
Aku di sini.
Sekolah lama kami jadi sangat daebak! Aku sepertinya ingin kembali ke sekolah saja. Sekelompok ibu-ibu berhijab duduk semeja dengan tawa pecah yang membuatku geli ingin ikut bergabung. Kulambaikan tangan kiri, dan mengangkat tangan kanan yang memegang tas besar.
"Nana!" panggil Ima mendekatiku.
"Di sini!" seru Sinnta tersenyum.
Tempat ini sangat ramai, beberapa teman masa SMA ada di sini. Aku bergegas menghampiri Ima dan menemui yang lainnya.
"Assalamualaikum, Ukhti?" sapa Nirmala dan Yaya.
"Waalaikumsalam ...," jawabku ringan berbagi pelukan hangat dengan mereka.
Mereka semua tampak tak banyak berubah. Hanya saja Sinnta jadi lebih putih, Nirmala tampak rapih, mungkin karena faktor pekerjaannya kini, sebagai bidan. Ima tampak lebih berisi, sepertinya dia sudah sembuh dari sakit sama sepertiku dan Yaya menjadi jauh lebih gempal dari sebelumnya.
"Kamu apa kabar, Na?" tanya Sinnta memelukku.
"Alhamdulillah, baik."
"Kamu kuliah di mana sih sebenarnya, kok pada kita nggak tahu?" lanjutnya.
"Aku ke Seoul, ambil jurusan Desain di Ehwa university."
"Ya Allah, pantas saja menghilang! Jadi setelah lulus kamu langsung terbang ke sana? Tanpa penjelasan apa-apa? Tega banget kamu," sela Yaya.
"Yah, maaf. Ya, begitulah! Tapi, Ani dan Riski tahu kok. Sumpah aku kangen banget loh sama kalian! Oh ya, Aninya mana?" Aku mempertanyakan salah satu sahabat lama itu. Namun, ke empat temanku hanya bisa saling menatap ragu.
"Ani masih di rumah sakit!" jawab Ocha menghampiriku.
"Apa? Ocha? Hey, apa kabar?" jawabku berbalik arah dan menyambutnya.
"Alhamdulillah ... baik! Apa kamu tahu kenapa Ani di Rumah Sakit?" selidiknya.
"Kenapa? Dia sakit apa?"
"Jadi kamu nggak tahu ya? Ani itu mau melahirkan, dia kan udah nikah!" sela Ima.
"Oh iya, aku lupa! Alhamdulillah ... Semoga persalinannya berjalan dengan lancar ya … besok kita mampir ke rumah bersalin," tawarku.
"Aamiin! Sipp! Jadi, kapan nih kelulusannya?" sela Sinnta.
"Tahun depan, InsyaAllah. Biar bisa cepat pulang dan berlama-lama lagi di Indonesia!" jawabku malu.
Ya, tentu saja aku terlambat wisuda, tahun pertama di Korea hanya dihabiskan dengan berkeliling Seoul, bahkan sempat nonton mini konser boygrup korea. Pokoknya keenakan jadi fangirl, terima kasih karena aku gagal dapat beasiswa.
"Sumpah aku itu kangen banget loh sama kamu," ujar Ima menggandengku lagi.
"Aku juga kangen banget kok sama kalian."
"Berapa hari kamu di Indonesia?" tanya Yaya.
"Hmmm, sekitar dua mingguan sih, dan ini sudah hari ketiga, hehehe."
"Oh ya, Riski bagaimana kabarnya?" sela Nirmala pada Ima.
"Mana aku tahu," jawabnya kesal.
"Sepertinya mereka juga datang deh ...," seru Ocha menunjuk geng yang wajahnya takkan pernah bisa kulupakan untuk selamanya.
Melihat perempuan di tengah barisan itu saja membuatku menyeringai. Aku seperti memutar film di kepala, wajahnya mendadak membuatku dongkol.
Perempuan berbaju merah maroon dengan rambut diikat ke atas, sepertinya merupakan pemimpin geng. Jelas, dia tampak seperti kepala preman versi wanita.
Mereka menghampiri kerumunan kami. Dengan wajah sombong salah satu diantara mereka datang menyapa dan memperkenalkan diri. Tidak ada anggun-anggunnya sama sekali, lebih terkesan overact dan menyebalkan. Tahan emosi, Na. Batinku.
"Hay, lama nggak bertemu nih!" ucap salah satu gadis sambil mengibaskan rambut. Pamer rambut, sepertinya.
"Hay juga ... Icha!" sapa Tri sopan.
