
"Hah? Maksud kamu yang dia putusin kemarin tuh, cewek yang lain lagi? Gitu? Beda orang?" tanyaku, Tri pun mengangguk penuh semangat 45. "Pacarnya ada berapa banyak sih?" lanjutku penasaran.
"Iya. Jadi, begini. Yang kemarin diputusin sama Indra itu, kata teman-temannya sih baru seminggu gitu jadiannya,” ceritanya kembali dengan semangat kemerdekaan. Membuatku merasa rancu. "Malah yang kemarin diputusin itu Kakak kelas kita loh!" lanjutnya.
"Kakak kelas?" Aku sedikit bergidik. Tri mengangkat pundak ringannya, seolah tak tahu.
"Aku ke tempat dudukku dulu, ya, Kak. Hati-hati looh ...," pamitnya dengan nada seram, meninggalkanku yang terdiam menatap tas punggung berwarna hitam-abu.
Kakak kelas? Sepertinya sekolah ini mulai menggila, bukan hanya para lelaki yang ikutan tantangan cari pacar sebelum lulus atau naik kelas, tapi perempuan juga. Semoga Bu Lisa nggak ikutan.
Lucu, kenapa aku jadi mikirin dia sih?
Sebelum istirahat pertama berakhir, anak laki-laki itu tidak ada, beberapa temannya pun menghilang. Bukan sebuah pemandangan baru, hanya saja apa yang dilakukan ketua kelas saat melihat murid sekelas bolos? Kenapa tak ada reaksi? Apa dia sesantai itu? Kenapa dia yang terpilih?
Setidaknya Yani sebagai sekretaris kelas lebih aktif menangani para pasukan pembolos, dibandingkan wakil ketua kelas yang malah menjadi pelaku utama pembolosan. Tunggu dulu? Apa urusanku? Sudahlah!
***
Setelah berkeliling kantin, aku kembali ke kelas bersama Ani. Kami bergandengan tangan sambil bercakap kecil. Setelah Tri pergi, Ani memaksa minta ditemani ke kantin. Sebenarnya aku nggak mau, tapi sesekali jalan ke kantin tidak ada salahnya.
Setibanya di kelas, tas di mejaku sudah menghilang dan telah berada di tempat lain. Ya, tas itu kembali pada meja pemiliknya. Setidaknya dia tahu diri. Sejenak terbesit, mungkin dia tak jadi membolos. Itu karena Yani, dia membuat para pembolos kembali ke kelas, entah bagaimana caranya? Kegigihan Yani terkadang cukup membantu.
Indra. Dia duduk hanya beberapa meter dari sisi kiriku, kami dibatasi oleh dua teman saja. Tak sengaja aku melihat secarik kertas kecil di atas meja, setelah membukanya aku hanya menemukan beberapa digit angka, yang sepertinya adalah nomor telepon.
Selain itu, ada huruf-huruf kecil yang berjejer rapih tepat di bawah tulisan angka. Mengganggu dan coba memikat pandanganku.
"Kamu Tahu Namaku? Terima Kasih." Bermaksud membuangnya, aku malah memasukkan kertas ke kantong rok panjang, karena wali kelas sudah datang. Kali ini perhatian kuberikan sepenuhnya untuk Pak guru saja.
"Oh iya! Pak Jaya tidak bisa masuk hari ini. Dia meninggalkan bahan mengajarnya kepada saya, karena saya ada jam di kelas duabelas jadi kalian belajar sendiri aja dan jangan ribut! Mengerti?"
"Iya, Pak," jawab kami kompak.
“Horeeee …,” teriak anak-anak laki-laki kegirangan. Dasar! Mereka pasti mau bolos lagi tuh.
"Nana Rahayu?" panggil Pak guru mengejutkanku. Aku menyahut. "Ikut saya ke ruangan sebelah!" lanjutnya berjalan ke luar kelas.
"Kenapa?" tanya Ani kepo.
"Nggak tahu!" jawabku menggeleng mengikuti di belakangnya, kini aku bisa merasakan debaran jantung di dekat leherku.
