YOU OR YOU?

YOU OR YOU?
Chapter 2: Tantangan Yani



Ini hari senin, tepatnya senin kelima Nana Rahayu memasuki sekolah. Nana itu ibarat buku diari yang sering dipakai gadis-gadis untuk melaporkan hari-hari mereka.


Aku pun membuat Nana menjadi bagian dari buku diari milikku sendiri


Masih kuingat hari pertama Nana masuk kelas adalah hari jumat, tepat menyela pelajaran bahasa Arab dari Ibu Lisa. Ibu Lisa dan Nana memiliki kemiripan di matanya.


Meskipun sudah lebih dari sebulan, jumlah kehadiran Nana terbilang sangat sedikit. Dalam seminggu, mungkin hanya dua atau tiga hari saja dia datang ke sekolah. Aku merasa ada yang aneh. Apakah Nana sakit parah? Sakit yang bisa membuat aku tak punya banyak waktu bersamanya? Oh, tidak! Semoga Nana sehat selalu.


Karena ini hari senin. Upacara bendera pun dimulai. Akhirnya untuk pertama kalinya, aku bisa melihat Nana berdiri di upacara bendera senin ini. Karena setiap senin, Nana selalu tidak hadir. Tentu saja aku sangat menantikan hari seperti ini. Begitu melihatnya turun dari motor, pagi tadi, aku sangat bersemangat.


Kelas Sebelas lah yang menjadi pelaksana upacara, kali ini. Ada si cantik Kak Ayu dan temannya yang terkenal bolot, Sisi kah namanya? Ya, Kak Sisi. Keduanya menjadi pengibar bendera.


Dalam barisan upacara aku berdiri tepat di samping Yani, dan di depan Yani ada Nana. Keberuntungan macam apa ini?


"Yani!" Aku menarik tangan Yani, mendekatkan mulutku ke kepalanya. "Gangguin Nana gih!"


"Gimana?" bisiknya.


"Dielus, kepalanya!" pintaku sembari memberi contoh mengelus kepala Mike. Rambut lengket kelebihan p*made membuatku menurunkan tangan ke pundaknya. Menyeka bekas lengket itu di sana.


Yani pun menurut, dia mulai mengelus kerudung Nana secara perlahan. Aku bisa melihat Nana tidak nyaman. Aku mencolek tangan Yani, mengisyaratkan agar Yani membuat Nana menoleh.


Aku pun meminta Joko yang ada di belakang untuk melambaikan tangan kepada Nana.Perlahan, Yani pun menyentuh pundaknya.


Yani berbisik. Anak ini cepat tanggap sekali. Sahabatku memang yang terbaik. Nana seketika menoleh, Yani pun menunjuk seseorang di belakangku. Si gendut, sedang melambai penuh semangat kepada Nana, aku hanya bisa menahan tawa. Joko adalah anak yang paling besar dan kuat di sekolahan, namanya bahkan seperti ucapan terima kasih, karena sering didengungkan terus-menerus. Namanya sering disebut karena mudah diucapkan.


Joko! Joko! Joko!


"Amit-amit," oceh Nana kaget tak bisa menahan ekspresi.


Aku dan Yani mencoba untuk menahan tawa, bukannya menunduk saat Hening Cipta sedang didengungkan, aku malah jadi sakit perut, terbayang wajah shock Nana barusan.


Upacara selesai. Barisan pun bubar jalan. Ketua upacara membubarkan barisan. Secara tak teratur seluruh murid pun berhamburan acak. Aku mendorong Nana dengan tubuh ini. Dia terhenti lalu menoleh ke kanan, aku bergegas pergi ke arah kiri dan berjalan di tengah kerumunan.


Lalu, berhenti di sisi taman. Aku lihat Ani menggandeng tangannya dan keduanya berjalan bersama menuju kelas. Ani mengeluarkan sapu tangan ungu dan menggenggamkan benda itu ke tangan Nana. Aku heran, Nana juga mengucap terima kasih. Untuk apa sapu tangan itu?


Nana dan Ani semakin dekat ke arahku. Sejurus kemudian aku berdiri tepat di belakang mereka.


"Loh, memangnya kenapa kita harus duluan ke kelas?" Suara Nana kini terjangkau oleh telingaku.


"Sabtu kemarin kamu nggak masuk 'kan? Jadi hari ini kamu itu milikku ... hahaha ...," tawa Ani ngakak. Hmm ... ngakak mulu nih anak!


Dari belakang Ima tiba-tiba berteriak keras. Lalu, melewatiku begitu saja.


Aku pun melambatkan langkah ini. Bergerak ke belakang Riski yang sibuk mengganggu dua gadis di depanku. Dia sibuk menarik-narik kerudung. Aku bisa melihat Nana yang menoleh dan sedang tersenyum ke arah Riski sambil melambai.


Sejak kapan mereka sedekat itu?


***


Aku hanya bisa tertawa melihat Yani yang selalu tertolak saat mendatangi Nana. Entah sudah berapa kali dia menyombongkan geng kami yang memang diisi anak-anak usil dan cerdas. Oh iya, tentunya harus cerdas.


***


Menghitung menit menuju jam pelajaran terakhir, hari senin yang sibuk ini terlalu melelahkan. Ingin rasanya aku pulang ke rumah secepatnya, tetapi pelajaran komputer di jam terakhir ini tidak boleh dilewatkan. Aku tidak ingin dimaki-maki oleh Pak Guru.


Bosan menunggu, aku meninggalkan meja tempat anak-anak berkumpul. Berdiri di jendela sebelah kiri ruang kelas. Sembari bernyanyi kecil.


