
Tidak terasa sudah hampir satu semester aku berada di sekolah ini. Tidak terasa pula aku larut dalam permainan Kak Ayu. Tiada hari tanpa pacaran dan itu sangat membosankan. Seharusnya kuputuskan dia dalam seminggu, tapi malah kebingungan dengan bagaimana cara mengakhiri hubungan gila itu.
Melelahkan. Namun, perlahan aku malah mulai melupakan tantangan Nana. Ditambah Nana yang sempat, tidak ke sekolah selama beberapa hari dan terus diulanginya setiap minggu. Entah apa yang terjadi?
Namun, dua mingguan ini Nana sudah aktif kembali datang ke sekolah. Ini membangkitkan semangat untuk mendekatinya lagi. Ah, senangnya. Aku pun memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Kak Ayu.
Dia gagal bertahan punya pacar sampai kenaikan kelas, aku kembali mendekati Nana. Yani dan egonya menang melihat kegagalan orang lain. Semua berjalan normal.
***
Setiap hari, OSIS menggerakkan para ketua kelas untuk memeriksa murid-murid yang melakukan pelanggaran. Dari sekian banyak aturan, aturan larangan membawa ponsel adalah hal yang paling dibenci anak-anak. Tapi, aku lebih benci inspeksi dadakan soal bolos sekolah. Itu seperti sebuah pelanggaran hak asasi, sesekali bolos kan perlu biar tidak stres di kelas melulu.
Namun, pagi ini aku gagal bolos sekolah, karena kebetulan ada razia absen di kelas kami. Oh ya, aku dengar, OSIS mengijinkan kami membawa ponsel karena ada tugas untuk materi ‘Teknik, Informatika dan Komputer’.
Mata pelajaran yang sangat aku benci. Kenapa? Aku tidak suka Excel dan programan lainnya. Aku hanya suka duduk menatap sesuatu yang lebih bermanfaat. Menatap Nana, misalnya.
***
Pelajaran kami selesai, istirahat pun tiba. Ponselku bergetar, nada deringnya tadi dimatikan. Sms dari Kak Ayu muncul. Dia memintaku pergi ke kantin. Hatiku mendadak kalut, apa dia masih kesal karena kejadian minggu lalu?
Saat itulah kulihat Nana sedang asik dan sibuk dengan ponselnya. Aku memutuskan meletakkan benda besar yang disebut tas itu, di meja Nana. Alasannya? Agar aku punya alasan untuk bicara dengan Nana. Ujian semester semakin dekat.
"Titip ya!" ujarku terburu-buru.
"Indra! Tasnya jangan ditaruh di situ dong!" tegurnya dengan nada yang tiba-tiba meninggi. Aku kaget, Nana bisa ngegas juga rupanya. Tapi, yang lebih mengagetkan adalah dia menyebut namaku! Ya, barusan dia memanggilku Indra. Keajaiban!
"Apa? Kamu tadi panggil saya ya? Panggil saya apa?" kagetku segera menatapnya dengan serius. Aku keheranan, kenapa Nana memanggil namaku?
"Ya, iya, kamu lah siapa lagi? Memangnya ada yang lain di depan aku, 'kan cuma ada kamu, aneh iiih." Nana mengerutkan dahinya. Kulihat ponsel di tangannya menampilkan layar yang sedang di-pause. Oh, sepertinya aku baru saja mengganggu kesenangannya.
Nana, cute!
"Ooh, jadi kamu memang panggil saya ya? Panggil aku?" Aku menunjuk diri sendiri, lalu setelah itu menundukkan badan dan menopangkan dagu di atas meja yang membuat kepala kami jadi simetris. “Yakin itu aku? Nggak salah orang ‘kan? Bukan orang lain 'kan?” Aku mencoba meyakinkan.
"Iya! Apaan sih!" Nana mendorong kursi hingga menyentuh meja belakang.
"Oh ya? Soalnya ‘kan, biasanya kamu tuh selalu cuma manggil aku, hey kamu! Udah gitu aja, biasanya juga ngomongnya formal banget, saya-kamu-saya," jawabku tertawa, lupa ajakan Kak Ayu.
"Tahu ah ... pindahin tasnya!" serunya tampak kesal.
"Ini titip di sini sebentar aja ya cantik, aku lagi buru-buru nih! Daaah! Aku pasti balik kok, jangan ditungguin ya," ucapku berlari keluar kelas, mendadak bicara informal dan memanggilnya dengan sebutan cantik.
Apa hal ini menggetarkan hatinya? Alasan terbesar aku berlari adalah takut ditabok Nana.
"Hey! Indra! Woy!" Panggilannya kuabaikan. Bisa dapat double combo tabok nih. Nanti, saat sampai kantin. Aku malah ditabok Kak Ayu karena telat.
***
Dari kejauhan singa putih itu duduk menyendiri di sudut kantin. Aku merasa takut untuk mendekatinya.
"Assalamualaikum!" ucapku masuk ke kantin. Mata Kak Ayu tidak santai, dia menatapku seperti musuh. Baiklah, sepertinya dia memanggilku untuk melampiaskan kekesalan.