"Kumpulan cewek-cewek berhijab? Jadi kalian nggak pernah lepas benda itu lagi?" seru seseorang dari belakang Icha, wajahnya sangat familiar bagiku.
Dia melirik tajam, rambut pirangnya yang tergerai sedikit membuat kawan lain pangling melihatnya. Jika dia ingin minta konsultasi fashion, aku bisa memberikan gratis untuknya. Arrhgh She is fashion terrorist, bless my eyes, God!
"Selamat datang di ulang tahun Icha dan Reunian sekolah kita! Selamat datang Geng Kimia ...," lanjutnya mengulurkan tangan dengan gelang emas berbentuk ular keket. Dengan sigap Tri menyambut tangan perempuan berkulit gelap itu.
"Hay ...."
Aku mendekat dan menyapanya dengan salam ringan, dengan santai dia juga membalas salamku.
"Nana? Kamu Nana Rahayu ‘kan?" tanyanya ingat padaku. Ya iyalah dia ingat, who's the most annoying girl's in the past? Thats you, right!"
"Apa kabar Yani? Kamu berubah ya? Aku baru tahu loh, kalau rambut kamu ternyata pirang ya?"
"Kok kamu nggak pernah ada kabarnya sih? Terakhir aku dengar kamu mau menikah?" sela Icha mencoba menengahi. Jika dibiarkan aku bisa cekcok dengan perempuan itu. Ah, menyebut namanya saja aku geli.
"Terima kasih sudah mengundang aku ya, Cha, tapi nggak pantas sih kalau aku bilang kabar aku tuh baik! Karena bukan itu yang kalian harapkan."
"Maksud kamu apa?" Yani terlihat dongkol.
"Loh, bukannya kalian berdua yang paling senang kalau Nana, maksud aku, kalau kak Nana nggak ada kabarnya?" jawab Tri tampak masih kesal atas masa lalunya.
Tri ini benar-benar keterlaluan. Dia bahkan tidak menyapa-ku, atau dia merasa tidak perlu menyapa karena dia lebih banyak menghubungiku via skype dibandingkan Ima atau Ani. Eh, sudah main jadi pagar betis saja. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.
"Ayolah Tri, ini hari bahagia 'kan! Jangan jadi kompor deh!" tegur Yani pergi meninggalkan kami.
"Maafkan Yani ya ... Dia baru saja gagal nikah, jadi dia agak sedikit sensitif! Dan ya … kalau nggak kayak gitu, bukan Yani kan namanya. Iya, nggak?" Icha menggenggam tanganku mesra.
"Nggak apa-apa kok!" Aku tersenyum.
"Hay! Maaf aku telat!" ujar laki-laki berbadan tegap. Dia berdiri diantara aku dan Icha.
"Riski, apa kabar? Kok kamu telat sih?" Ima menyapa dengan senyuman khasnya.
"Maaf ya, tadi ada sedikit masalah. Aku baik-baik aja kok! Iya ‘kan, Sayang!" jawabnya santai.
"Ya sudah, anak laki-laki langsung ke sana aja! Jangan di sini!" perintah Icha pergi meninggalkan kami.
"Kok kamu telat sih?" tanyaku pada Riski.
"Maaf, aku kan yang ngajakin kalian, eh malah aku yang telat! Yasudah, aku say 'Hai' ke mereka dulu ya ...," pamit Riski padaku. Hanya anggukan yang bisa diberikan untuknya.
***
Yani berdiri di panggung kecil, dia bertugas sebagai MC di acara ini. Cocok dengannya, gadis yang dulunya berapi-apa dalam segala hal ini, masih tetap sama. Yani tak berubah, hanya penampilannya saja yang terlalu kontras. Mungkin benar kata Icha, itu hanya efek dari gagal nikah.
Tak lama bercuap-cuap, Yani segera meminta Icha selaku penyelenggara acara untuk naik ke panggung.
"Oke, selamat malam semuanya …. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Selain reunian SMA kita nih, hari ini juga ulang tahun aku ya ... dan oh ya bukan hanya itu sih. Malam ini aku akan mengumumkan sesuatu!"
"Ciyyee!!!" ucap kami beramai-ramai. Secara teknis aku tidak akan terkejut dengan pengumuman Icha.
"Kamu bisa naik, nggak?" ucap Icha menunjuk lelaki di sisiku.
"Whoooaaa ...," teriakan itu terdengar semakin ramai.
***
Bersambung
Terima kasih bagi pembaca setia YOU, terima kasih karena sudah bersedia membaca karya amatiran ini.