YOU OR YOU?

YOU OR YOU?
Chapter 18: Kebingungan



Riski pun kembali ke tempat kami, dengan sigap aku meminta pulpen yang dibawanya.


"Ambil saja di tas! Ada banyak pulpen di situ!" perintahnya.


Mengambil pulpen di dalam tas bukanlah sesuatu yang sulit. Hanya saja, tas itu berada di sisi Indra. Hih, menyeramkan.


"Ani, ambilkan tas itu dong!" pintaku pada Ani yang duduk berhadapan dengan Indra. Aku yang duduk di sebelah Indra tidak bisa menjangkau tas itu, karena batas suci yang dibuatnya.


Indra tiba-tiba bergerak dan mengambil tas Riski. Dia melirik tajam lalu melemparkan tas Riski ke pelukanku.


"Terima kasih!" ujarku ringan. Dia diam dan tetap saja diam.


Aku mulai menulis apa yang dibawa Riski dari tim sebelah, Icha yang duduk di kursi guru melemparkan beberapa pulpen padaku. Aku kaget dan melihatnya, dengan tegas dia berkata, "Jangan ganggu orang-orang, makanya bawa pulpen yang banyak!"


"Iya ...." Senyumku pada Icha yang terdengar sentimen. Tenyata sedari tadi Icha memperhatikan.


“Kita  jualan pulpen yuuk,” celetuk Riski. Aku tertawa, melihat ada lebih dari delapan pulpen di depan kami. Tergeletak tak tahu malu di atas buku yang sedang melantai.


“Mau main nggak?” tanya Riski padaku.


“Main apa?”


“Tebak pulpen, siapa yang dapat pulpen kosong dapat hukuman.”


“Seru nggak?” tanya Sinnta.


“Pasti dong,” jawab Riski yakin.


Kami pun mengambil beberapa pulpen untuk masing-masing. Ani yang memulai dan menulis menggunakan benda panjang itu. Aman, tintanya mengalir lancar, itu pasti pulpen Riski atau Icha.


Kini giliran Sinnta, satu pulpennya kosong. Dia mendapatkan tepukan manis di jidat dan tangan. Riski dan Ani sangat bersemangat, saat mengeksekusi.


Kini giliranku, dan ya … aku sial. Dua-duanya kosong, aku lupa masih memegang pulpen-ku sendiri dan salah satu pulpen yang Icha berikan kosong.


Ani dan Sinnta memukul jidatku, Riski maju mendekat dan mengangkat dua jari ke arah kepalaku. Tangan kirinya memegang belakang kepala, dia tampak bertekad menepuk jidatku. Aku geli dan hanya bisa menerimanya. Ani dan Sinnta terus cekikikan. Setelah jidat masih ada lengan yang harus jadi korban.


“Nggak jadi deh, di tangan aja,” ucapnya mengambil lenganku dan menggulung lengan baju beberapa senti.


Plaak!!!


Dia memukulnya keras. Tak berperasaan. Jahat!


“Kalau pacaran jangan di sini!” celetuk seseorang terdengar kesal membanting buku di tengah kami.


Indra tampak kesal, dia berjalan menuju Icha dan duduk di sebelahnya, kemudian menyilangkan tangan ke pundak Icha sambil berbisik. Aku mengabaikannya dan melanjutkan permainan kami.


Setelah ujian kesenian pak Deni, kami kembali ke kelas dan menunggu ujian praktek selanjutnya.


***


Ani datang sambil berlari kecil, dia menghampiri aku dan Kak Iwan yang sedang berada di kantin. Aku menantinya dengan berdiri dari bangku.


"Na!" serunya terengah-engah.


"Kenapa?" tanya kak Iwan mencoba menenangkan Ani.


"Riski dan Indra, mereka bertengkar! Pukul-pukulan."


"Di mana?" tanya kak Iwan.


"Belakang sekolah!"


Mendengar itu aku dan kak Iwan begegas ke sana. Bukan hal yang elok jika kelasku terus saja membuat skandal, belum kering diingatan kejadian 2 bulan lalu dan sudah terjadi lagi. Padahal ujian akhir semester tinggal hitungan hari.


Kak Iwan segera melerai mereka. Indra sangat parah, wajahnya lebam. Aku berlari menuju Indra.


