
Dua bulan kemudian, setelah insiden di jendela.
Selama berhari-hari, dimulai sejak hari itu. Aku terus-menerus mengawasi Nana, secara diam-diam. Jika disebut penggemar rahasia, maka kemungkinan besar begitu. Aku suka sekali saat mata Nana tidak sengaja menatapku.
Beberapa kali pula, kami berdua sering berpapasan. Tapi, Nana sangat dingin. Aku seperti bertemu es batu berjalan. Padahal kami satu kelas, tapi kenapa aku tidak tampak di matanya? Entahlah!
Yani juga semakin hari semakin sering mendekati Nana. Dia tidak mau kalah, dengan tantangan bodoh yang sedang kami lakukan.
Tapi, pengorbanan Yani tidak sia-sia. Pada akhirnya, perlahan dia menjadi akrab dengan Nana.
***
"Sebagai ketua dan wakil ketua kelas kalian itu harus berkontribusi di OSIS. Jangan diam aja!" ucap laki-laki berambut rapih.
"Iya, Kak!" jawab kami serentak.
Pagi ini, kantor OSIS dipenuhi staf kelas. Itu karena salah satu ketua kelas 10 yang menolak untuk berpartisipasi di OSIS. Itu pula yang menjadi masalah utama melambatnya, pemilihan ketua OSIS yang baru.
Kak Iwan, anak laki-laki yang selalu tampil rapih. Dia tidak setenar, Kak Agung. Tapi, ketegasannya dalam mengomeli kami semua sangat menggangguku. Aku tidak suka dia. Dia bahkan bukan ketua OSIS. Aku berharap, staf OSIS lama segera digantikan oleh anak kelas sebelas.
***
Hari ini, Riski mengajakku nongkrong di kantin, usai rapat OSIS. Tumben banget dia, tidak di kelas jagain Nana.
Riski sangat mencurigakan. Dia terus memuji Nana di depanku dan bertingkah seolah dia dan Nana sudah sangat dekat.
"Boleh nggak, stop dulu bahas Nana!" Aku menimpali ocehan Riski.
"Kirain kamu penasaran!" jawabnya menghentikan tawa.
Aku menatapnya ragu. Ini mencurigakan, aku tidak yakin Riski masih ada di geng kami. Jika Yani tahu, bisa dimusuhi seumur hidup dia. Apa mungkin karena Riski tidak tahu rencanaku dan Yani?
Aku pun menceritakan rencana dari tantangan Yani kepada Riski. Tapi, reaksinya berbeda, ceritaku justru membuat Riski tampak kesal. Tapi, aku rasa perlu untuk memanas-manasi Riski. Untuk melihat sedekat apa dia dan Nana.
"Seperti yang kamu tahu, Nana itu anak polos. Aku dan Yani buat rencana ini cuma untuk senang-senang aja kok," lanjutku meliriknya. Apa dia akan terpancing?
"Jadi, itu ya alasan kamu kemarin deketin Nana?" tanya Riski tanpa menatapku.
"Kamu tahu darimana kalau aku lagi deketin dia?" Aku penasaran. Seingatku, baru kali ini bercerita soal rencana membuat Nana jatuh cinta.
"Aku lihat kok, Nana juga cerita! Kamu tuh kelihatan sekali kalau lagi ada maunya," seloroh Riski tampak santai.
"Oh, jadi kalian emang sudah sedekat itu ya?" Aku memancingnya lagi. Entah kenapa aku bersikap begini?
"Iya ... aku minta jangan merencanakan hal yang aneh lagi untuk Nana ya, Ndra ...."
"Loh, kenapa? Memangnya kamu suka sama Nana?" Aku menerka dari sikap Riski, bahwa Riski memang menyukai Nana.
"Siapa sih yang nggak suka sama Nana? Cuma orang bodoh yang nggak suka Nana ...."
"Maksud kamu?"
"Kamu nggak akan pernah bisa menang, Nana itu nggak mau pacaran. Itu aja yang aku tahu.”
"Jadi, kamu mau taruhan denganku?" tantangku tiba-tiba. Entah akan dibawa ke mana obrolan ini?
"Buat apa?"
"Asal kamu tahu ya? Kalau aku menang dalam taruhan melawan Yani, maka Yani tidak akan membully Nana."
"Maksud kamu?"
"Iya! Yani itu iri dengan Nana, kamu tahu kan kalau dia itu terlalu sempurna untuk ukuran yang katanya cuma gadis dari desa. Dan ya, tahu aja Yani kayak gimana, munafik."
"Jadi, kamu mau pacarin Nana untuk menyelamatkan dia?" Aku mengangguk. "Kenapa?" lanjut Riski.
