YOU OR YOU?

YOU OR YOU?
Chapter 29: Sang Juara



Lelaki yang dipanggil Icha bergegas menuju panggung. Saat itulah seseorang menyentuh pundakku.


"Aku cari kamu ke mana-mana, tahu!" bisiknya terdengar sebal.


"Aku 'kan sama anak-anak Kimia! Lah kamu darimana? Bukannya jemput di bandara, malah minta aku langsung ke rumah, kamu pikir transit di Jakarta nggak capek apa?" lanjutku bicara tanpa menatap pria itu.


"Dari toilet. Itu Icha mau mengumumkan apaan sih?" tanyanya serius, aku mengabaikan dan memperhatikan laki-laki yang dipanggil Icha itu.


"Cepetan, Woy!" teriak Yani, tidak sabaran. Sekaligus kesal dengan tingkat kepedean lelaki yang sedang menaiki panggung sambil melawak.


"Oke, sayang! Kita umumkan bersama ya ...," kata Icha mesra.


"Oke!"


"Teman-teman semuanya, malam ini aku dan pacar aku akan segera tukar cincin, kita sudah selesai lamaran. Semoga bisa cepat menyusul Ani yang hari ini baru saja melahirkan, Ima yang baru nikah 3 bulan lalu dan Nana yang akan segera menikah seminggu lagi!" ungkapnya.


Aku dan calon suami hanya tersenyum mendengarnya. Seminggu apanya, itu masih sepuluh hari lagi.


Aku datang ke Indonesia untuk mengurusi pernikahan dengannya. Semoga ke depannya tidak ada kata aku dan dia, melainkan kata kami. Aamiin.


***


Suara nyaring bayi itu membuat semua yang ada di tempat ini mulai merasa risih. Rengekan bayi berusia enam bulan terus mengganggu. Bahkan kerudung yang ada di kepalaku mulai goyah karena terlalu lama menunggu.


"Kak Iwan!" panggilku tiba-tiba.


"Maaf, Aisyah nggak mau diam nih!" jawab Kak Iwan menenangkan bayi yang ada di pelukannya.


Kak Iwan benar-benar suami idaman, istrinya … oh ya istrinya siapa ya? Tidak perlu kusebutkan siapa dia. Pastinya dia sosok baru yang melahirkan Aisyah, si bayi lucu yang membuatku ingin cepat-cepat nikah.


"Bukan Aisyah, Riskinya mana? Kok belum pada datang sih!"


"Aku sudah telepon dia, katanya macet!"


"Astaga! Kenapa pengantin perempuan yang harus menunggu?" gerutu kakakku kesal.


"Kak .... Kak Nino?" rengekku khawatir.


"Kamu sabar ya, mereka sudah di jalan ‘kan? Jadi ditunggu saja deh ...," ujarnya mencoba menenangkan.


“Tante Rara dan mama mana nih? Aku gugup nih,” lanjutku meminta kak Nino memanggil Bibi dan Ibuku.


***


Suara derap langkah berlari beriringan tiba. Icha datang menghampiriku dengan terengah-engah.


"Icha, mana dia?"


"Di depan! Maaf kita telat ya," jawabnya.


"Kenapa juga sih harus dijemput sama kalian. Manja banget tuh anak, nggak berubah."


"Sst! Nggak boleh ngomong begitu! Kamu itu kan sebentar lagi jadi istrinya," tegur Ima.


“Iya, tapi ‘kan—”


“Kelamaan tinggal di Korea jadi berubah gini ya kepribadianmu,” ucap Ani yang memaksa datang usai melahirkan.


Aku tertawa dan berkata bila pengobatan di Korea sepertinya sudah berhasil.


***


Akhirnya dia datang juga, wajahnya tampak pucat. Dia menyita waktuku dengan lamaran dan pernikahan, tapi apa ini? Dia bahkan harus membuatku menunggu.


Tidak tahukah dia pekerjaanku adalah komikus dengan cita-cita desainer? Ah, itu tidak ada hubungannya. Aku hanya sedang gugup. Sangat gugup, sampai rasanya ingin tidur saja.


Akad nikah pun dimulai. Tanganku mulai dingin, entah seperti apa kondisi di situ. Aku merasa sepertinya Lyn sedang manyanyikan lagu My destiny OST dari drama Korea Man from the star.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Nana Rahayu Binti Agus Raharjo. Dengan seperangkat alat salat dan uang tunai sebesar 10 juta rupiah. Dibayar tunai!" ucapnya menyambung kata-kata penghulu.


Dari sisi ruangan aku bisa mendengar suaranya yang tampak gemetar. Bahkan suara ayahku saat berteriak ‘Aamin’, terdengar merdu.


***


Tiba-tiba saja sesuatu terlintas dalam benakku,  beberapa masa lalu yang masih kuingat betul. Kami yang dulu selalu bersama, meskipun saling menyakiti.


