
Aku hanya tertunduk diam, saat mendengar cerita Riski.
Dia benar-benar hebat, aku bahkan merasa bisa melihat semua kejadian yang diceritakan. Sepertinya, Riski baru saja meminjam pintu ke mana saja milik Doraemon dan membawa menuju hari dan ingatan yang tidak kumiliki itu.
Tapi, apa ini? Apa aku tampak seperti benda yang bisa diperebutkan? Apa yang dipikirkan dua orang gila ini? Harga diriku terluka, sekarang.
Oh, Doraemon beri aku konyaku penerjemah! Agar bisa menerjemahkan hati dua anak laki-laki yang terus mengganggu ini. Aku bahkan bukan Nobita, kenapa mereka membuatku tampak bodoh? Atau aku harus jadi Shizuka yang pura-pura berteman meski tahu perasaan Nobita.
Aku menengok sejenak, melirik Riski yang terhenti dalam ingatannya. Batin begitu ingin berteriak, tapi teriakan itu hanya bisa keluar dari sela ujung tangisku. Entah apa yang bisa dilakukan sekarang?
Apa aku datang ke tempat ini hanya untuk menjadi benda yang bisa mereka mainkan? Apa aku harus meminta Pikachu menyambar kepalaku dengan petir, agar bisa hilang dari tempat ini?
"Maaf!" pintanya terdengar tulus. "Mungkin aku bodoh, menyelamatkan kamu dari taruhan dengan taruhan. Aku orang paling berdosa, Na," lanjutnya.
Ucapannya menggema di telinga. Aku menggangguk seolah mengerti, namun mengabaikan ucapan Riski dan mengambil tas. Berjalan pelan menuju kelas, seperti orang aneh.
Kawan-kawan mulai berdatangan satu persatu, tapi aku masih tenggelam dalam cerita Riski. Mereka seperti mengelilingiku, rasanya aku ingin pingsan saja. Bila aku menangis, ini akan semakin kentara. Akan terlihat bahwa aku sedang kecewa kepada Riski.
Kugigit lidah menahan tangis, dan mencoba meluruskan postur seolah tak terjadi apa-apa.
***
Suara seseorang yang kukenal mulai menari di telinga. Dia memanggil ‘Nana’ dengan lembut. Ajaib, suaranya memecah kebekuan di otak.
Ya Allah, itu suara yang akhir-akhir ini sering kurindukan, batinku menyela ingatan.
Kini hanya bisa menunduk, tak lama kemudian kumantapkan mengangkat kepala dan menengoknya yang sedang tersenyum.
"Kamu sudah bertemu Riski?" lanjutnya mengejutkan. Segera kuatur napas dan hanya mengangguk pelan lalu kembali mengalihkan pandangan menghindarinya.
Nana, jaga pandanganmu! Batinku menenangkan.
"Nana? Kok diam!"
"Kamu jahat!" Datarku menatapnya lurus.
Deg.
Dia segera memalingkan wajahnya ke sisi kanan, matanya tampak sayu. Dengan suara yang tiba-tiba berat dia berkata, "Maaf!" Aku luluh mendengar ucapannya.
"Nana, Riski su-dah cerita semuanya dan a-aku juga. Kita berdua saha-bat dan karena ka-mu kita jadi berlomba," gagapnya ragu.
"Sudahlah, Ndra, aku sudah tahu semuanya kok. Aku hanya nggak habis pikir, kalian anggap apa aku ini?" tangisku pelan.
"Aku tahu ini salah, caraku yang salah. Aku harap kamu bisa maafin aku. Tolong maafkan aku ya, Na!" Indra memegang lenganku menyandarkan badan kecilku ke dinding depan kelas.
"Aku memaafkan kamu kok, Allah saja maha memaafkan. Hanya saja, jangan ganggu aku lagi!”
Hah, begitu mudahnya kalian minta maaf.
"Aku hanya ingin melindungi kamu! Aku cinta kamu, Na!" Suaranya terdengar meyakinkan, aku bahkan tak sanggup melihat wajahnya lagi.
"Ndra, itu bukan cinta. Aku--"
"Aku cinta kamu, aku sayang kamu. Begitu juga Riski!"
"Aku ini hanya tahu tiga bentuk cinta. Cinta kepada Allah dan Rasul, Cinta kepada Orang tua dan Cinta kepada sahabat. Kalau cinta seperti yang kamu maksudkan, aku benar-benar tidak mengerti,” ungkapku pasrah, sambil sesekali melirik sekitar jangan sampai geng-nya melihatku.
