
Tumpukan buku di meja itu tampak mengesalkan. Tak ada siapa pun di jendela ponselku, semakin menambah ranah kebosanan ini. Selepas sholat Dzuhur, aku masih duduk di kamar. Hari sabtu ini cepat pulang, jadi aku hanya mengurung diri di tempat ini.
Besok beberapa kelas akan ada pelajaran tambahan di pagi hari, jadi aku harus siap bertemu musuhku. Meskipun besok minggu, hari favorit di mana aku bisa menonton doraeman.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam ...," jawab tanteku membukakan pintu. Aku bergegas berdiri mendengar obrolan singkat keduanya. "Nana, ada Iwan nih," lanjutnya sedikit berteriak.
"Kak Iwan," sapaku keluar dari kamar.
Tanpa berbasa-basi ia segera duduk dan mengutarakan keinginannya. Dia ingin meminjam beberapa buku yang kupunya. Semua itu untuk bahan belajarnya pada persiapan PTN. Aku bergegas ke kamar dan kembali membawakan beberapa buku yang dia mau.
"Oh, iya! Tapi dibalikin ya ... Aku juga kan bentar lagi bakalan jadi kelas ujian."
"Siiip!" Senyumnya hangat. Aku masuk ke kamar dan mengambil beberapa buku, lalu memberikannya kepada Kak Iwan.
"Buku kak Iwan kenapa?"
"Biasalah, hilang"
"Dibikin bungkus gorengan ya?" ocehku jelas. Kak Iwan tersenyun.
"Oh ya?" Kak Iwan tampak ingin mengutarakan sesuatu, aku menunggu dan menatapnya.
"Ada apa, Kak?"
“Masih bermasalah dengan geng Indra? Sejak kejadian pindah kelas?"
"Ini sudah satu bulan semenjak kenaikan kelas, aku sudah baik-baik saja kok. Tidak ada masalah!" jawabku.
"Syukurlah ... coba saja kalau aku masih di situ," gumamnya cukup keras.
"Kak ... Aku mau jujur! Ini sangat mengganggu, sebenarnya ... Aku dan Riski itu, cuma pura-pura!" ungkapku langsung pada intinya.
Dia hanya menatapku, sembali geleng-geleng tak mengerti. Aku langsung kalut melihat ekspresinya, apa aku terlalu bodoh mengungkapkan hal seperti ini kepadanya, bahkan tanpa dia bertanya sebelumnya?
"Aku udah tahu kok ...," kata kak Iwan santai.
"Apa? Kok bisa? Tapi, kenapa Kakak diam aja?"
"Karena aku sayang kamu! Adik kecilku ini sedang ada masalah. Geng Yani itu, pasti membuatmu tidak nyaman, sampai harus melakukan semua hal aneh itu. Iya ‘kan?"
"Tidak, itu bukan karena Yani atau teman-teman yang lainnya kok. Sebenarnya ini tentang Indra!" ujarku mencoba menceritakan apa yang terjadi.
"Iya ... Aku juga sudah dengar tentang Indra yang suka padamu dan rencana dia untuk mengungkapkan perasaannya."
Indra Suka padaku? Bukankah itu rumor yang beredar dan membuatku pura-pura pacaran dengan Riski? Batinku bertanya.
"Maksud kak Iwan?"
"Iya …. Dulu tuh, beberapa kali dia bercerita di ruang OSIS, tentang kamu dan kamu lagi. Pokoknya yang ada di mulutnya itu, hanya kamu."
"Jadi dia benar-benar suka Nana dan bukan cuma untuk taruhan aja?"
"Nah, kalau itu aku nggak tahu sih! Oh ya, pinjam Matematika dan Bahasa Indonesia saja ya .... Minggu depan kak Iwan balikin!”
"Iya, Kak!" Aku menjawab sekenanya saja.
"Ya udah ... aku pulang dulu ya ...."
"Iya kak, hati-hati di jalan. Assalamualaikum!" ocehku.
“Waalaikumsalam,” selorohnya tertawa.
Oh iya, seharusnya dia yang mengucapkan salam, bukan aku. Untuk sesaat, aku kehilangan fokus.
Indra betul-betul menyukaiku? Permainan macam apa ini? Seorang bad boy menyukaiku, ironi seperti apa ini? Orang yang menjadikanku taruhan, benar-benar suka padaku? Gila.
***
Dengan semua kegalauan yang tiba-tiba muncul, aku memutuskan untuk menelepon Riski.