Icha pun membuka tirai penutup ruangan.


"Selamat! Kamu sah jadi istrinya Indra Gunawan!"


"Alhamdulillah ...," seruku.


"Ayo, ke depan!"


Aku berjalan pelan menuju wilayah yang baru, seperti ada rumput di setiap langkahku. Terasa nyaman, langkah ini akan berlabuh pada orang yang kini halal bagiku. Orang yang telah kuubah dengan perpisahan telak.


***


Menara petronas, Langkawi, Pulau Redang adalah destinasi liburan musim panasku di Malaysia. Tahun ini, tidak pulang kampung dulu ke Indonesia.


Pulau Redang adalah detinasi terakhir. Pulau ini terletak di perairan Laut China Selatan merupakan salah satu dari sembilan buah pulau yang membentuk taman laut negara bagian Terengganu, Malaysia, serta tempat pemeliharaan penyu yang penting.


Aku sibuk melihat hasil jepretan kamera, ada foto penyu cantik nan imut, foto kelompok kami saat di menara Petronas, serta beberapa foto laut dan langit yang kuambil saat menaiki kereta gantung di Langkawi.


"Kamu, Nana?" Panggil seseorang.


"Ya?" jawabku bingung. Siapa yang kenal aku di sini? Selain teman yang berangkat bersama dari Korea.


"Hai!" Aku terdiam melihatnya. Terkejut sekaligus takjub dan tak percaya.


"Indra?" ucapku menerka. Kaget, penampilannya berubah. Dia tampak rapih dengan gaya rambut buzz-cut yang hitam natural, seingatku rambutnya dulu sejenis undercut. Ini tidak tampak seperti Indra.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Indra menatapku lekat. Aku jadi malu.


"Aku liburan."


"Sendiri?"


"Nggak, sama teman-teman kok. Kamu ngapain?"


"Ada kerjaan di sini!"


"Ohh!" Aku hanya terdiam. Takdir apa ini?


Kami menghabiskan waktu bersama. Bahkan yang lebih lucu, aku dan Indra berada di resort yang sama.


Pada malam harinya, Indra memberiku buku yang pernah kuberikan padanya. Kami duduk di pinggir kolam, menikmati bintang-bintang yang tersebar di beberapa titik.


"Aku baca sampai tamat, loh!"


"Baguslah!"


"Jadi, masih jomlo nih?" Indra memulai serangannya, aku mengangguk. "Yes!"


"Kok, yes?" tanyaku kebingungan.


"Kamu ingat janji kamu, nggak?"


"Janji apa?"


"Kalau kita ketemu lagi dan kamu masih jomlo. Maka, permintaanku akan dikabulkan?"


"Oh, yang itu."


"Gimana? Iya, nggak? Aku menang nih!"


"Iya, apaan ya?"


"Dduh, Na! Jangan bercanda deh. Bertemu kamu di sini tuh, sudah takdir. Dan, kamu itu takdirku!"


"Apaan sih!" Aku mendadak merona. Mungkin Indra bisa melihat wajahku kini memerah.


"Aku masih menunggu jawaban kamu nih! Jangan biarkan sang juara menunggu." Indra masih terus menatapku. Jika ditatap terus menerus kurasa aku bisa meleleh seperti es krim.


"Bohong banget sih!" selorohku.


"Beneran kok, aku jomlo. Kamu? Nggak punya pacar orang Korea, gitu? Atau ada yang udah selesaikan bukunya?"


"Aku kan nggak pacaran, Ndra." Indra tiba-tiba tersenyum. "Kenapa kamu senyum-senyum?" tanyaku penasaran.


"Aku suka banget tiap kali kamu panggil namaku. Ndra ... bikin kangen!"


"Apaan sih!"


"Ciyeee malu," godanya padaku. Kami berdua hanya tersenyum satu sama lain, sesekali tertawa karena salah tingkah.


***


Siapa yang menyangka, kalau aku bisa bertemu dengannya lagi. Itu seperti mimpi. Rasanya aku tak ingin bangun.


Kini tinggal giliran Riski dan Icha, mereka berdua akan segera menyusul kami. Pernah terpikir tidak? Saat sahabatmu akan menikah dengan mantan pacar suamimu. Itulah Riski dan Icha. Semua yang terjadi pada mereka adalah berkat kami, begitu pun sebaliknya. Tapi, semuanya atas ijin dan kehendak Allah.


***


Indra, kini menjadi suamiku. Hanya dia yang benar-benar menyelesaikan buku itu. Hanya dia yang benar-benar tulus dan rela menunggu selama lebih dari 4 tahun.


Tak akan habis kuceritakan ceritaku dan Indra, karena kami pun tak menyangka kini kami sudah menikah. Ini sebuah kisah yang terjadi karena mereka; sahabatku.


***


Bersambung