
"Oh ya, Sisi? Kemarin aku ngobrol sama Alan!" ucapku teringat sesuatu saat melihat perempuan di balik jaket itu.
"Kenapa?" Sisi mendadak serius.
"Dia minta aku untuk berhati- hati loh! Itu kok bisa sih? Emangnya ada apa?" Aku bertanya-tanya sembari membengkokkan bibir kecil ini.
"Ooh, soal tantangan gila? Katanya ada PDKT-an gitu! Ada apalah gitu, iya?” Aku mengangguk-angguk. “Terus hubungannya sama kamu apaan?" Sisi selalu pasang wajah polosnya untuk waktu seperti ini.
"Iya, kata Alan, kita harus hati-hati dan jangan sampai jadi korban modusannya mereka, apa lagi kelas Duabelas noh!" ungkapku tak sengaja menunjuk seseorang. "Eh, kak Iwan!" sapaku mendadak kegirangan.
"Nana?" panggil lelaki berambut rapih dan tersenyum saat melihatku. Dia berjalan pelan menghampiri kami.
"Iya," jawabku bergegas. Sisi mengantarkanku dengan kata Ciye.
"Oh ... jadi kata guru-guru waktu itu, kamu masuk lagi beneran?" tanyanya perhatian, dengan nada suara yang sedikit dikeraskan. Sengaja. Dasar pembual!
"Iya ...," jawabku tersipu, ini kode keras untuknya. Dia tersenyum padaku, membuat kenangan kami berdua hadir dalam ingatan. "Oh ya, kak Iwan udah pindah rumah ya? Kok Nana nggak tahu sih, tante Siska juga nggak ngabarin," lanjutku, dia hanya mengangguk.
"Ya begitulah. Oh ya, Hijab ini hanya di sekolah atau?" tanya kak Iwan tiba-tiba mempertanyakan tentang hijabku.
"Ini? Insyaallah, bisa bertahan sampai rumah juga, Kak. Lagi usaha nih," jawabku menunduk.
"Oh ya ... keep the secret ya …," ujarnya merapikan jilbabku yang agak miring. Sembari tersenyum manis. "Aku pergi ke ruang guru dulu ya, mau persiapan pemilihan Ketua OSIS! Kita ngobrolnya kapan-kapan aja ... soal ini dan ... itu," jawabnya pergi. Aku tertawa mendengar ucapannya.
"Iya, sukses ya kak! Terima kasih loh." Aku melambai ringan padanya, oh ... Pak Bos-ku.
"Ciye ciye, ada yang bertemu First Love-nya nih!" sela Sisi terdengar mengganggu. Anak ini, terkadang selalu tepat dalam mengetahui kapan seharusnya membuat aku salah tingkah.
"Apa? First love? Apaan sih! Nggak lah, dia 'kan cuma kakak kelas aja! Apa-apaan coba?" sanggahku.
Aku terus menatap punggung Kak Iwan, yang entah kenapa tampak sangat keren di mataku ini. Astaga, apa ini? Mata! Aku harus belajar menundukkan pandanganku. Harus. Tapi, aku yang selalu berkoar tentang bukan muhrim. Justru, hanya terdiam saat dia merapihkan jilbabku.
"Ciye ciye!" lanjutnya lagi.
"Sisi! Stop, ah … apaan coba?" tegurku menyenggol bahu Sisi yang terus saja menggodaku. Melihat Sisi yang belum puas menggoda, aku pun kembali ke kelas, dan meninggalkannya yang masih setia berdiri di depan pintu.
Ya, kak Iwan merupakan orang yang dekat denganku dulu, kami pernah menjadi tetangga. Dia selalu bersikap baik, bahkan terkadang temannya dan temanku mengira kami pacaran. Padahal dia sudah punya pacar dan aku sendiri, memang tidak tertarik untuk pacaran.
Membiarkan kesalahpahaman, menjadi bahan hiburan tersendiri bagi kami. Saat mereka mengira kami pacaran dulu zaman SMP, aku sedikit aman dari godaan teman-teman lelaki yang suka mengganggu.
Meskipun teman dekat tahu kami tidak pacaran, mereka ternyata menikmati support perhatian dari kakak kelas kami dan hubungan indah itu berakhir saat kata ciye tak lagi terngiang.
***
Tidak terasa sudah satu semester aku berada di sekolah ini. Semuanya terasa berjalan dengan cepat.
Karena beberapa minggu ini aku sudah aktif ke sekolah, aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali sakit. Ah, senangnya.
