
VOLUME.1 : YOU
***
Mungkin ini akan menjadi awal yang membosankan, jika aku memulai kisah ini dengan sebuah ramalan cuaca dan sebagainya.
Tapi, memang benar. Cuaca hari itu sangat indah, sehingga membuatku ingin berlarian di bukit penuh permen yang selalu muncul saat mimpi datang.
Kala itu, selama berada di tempat ini, aku tak tahu lagi bagaimana caranya untuk mengatakan atau pun mengungkapkan masalah dan segala rasa ini.
Kurasa, hati pun sudah terlalu larut dalam kebersamaan di tempat ini.
Dia, Riski dan dia, Indra. Keduanya adalah bagian dari perjalanan masa mudaku. Keduanya pun telah mampu dan berhasil mengalihkan dunia remajaku.
Sebenarnya, kisah ini sama saja seperti kisah remaja biasa. Aku tumbuh menghadapi kehidupan yang tak sebening air. Melewati hari-hari membosankan, sampai pada akhirnya mereka pun mengubahnya.
Hanya saja ada pesan tersirat yang ingin kukatakan. Sebuah pesan mengandung kenangan. Sebuah rasa mengandung cinta yang entah bagaimana harus kumulai awalan kisah ini.
***
Seingatku, hari itu datang terlambat sih. Para murid bahkan sudah memulai aktivitas belajarnya. Di papan tulis berwarna biru, satu paragraf sudah diisi dengan lima baris kalimat berisi tulisan Arab.
Sebenarnya, pelajaran Bahasa Arab yang sedang dijelaskan oleh guru berkerudung hijau tosca itu, bukan merupakan pelajaran yang baru bagiku dan itu membuatku sedikit bersikap santai saat mendekati pintu.
Kupegang tangan bibiku, erat. Semakin dekat menuju dalamnya ruang, yang sesungguhnya tak ingin kulihat lagi. Lelah, sungguh melelahkan. Genggaman tangan dan senyuman teduh bibi, membuatku berani melangkah maju. Menuju ruangan yang entah seperti apa para manusia di dalamnya.
Aku tersenyum, sedikit canggung. Namun, setelah diantarkan masuk ke depan pintu kelas oleh bibi, dan benar-benar menginjak lantai kelas. Tiba-tiba saja semuanya mulai terasa aneh.
Entah aku yang gede rasa, atau memang seperti itulah yang terjadi. Sepertinya, kini semua mata orang yang berada dalam kelas, langsung melirik kaku ke arah kami berdua.
Beberapa murid-murid mulai memandang dengan wajah serius, seolah bertanya siapa diriku ini? Terlihat pula beberapa di antaranya adalah teman masa smp kemarin, lebih tepatnya adik-adik kelasku dulu.
Itulah yang membuat tubuh kecil ini sedikit, oh tidak, bahkan sangat canggung saat berada di sini, tempat yang asing karena aku tak begitu mengenal para penghuninya.
***
Saat itu, aku pun segera dipersilakan untuk duduk di bangku terdepan oleh Ibu guru. Sebenarnya duduk paling depan adalah kesukaanku.
Sekali lagi. Hanya saja, kali ini benar-benar terasa sedikit aneh. Aku pun harus duduk di sebelah anak laki-laki, tentu saja ini sedikit membuatku kurang nyaman. Ditambah lagi, dia tampak tak acuh dan entah menganggap orang di sampingnya ini ada atau tidak.
Ini bukan sebuah cerita yang bisa diabaikan begitu saja, ada kisah dan rahasia yang tercipta diantara anak-anak muda yang sedang merajut asa.
Jujur, saat itulah aku mulai mengenal sosok baru teman masa putih abu-abu.
Oh ya, sebut saja aku Nana, kisah ini merupakan inspirasi berharga dalam hidupku. Ini hanya sepenggal cerita masa putih abu-abu yang tak pernah bisa selesai. Karena kisahku akan abadi dalam ingatan.
Sebuah cerita dan kenangan yang terjadi ... karena ... mereka.
