YOU OR YOU?

YOU OR YOU?
Chapter 13: Taruhan



Aku menyentuh pelipis, menekan-nekan dan sedikit memutar jari; pusing.


Indra duduk diam melihat tingkah itu, tak ada yang dia katakan selain hanya melihat wajahnya sendiri di cermin.


Guru masuk ke dalam ruangan, dia menyentuh pundakku untuk mengetahui keadaan saat ini. Ibu guru tiba-tiba melakukan hal yang sangat tak kuinginkan.


Dia meminta Indra untuk mengantarkan pulang. Karena orang rumahku belum bisa dihubungi.


Aku menolak, jelas! Memangnya siapa dia? Aku pasti akan memilih untuk tidur di sekolah daripada diantar pulang olehnya. Ah tidak! Aku ini penakut. Dari mulutku terucap nama orang lain, nama yang menurut hati lebih pantas. 


Biarlah Riski yang mengantarku, lebih aman dan nyaman bersama sahabat daripada bersamanya. Wajah Indra tampak kecewa, dengan perintah guruku dia pergi dari ruangan untuk mencari Riski. Masa bodoh, apa pun pikirannya aku tidak peduli.


***


Riski pun akhirnya masuk ke dalam ruangan bersama Indra dan Ani. Indra berdiri menyandarkan setengah bahunya di rangka pintu dan melipat kedua tangannya di dada, sambil menunggu Riski dan Ani.


Sayangnya, dengan halus Riski menolak ajakanku, katanya dia tak bawa motor dan tak dijemput hari ini. Aku hanya tersenyum dan melirik Ani, Ani hanya mengangkat bahu. Indra masuk dan menawarkan diri. Lagi, aku menolaknya.


"Ayolah ... Nana! Jangan keras kepala! Kalau semakin lama di sekolah kamu bisa tambah sakit nih. Aku nggak bisa pulang sama kamu. Makanya Indra saja ya yang mengantarmu, sekalian kamu dan Indra bisa berbaikan,” ungkap Riski menjurus. Berbaikan?


Karena permintaan Riski akhirnya aku menerima tawaran Indra. Dengan syarat akan pergi bersama Ani atau Ima dan Indra siap mengantar mereka pulang ke rumahnya juga.


***


Riski dan Ani tiba-tiba dipanggil seseorang dari luar ruangan. Tinggal aku dan Indra yang ada di sini.


Dia bergerak ke belakang pintu dan mengambilkan sepatuku. Menarik kaki ini dan mencoba untuk memasukkan kaki ke dalam sepatu. Aku menarik kaki ini pelan, dan memakai sepatu sendiri.


Indra berdiri di hadapan sambil mengatur rambutnya; bercermin.


"Kamu sudah punya pacar?" Pertanyaanya kuhiraukan begitu saja, Indra berbalik dan menanyakan hal yang sama lagi.


"Kenapa?"


"Iya, udah punya pacar belum?" paksanya.


"Sudah!" ketusku.


"Siapa?"


"Buat apa kamu tahu, itu kan bukan urusan kamu!" lanjutku perlahan.


"Kamu bohong ya? Kata Tri kamu nggak mau pacaran, otomatis kamu jomlo dong?" Aku berdiri tegak saat selesai pakai sepatu.


"Saya memang nggak pacaran, karena saya dan dia membuat keputusan itu. Kita hanya berteman dulu sekarang, saat kelulusan nanti, jika dia serius dan melamar saya, saya bersedia!" jawabku melihatnya dengan tatapan menantang. Sedikit kebohongan membuatnya diam.


"Ayo pulang, jalan pelan-pelan ...," ucapnya menarik lengan dan memapahku ke luar ruangan. 


Ah, kali ini aku biarkan dia memegang lenganku yang terbalut baju dan jaket milik Ani. Toh, aku memang masih sulit berjalan.


***


Aku dan Ani berdiri di depan sekolah, Indra membawa motornya menghampiri kami.


"Naik motor?" tanyaku panik melihat itu. Bagaimana ini aku masih pusing? Kalau aku menggeblak ke bawah, bagaimana? Tidak lucu, kalau jatuh dari motor. Sedangkan hati ini tidak mengizinkan untuk duduk di belakang Indra dan tidak mungkin kami naik bertiga, itu berbahaya.


Aku diam beberapa saat, Indra terlihat mulai kepanasan. Rambut dan kepalanya terpapar sinar matahari siang. Aku bisa melihat keringat di pelipis dan dahinya. Tapi, karena satu dan lain hal aku benar-benar merasa kesal denganya.


"Sampai kapan mau berdiri di sini sih?" ujarnya menggariskan mata karena silau.