Setiap hari, OSIS menggerakkan para ketua kelas untuk memeriksa murid-murid yang melakukan pelanggaran. Dari sekian banyak aturan, aturan larangan membawa ponsel adalah hal yang paling dibenci anak-anak.
Namun, hari ini aku membawa ponsel ke sekolah, karena kebetulan hari ini kelas kami tak ada razia ponsel. Aku dengar, OSIS mengijinkan kami membawa ponsel karena ada tugas untuk materi ‘Teknik, Informatika dan Komputer’. Mata pelajaran yang selalu aku anggap remeh.
***
Pelajaran kami selesai, istirahat pun tiba. Saat sedang asik bermain game di benda ajaib itu, aku dikagetkan dengan seseorang yang tiba-tiba saja datang dan meletakkan benda besar yang disebut tas, di mejaku.
"Titip ya!" ujarnya terburu-buru.
"Indra! Tasnya jangan ditaruh di situ dong!" tegurku sembari buru-buru menekan tombol pause.
"Ya, iya, kamu lah siapa lagi? Memangnya ada yang lain di depan aku, 'kan cuma ada kamu, aneh iiih."
"Ooh, jadi kamu memang panggil saya ya? Panggil aku?" Dia menundukkan badan dan menopangkan dagu di atas meja, membuat kepala kami simetris. “Yakin itu aku? Nggak salah orang ‘kan? Bukan orang lain 'kan?”
"Iya! Apaan sih!" Aku mendorong kursi dengan kaki sampai menyentuh meja belakang.
"Oh ya? Soalnya ‘kan, biasanya kamu tuh selalu cuma manggil aku, hey kamu! Udah gitu aja, biasanya juga ngomongnya formal banget, saya-kamu-saya," jawabnya tertawa.
"Tahu ah ... pindahin tasnya!" seruku.
"Ini titip di sini sebentar aja ya cantik, aku lagi buru-buru nih! Daaah! Aku pasti balik kok, jangan ditungguin ya," ucapnya berlari keluar kelas, mendadak bicara informal.
"Hey! Indra! Woy," panggilku berteriak, menatap penuh kebingungan ke arah tas anak laki-laki yang menggangguku tempo hari itu. "Apaan sih tuh anak! Cantik? Apaan!" omelku sendiri.
"Tas siapa nih kak?" tanya Tri yang tiba-tiba nongol.
"Astaga!" Aku terkejut dengan kedatangan Tri.
Jika manusia hidup memerlukan udara, maka berbeda dengan Tri. Sepertinya dia memang diciptakan dari udara dan sebangsanya, karena Tri bisa datang dan pergi kapan saja sesuka hatinya.
"Tas siapa sih kak?" paksanya, mengganggu ketenanganku.
"Geng Yani!" jawabku memperhatikan Tri yang menarik kursi dan mencoba duduk di sebelahku. Aku mengembalikan pandangan ke game yang ter-pause sedari tadi.
"Iya, maksud aku tasnya ini ya, punya siapa sih, Kak? Kok nggak asing ya?"
Kalau udah tahu kenapa tanya lagi? Batinku mengomel.
"Indra,” jawabku sekenanya, sembari melawan fighter musuh di medan tempur.
"Ya Allah, Indra? Aduh Kak, hati-hati jangan dekat-dekat sama dia, nanti bisa jadi korban juga!" cerocosnya heboh sendiri.
Aku langsung mengerti tujuan dari perkataannya itu. Akhir-akhir ini, memang beberapa anak laki-laki kelas 10, ikutan tantangan kelas 12 untuk cari pacar sebelum naik kelas. Sebuah permainan bodoh yang selalu membuatku tertawa setiap mendengarnya.
“Iya, iya,” ucapku sembari memberi semangat pada fighter game.
“Percaya sama aku deh, Kak …,” lanjutnya usai berucap beberapa kalimat yang tak begitu kuperhatikan.
"Astaga! Jangan lebay deh, Tri! Lagian 'kan, dia udah punya pacar, mesra lagi. Coba aja tanya Riski!" jawabku cuek sambil main game di ponsel.
"Mereka 'kan kemarin udah putus?"
"Apa? Putus?” Aku kembali menekan pause. “Kok bisa sih? Pacaran sampai segitunya, kok masih bisa putus ya? Aneh," tanyaku kaget melihat Tri yang bicara serius.
"Pacaran ama siapa? Memangnya kak Nana tahu? Kak Nana ‘kan bukan tukang gosip," sela Tri.
"Sama, anak kelas sebelah ‘kan? Kelas B?" terkaku.
"Iih ... itu sih yang lain lagi, Kak!" jawabnya pindah di dekatku, ah jadi dia tukang gosip juga.
***
Bersambung