
Rumah tampak gelap. Papa dan Mama sepertinya masih di rumah sakit. Aku duduk sendiri di teras rumah, menunggu azan maghrib berkumandang. Kulihat, Riski sedang sibuk untuk bersiap menuju ke masjid, lengkap dengan kopiah dan celana hitam longgar.
Riski melambai ke arahku, aku pun membalasnya dan segera memalingkan wajah. Dia bisa-bisa bertanya aku bolos kemana hari ini? Semenjak berteman dengan Nana, Riski sudah tidak sering bolos bersamaku. Aku merasa dikhianati.
Ponselku tiba-tiba berdering, panggilan masuk dari Mama membuatku berdebar.
"Gimana hasil pemeriksaan Papa, Ma?" Aki menyerangnya lebih dulu.
"Positif gagal ginjal, ada komplikasi juga di usus. Bulan depan operasi usus dulu," jawab Mama terdengar sangat lemah. Aku pun tak tahu harus bereaksi bagaimana.
Sudah setahun sakit, Papa enggan berobat ke rumah sakit. Dia lebih memilih pengobatan tradisional. Namun, setelah mengikuti saran pamanku, kini Papa divonis gagal ginjal. Setahuku, itu adalah penyakit yang cukup parah.
***
Pagi ini, setiba di sekolah, aku memutuskan untuk pergi ke kantin lebih dulu. Enggan rasanya masuk ke kelas. Setelah semalaman tinggal di rumah, sendirian menonton The Walking Dead yang kupinjam dari Riski.
Perempuan dengan kerudung dililit asal dan tak rapih, sedang berdiri di depanku. Sibuk memesan sarapannya.
Kak Ayu, dia sosok perempuan yang disukai adik kelas. Termasuk, aku.
Dia tersenyum manis, begitu menyadari bahwa aku memperhatikannya sedari tadi. Mata ini memang tak bisa berhenti menatap bagian dadanya yang tak tertutupi kerudung.
"Lihatin apa?" sergahnya berdiri di depan mejaku. Aku hanya menggeleng. M*mpus, ketahuan! Dia, kini duduk di sebelahku. Aneh, bukannya marah karena aku sudah lancang memandangi tubuhnya, dia kini malah makan di meja yang sama denganku.
"Indra, masih pacaran sama Lian?" tanya Kak Ayu membuka pembicaraan.
"Tidak, Kak!"
"Iih, panggil Ayu aja. Biasa aja deh ngomongnya!" ucapnya tersenyum sambil menatapku. Aku mulai merasa risih. Aku bahkan bukan cowok terganteng di sekolah ini. Tapi, aku merasa seperti sedang diperebutkan. Hari ini Kak Ayu, besok siapa lagi?
Tidak mungkin Nana! Dia di luar server.
***
Saat jam kedua, aku dan Nana duduk setim bersama Joko dan Ima. Ketiganya sibuk sendiri, sementara aku masih diabaikan. Yani, terdengar aneh. Dia tiba-tiba menyindir Nana di tengah jam pelajaran. Aku bodo amat saja. Selama dia tidak mengganggu Nana dengan cara yang keji. Tapi, kenapa tiba-tiba menyindir? Apa karena masalah kemarin? Saat Nana tetap menolak untuk kumpul-kumpul? Hah ....
Setelah itu, jam istirahat pertama dimulai. Aku melihat Nana pergi keluar sendirian. Jarang-jarang melihatnya pergi ke luar seperti ini. Sendiri pula.
Aku memutuskan untuk membuntuti Nana. Dia tersenyum canggung pada setiap orang yang menyapanya. Nana tampak sangat menggemaskan, dia beberapa kali menyeka tangannya ke lengan kemeja. Sepertinya tangan Nana terus berkeringat.
Nana terhenti di depan kelas sebelas. Aku kaget ketika melihat papan nama kelas itu.
"11 IPS-2?" gumamku menyadari sesuatu.
Nana dan Kak Sisi duduk bersama di depan kelas. Aku tertegun, apa Nana selalu punya sisi ramah seperti itu? Dia bercengkrama seru dengan teman masa SMP-nya itu.
"Kamu ngapain?" tanya seseorang menyentuh pundakku lembut. Aku berbalik dan menjumpai Kak Ayu dengan kerudungnya yang sudah dirapihkan.
Aku mendadak kikuk, bagaimana cara menjelaskan ini?
"Kamu cari aku ya?" imbuhnya.
"Hah?" Aku tersentak kaget.
"Tadi kamu pergi dari kantin, nggak pamitan loh!"
"Maaf." Aku tersenyum sembari sesekali melirik Nana dari kejauhan.
"Ngapain ke sini?" tanya Kak Ayu. Ya, benar. Tempatku berdiri ini masih bagian dari kelas 11 IPS-2. Meskipun agak jauh dari ujung sana, tempat Nana duduk dengan Kak Sisi di teras depan kelas.
"Itu ...."
"Apa?" tanyanya menyipitkan mata bulat itu.
"Mau ketemu Kak Ayu," jawabku terpaksa. Ngomong apa kau, Ndra? Hatiku meringis.