"Iya." Aku menghampiri motor bebek, dan duduk di jok belakang. Ani menaruh tas diantara kami berdua.


"Hati-hati ya ... Ndra ... bawa motornya pelan-pelan ...," ucap Ani menepuk bahu Indra. Dia memutuskan tidak ikut mengantar, itu pilihan yang bijak tapi sedikit menyedihkan bagiku.


Aku memegang bagian belakang motor, saat kendaraan itu perlahan melaju. Beberapa meter melewati sekolah, Indra terdengar berbicara. Yang aku dengar hanya suara, tanpa tahu apa yang sedang dibicarakannya.


"Rumah kamu di mana?" teriaknya, saat tahu aku sedari tadi hanya diam saja tanpa menanggapi ocehannya.


"Di jalan bougenvile ...."


"Kalau posisi begitu kamu aman ya?" remehnya padaku.


"Kalau ada Allah, pasti aman!" tekanku menggulung pinggiran jaketnya.


"Ya sudah ... kalau kamu pusing bilang padaku ya ...," lanjutnya masih melaju pelan.


Tak disangka penyelamatku datang. Mobilku melintas tepat di depan kami dan aku memintanya untuk berhenti. Sambil menunggu mobil memutar arah, Indra lagi-lagi menyentil masalah beberapa hari lalu.


"Kapan ya ... kita bisa berbicara non formal lagi?"


"Saya cuma nggak mau dekat dengan kamu," ucapku menghindar.


"Loh memangnya kenapa?"


"Kamu sendiri? Apa tujuanmu sebenarnya?”


"Apa?"


"Kamu pikir, saya, ak-aku, aku tidak tahu apa yang kamu dan Yani lakukan!" Bingungku harus bicara bagaimana.


"Nana …."


"Sudahlah Indra, kamu pikir bisa begitu saja mendapatkan, aku?"


"Maksud kamu?" tanyanya terdiam, "Bukan seperti itu, Na," lanjutnya teringat sesuatu.


“Aku udah tahu semuanya kok,” ujarku mencoba mengingatkannya pada hal yang terjadi beberapa waktu lalu.


***


Kejadian itu terjadi dua hari setelah kedatangan Riski ke sekolah.


Saat tak ada guru, aku duduk di belakang sekolah bersama dengab Tri. Kami duduk-duduk di bawah jendela, sembari memperhatikan kelas sebelah yang sedang praktik pelajaran tanam-tanaman.


Dari dalam kelas samar-samar aku dan Tri mendengar sebuah percakapan panjang yang sangat menyinggung. Aku bisa mendengar dengan jelas apa yang dua orang itu katakan.


Taruhan. Aku begitu terkejut mendengar kata itu.


"Jadi bagaimana? Kamu masih bisa nggak, Ndra?" Suara itu tidak asing.


"Agak susah sih, kalau menang, aku dapat apa?" tawar suara itu membalas.


"Kamu bisa pilih tetap dengan Nana atau Tri. Itu hadiahnya!"


"Oke! Nana orang yang polos, sekali aku dekati pasti dia klepek-klepek! Kalau berhasil aku mau Nana aja, habis itu ya … siapa yang tahu?"


"Jadi, hadiah si Tri kamu tolak nih."


"Nggak lah! Kalau nanti putus dengan Nana, aku bakal deketin Tri dan ingat loh hadiah taruhannya harus lebih dari ini ….," ungkapnya.


"Tapi, bukannya kamu juga mulai suka Nana ya? Makanya kamu pilih hadiahnya tetap macarin si Nana, iya ‘kan …?" tanya suara yang aku yakin adalah Alisa.


"Iya sih ... tapi aku bakalan buktikan bahwa aku bisa mendapatkan Nana, apapun caranya!"


"Alahhh … kemarin juga kamu berantem sama dia!" tantang suara Yani yang sedari tadi mengomporinya.


"Deal! Kita Deal!" serunya marah saat diremehkan.


Aku dan Tri hanya bisa terdiam mendengar semua itu. Jadi selama ini mereka sedang bertaruh? Dan hari ini mereka memutuskan hadiah apa yang akan Indra dapatkan. Apa Indra selalu seperti itu, menganggap perempuan hanya sesuatu yang bisa ditukarnya jika dia tak suka lagi?


***


*B**ersambung*


Terima kasih bagi pembaca YOU, terima kasih karena sudah bersedia membaca karya amatiran ini. Terima kasih juga, karena telah memberikan waktu, like dan komentarnya untuk saya. Terima kasih banyak, oh ya... jangan lupa komen ya... biar aku bisa datang ke ceritamu juga dan memberikan feedback untuk ceritamu.