Aku mendekati meja tempat Kak Ayu berada. Dia membuat isyarat dengan kepala agar aku duduk di depannya. Kuikuti saja biar cepat selesai.
"Aku masih nggak habis pikir, tentang alasan kamu mutusin aku?" Kak Ayu membuka percakapan. "Apa ada alasan yang masuk akal selain kamu mau fokus belajar karena sebentar lagi ujian semester?" lanjutnya.
"Itu--"
"Aku masih nggak ngerti gitu!"
"Aku rasa Kak Ayu--"
"Kamu harus jelasin semua. Oke, aku akan jujur. Aku memang pacarin kamu karena tantangan. Tapi, sebelum dan sesudahnya aku tuh suka sama kamu!" ocehnya.
"Maaf, Kak. Aku rasa, harus menjelaskan ju--"
"Aku nggak terima diginiin!"
"Iya, maaf." Aku mengangguk setuju saja.
"Ngomong dong, Ndra!" serunya tiba-tiba menggebrak meja.
Aku menggaruk kepala, mendadak gatal sekali. Sepertinya aliran darah di kepala menjadi lancar, hingga teras di kulit kepala, bahkan rambut pun terasa mengganggu.
"Indra--"
"Iya!" Aku menyelanya. "Udah ngomongnya?"
"Apa?"
"Aku juga mau jujur. Maaf aja nih. Aku juga pacarin Kak Ayu, karena disuruh Yani!"
"Hah? Yani?"
"Iya, aku putusin karena nggak mau Kak Ayu menang tantangan itu." Aku tersenyum ringan saat menjelaskan.
"Kamu udah gila ya?" tanya Kak Ayu berbisik.
"Kamu juga udah gila ya?" jawabku menanyakan hal yang sama dengan suara yang lebih rendah dari bisikan kasarnya itu.
"Mendingan kamu tuh fokus, bentar lagi jadi kelas duabelas. Ujian nasional, ujian masuk perguruan tinggi. Bukannya main tantangan gila!" jelasku padanya.
"Kamu udah punya pacar?" tanya Kak Ayu tiba-tiba. Seolah mengalihkan pembicaraan.
"Akan segera kucari!" Aku berdiri dan pergi meninggalkannya. Pindah ke meja lain.
Pembicaraan singkat itu terasa lama. Aku pun menjadi benar-benar lapar.
"Mike, pesenin nasi kuning dong!" teriakku pada Mike yang sedang antri pesan makanan.
"Jagain tempat duduk!" ujarnya setuju.
"Siap, Beb!" sela Riski tersenyum. Dia sedari tadi mengantri di sana? Jangan-jangan, dia melihatku bersama Kak Ayu.
Kak Ayu pun ternyata sudah pergi. Aku hanya melihat punggungnya melewati kerumunan siswa.
Saat itulah, kulihat Nana. Dia berjalan menuju kantin bersama Ani. Wajahnya tampak santai, dia berdiri di depan Ani saat mengantri.
Aku bergegas memutari kantin, mencoba untuk menghindarinya. Masih sedikit gugup setelah Nana memanggil namaku.
Aku pindah ke tempat yang tersembunyi, lalu mengirimkan SMS kepada Mike, bahwa tak perlu pesankan makanan karena aku sudah balik ke kelas.
***
Setibanya di kelas, aku hendak mengambil tas di meja Nana. Entah setan apa yang merasukiku? Aku merobek kertas dari bagian buku Sosiologi.
Aku menuliskan nomor ponsel di kertas yang akhirnya kusobek seukuran tiga jari. Selain itu, aku menuliskan huruf-huruf kecil yang berjejer rapih tepat di bawah tulisan angka.
Kamu tahu namaku? Terima Kasih.
Setelah itu, kuletakkan tas di mejaku dan merenung untuk beberapa saat. Bolos, tidak?
Bermaksud bolos, aku malah tertahan di meja ini, karena wali kelas sudah datang. Kali ini perhatian kuberikan sepenuhnya untuk Pak Farid dulu.
"Oh, iya! Pak Jaya tidak bisa masuk hari ini. Dia meninggalkan bahan mengajarnya kepada saya, karena saya ada jam di kelas duabelas jadi kalian belajar sendiri aja dan jangan ribut! Mengerti?" ungkap Pak guru.
"Iya, Pak," jawab kami kompak.
“Horeeee!" Aku tak tahan untuk tidak berteriak kegirangan bersama yang laiinya. Siap, bolos!
"Nana Rahayu?" Samar-samar, aku mendengar Nana dipanggil oleh Pak Farid. Lalu, hendak berjalan mengikuti Pak Farid.
Kulihat Ani menahannya. Kemudian Nana menggeleng pada Ani dan berjalan di belakang Pak Farid. Dia menunduk sembari mengelus lengan kirinya sendiri dengan tangan kanan.
Saat gusar pun, Nana terlihat cute. Aku jadi penasaran kenapa Nana dipanggil?
***
Bersambung