***
Rupanya Pak guru hanya ingin memberitahukan, soal aku yang tetap akan diberikan jadwal piket kebersihan meskipun sering sakit. Karena khawatir jika tak diberi jadwal piket, bisa menimbulkan rasa cemburu dari iswa yang lainnya.
Sebelumnya, aku tidak mendapat pembagian piket karena sering sakit. Kebijakan wali kelas ini menimbulkan beberapa pertanyaan selama beberapa minggu.
Aku sudah mendengar kabar itu di pertengahan semester lalu, hanya saja kupikir itu tidak benar. Tapi, menginstruksikan jadwal di penghujung semester satu dan memberikan seorang murid jadwal kebersihan untuk semester baru, padahal belum kenaikan kelas, bukannya akan menimbulkan pertanyaan?
Bagaimana kalau ini bisa menimbulkan masalah? Bagaimana kalau mereka akan mempertanyakan legalitas-ku di sekolah. Mungkin aku akan dikira, orang kaya yang lagi pura-pura miskin, karena punya koneksi dengan guru-guru di sekolah ini. Eh, tapi aku 'kan tidak miskin.
Ya, sudahlah, aku akan menerima apapun keputusan Pak Farid. Lagipula, aku sudah jarang sakit. Ke depannya, semoga ini hal yang bagus untukku.
***
Mading sangat menggugah seleraku. Di sini ditempeli prakarya anak kelas sebelah. Kelas kami cukup hanya menjadi penikmat. Anehnya, tak ada satu pun rubrik yang diisi coretan puisi. Aku yang dulu hobi menulis puisi, menjadi tertarik dengan kekosongan itu dan mencoba mengajukan diri kepada ketua kelas untuk mewakili kelas kami.
Herannya, dengan tegas dia malah menolak. Dengan alasan aku tak akan cocok mewakili kelas kami. Ya, aku sadar, selama ini memang selalu bermasalah saat tampil di depan kelas karena sering gugup. Tapi, jika itu menyangkut hal yang paling kusukai, maka takkan ada masalah.
Kesal, aku pun melanggar. Tiga hari setelah naskah puisiku ditolak. Aku nekad menulis dan menempelkan puisi itu di mading, aku meletakkannya secara diam-diam saat pulang sekolah. Berharap tak ada yang tahu jika aku yang menempelnya. Bahka Icha sekalipun takkan tahu.
Lembaran senja menjadi sembilu
Sejuta sajak bukan indah terlalu
Melainkan pelangi yang tersembunyi benalu
Menjadi saksi Sang Maha Tahu
Wahai kau,
Senja yang mengikat waktu
Melepas sembilu menjadi lalu
Kemudian hening di fajar yang baru
Menanti pelangi berbaju baru.
***
Pagi ini semua tak tampak biasa, banyak murid yang berdiri di depan majalah dinding. Dalam hitungan menit setelah sampai di sekolah, aku bisa mendengar rumor bahwa ada puisi bagus di rubrik mading.
Aku dan Ani ikut melihat mading, anak-anak kelas sebelah dan kakak kelas juga ikut mengerumuni tempat ini.
"Puisi siapa nih?" ujar salah seorang perempuan bergelang merah, aku meliriknya untuk memastikan reaksi apa yang ditunjukannya. "Kepedean banget sih? Maksudnya apa coba? Pelangi? Mau ngedukung LGBT ...," lanjutnya sinis.
"Ada yang tahu siapa penulisnya? Minta dia ke ruangan osis," ujar kak Iwan dari arah belakang kami.
Aku menengok dan menatapnya, tatapan kami akhirnya beradu. Dia mengedipkan mata dan mencoba menanyaiku dengan tatapannya. Aku hanya diam, pura-pura bodoh, perlahan kembali menengok papan besar itu.
Ani menarikku, dan mengajak untuk kembali ke kelas. Aku turut saja dan mengikuti langkah kecil Ani. Ternyata tak sesuai ekspektasi, tak semua orang menyukai puisi atau sebenarnya memang puisiku yang jelek sekali. Aku hanya terdiam dan merasa kapok menulis di sana. Tak lagi-lagi deh.
***
Bersambung