Suara Nana menghentikanku, aku menoleh dan melihatnya terluka. Jari Nana tergores silet saat sedang meraut pensil. Riski, Yani dan Ani bergegas menuju ke tempat duduknya. Riski dan Yani yang tadinya ada di sekitar tempat dudukku tiba-tiba saja berlari saat mendengar seruan Nana. Ani yang sedang membersihkan papan tulis pun datang ke meja Nana sedikit terlambat.


Aki terus memperhatikan, Nana dihadapkan pada tiga tangan yang ingin membantunya.


"Udah kayak Tuan Putri aja," ucap Icha yang sudah duduk di bangku dekat tempatku berdiri.


"Kamu nggak ikut bantuin dia?" tanyaku pada Icha, lalu kembali memperhatikan Nana. Kulihat Nana memilih plester yang diberikan Ani.


"Ngapain? Nggak ada kerjaan banget sih!"


"Yani kenapa sih? Udah sebulan, maksa banget Nan masuk geng kita."


"Namanya juga Yani, kalau udah suka sesuatu dia harus dapat. Kalau nggak dapat--"


"Akan dihancurin!" selaku menatap Icha yang tersenyum santai.


"Begitulah!" imbuhnya sibuk menggoyangkan kaki.


Ya, itu lah yang aku takutkan. Aku harus tahu alasan Yani terus memaksa dan mendekati Nana.


***


Sepulang sekolah, aku dan Yani bicara empat mata di depan toilet. Ini markas rahasia kami. Aku penasaran apa yang menjadi motifnya mendekati Nana. Setiap Nana hadir, setelah sakit. Yani akan mendatangi mejanya dan memaksa Nana untuk bergabung dengan geng kami.


"Nggak ada yang perlu dijelasin lah!" Yani melipat tangannya di dada. Bersandar ke dinding. Menanggapi pertanyaanku dengan santai.


"Seenggaknya pasti punya alasan kan?"


"Kalau Nana di dekat aku, aku bisa bikin dia kelihatan bodoh!" jawabnya menatapku tajam. Jawaban macam apa itu?


"Awalnya, aku cuma pengin temenan aja. Tapi, kayaknya dia memang orang sombong. Makanya aku mau dia gabung sama kita-kita."


"Biar apa?"


"Biar dia bisa pinjamkan otaknya!" jawabnya sok cute.


"Kamu gila!"


"Bukan gila! Kita harus punya backingan yang kuat buat jadi juara satu dan dengan otaknya Nana, yang jarang sekolah sekali pun, tapi masih bisa jawab soal ulangan harian dengan sempurna. Fix! Kita bisa pakai itu!"


"Mau manfaatin Nana?"


"Iih, pintar banget sih Indra ...."


"Tapi, kenapa? Kita kan bisa belajar aja!"


"Dia harus bertekuk lutut di kakiku. Supaya, kalau ada ujian nanti. Dia akan bagi jawabannya dengan kita semua. Aduh, susah banget deh jelasin ke orang baik. Eh, kamu kan playboy!" tawanya puas.


"Ya nggak gitu juga caranya, Yan!"


"Nggak! Itu udah yang terbaik. Aku capek disuruh Papa untuk jadi anak pintar. Nana kuncinya. Aku cuma butuh Nana di geng kita."


"Itu nggak masuk akal!" Aku mendadak geram. Alasan macam apa itu?


"Makanya kamu bantuin aku dong, biar masuk akal. Jangan duduk jauh-jauh kayak gitu!"


"Aku masih nggak ngerti!"


"Kalau Nana tetap nggak mau gabung. Ya, aku akan gangguin dia seumur hidup!" Otak usil Yani, kumat lagi sepertinya.


"Jangan!"


"Jangan kenapa?" Yani mendekatkan wajahnya. Aku mendadak gusar. Bisa didepak dari geng kalau aku melawan. Papa Yani kan adalah bos Papaku. Bahaya!


"Jangan ragu-ragu!" imbuhku.


"Gitu dong! Ke depannya kita nggak akan bahas ini lagi ya!" Dia mengusap pundakku lembut.


"Nggak!" Aku menyelanya.


"Apalagi sih, Ndra?" teriaknya.


"Kalau Nana menolak, jangan dibully!"


"Ya, kamu emang siapanya dja? Pacar Nana juga bukan! Dekat juga nggak!"


"Kalau aku jadi pacarnya gimana?"


"Oh bagus, dia bisa gabung geng kita dan nggak akan aku bully deh."


"Oke, jangan bully Nana!"


"Jadi, kita bersaing nih?" tanya Yani.


"Kok bersaing?"


"Kamu suka Nana ya?" Yani balik bertanya.


"Itu ...."


"Kalau suka, lebih bagus lagi dong!"


"Iya." Aku memantapkan hati.


"Oke, karena Nana orangnya tuh susah dideketin. Aku aku kasih waktu kamu. Sebelum ujian semester. Gimana?"


"Oke!"


"Tapi, kalau kamu kalah. Kamu harus pacarin si Tri."


"Siapa? Tri? Anak cerewet itu? Nggak aah!"


"Itu hukumannya! Tapi, bisa jadi hadiah juga sih." Dia tersenyum. Aku tidak bisa menebak isi hati dan kepala Yani.


"Aku akan pacarin Nana, tepat waktu. Sampai hari itu, kamu bisa bujuk Nana. Tapi, jangan sentuh dia!"


"Ooh ... Indra Gunawan. Keren ... Nana pasti suka nih! Fighting ya!" ujarnya meninggalkanku.


Siapa yang gila di sini? Aku atau Yani?


***


Bersambung