Ah, Kak Iwan ini kenapa harus mempertanyakan hal yang pasti akan menangganggu. Padahal ada banyak hal yang harus aku pelajari, tapi malah berakhir dengan urusan tidak jelas begini.
Memang, ini sedikit terlambat untuk mempertanyakan semuanya, bahkan aku juga merasa hal ini tidak begitu penting, hanya saja rasa penasaran memang berbahaya.
"Assalamualaikum!" Suara Riski terdengar lelah.
"Riski aku mau ketemu!" tukasku. Dia terdiam, mungkin dia merasa aneh karena aku bahkan tak membalas ucapan salamnya.
"Aku nggak tahu rumah kamu!"
"Kita bertemu di taman kompleks rumah Icha!"
"Iya ... ya udah, sekarang nih?" Suaranya terdengar berubah.
"Sekarang laah!" Aku segera mematikan panggilan dan bersiap-siap ntuk mengklarifikasi apa yang sebenarnya terjadi. Lebih ke penasaran sih.
***
Aku turun dari motor kakak sepupu, melirik sekitar taman. Punggung laki-laki yang kukenal nampak jelas, di telinganya ada headset yang terpasang. Aku menepuk bahu dan duduk di sisinya. Sesegera mungkin Riski melepaskan benda itu dari telinga.
"Kamu sudah datang?"
"Jujur? Aku mau kamu jujur Riski!" serangku tiba-tiba.
"Eh, bentar-bentar, tentang apaan lagi nih? Ada apa sih? Kok jadi aneh gini? duduk dulu deh." Riski melirikku dengan mata bulatnya.
"Sudah berapa lama?" Wajahnya berekspresi bingung. "Kamu tahu ‘kan, kalau Indra benar-benar suka padaku. Bukan cuma untuk kelanjutan taruhan atau apapun itu?" tanyaku berharap.
"Kamu bicara apaan sih?"
"Riski jawab aku! Dia itu suka aku ‘kan? Indra beneran suka aku?" paksaku mempertanyakan hal itu.
"Iya, dia suka kamu, dan aku tahu itu! Memangnya kenapa?" ujarnya tiba-tiba bersikap tegas.
"Terus kenapa kamu mau pura-pura pacaran denganku? Bukannya kamu temannya Indra? Kenapa kamu mau menyakiti Indra?"
"Siapa yang mau menyakiti Indra? Seperti yang aku bilang, Na, Indra itu playboy. Aku nggak mau kamu jadi mainannya saja, aku nggak mau pada akhirnya kamu dibuang begitu saja!"
Apa yang Riski pikirkan? Apa dia merasa aku akan menerima Indra sebagai pacar atau apa pun itu sebutannya. Aku salah, Riski bukan sahabat. Dia bahkan tidak tahu apa hal yang kuinginkan atau yang tidak diinginkan. Aku tahu benar di mana pijakan itu berada, jadi sangat tidak mungkin melanggar hal yang sudah kutekadkan.
"Sekarang aku bingung aja, apa sih sebenarnya yang sedang terjadi antara kamu dan Indra? Apa yang tidak aku ketahui? Kamu sudah membuat aku melanggar peraturan yang aku buat, Ris! Aku pacaran!"
"Apa yang mau kamu ketahui?"
"Semuanya!" lanjutku berapi.
"Aku tidak bisa cerita hal itu!"
"Riski, kamu itu sahabat aku loh. Tapi, apa ini? Teman macam apa kamu? Aku nggak minta kamu untuk balas dendam ke Yani dan geng-nya itu kok? Aku cuma butuh jawaban!" ujarku mendesak.
"Oke-oke, aku akan cerita. Tapi, nggak hari ini, beri aku waktu dulu! Aku butuh waktu, Na." Aku terdiam mendengar pembelaannya, ada sesuatu yang sedang disembunyikannya. "Besok kita ketemu di sekolah satu jam lebih awal. Akan aku ceritakan semua yang terjadi diantara kita," lanjutnya meyakinkanku.
Aku sangat tidak suka bila kepercayaan dirusak. Lihat saja dia, apa yang bisa kulakukan jika dia berbohong. Aku memutuskan pergi meninggalkannya.
Dari taman, rumahku cukup jauh, berjalan kaki tidak terasa karena kekesalan ini. Ah, kenapa.jadi tiba-tiba kesal begini?
***
Bersambung
Terima kasih bagi pembaca setia YOU, terima kasih karena sudah bersedia membaca karya amatiran ini. Terima kasih telah memberikan waktu, like dan komentarnya untuk saya. Terima kasih.