YOU OR YOU?

YOU OR YOU?
Chapter 27: Lima Tahun Kemudian



Pagi itu, Indra dan Riski datang menemuiku yang duduk sendiri di taman sekolah. Indra membawakan buku yang kupinjamkan tempo hari sedangkan Riski membawa sebotol air minum.


“Kamu bilang dulu, masih ada sesuatu yang mau kamu lakukan saat kita lulus nanti?” Indra memulai pembicaraan kami.


“Soal apa?”


“Permohonan maaf, buku ini dan soal itu ….” Indra menunjuk papan mading.


“Aaah, soal itu? Itu kalian sudah tahu kok. Aku cuma mau jujur tentang masalah sekolah dan penyakit aku aja, dan mau minta tolong untuk kalian jaga rahasia tentang sekolah lama. Itu aja kok! Tapi, terlambat sudah terlanjur terbongkar.” Aku tertawa renyah.


"Memangnya kamu pernah mencoba untuk bahas hal itu ya? Kok aku nggak ingat sih?" Riski mengingat.


"Kamu kan otaknya dipenuhi wajah Nana dong, mana ngerti!" jawab Indra kesal.


“Jadi, kamu bakalan kembali ke tempat kamu yang dulu. Rumah orang tuamu?” timpal Riski.


“Nggak, aku mau ke Seoul. Ayahku dapat pekerjaan di sana. Jadi aku akan kuliah di sana saja. Semoga dapat beasiswanya juga. Sekalian menghindar, biar nggak ketemu sama kalian semua lagi. Maaf, sudah bohong ya ….”


“Bukunya nggak jadi aku balikin deh! Nanti aja kalau sudah ketemu lagi.” Indra melirikku.


“Kalau kamu, Ris?”


“Apa? Buku? Aku belum baca bukunya, kamu tahu kan aku nggak terlalu suka baca. Apalagi bukunya nggak ada gambar sama sekali, tulisan semua lagi. Seandainya nih, kamu kasih buku matematika, aku pasti menyelesaikan hanya dalam dua hari.”


“Hehehe …. Iya itu pilihan kamu kok, senang lihat kalian berdua seperti ini. Baik-baik ya … selama aku nggak ada … jangan rebutan cewek lagi."


"Yah, siapa yang rebutan!" Keduanya kompak berseru.


"Tuh kan, kalian itu kompak banget. Semoga kita bisa ketemu lagi,” tawaku ringan.


“Apa nggak ada pilihan lagi selain ninggalin kita?”


“Nggak ada, ini sudah pilihan aku. Sampai ketemu nanti ya!” Aku melirik Indra. Dia pasti mengerti ucapanku.


“Oh ya? Apa kamu masih sering merasa cemas? Kan semuanya sudah terbongkar tuh, aku udah cari informasi tentang PTSD. Apa kamu ikut hipnoterapi juga? Masih sering merasa sesak napas? Apa masih sering pingsan tiap ingat kejadian itu. Tulang rusuknya gi—”


“Indra, satu-satu dong .… Nana bingung mau jawab yang mana!” sela Riski mulai kesal.


“Intinya aku baik-baik aja kok. Aku kan memang berencana untuk cerita yang sebenarnya kepada kalian semua, tapi kalah cepat aja dari Yani. Nah, ngomong-ngomong nih ya, Yani tahu darimana sih tentang semua itu?”


“Aku bakalan jujur sama kamu, Na, tante Yani juga pengidap PTSD. Aku rasa dia tahu dari tantenya, kamu sering konsultasi ke dr. Iqbal kan?”


“Iya.”


“Itu tidak sengaja, kamu tahu temperamennya Yani kayak apa. Dia itu cuma butuh pengakuan, lihat kan setelah kamu ngaku, terus dia puas dan sekarang berhenti gangguin kamu.” Mendengar ini dari Indra, terasa seperti mata-mata yang membocorkan kelemahan sekutunya.


“Ehem! Kalian berdua lupa ada aku di sini ya? Ngobrol berdua aja, aku bisa trauma juga nih!” ucap Riski tertawa.


Ani, Tri, Ocha, Ima, Nirmala dan Yaya datang menghampiri. Cara berjalan mereka mengingatkanku pada poster girlband korea; Apink. Mereka bergabung dan tertawa bersama. Mereka mungkin berpikir aku tertawa karena bahagia.


Kami tertawa bersama. Ya, inilah akhirnya. Aku akan kembali ke tempat yang benar.


Maaf, karena sudah mengacaukan hari kalian. Kisahku tak benar-benar berakhir. Aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya pada hidup mereka, mereka pun tak pernah tahu pengalaman apa yang terjadi pada hidupku.