"Apaan sih!" ujarnya tampak malu-malu kucing. "Aku masuk ke kelas dulu ya. Jangan bolos, Ndra!" imbuhnya berjalan sok anggun. Ya, kuakui dia memang cantik. Tapi, ah sudahlah.
Kualihkan kembali pandangan ke arah Nana. Lian melewatinya dengan terburu-buru, di seberang sana adalah kelasnya. Aku mengembus napas kesal tiap kali melihat Lian.
Kaki perlahan kram, aku pun menyandarkan tubuh ke jendela. Mencoba menikmati tawa Nana. Sampai pada akhirnya kulihat sosok yang berlagak keren itu membuat Nana tiba-tiba bersikap malu-malu kucing.
Kak Iwan, kelas 12 IPA-1. Wakil ketua OSIS, anak football. Dia tampak menyapa Nana dengan ramah. Aku mendidih melihatnya, bagaimana semua orang bisa kenal Nana, dan hanya aku yang tidak bisa mengenalnya lebih dekat?
Siapa Nana? Kenapa semua orang tertarik padanya, termasuk aku. Ini menyesakkan!
Tuk tuk!
"Kok masih di sini? Jangan-jangan, kamu sudah dengar tantangan itu ya?" tanyanya menopang dagu dengan kedua tangan. Mendadak tampak imut di mataku.
"Tantangan apa?" Aku terheran-heran. Perempuan yang satu ini kenapa sih?
"Soal tantangan gila! Kelas 12 memutuskan untuk cari gebetan sebelum mereka lulus. Anak kelas 11 juga ikutan kok."
"Terus?"
"Ya, kamu ke sini bukan karena itu, kan?"
Aku menatap Nana, kulihat Kak Sis terus mengucapkan kata ciyye, begitu Kak Iwan pergi. Ini mencurigakan. Apa si Iwan itu lagi modusin Nana?
"Indra!" Kak Ayu memanggil sembari melambai.
"Aku pamit dulu, Kak!" seruku meninggalkannya. Aku kembali ke kelas dan mencoba memutar otak. Kenapa aku baru tahu ada tantangan itu? Apa Riski juga sudah tahu? Makanya dia coba mendekati Nana? Tapi, sejak kapan tantangan gila itu bermula?
Gila!
***
Seminggu berlalu. Aku dan Yani pergi ke rumah Icha. Icha sedang mengadakan tahlilan untuk sepupunya, yang meninggal tahun lalu.
Setelah makan, aku melihat Yani dan Alisa sangat serius membahas sesuatu. Aku pun memutuskan untuk menghampiri keduanya.
"Nana kenapa?" tanyaku saat mendengar nama Nana disebut.
"Aku lihat dia di klinik dokter praktek!" Yani memulai.
"Kan si Nana memang sering sakit!"
"Sakit jiwa?" sergah Alisa.
"Maksudnya?"
"Aku lihat Nana di kliniknya Dokter Iqbal," ungkap Yani menunduk, rambutnya terjatuh ke sisi kiri.
Aku menyelipkan rambutnya ke telinga, sambil berkata, "Siapa itu?"
"Psikiater!" jawab Alisa.
Aku terdiam, kami bertiga terdiam. Nana sakit apa, sampai harus ke psikiater?
"Psikiater?" tanya Icha menghampiri kami,sembari membawa senampan es buah.
"Iya." Yani menekankan.
"Riski sudah tahu?" tanya Alisa.
"Riski udah bukan geng kita!" selaku, menatap Alisa.
"Ya, maaf. Aku kan cuma tanya aja. Jangan ngegas!"
"Ini rahasia kita. Sampai kita tahu, si Nana itu sakit apa sih? Berani banget dia tolak untuk gabung geng kita. Berteman? Memangnya dia siapa? Gila!" Yani tampak marah.
"Benar, tanpa dia. Kita bisa masuk rangking lima besar kok. Aku yakin. Kan, ada Icha." Alisa menimpali, sambil memeluk Icha.
"Mike dan Haryo juga nggak boleh tahu, terutama Mike. Aku nggak bisa percaya dia," ujar Yani.
Aku tertawa saat mendengar, percakapan aneh gadis-gadis ini.
"Kenapa ketawa, Ndra?" Alisa menatapku kesal.
"Maaf. Jadi, cuma aku dan Haryo aja yang cowok di geng ini? Kenapa nggak dibubarin aja. Geng ini nggak ada gunanya!"
"Oke, kamu bisa keluar. Sekaligus Papa kamu juga keluar dari perusahaan Papaku." Yani terdengar mengancam. Aku dan Icha saling menatap untuk sepersekian detik.
"Yani, Indra itu cuma bercanda kok! Iya, nggak? Ndra?" Icha mencoba menengahi.
Aku harus tahan, aku harus sabar. Papa sedang butuh pekerjaan dan uang untuk mengobati sakitnya. Bisnis Mama juga sedang tidak bagus. Aku harus tetap kuat dengan gadis-gadis psiko ini.
***
Bersambung