YOU OR YOU?

YOU OR YOU?
Chapter 14: Minta Maaf, Tidak Mudah



Indra terdiam sesaat. Mulutnya tampak kaku, suaranya berat. Setelah menceritakan apa yang kudengar dua hari lalu, dia benar-benar mati kutu.


 


"K-k-kamu tahu?"


"Iya! Jadi, jangan pernah mendekati aku lagi, apapun alasannya!" ujarku melewatinya menuju mobil yang sudah ada di depan.


"Tapi, aku cuma ingin ada di sisimu!" ujarnya menghentikan langkahku.


"Maaf! Tapi, faktanya aku cuma mainan kan.Udahlah, jangan ganggu aku lagi! Anggap saja kita tidak pernah bicara!" ucapku masuk ke mobil.


“Jadi ini alasan kamu marah padaku sejak kemarin? Ini alasan kamu, Na?” panggilnya mengetuk jendela mobil.


Marah?


Oh tidak, ini bukan kemarahan. Untuk apa aku marah, ini hanya sebuah kekecewaan.


Sejenak aku terbuai dan berpikir bisa berteman dengannya, sama seperti yang lainn, tanpa harus didasari alasan apapun. Tapi, aku salah. Aku mengabaikan suara patah hatinya itu.


Di sisi siapa? Untuk apa? Apa dia serius padaku?


Tidak! Aku sama sekali tidak terpengaruh olehnya dan aku tidak ingin terpengaruh. Hatiku tidak serapuh itu, Hatiku sekuat baja. Hanya hati bijak yang bisa meluluhkannya.


***


Sebelum pulang ke rumah, hari itu aku mampir dahulu ke tempat praktek dokter. Mendapatkan penanganan yang baik, mengakhiri hari sekolah yang sangat melelahkan.


***


Beberapa minggu berlalu, jika di Indonesia ada empat musim maka musim ini adalah musim panas yang paling tidak kusuka. Aku tidak suka berkeringat.


Ujian kenaikan kelas masih tersisa beberapa minggu lagi, kami pun mulai disibukkan dengan materi kelompok dan soal-soal yang tidak pernah bosan keluar dari buku yang dibawa guru.


Saat pelajaran selesai dan kami menunggu guru berikutnya masuk. Riski, yang sekelompok denganku belum kembali ke tempatnya. Dia masih berada di meja yang sama denganku.


Sedari tadi, Riski terus saja menatap Ima, senyumnya tertahan saat Ima menatap kami. Ima datang menghampiri untuk memberi buku yang kupinjam karena dua hari setelah sakit, aku baru bisa masuk sekolah lagi.


Ah, di penghujung semester ini aku sering sakit lagi. Ima berdiri di sisi Riski, wajah Riski perlahan memerah padam. Aku tertawa tak tertahankan lagi saat melihat ekspresi curi-curi pandangnya itu.


"Kenapa?" tanya Ima ikut tertawa. Melihat aku dan Riski saling melempar ekspresi rahasia.


"Tidak, terima kasih bukunya. Aku pinjam dulu ya," jawabku. Ima menggangguk dan kembali ke tempat duduknya. Riski melihat aneh padaku, aku tersenyum padanya seolah tahu sesuatu. Riski menggelengkan kepalanya saat mataku mulai menginterogasinya.


"Jangan berpikir yang enggak-enggak loh! Aku cuma mengaguminya, semakin hari dia semakin cantik!" ujarnya kelihatan kikuk.


“Siapa?” Aku menggodanya.


“Ka … kamu nggak perlu tahu!” culasnya.


"Coba saja kamu mau terbuka sepenuhnya, mungkin aku bisa bantu kamu?"


"Bantu aku? Kamu tuh yang butuh bantuan Nana, kenapa menolak lelaki idaman di tempat ini?"


"Bukannya kamu yang bilang dia nggak pantas untukku?"


"Terima kasih sudah mendengarkan saranku ya …," jawabnya.


"Terima kasih sudah mengingatkan aku!" Aku menertawai tingkah Riski yang tampak kaku.


***


Aku berlari mengelilingi lapangan, berdiri paling ujung dari barisan kami. Aku menjadi pelari terakhir yang tertatih dalam pelarian, yang sedang berusaha membuat adrenalin ini mengalir kencang. Senyuman puas tak bisa tertahan lagi, lama tidak berolahraga membuat syaraf-syarafku terkejut. Tapi, ini sangat menyenangkan.


Usai berolahraga aku, Ani, dan Ocha duduk di tepi lapangan. Kami melepaskan penat sambil menunggu giliran praktek men-dribble bola basket.