***


Beberapa bulan purnama telah berlalu, sempat ada kejadian gerhana matahari yang mengisi kalender ceriaku. Saat aku meninggalkan Indonesia, tak ada satu pun teman yang mengantar. Dari bandara Jalaludin, menuju bandara Soetta. Dari langit Jakarta menuju langit Seoul.


Lalu, berakhir di Incheon airport dan memutus segala gelisah akan masa sekolahku itu.


***


Waktu adalah jarak antara aku dan dia. Waktu jugalah media tak terbatas yang memertemukan aku dan dirinya. Hari berganti minggu dan tahun pun berganti tahun.


Semuanya telah berubah, bahkan jika waktu di sekitarku terhenti, maka hanya waktu yang kumiliki dengannya lah yang terus berjalan. Hingga mencapai sebuah titik yang disebut, kesetiaan.


***


Bila matahari tidak menyambut dan mengetuk jendelaku dengan sinarannya yang hangat, aku mungkin masih sangat nyaman berada di tempat tidur ini.


Laptop masih menyala, word-ku masih menampilkan beberapa ilustrasi komik. Chapter 3: Anak Laki-laki, begitulah judul komik yang sedang kukerjakan. Sebuah komik yang membawa pikiran flashback selama beberapa minggu ini.


Tidak terasa lima tahun sudah berlalu. Masih teringat jelas di benakku saat pertama kali aku duduk, bercanda, menangis dan memikul rasa yang ada bersamaan dengan mereka.


Ya, aku Nana Rahayu. Komikus Indonesia yang tidak terkenal dan kini menetap di Paju, provinsi Gyeong-gi, Korea Selatan. Hobi kecilku, kini dikembangkan sebagai mata pencarian. Uangku pun tak begitu banyak, minatku terhadap uang yang menjadi lebih besar.


Beberapa minggu lagi, aku akan pulang ke Indonesia. Aku mendapatkan untuk menghadiri acara reunian SMA. Seseorang yang mengundangku untuk hadir di reunian sekolah kami adalah orang yang tak pernah kubayangkan selama beberapa tahun ini.


Akhirnya setelah sekian tahun aku bisa melihat Indonesia lagi. Aku kangen jalanan dan jajanan kota Gorontalo. Aku kangen udaranya, aku pun merindukan dirinya.


Selama di sini, aku hanya bisa video call dengan kawan lama. Aaa, Oraenmaniya! Jadi, aku harus bisa menyelesaikan komik ketigaku yang berjudul Chapter, dengan serial kali ini berjudul Anak Laki-laki. Agar bisa kuhadiahkan pada mereka semua.


Riinggg … riing ….


Nada lawas keluar dari ponselku, aih entah kenapa dia menggantinya dengan nada seperti itu, sementara ada lagu lain yang lebih enak. Dia selalu saja bertingkah sesuka hati, untung saja tidak loncat kesana-kemari.


“Apa?” ucapku begitu saja, ketika ponsel itu mendarat di telinga.


Dia pun mulai mengomeliku, apa pulsanya tidak rugi? Jika menelepon jam delapan pagi hanya untuk menanyakan apa aku sudah salat subuh.


Hei, dia ini!


Aku ambil headset dan menempelkannya di telinga. Segera beranjak dari ranjang dan melanjutkan pekerjaan di depan laptop.


“Terus?” tanyaku menanggapi ucapan-ucapannya.


“Kan aku masih ngejar deadline. Nanti sekalian aja ketemu mama kamu di sana. Kalau pergi sekarang ‘kan jadi buang-buang waktu.”


“Terus kamu mau lama-lama di Gyeong-gi? Kan bisa nerbitin webtoon di Indo. Orang tua kamu udah balik ke Indonesia, eh kamu malah lari ke Paju. Waras, Neng? Waras, Mbak? Waras, No'u?”


“Iya, iya … setelah seri ketiga keluar aku balik Indonesia. Cerewet banget sih!” balasku mematikan ponsel dan lanjut mengisi bubble text di halaman 31.


Sepertinya, setelah memutuskan menerima hatinya. Pria ini semakin menjengkelkan. Aku bahkan belum bertemu Lee Dong Wook atau Ji Chang Wook di sini, malah sudah diminta pulang.


Kulihat koper dan tas sudah siap, tinggal badan ini saja yang harus aku beri semangat untuk mandi.


***


Bersambung


Footnote:



Oraenmaniya: Lama tidak berjumpa


No'u: Sebutan untuk anak perempuan Gorontalo (sejenis Neng dan Nduk)