“Kamu sudah dewasa, Na, kamu pasti ngerti.”
“Kalau menjadi dewasa harus paham tentang cinta, aku menolak dewasa, Ndra.”
"Oke. Waktu itu, waktu kamu sudah tahu aku menipu. Kenapa kamu masih diam dan membiarkan aku mendekatimu?" timpalnya.
"Karena aku ingin berteman. Aku takut Yani akan marah karena aku tidak menghargai geng-nya."
"Sudahlah! Mereka sudah datang, Assalamualaikum!" selaku mendorongnya dan masuk ke kelas.
***
Aku hanya bisa diam, tak ada kata yang bisa dirangkai untuk mengungkapkan isi hati ini. Aku mengambil ponsel dan mengirim SMS pada Indra dan Riski, entah apa yang ada di pikiranku saat ini.
Keduanya dengan cepat membalas SMS yang kukirimkan, hanya ada kata maaf dari mereka berdua.
Kompak sekali mereka ini. Pikirku.
Hari ini pelajaran tambahan dimulai. Dalam kelas aku masih tidak bisa berpikir jernih, sepertinya otakku baru saja jadi kobokan tangan Indra dan Riski, kabur dan membuatku pusing.
***
Kami bertemu di taman dekat rumah Icha, Indra datang bersama Riski. Itu karena sms-ku tadi pagi. Aku yakin keduanya ingin minta maaf. Jujur saja, kurasa Riski dan Indra mulai mengisi ruang di hati ini.
Sore ini aku akan membuat pilihan tentang tempat di masa depan bagi keduanya.
"Kamu nggak marah?" Riski menatapku.
"Kebetulan kalian berdua datang sama-sama! Aku punya sesuatu untuk kalian berdua!" Riski dan Indra hanya saling menatap polos. "Ini ...," ucapku memberi dua buah buku bertuliskan Cinta yang Islami.
"Buku?" bisik Riski.
"Iya, ini buku yang sering aku baca, sejak smp dulu. Buku ini bercerita tentang hukum pergaulan dan teman, khususnya remaja. Di buku ini dijelaskan bahwa Islam tidak menganjurkan dan melarang mendekati Zinah. Sedangkan, ya… seperti yang kalian tahu pacaran itu mendekati Zinah."
"Kamu mau bilang apa sih?" tanya Indra.
"Sebagai hukuman untuk kalian berdua, kalian harus menyelesaikan buku ini. Siapa yang paling cepat menyelesaikan bacaan ini dan mengamalkan sesuai dengan yang dimaksudkan penulis atau lebih tepatnya menggunakan Al-Quran dalam mengatur tindakannya. Dia yang akan mendapatkan maaf lebih dulu dari aku!"
"Kalau yang terlambat?" tanya Indra lagi.
"Masih ada banyak buku Islami yang harus dia baca?"
"Kamu yakin ini hukuman untuk kita? Membaca?" Riski tampak tak bisa menerima. Ya, membaca bukan hobinya. Aku bahkan ingat saat ujian Bahasa Indonesia dia terus mengeluh sedang membaca koran, bukannnya menjawab pertanyaan.
"Oke, aku siap!" sergah Indra.
Aku pun pergi meninggalkan keduanya begitu saja, jika berlama-lama di sini bisa saja buku-buku itu mendarat di pipi mereka.
Jika menarik kesimpulan dari kasus ini. Jika saja bisa membuat grafik fungsi kuadrat dari mereka.
Maka langkah-langkahnya:
* Menentukan titik potong dengan sumbu y (Indra)
* Menentukan titik potong dengan sumbu x (Riski)
* Menentukan persamaan sumbu simetri dan nilai ekstrim fungsi (Aku)
* Menentukan beberapa titik pada parabola (kawan-kawan)
Hubungkan saja titik-titik di atas sehingga terjadi kurva parabola.
Sayangnya, hidup ini tak semudah rumus matematika, namun tak sesulit itu juga. Hidup lebih kompleks, berirama dan berbahaya.
Semoga mereka jera. Walau aku sendiri bingung, kenapa bersikap seperti ini? Apa aku sudah tidak waras dan pelan-pelan menjadi gila?
***
Bersambung
Terima kasih bagi pembaca setia YOU, terima kasih karena sudah bersedia membaca karya amatiran ini. Terima kasih telah memberikan waktu, like dan komentarnya untuk saya. Terima kasih.