Ocha juga terus saja menceritakan padaku, apa yang terjadi kemarin. Merasa perlu untuk mengetahu gosip-gosip yang sering kulewatkan ketika izin sakit. Kami hanya bisa tertawa bersautan, saat Ocha bercerita tentang Alisa yang tercebur got, karena melemparkan cacing tanah kepada Nirmala.


Saat itulah tiba-tiba dia datang, aku mencoba memalingkan wajah dari arah kedatangannya. Dia terus saja berlari kecil, hingga sampai di hadapan kami.


"Apa?" cuekku.


"Boleh bicara?"


"Maaf!" Aku pergi meninggalkannya begitu saja.


"Maaf …," selanya tiba-tiba. Itu bukan terdengar seperti dia mengulangi kata-kataku.


Itu terdengar seperti sebuah pertanyaan, maukah kau memaafkanku? Aku berhenti dan melambai pada Ima dan Ocha, mengisyaratkan agar tak perlu melihatku. Aku berdiri untuk menunggu kelanjutan ucapannya.


"Kenapa kamu minta maaf? Aku yang seharusnya minta maaf!" Indra pergi saat menyelesaikan kalimatnya.


Apa-apaan dia itu? Apa maksudnya?


Aku berbalik melihatnya pergi menuju kerumunan teman-teman yang sedang latihan basket. Sejenak, terpikirkan sesuatu yang aneh. Mengapa aku harus merasa kasihan padanya?


Kupertegas langkah kecil ini, menjauhi Ima dan Ocha. Aku ingin semuanya beres dan tidak ingin punya masalah dengan siapa pun.


"Indra!" panggilku berdiri di belakangnya, Indra berbalik secepat kilat.


"Nana?"


"Tadi kamu mau bilang apaan?" lanjutku.


"Ak-aku, hmmm—" Indra menggaruk kepalanya, pasti sedang memikirkan sebuah alasan. "Aku mau minta maaf!" lanjutnya mantap. Bilang gitu aja kok ya susah banget sih, Ndra.


"Untuk apa?"


"Atas taruhan itu,” jawabnya pasti.


Ini kesempatanku untuk mengerjai Indra, setidaknya aku bisa membalas tatapan jahat Yani melalui Indra.


"Aku akan memaafkan kamu, kalau kamu bisa mendapatkan maaf dari Tri juga.” Aku menantangnya.


"Kenapa aku harus minta maaf padanya?"


"Tri juga nominasi taruhan kalian ‘kan?" sindirku.


"Iya, tapi?" tolaknya berpikir.


Aku tahu Tri dan Indra selama ini terlibat perang dingin, entah apa alasannya. Tapi, saat mendengar tentang taruhan itu Tri menjadi sangat marah. Jika melihat karakter Tri yang memang sudah culas dan gila, pasti Indra dalam bahaya.


Mengingat betapa terkenalnya anak itu zaman smp dulu, terkenal karena mulut pedasnya yang bahkan berani melabrak kakak kelas. Indra harus punya cukup nyali untuk menghadapi cabe rawit, sepedas dan segila Tri.


Indra masih diam, dia menundukkan kepala untuk detik yang lumayan lama. Aku melihat ada kekalutan di wajahnya. Sebenarnya, Riski sudah menceritakan tentang watak Indra. Dan, dari cerita Riski sangat tidak mungkin jika dia akan semudah ini meminta maaf.


"Oke!" ucapan itu pun keluar.


Indra meluruskan pandangannya ke arah teman-teman yang sedang berkumpul. Mengangkat lehernya, menegapkan pundak tampak mengumpulkan keberanian, dan memantapkan hatinya. Langkah yang diambilnya pun terlihat siap.


Aku tersenyum, dan berharap padanya untuk sesaat. Dia melihatku sejenak dan kembali menatap Tri diantara kerumunan gadis-gadis resek yang siap saling membela.


Glleeek. Kakinya gagal melangkah.


"Aku minta maaf ke Tri, nanti jam istirahat saja ya ...," tawarnya pergi ke arah yang berlawanan, bahkan tanpa menunggu jawabanku dia pergi begitu saja.


Aku terdiam melihatnya, sudah kuduga dia tidak sedang berada dalam level tulus untuk meminta maaf padaku atau pun Tri. Lagipula, bagi Indra mungkin minta maaf tidak akan semudah itu.


Selesai pelajaran olah raga, Sisi menemuiku dan mengajak ke kantin. Karena kangen, dia memintaku untuk menemaninya. Lima menit lagi jam istirahat berakhir.


***


Bersambung


Terima kasih bagi pembaca setia YOU, terima kasih karena sudah bersedia membaca karya amatiran ini. Terima kasih telah memberikan waktu, like dan komentarnya untuk saya. Terima kasih banyak. Jangan lupa komen, biar aku bisa feedback ke ceritamu ya...