"Indra kamu nggak apa-apa?" panikku.


"Nggak kok! Nggak apa-apa!" jawabnya memegang perut, sembari menatap lurus mataku. Seperti anak kucing yang minta dikasihani.


"Riski kamu apa-apaan sih?" Marahku pada Riski yang juga tampak kesakitan.


"Indra yang mulai duluan!" tudingnya.


"Apa maksudmu? Kamu nggak lihat dia yang babak belur!"


"Kok kamu malah belain dia sih?"


"Aku nggak—" Belum selesai aku bicara, Riski malah pergi begitu saja sambil memegang dagunya. "Riski!" panggilku dan Tri.


"Minggir!" seru Yani datang melepaskan genggaman tanganku dari lengan Indra. "Icha, ini dibantuin dong!" lanjutnya meminta Icha untuk membawa Indra ke kelas, tatapan tim Fisika sedang menyerangku. Tri dan kak Iwan membantuku berdiri, aku bingung apa yang sebenarnya terjadi.


"Kak?" panggilku sedih.


"Loh, kamu ‘kan pacarnya Riski? Kenapa malah nolongin Indra?" tanya kak Iwan menginterogasiku.


"Itu ...." Aku mendadak bingung mau jawab apa.


"Iya, kak Nana! Kak Nana sudah mengecewakan Riski!" timpal Tri.


"Aku nggak bermaksud seperti itu kok."


"Ya sudah, aku antarkan kamu ke kelas ya ...," potong kak Iwan, aku ikut saja apa katanya


***


Terkadang aku tidak tahu apa yang terjadi. Hatiku tak ingin pacaran atau menjalin hubungan dengan siapa pun, tapi entah apa penyebabnya aku mulai merasa bersalah. Merasa berdosa karena sudah berbohong pada orang banyak, demi menghindari dia yang kini mulai aku sukai.


Ada apa ini? Bukankah sumpahku adalah fokus pada sekolah? Lalu kenapa aku merasa cemburu melihat Icha di dekat Indra dan mengapa aku perhatian pada Indra? Kenapa juga merasa bersalah pada Riski, bukankah kami hanya pura-pura?


Apa aku harus menciptakan majas untuk bersembunyi dari kebingungan ini? Kebodohan apa yang sedang aku lakukan? Dia dan dia, ibarat waktu yang mulai mencengkeram nadiku.


***


Kejadian hari itu cukup membekas di hati Riski, dia tak sehangat dulu. Bahkan ada rumor yang mengatakan kalau kami sudah putus. Putus apanya? Pacaran saja kami pura-pura. Aku hanya berharap Riski tak mengabaikanku lagi.


Ini sudah sangat lama, terlalu lama bagi sahabat tak saling bicara. Saat ujian akhir semester aku benar-benar kesepian tanpa Riski. Tak ada penjelasan apapun lagi.


Bahkan Geng Kimia tak bertanya apa-apa kepadaku, tak peduli apa yang sebenarnya terjadi diantara kami. Aku merasa ditinggalkan, hanya karena membela Indra.


Sepertinya geng Fisika tahu, kalau Riski mungkin marah padaku. Membuat mereka tak perlu repot-repot cari masalah lagi. Setidaknya ini menenangkan, hanya saja, ah entahlah.


***


Pengumuman kenaikan kelas sudah disampaikan oleh Bapak kepala sekolah. Di kelas kami, Icha menjadi rangking pertama, Indra mendapat Rangking kedua dan aku di posisi ketiga, setelahnya ada Ani dan Nirmala di peringkat ke lima. Siapa yang tahu jika pencapaianku berbuah kesal dari hati-hati lainnya, yang mulai semakin menyiksa.


***


Ibu wali kelas yang baru, sudah membagikan kelas. Aku mendapat kesempatan bergabung di kelas sebelas A, mereka menyebut kelas ini kelas Fisika. Kumpulan anak-anak pilihan, itu kata anak-anak dari kelas lainnya.


Ada teman baru di tempat ini, Silvia. Dia sepupu Ani. Meskipun Ani di kelas Kimia, semoga saja Silvia bisa menggantikan posisi Ani yang selalu ada untukku.


***


Bersambung