YOU OR YOU?

YOU OR YOU?
Chapter 19: Nasib



Aku duduk di bangku paling depan, tepat di sisi kiri ada Indra. Dia tampak santai dan mengabaikanku, sambil sesekali tampak serius dengan buku absen. Mengingatkan pada hari pertama masuk sekolah ini.


Sekarang terbukti, dia benar-benar hanya ingin mempermainkanku. Itu terbukti saat hati ini tak luluh dan mengemis cintanya, dia menjadi sombong dan angkuh. Apalagi kudengar dia sudah sangat dekat dengan Icha.


Aku dikejutkan dengan kemunculannya.


Ala yang Yani lakukan di sini? Hidup dan waktuku serasa terhenti, orang yang selalu memakiku hampir setiap jam, berada di kelas yang sama lagi. Dia duduk tepat di belakang Silvia.


"Hai!" ujarnya menyentuh pundakku, aku menoleh dan tersenyum. Ini sangat kaku, senyuman Yani tak ikhlas, ada kepura-puraan di matanya.


"Nana?" Panggil Riski yang duduk di sudut ruangan kelas. Aku berdiri dan menghampirinya.


"Maaf ya ... Selama ujian sampai dengan hari ini, aku tidak bicara padamu!" tuturnya.


"Tidak apa-apa kok!"


"Nana, hubungan kita?" ucapnya terhenti melirik Yani.


"Hubungan apa?"


"Mereka tahunya kita pacaran dan sudah putus. Aku, cuma mau tahu, bagaimana perasaan kamu yang sebenarnya?" Aku duduk di sebelahnya, sedikit menunduk.


"Hubungan apa?"


"Kamu pasti sadar kan, kalau aku serius sama kamu."


"Riski? Kamu tahu hubungan apa yang paling erat?" tanyaku mengabaikan ucapannya.


"Cinta?" jawabnya polos.


"Yep, betul. Hubungan yang paling kuat itu cinta. Cinta kepada sang pencipta dan orang tua! Di umur ini nih, hanya cinta seperti itu yang aku tahu. Apa kamu tahu cinta lainnya?" ocehku bertanya pada Riski.


"Apa?"


"Sahabat!" jawabku meliriknya. "Aku mau kamu tetap jadi sahabatku! Sahabat kita semua. Kita sudah membuat jalan dan pilihan yang salah dengan berpura-pura pacaran, jadi mari memperbaikinya!"


"Tapi, bagaimana? Aku terlalu bersemangat, aku bahkan sudah menganggap kalau kita benar-benar pacaran! Dan yang terjadi kemarin, hanya sebuah masalah kecil dan kita--"


"Riski, sahabatan lebih baik! Percaya padaku ya ...," selaku memotong pernyataannya.


Riski tersenyum, dia mengalihkan pandangannya pada Indra. "Iya, lagipula rencana kita berhasil. Indra sudah tidak mengganggu kamu lagi, masalahnya tinggal Yani. Iya, 'kan?"


"Iya ... kita baikan nih?" tawarku memberi tangan, dengan santai Riski menyambutnya. Kami tertawa ramai, membuat Indra yang kami perhatikan sedari tadi tampak tak nyaman.


Setelah memikirkannya kembali, mengejar rasa cemburu yang tumbuh karena rasa yang tak pasti adalah sebuah masalah yang harus dihapuskan. Indra kembali dengan kehidupannya, walau terkadang aku merasa dia masih sering memperhatikanku.


Riski yang dingin, akhirnya mulai bicara dan kami pun berbaikan. Masih tak mengerti alasan kenapa dirinya kembali ramah padaku, mungkin suasana hatinya sedang baik. Itu benar-benar lebih baik. Tapi, berpura-pura, sepertinya adalah hal yang tak ingin kulakukan lagi.


Bagaimana kalau hal serupa terjadi? Bagaimana orang yang membantuku justru jatuh hati dan membuat kekacauan karena aku? Itu hal yang tak ingin kualami.


***


Kelas baru ini seperti mimpi, nuansa yang berbeda, beberapa teman juga berbeda. Ada beberapa murid baru yang ada di kelas ini.


Yani mendatangiku dengan senyum puas. Beberapa murid laki-laki berdiri di belakangnya, aku menengok ke belakang, namun tak ada Riski di sana. Takut, aku berdiri dan mencoba menghadapinya dengan tenang.


"Ada apa, Yani?" tanyaku penasaran.


"Kamu pindah kelas!" jawabnya terdengar sombong. Wajah songongnya seolah menertawaiku.


Siapa dia? Berani-beraninya mengusirku dari kelas ini.