“Kenapa, kenapa? Memangnya harus butuh alasan ya?” Aku tersenyum.
"Pertama, karena aku suka Nana dan kedua hadiahnya lumayan. Bisa mendapatkan Nana sekaligus melindunginya."
"Ini belum beberapa bulan, dan kamu sudah mau membela dan melindungi Nana sampai seperti ini?" Aku terdiam mendengar pertanyaan Riski.
Aku hanya bisa menatap Riski dalam-dalam.
"Iya ya? Kenapa? Ini baru beberapa bulan, kan?"
"Kamu? Suka Nana?" tanya Riski padaku. "Bukan hanya sekadar taruhan kan?"
"Mungkin!"
"Sejak kapan?" Riski tampak menyeramkan.
"Nggak tahu!"
"Nana tuh bukan barang ya. Kalau suka, suka aja! Nggak perlu begitu!" Riski semakin kelihatan kesal. Jadi, dia kini ada di pihak Nana rupanya.
"Semenjak kedatangan Nana. Rasa sekadar senang-senang itu, mungkin sudah berubah menjadi perasaan ingin melindungi dia!" Aku menatap Riski. Riski menunduk.
"Oke! Terserah kamu. Tapi, jangan gangguin dia!" Riski tiba-tiba setuju dan pergi meninggalkanku. Dia bahkan tidak menyentuh es teh manis yang dipesannya.
Apa aku salah memberitahukan hal ini ke Riski. Kalau dia cerita ke Nana bagaimana?
Aku berlari mengejar Riski. Berteriak dan memintanya menunggu.
"Kenapa lari?" tanya Riski berbalik.
"Jangan bilang ke Nana ya, kita kan teman!" ujarku menepuk pundak Riski dan kembali ke kantin. Sebelum dikejar Mbak penjaga kantin, karena belum bayar.
***
Rasanya enggan kembali ke kelas. Aku ingin bolos seperti kemarin. Tapi, di satu sisi aku juga ingin bertemu Nana.
Semakin dekat ke pintu, semakin dekat suara Nana dari luar sini. Dia duduk di sebelah pintu masuk. Aku berdiri di depan sini, memandanginya yang sedang menggulung kertas.
"Gimana, kamu mau nggak? Mau ya!" Yani tampak memaksa Nana akan suatu hal.
"Bagaimana ya ... Yan?" Nana kelihatan semakin ragu.
"Padahal kalau ada kamu di geng kita, pasti jauh lebih seru belajarnya loh, kamu kan pintar. Sudah tiga bulan lebih di sini, setiap dibacakan hasil tes atau ulangan, kamu selalu tuntas dengan nilai yang memuaskan!" ungkap Yani mulai memujinya habis-habisan. Munafik!
"Maaf ya, Yani, bukannya aku nggak mau loh. Tapi, aku itu nggak suka kumpul-kumpul seperti itu. Nggak nyaman!" tolak Nana terdengar basa-basi. Aku masuk ke kelas dan berdiri tepat di belakang Yani yang membelakangi pintu.
"Tapi 'kan, kita kumpulnya belajar kok! Bukan berbuat yang aneh, daripada kamu kumpul-kumpul sama anak-anak itu." Yani semakin tidak terkontrol.
"Aku tahu! Tapi, maaf banget ... aku rasa teman sekelas ya teman satu kelas, semua yang di sini sama, kita belajar sama-sama. Nggak boleh membanding-bandingkan!" Nana cukup keras kepala. Skornya satu kosong. Yani, kalah telak.
"Iih, kamu kok sombong banget sih! Aneh ya, kamu itu. Ditawarin tempat yang bagus, malah sok. Dasar aneh!" Yani marah-marah dan meninggalkan Nana. "Apa lihat-lihat!" seru Yani saat melihatku. Aku hanya tertawa pelan. Nana bahkan masih tidak sadar bahwa aku sedang berdiri di depannya.
Apa aku tak kasat mata bagi Nana? Aku hanya bisa mengembus napas panjang melewatinya dan pergi menuju bangku. Nana benar-benar gadis es yang tak peka. Ini mulai menyebalkan!
***
Sekarang, jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Aku memutuskan bolos saja. Enggan rasanya di sekolah. Saat aku bahkan mungkin akan kalah dalam taruhan. Harusnya aku mendekati Tri juga, biar gampang saat dapat hukuman untuk pacarin Tri.
Si*l!
***
Bersambung
***
SELAMAT MENUNAIKAN IBADAN PUASA, BAGI YANG MENJALANKANNYA. MARHABAN YA RAMADHAN...