***
Guru di depan, memintaku segera duduk. Aku berjalan perlahann-lahan menuju bangku yang ditunjuk oleh guru, tempat yang dipilihkan ini tidak sepenuhnya buruk sih. Seperti kataku sebelumnya aku juga sangat suka duduk di bangku depan, jadi, aku akan mencoba untuk menikmati saja.
Sayangnya, rekan sebangku saat ini bukanlah teman perempuan dan tampaknya ia tak begitu ramah. Ia adalah seorang anak laki-laki yang sedari tadi sibuk mencatat dan asik dengan dunianya sendiri, bahkan terasa begitu dingin.
Seorang laki-laki, lawan jenisku. Dan aku, adalah orang yang tak suka duduk sebangku dengan lawan jenis. Menurutku, lelaki takkan pernah mengerti perempuan dan hal itu sangat menyebalkan.
***
Lirikkannya tampak kaku, wajahnya diam tak berekspresi, sepertinya dia anak pendiam. Syukurlah, setidaknya dia takkan menggangguku.
Setelah beberapa detik, aku mulai merasa nyaman duduk di sebelahnya, karena dia itu bukan seperti anak dari bangku sebelah, yang sedari tadi terus-menerus merecokiku dengan kata hai, hai dan hai lagi.
Kok dia santai banget sih? Pikirku sejenak, sesekali melirik ke sebelah kiri. Hidung tegasnya, cukup menarik. Namun, sebisa mungkin aku menghindari kontak mata. Malu.
***
Aku terus memperhatikan papan tulis, juga melihat dan menyimak ucapan Bu guru. Rasanya benar-benar aneh, karena datang menginterupsi di tengah-tengah pelajaran, lalu belajar bersama seolah kami sudah akrab.
"Mau pinjam buku?" bisik laki-laki di sebelahku tiba-tiba, suaranya terdengar lumayan keren sih.
"Ah, tidak apa-apa! Masih bisa kususul sendiri kok! Terima kasih," tolakku, lalu mengheningkan suasana di antara kami.
Kriiik!
Jangkrik terasa menghantui kami berdua, aku memang tak terlalu biasa bicara dengan anak laki-laki. Lalu, hening.
Aku kembali memperhatikan materi baru dari guru yang tak begitu asing. Ibu Lisa adalah guru pindahan dari sekolah lama.
Sebelumnya aku tinggal di asrama sekolah khusus wanita, jadi suasana ini agak sedikit ... sedikit tidak biasa dan ah, betapa sulitnya aku menggambarkan suasananya. Pokoknya, aku terus-terusan merasa canggung.
"Oh ya, sebelum jam pelajaran Ibu selesai, tolong siswi baru untuk memperkenalkan dirinya?" Bu Lisa memecah benakku. Seolah-olah kami tak saling mengenal, dia tersenyum manis. Ah, dia ini ....
"Iya, Bu! Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, hai semuanya ... perkenalkan nama saya Nana Rahayu--"
"Iya, kamu siswa yang berhenti karena sakit tahun lalu 'kan? Dan belum sempat mengikuti materi saya?" selanya membeberkan masa laluku.
Tunggu? Apa maksudnya? Aku terdiam sesaat, mejanya diketuk pelan seolah meminta jiwa yang melayang kembali ke ragaku. Aku pun hanya tersenyum saat melihatnya.
"Silakan?" lanjutnya.
Bagaimana aku harus menanggapi sebuah masa lalu palsu, yang entah kenapa bisa terucap dari bibirnya?
"I-i iya, Bu!" Aku setuju saja.
Padahal tahun lalu aku duduk di posisi yang sama, menerima materi darinya, di sekolah yang berbeda. Sekolah yang tidak pernah aku selesaikan. Sekolah dengan kenangan buruk.
"Ya sudah, silakan pinjam buku dan tanyakan kepada temanmu jika ada yang belum dipahami ya," ungkapnya ramah.
Bu Lisa menatap tajam menggunakan mata sipitnya, aku mendadak merinding dengan tatapan itu. Entah apa yang kini ada dalam pikirannya? Andai saja aku bisa membaca pikirannya itu, pasti takkan setegang ini.
***
Bersambung
***
Selamat membaca. Jangan lupa like-nya ya. Terim kasih.
Oh ya sudah baca LOVE SIGN? Silakan dibaca juga ya.