"Apa? Kamu bicara apaan sih?" sanggahku.


"Ibu Rania bilang, nama kamu salah! Kamu bukan di kelas kita, lagipula kamu 'kan nggak pantas ada di sini," tambahnya angkuh.


"Hmm hmm, aku nggak ngaco," kata Yani menggelengkan kepala, "angkat mejanya!" lanjut Yani memerintahkan teman laki-laki yang dibawanya. Secepat algojo, mereka mengangkat tas dan mejaku.


"Ini kenapa sih? Yani!" tahanku.


"Nana Rahayu?" panggil ibu Rania menghentikanku yang hendak memarahi Yani.


"Iya, Bu? Ini ada apa ya? Ini kenapa?" tanyaku panik.


"Kamu dipindahkan ke kelas sebelas B. Nilai kamu bagus, tapi Ibu nggak mau kamu dapat masalah di kelas ini!" bisik Ibu Rania, seolah menyembunyikan sesuatu dari murid lainnya. Apa ini? Apa kekuatan Ibu Lisa tidak bisa membantuku lagi, sehingga Ibu Rania tampak menyerah.


"Bbooo!" teriak teman sekelas.


Aku dirundung rasa malu, teman-teman itu meledek. Pandangan mereka seolah menelanjangi, membuat kepala mendadak berat. Apa yang sedang terjadi? Ini bukan mimpi indah, ini mimpi buruk.


"Bu ...," panggilku nanar menahan tangis.


"Sini aku pakaikan tas kamu ya ...," ucap Yani mengganggu, dia mengambil tas dan memakaikannya ke punggungku, sambil memaksa.


"Ayo Nana, ikut Ibu."


"Hhh ...." Aku hanya bisa menghela napas, rasanya seperti ada beras sekarung yang menekan diafragma.


"Kamu lihat 'kan? Aku lebih berkuasa di tempat ini! Jangankan menggerakkan murid-murid, guru-guru juga bisa looh!" bisiknya dengan senyum jahat. Aku menatap mata Yani yang penuh dengan kebencian.


Apa salahku? Dasar monster muka ular, dasar manusia serakah, kutu busuk, bangkai cicak! Semoga tahun depan kamu nggak naik kelas! Umpatku dalam hati.


"Nana!" panggil ibu Rania dari luar kelas.


"Iya, Bu ...."


"Huuuh .... Keluar sana! Ngapain di kelas kita ... Huuuh!" Sorak sorai teman sekelas itu terdengar menghina.


"Nana?" Riski membuatku terhenti saat kami bertemu di depan pintu kelas. "Mau ke mana?"


"Riski?" Aku hanya bisa menatapnya pilu dan memalingkan pandangan dari wajahnya.


Aku berjalan mengekor di belakang Bu Rania. Malu, itu yang kurasakan saat ini. Lihat saja Yani, kali ini aku memang menangis. Kita lihat siapa selanjutnya.


Ani menyambut dan memeluk di depan kelas. Dia menggeleng heran melihatku yang terusir.


"Nana? Kamu nggak seharusnya ada di sini! Icha, dia ada di kelas ini juga!"


"Terserah deh. Asalkan ada kamu, aku baik-baik saja kok!"


"Ayo Nana, kamu duduk di sini!" perintah ibu Rania. Aku berjalan menuju tempat yang ditunjuknya.


Ani melambai, sembari tersenyum. Meletekkan jari telunjuk di sudut bibir dan menarik ujung bibirnya mengisyaratkan agar aku tersenyum.


"Terima kasih," kataku pelan.


Aku duduk di depan Ani, tepat di sebelah Nirmala dan di belakang Mila. Mila adalah sahabat Icha, pendukung terbesar geng Yani alias geng Fisika. Mungkin ini jalan Allah agar aku tetap aman bersama Ani dan Nirmala.


Ibu Rania menjelaskan kenapa aku dipindah ke kelas ini, katanya karena kesalahan teknis. Tapi, aku yakin, ini pasti ulah Yani dan Icha. Dia pasti ingin menjauhkan aku dari Riski dan mencegah rasa di hati Indra kembali padaku. Mereka semua sudah gila, kalau dugaanku ini benar.


Karena Yani sudah punya Icha yang pandai, dia tidak membutuhkan aku lagi. Padahal baru sehari berada di kelas fisika itu, tapi aku harus mengalami semua ini. Nasib.


***


Bersambung


Terima kasih bagi pembaca setia YOU, terima kasih karena sudah bersedia membaca karya amatiran ini. Terima kasih telah memberikan waktu, like dan komentarnya untuk saya. Terima kasih.