal suara. Terkejut, ya! Itu pasti.
Indra sedang duduk di tempatku, bukannya pergi keluar atau ke kantin bersama gengnya, ia malah sedang asyik mengutak-atik telepon genggamku. Sejenak aku ikut menikmati MP3 yang didengarkannya dari ponselku, tanpa kusadari aku tersenyum melihatnya dari kejauhan.
Astaga! Sadar Na! Batinku protes. Aku pun berdehem keras agar dia menyadari kedatanganku.
Praak ... taak!!! Gedubrakk!
"Kamu?" ucapnya menyembunyikan ponselku di belakang badan.
Aku mengulurkan tangan, tanpa sepatah kata pun. Seolah mengerti, Indra menurut dan memberikan benda yang kuminta. Ia meletakkannya di meja, tepat di hadapanku.
"Maaf!" katanya tampak kikuk.
"Kamu ngapain?" Aku tak sanggup mengomelinya.
"Itu, anu--"
"Minggir!" ucapku mengusirnya dari daerah pribadi ini.
Hah, orang ini benar-benar semakin aneh. Saat aku berbaik hati mau bicara dengannya, dia sudah berani duduk di bangkuku, seolah aku adalah bagian dari geng-nya. Dia mungkin saja sedang mencoba menginvasi daerah kekuasaan Yani, atau mencoba membujukku untuk bergabung bersama Yani.
Aku mengambil ponsel yang diletakkannya di meja, layarnya masih disetel pada lagu-lagu MP3 koleksi. Aku melirik kesal kepadanya dan dia masih tampak menunduk.
Apa-apaan dia? Beraninya buka-buka tas dan menyentuh barang-barangku! Batinku mengomel.
“Nana?” panggilnya. Lalu, memintaku untuk segera duduk. Aku menurut dan duduk di sebelahnya yang sudah pindah ke bangku Ani.
“Siapa yang mengizinkan kamu ambil hape saya?” Aku menginterogasinya, kembali bicara formal.
“Hanya penasaran!” jawabnya menatap lemas. Aku mengangguk.
“Jadi, kalau saya periksa hape kamu sekarang nggak apa-apa dong?” serangku membuat Indra terdiam. “Setiap orang itu punya area privasi mereka, dan nggak semudah itu orang lain bisa datang dan pergi sesukanya.”
“Maaf, lagi-lagi saya lancang sama kamu.”
“Uuuh … bahasanya!!! Sepertinya pelajaran Bu Usi berhasil nih, sukses besar,” sindirku.
“Maaf. Ini terakhir kok, saya nggak akan macam-macam lagi,” seriusnya.
“Iya, dimaafkan!” Aku tersenyum paksa saat mengatakannya.
“Oh ya, mumpung kita lagi ngobrol berdua nih, boleh tanya sesuatu nggak?” tanya Indra, celingak-celinguk memperhatikan suasana yang sepi ini.
Benar, kami memang jarang bicara, apalagi saat Indra bersama geng-nya dia tidak pernah bicara denganku.
“Apa?” Aku bersedia mendengarkan.
Indra menengok ke belakang, aku turut mengikutinya. Rupanya sedari tadi ada Riski di sana sambil tiduran di atas beberapa meja yang dibariskan dengan rapih. Manusia yang satu itu memang selalu berhasil mengejutkanku, Indra saja bisa waspada begini saat dia ada.
“Kamu berteman dengan Riski ‘kan?” tanya Indra tiba-tiba.
“Semua yang ada di kelas ini teman saya kok!”
“Maksud aku, kamu dan Riski dekat?” katanya mendadak informal.
“Nggak juga, karena kita 'kan satu tim di pelajaran Kimia, sama kayak Yani … kenapa?” ujarku menatapnya.
“Ah … nggak kok, nggak apa-apa … ya udah deh cantik, aku pergi ke luar dulu ya, kapan-kapan kita ngobrol lagi.” Dia pergi sembari tersenyum padaku.
Eh, gitu doang? Cantik?
Dari obrolan kami yang bisa dihitung dengan jari, sudah beberapa kali dia mengakhiri obrolan dengan kata cantik. Apa dia sedang berusaha merayu? Tidak mungkin.
***
Kami berkumpul di kantin sekolah. Jujur, akhir-akhir ini aku mulai sering pergi sendiri kalau ke kantin, sudah jarang menitip pesanan. Karena mulai merasa tak nyaman berada di dalam kelas saat jam istrirahat. Kenapa perasaan itu terjadi?
Indra, dia seperti sudah hapal betul kebiasaanku dan dia sering berada di kelas saat seharusnya bersama dengan teman-temannya. Entah apa tujuannya, lebih baik aku menghindar saja.
***
Bersambung